"Guys!" cegah Ray saat Kay dan May hendak masuk ke mobil.
"Kenapa?" tanya May bingung.
"Gue yang nyetir!" Ray langsung duduk dikursi kemudi. May pun segera memasang sabuk pengaman begitu pun Kay karena mereka tahu kalau Ray mengemudi maka akan...
"Ray!!! Gue belum kawin!" teriak May heboh saat Ray tancap gas meninggalkan sekolah.
"Santai! Santai!!!" teriak Kay namun Ray tak memperdulikan itu. Niatnya adalah mengetahui kemana seseorang dengan motornya pulang.
Ray mengerem. "Itu rumahnya..." guman Ray lalu turun bersegera turun dari mobil.
"Kemana lo!?" tanya Kay mengusap keringatnya padahal AC mobil menyala.
"Kalian pulang duluan, gue ada urusan. Sana! Husss!" usir Ray setelah turun dari mobil.
Ray melangkah menuju pagar rumah yang Kay dan May sendiri tak tahu maksud gadis itu. Mereka memutuskan pergi setelah Kay duduk dikursi kemudi.
"Azka!"
Pemuda yang baru saja turun dari motornya itu menoleh. Ekspresinya langsung berubah. Ia melangkah cepat menghampiri Ray yang tersenyum lebar padanya.
"Ngapain lo?!" tanya Azka membuka pagar.
"Gue mau tau kehidupan, Azka si jenius!" ucap Ray diakhiri kalimat dramatisnya.
"Pergi!" usir Azka dengan kesalnya.
"Wah! Ternyata didepan rumah Azka si jenius juga ada pohon!" ucap Ray setelah melangkah memasuki kawasan rumah Azka.
"Lo!" bentak Azka menyusul Ray yang berjalan-jalan dihalaman rumahnya.
"Ternyata juga ada sapu lidi!" kaget Ray mengangkat sapu lidi hingga membuat Azka kesal sekaligus malu.
"Lo ngapain sih?" Azka mengambil sapu tersebut secara paksa lalu melemparnya hingga membuat Ray terkejut.
"Pergi!" Azka menarik kasar tangan Ray menuju pagar rumahnya.
"Jangan ganggu gue!" tegas Azka membuat Ray sempat terkejut atas bentakan pemuda itu.
"Azka, ada temannya ya?"
Ray menoleh ke ambang pintu, terdapat wanita berhijab yang ia yakini sebagai ibu dari Azka.
"Tante!" sapa Ray melambaikan tangan.
Dalila, ibu dari Azka tersenyum canggung pada gadis berseragam sekolah sama seperti anaknya. Lebih mengherankannya lagi, ini adalah kali pertama puteranya membawa seorang gadis kerumah.
"Nyokap lo?" tanya Ray kembali melangkah menghampiri Dalila kemudian mencium punggung tangan wanita itu.
"Temannya Azka, ya?" tanya Dalila tersenyum pada Ray.
"Bukan!" potong Azka mendekati ibunya lalu mencium punggung tangannya seperti yang Ray lakukan.
"Pacarnya!" ucap Ray semakin membuat Dalila terkejut sedangkan Azka sudah tak dapat berkata apa-apa lagi.
"Enggak, Tan. Bercanda," kekeh Ray dengan cengirannya.
Dalila terkekeh lalu mempersilahkan Ray masuk. Hal itu tentu saja bertentangan dengan Azka yang ingin mengusir gadis itu.
"Jadi, siapa nama kamu?" tanya Dalila setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Raysa," ucap Ray dengan sopan.
"Kamu tinggal didekat sini? Kok baru pertama kali tante liat kamu," tanya Dalila lagi.
"Ray baru pindah, Tan. Dari Jakarta, terus juga baru hari ini masuk sekolah 45 Samudera," jelas Ray membuat Dalila mengerti.
"Satu kelas sama Azka?" tanya Dalila lagi.
Ray mengangguk. "Duduk sebelahan," ucap Ray membuat Dalila tersenyum.
"Azka, mau kemana kamu?" tanya Dalila saat Azka menuruni tangga dengan pakaian santainya menenteng kunci motor.
"Main," singkat Azka.
"Sini dulu," panggil Dalila. Azka tak dapat menolak kemudian duduk di dekat Ray.
"Kamu ada teman bukannya dirumah aja, ini malah ditinggal main," ucap Dalila menggelengkan kepala.
"Tuh dengerin!" ucap Ray ikut- ikutan menghakimi Azka.
"Azka kamu disini aja ya, bunda mau bikin minum dulu." Dalila pergi menuju dapur menyisakan Azka dan Ray.
"Maksud lo apa sih? Tiba-tiba kerumah gue terus seenaknya masuk, sok akrab sama nyokap gue?" tanya Azka menghadap gadis itu.
"Iseng," jawab Ray singkat.
"Argh!" Azka memukul bantalan sofa saking kesalnya.
"Emang nggak boleh ya? Nyokap lo aja---"
"Enggak!" Azka mencengkram tangan Ray yang bersiap meraih remote televisi.
"Lo itu ngeganggu ketenangan gue!" Azka semakin mendekatkan wajahnya pada Ray yang nampak biasa saja menanggapi amarah pemuda itu.
"Ekhem!"
Azka langsung melepaskan gadis itu saat ibunya datang membawa nampak berisi tiga gelas minuman, juga beberapa toples cemilan.
"Raysa, mari diminum. Tante bikinin es jeruk biar segar, kamu suka?" tanya Dalila.
Ray menatap minuman itu dengan berbinar kemudian mengangguk langsung meneguknya.
"Ini manis banget! Ray suka! Biasanya kalau beli, ada asamnya!" puji Ray membuat Azka juga mengambil gelas karena ingin tahu rasa dari minuman itu.
"Tante nyalain televisi ya," ucap Dalila mengambil remote dan televisi besar tersebut menyala menampilkan berita wawancara tentang bisnis Samudera yang semakin membesar.
"Mereka, luar biasa ya?" ucap Dalila tanpa tahu kalau yang ada bersamanya sekarang adalah gadis Samudera.
"Bunda jadi pengen ketemu sama Renata, dia cantik dan baik hati. Terus selalu nemanin suaminya kemana pun," kekeh Dalila membuat Ray tersenyum dan Azka menyadari senyuman gadis itu.
"Pak Jonathan, apa benar sekarang puteri bapak bersekolah di Bandung?"
"Benar, dia bilang ingin hidup mandiri dan hidup bebas dari nama Samudera."
"Bagaimana perusahaan bapak yang dipegang oleh Faris?"
"Baik, alhamdulillah."
"Kalau anak bapak sedang menonton tayangan ini, apa yang ingin bapak ucapkan?"
Ray tersenyum menatap layar televisi, tepatnya pada sang ayah yang tersenyum pada kamera.
"Ica, jaga diri ya. Ayah sama bunda sayang banget sama Ica, tadi malam Bang Ayis nggak bisa tidur karena kepikiran kamu."
Dalila nampak mengusap air matanya, membuat Ray menoleh pada Azka yang ternyata tengah menatapnya.
"Bun---"
Ray memotong ucapan Azka, sudah pasti pemuda itu ingin mengatakan kalau ia adalah puteri Samudera yang dibicarakan media.
"Udah hampir magrib, Ray pamit pulang ya. Makasih banyak buat minuman sama cemilannya," ucap Ray menatap jam dinding.
"Kamu pulang naik apa sayang?" tanya Dalila pada gadis itu.
"Taksi," jawab Ray santai.
"Mending diantar sama Azka," ucap Dalila membuat Azka terkejut.
"Azka, mau ya? Kasian Raysa, dia kan baru pindah dari Jakarta. Kalau nyasar gimana?" ucap Dalila membuat Ray senang menatap ekspresi Azka.
"Ayo! Azka, si Jenius!" ucap Ray membuat Azka mengacak pelan rambut gadis itu saat ia menyebutkannya di depan sang ibu.
Azka pun mengantarkan Ray hingga selamat sampai tujuan. Pemuda itu membantu Ray melepaskan helmnya sembari menatap mansion mewah yang Ray tinggali.
"Jangan mampir! Ada May sama Kay! Mereka bakalan ganggu elo!" cegah Ray membuat Azka berdecak.
"Bukannya, elo yang ganggu gue," dingin Azka.
Ray cengengesan menatap sepatunya. Gadis itu mengangkat wajah menatap Azka yang juga tengah menatapnya.
"Makasih," ucap Ray tulus.
Azka terdiam menyembunyikan senyum tipisnya pada helm full face yang ia kenakan.
"Hati-hati! Azka si Jenius!" tawa Ray kemudian berlari dengan segera sebelum Azka kembali memarahinya.
"Dasar!" umpat Azka kemudian tancap gas untuk pulang.
Pemuda itu tiba dirumah dan langsung masuk kekamarnya.
"Azka," panggil Dalila menghampiri puteranya yang tengah melepas jaket.
"Raysa anak baik," ucap Dalila duduk di tepi kasur anaknya. "Kamu tau kan batasan-batasan temenan sama cewek," ucap Dalila membuat Azka menghampiri ibunya.
"Azka tau, bun..." ucap Azka memeluk singkat ibunya.
"Azka juga tau batasan buat cewek Samudera kayak dia," ucap Azka membuat Dalila terkejut.
"Maksud kamu?" tanya Dalila bingung.
"Dia itu, cewek Samudera yang tadi dibicarain di televisi," jelas Azka.
Dalila menutup mulutnya tak percaya. "Azka, kamu serius!?" tanya Dalila.
Azka mengambil ponselnya lalu membuka internet dan menunjukkan pada ibunya kalau Ray adalah puteri Samudera.
"Ya ampun..." ucap Dalila tersenyum senang.
"Bunda nggak nyangka!" ucapnya lagi.
"Pokoknya kamu harus ajak dia kesini lagi! Bunda mau kenal dia lebih dekat!" ucap Dalila.
Azka tersenyum. "Anaknya nyebelin," ucap Azka.
"Nyebelin, apa demenin?" tanya Dalila kemudian pergi setelah merayu anaknya.
Azka menghela napas kemudian merebahkan tubuhnya masih dengan layar ponsel menampilkan potret cantik Ray.