04

1071 Words
May dan Kay memasuki kelas, sontak saja siulan dari para pemuda tertuju pada mereka. Yang membingungkan adalah, dimana Ray. Mungkin hal itu yang ada di benak Azka. "Heh!" panggil Kay pada Azka. Azka menoleh tanpa menjawab. "Kemarin, Ray main kerumah lo ya?" tanya Kay ingin tahu. Azka tak menjawab pertanyaan gadis itu dan memilih mengalihkan padangannya pada jendela. "Dengar nggak sih?" bisik May pada Kay. Kay berdecak malas sebab tak mendapat jawaban apapun. "Pagi!" sapa Ray memasuki kelas. Beberapa orang membalas sapaannya, gadis itu duduk ditempatnya. Hening, Azka nampak tak peduli akan kehadiran gadis itu. Hingga saat Ray menoleh, senyuman jahil gadis itu kembali hadir. "Azka!" panggil Ray namun Azka tak menjawab. "Pagi," sapa Ray mendekatkan wajahnya. "Azka si Jenius, selamat pag---" "Apaan sih!?" Azka berbalik saat itu juga Ray terkejut hingga kursinya oleng. Bruk! Mereka berdua terjatuh kelantai sebab Azka ingin menahan tubuh gadis itu, al hasil ia malah ikut terjatuh. Seisi kelas terkejut, beberapa dari mereka langsung mengambil ponsel untuk mengabadikan kejadian tersebut. "Badan lo... berat!" keluh Ray membuat Azka langsung bangkit dari jatuhnya sembari merapikan kembali penampilannya. "Azka!" panggil Ray saat pemuda itu tiba-tiba pergi. "Ray! Kemana?!" tanya Kay saat gadis itu berlari meninggalkan kelas. Tanpa menjawab, Ray tertawa pelan pada Kay yang membuat Kay mengerti kalau sahabatnya itu benar-benar ingin menjahili Azka. "Azka!" Langkah Azka terhenti saat gadis menyebalkan yang sejak kemarin mengganggunya, menghalangi jalannya. "Mau kemana? Kantin?" tanya Ray berjalan mundur menatap Azka yang bahkan tak memperdulikan kehadirannya. "Azka Erza Rafael!" Akmal menghampiri Azka menenteng sebuah papper bag. "Maksud lo apa naruh ini di motor gue? Gue bukan anak mami ya, yang ke sekolah bawa bekal!" ucap Akmal menyerahkan papper bag tersebut pada Azka kemudian pergi setelah tersenyum pada Ray. Menyebalkan... Azka menghela napas menatap papper bag tersebut. "Apaan tuh?" tanya Ray ingin tahu. "Buat lo!" singkat Azka menyerahkan papper bag tersebut kemudian melanjutkan langkahnya. "Eh?! Buat gue? Apaan nih? Bekal? Beracun pasti! Gue nggak mau!" elak Ray menyerahkan kembali bekal tersebut pada Azka. "Ck! Itu masakan bunda gue buat lo!" Ray mengalihkan pandangan menahan senyuman. "Dari bunda lo? Buat gue?" ulang Ray membuat Azka berdecak. Tadinya Azka tak ingin memberikan itu dan menaruhnya di motor Akmal, namun Akmal malah menyerahkan kembali padanya dan lebih parahnya lagi, saat ada Ray bersamanya. "Iya!" kesal Azka melangkah menaiki tangga diikuti Ray yang kini memeluk papper bag tersebut hingga mereka tiba di rooftop sekolah. Ray berjalan menuju pagar pembatas menatap langit biru. Sedangkan Azka memilih duduk di lantai yang terlihat bersih. "Kebetulan gue belum sarapan," ucap Ray berbalik menatap Azka yang juga tengah menatapnya. "Masakan bunda lo pasti enak!" Ray duduk dihadapan pemuda itu dengan bersila kemudian mengambil wadah makanan yang berisikan nasi goreng lengkap dengan telur dengan sedikit sayur. "Gue makan ya?" ucap Ray mulai menyantap masakan Dalila dengan senyuman yang tak pernah luntur. "Bunda lo baik banget!" kembali memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya. Azka diam saja menatap gadis itu, rambutnya yang tergerai indah berterbangan seirama dengan angin pagi. "Uhuk! Gue haus!" keluh Ray memegang tenggorokannya. Azka bangkit dari duduknya kemudian pergi menimbulkan tanda tanya untuk Ray. Tak lama kemudian pemuda itu kembali membawa sebotol air mineral hingga membuat senyuman Ray hadir. "Buat gue?" tanya Ray menadahkan tangannya. Azka tak menjawab kemudian meminum air tersebut dihadapan Ray hingga membuat Ray harus meneguk ludahnya. "Nyebelin banget sih!" gerutu Ray melanjutkan makannya. "Azka!" panggil Ray menatap Azka yang hanya diam tak bicara apapun. Ray mengambil air mineral tersebut kemudian meminumnya hingga membuat Azka terkejut. Ray menaruh botol minum tersebut kemudian menatap Azka. "Lo pasti tipikal orang yang nggak mau minum bekas orang lain," ucap Ray melanjutkan makannya setelah mencepol asal rambutnya hingga leher jenjangnya terpampang jelas. Azka menarik napas sembari melonggarkan dasinya. Gadis dihadapannya ini, apakah memang berniat menggodanya, atau memang benar-benar polos. Azka menarik botol minum kemudian meminumnya hingga habis. Ray terkejut saat pemuda itu melempar botol yang sudah kosong itu kesampingnya. "Lepas jas lo," titah Azka dingin. Ray menyerngit dengan polosnya melepas jas sekolahnya. Azka mengambil jas tersebut lalu menaruhnya di pangkuan gadis itu hingga pahanya yang tadi terekpos, kini tertutup oleh jas sekolah. Ray tertegun, gadis itu menghentikan aktivitas makannya kemudian menyimpan kembali kotak nasi tersebut ke dalam papper bag. Suasana menjadi awkard, hingga bel masuk berbunyi. Kedua tak kunjung bangkit dari duduknya. "Makasih, makanannya." Ucap Ray kemudian bergegas pergi meninggalkan Azka dengan menenteng jas sekolah dan papperbag nya. Azka mengikuti gadis itu hingga saat jarak mereka sudah dekat. Azka menarik pelan rambut Ray hingga cepolan gadis itu terlepas dan rambutnya kembali tergerai. "Cowok di sekolah ini bukan cuma gue." Dingin Azka melangkah lebih dulu meninggalkan Ray yang terdiam di tangga. Ray tersenyum kemudian berjalan santai melewati kelas demi kelas hingga kembali masuk kekelasnya dan duduk disamping Azka. Pelajaran berlangsung setelah seorang guru lelaki memasuki kelas. Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Ray menoleh pada Azka yang hanya menatap jendela selama pelajaran berlangsung. "Azka," panggil Ray pelan. "Mau ngantin bareng?" tawar gadis itu membuat Azka menoleh menatap ke ambang pintu. Dua temannya yakni Akmal dan Kevin sudah menunggunya. "Ayo, Ray?" ajak May memegang perutnya. "Gue lapar nih," ucap May lagi. "Duluan aja! Hehehe..." kekeh Ray menatap dua temannya. "Okey!" Kay mendekati Ray kemudian mengacak-ngacak rambut gadis itu. "Semangat! Ngejahilinnya!" tawa Kay kemudian pergi diikuti May. "Eh? Azka?" panggil Kevin. "Udah biarin! Ayo!" May menarik tangan Kevin sedangkan Akmal mengikuti langkah Kay. "Gue udah kenyang makan masakan bunda lo," ucap Ray mengambil ponselnya kemudian mengirimkan pesan pada seseorang. Ray berhenti pada sebuah ruang chat dengan seseorang yang sampai sekarang belum ia hapus. Gadis itu tersenyum, senyuman yang sama. Seperti yang Azka lihat saat kemarin ia menonton ayahnya di televisi. "Azka, lo punya HP?" tanya Ray menatap pemuda itu. "Hm," jawab Azka dengan gumaman kecil. "Minta nomer lo?" kekeh Ray menadahkan tangannya. "Enggak," ucap Azka dengan satu alis terangkat. "Ayo! Mana HP lo?" Ray menggeledah tas pemuda itu hingga sekali lagi, Azka harus menahan emosi atas tingkah Ray. Ray beralih menatap saku seragam pemuda itu kemudian meraba-rabanya hingga membuat tangan Azka terkepal. "Raysa!" Bukan hanya Ray, tatapan beberapa siswa juga tertuju pada Azka. "O... ok.. ke.." Ray bangkit dari duduknya dengan bibir bergetar dan mata yang berkaca-kaca setelah mendapat bentakan yang cukup mengguncang hatinya. Gadis itu mempercepat langkahnya meninggalkan kelas setelah mengusap pipinya. "Ey..." panggil Fahri, salah satu siswa yang berada dikelas. Azka menoleh sinis. "Dia cewek bro," ucap Fahri membuat Azka terdiam merutuki kesalahannya. Azka bergegas meninggalkan kelas dan sempat menendang kursi hingga membuat teman-temannya kembali terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD