Ray fokus mendengari penjelasan dari Bu Alya, sesekali ia melirik pemuda disampingnya yang hanya mengarahkan pandangannya pada jendela. Ray sempat berpikir apakah disampingnya ini adalah sebuah patung.
"Azka, berapa jawabannya?!" tanya Bu Alya membuat beberapa orang mengarahkan pandangannya pada meja yang ditempati Ray.
"Nilai X sama dengan delapan, kuadrat dua."
Ray membulatkan matanya tak percaya saat mendapat anggukan dari Bu Alya yang membenarkan jawaban pemuda disampingnya. Padahal sedari tadi, pemuda itu seperti tak peduli pada penjelasan Bu Alya.
"Keren," ucap Ray dengan polosnya membuat pemuda itu menoleh menatapnya.
"Gimana caranya elo bisa ngehitung secepat itu?" tanya Ray mendekatkan wajahnya menatap buku yang masih tertutup.
Pemuda itu menyimpan bukunya agar Ray tak melihatnya. Ray berdecak malas, memilih mengalihkan pandangannya karena merasa di abaikan, apa salahnya ia bertanya.
Ray menghela napas merebahkan kepalanya menghadap pemuda disampingnya yang kali ini tidak menatap jendela.
"Azka Erza Rafael," ucap Ray membaca nama yang tertera di seragam pemuda disampingnya.
"Azka," panggil Ray membuat pemuda itu meliriknya sejenak.
Ray memejamkan matanya perlahan, sesekali gadis itu menyerngit merasakan silau sinar mentari hingga pemuda disampingnya memajukan duduknya agar Ray terlindungi dari sinar mentari pagi.
Bel istirahat berbunyi, Bu Alya langsung pergi meninggalkan kelas diikuti sebagian murid yang berniat pergi kekantin.
"Ray!" panggil Kay menggoyangkan pelan bahu Ray.
Ray membuka mata menatap pemuda yang berada dihadapannya.
"Ayo ke kantin! Gue lapar! Mau nyoba semua makanan kantin!" heboh May dengan senyum lebar.
"Azka, ngantin yuk?"
May dan Kay menoleh ke ambang pintu, terdapat dua orang siswa yang tengah berjalan menghampiri mereka.
"Gue iri!" ucap salah satu dari mereka mengetahui temannya dikepung oleh tiga siswi cantik.
"Kenalan boleh dong, kita anak kelas sebelah." Ucap yang lain mengulurkan tangan pada Ray yang masih duduk ditempatnya.
"Gue Kevin Mahendra," ucapnya namun Ray tak kunjung membalas jabat tangan pemuda itu.
"Gue Maylina!" jawab May membuat Kevin tersenyum berganti menjabat tangan Kay.
"Kayla," ucap Kay singkat.
"Gue Akmal Febrian, panggil Akmal jangan kotak amal! Awas lo!" kekeh Akmal membuat May dan Kay tertawa.
"Mau ke kantin bareng?" tawar Kevin membuat seorang pemuda yang sedari tadi mendengari obrolan mereka berdecak.
"Boleh!" balas May semangat.
"Kepala gue pusing," ucap Ray mengusap kepalanya.
"Makanya jangan tidur dikelas!"
Pemuda di samping Ray langsung pergi setelah menendang kursinya sendiri hingga menimbulkan suara yang cukup bising.
"Dih, sensian?" tanya Kay kesal.
"Azka, teman kita. Emang gitu kelakuannya, mulutnya pedes!" cibir Akmal diangguki Kevil.
"Ray, lo mau ke UKS?" tawar May. Ray menggeleng.
"Kantin lah! Gue lapar!" jawab Ray segera meninggalkan kelas disusul teman-temannya.
Mereka tiba di kantin, perhatian beberapa orang tertuju pada mereka apalagi saat Ray, Kay, dan May memutuskan satu meja dengan para pemuda yang lumayan populer di sekolah.
"Kalian mau apa?" tanya Kevin bersiap memesan.
"Hari pertama, gue mau nasi goreng telornya dua. Minumnya, teh hangat!" ucap May diangguki Kevin.
"Gue jus melon deh," ucap Kay.
"Gorengan, kayak biasa!" kekeh Akmal pada Kevin.
"Elo?" tanya Kevin pada Ray yang kembali merebahkan kepalanya dimeja kantin.
"Es jeruk," ucap Ray meski dengan mata yang terpejam.
"Disini nggak ada es jeruk deh perasaan," ucap Kevin membuat Ray membuka matanya.
"Oh... iya..." ucap Ray bangkit dari duduknya kemudian pergi begitu saja menyisakan tanda tanya bagi teman-temannya.
"Kenapa?" tanya Akmal pada Kay.
"Ray suka es jeruk di sekolah lama," jawab Kay seadanya.
"Dia Raysa Samudera kan?" tanya Akmal memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan berita seorang gadis yang menyelamatkan sekolah dari p*********n.
May mengangguk.
"Kalian tau nggak, seminggu terakhir sebelum kalian masuk. Raysa jadi trending di sekolah karena banyak orang yang pingin ngeliat dia," ucap Kevin dibenarkan oleh Akmal.
"Eh, ternyata satu kelas sama Azka," gusar Kevin membuat seorang pemuda yang tadinya diam mengangkat wajah menatap dua temannya.
"Berita nggak mutu," dingin Azka membuat May dan Kay melotot.
"Maksud lo!?" tanya May mengangkat kepalan tangannya.
"Ehhhh!" cegah Kevin dan Akmal. "Jangan emosi, gue pesan makanan dulu! Okey!" Kevin pergi membuat May menarik napas panjang dengan tatapan tak suka pada pemuda itu.
"Kemana lo?!" tanya Akmal saat pemuda itu pergi begitu saja.
"Bagus deh dia pergi!" sinis Kay diangguki May.
Pemuda itu berjalan sendiri tanpa menghiraukan pandangan kagum dari setiap gadis yang dilewatinya. Ekspresinya begitu dingin bahkan mungkin dapat dihitung berapa kali ia berkedip dalam satu menit.
Ray menoleh menyadari kedatangan seseorang. Saat ini ia tengah berada di taman belakang sekolah yang kalau dilihat, memang lebih indah taman sekolah lama.
Ray tidak memperdulikan pemuda itu, ia berjongkok menatap bunga-bunga warna warni yang tertata dengan rapi. Pemuda itu duduk di kursi panjang, mulai memejamkan mata tanpa menghiraukan kehadiran Ray.
"Azka!"
Pemuda itu kembali membuka mata, Ray sudah duduk disampingnya dengan tatapan berbinar hingga ia yakin kalau gadis ini menginginkan sesuatu.
"Nama lo itu kayak nama teman gue!" ucap Ray memegang bunga yang dipetiknya.
"Enggak nanya," singkat Azka membuat senyum Ray luntur.
"Lo sering kesini?" tanya Ray. Azka mengangguk tanpa suara.
"Di sekolah lama, gue---"
"Enggak nanya," potong Azka membuat Ray tersenyum hambar lalu menjauhkan sedikit posisi duduknya.
Azka melirik gadis disampingnya yang mulai melepaskan satu persatu kelopak bunga.
"Lo masih pusing?" tanya Azka
Ray mengangguk saja.
"Kalau pusing minum obat, bukannya minum es jeruk!" ucap Azka, Ray menoleh padanya dengan ekspresi sulit di artikan.
"Gue tau!" ucap Ray girang.
"Gue mau minta ke kepala sekolah buat nyediain es jeruk di kantin!" Ray hendak pergi namun Azka menahan tangannya.
"Jangan aneh-aneh!" kesal pemuda itu. "Jangan mentang-mentang elo seorang Samudera, semua orang bakalan nurutin kemauan lo!" tegas Azka membuat Ray terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Gue kalau bisa milih! Gue nggak pingin punya status Samudera!" balas Ray melepas genggaman tangan Azka.
"Gue---"
"Iya! Gue maafin!" potong Ray kembali duduk disamping Azka dengan wajah menunduk hingga sebagian wajahnya tertutup oleh rambut indahnya.
"Gue nggak bisa kayak gini!" isak Ray membuat Azka bingung harus berbuat apa selain mengangkat tangan menenangkan gadis itu.
"Gue mau es jeruk!" Ray mengangkat wajah menatap Azka yang juga tengah menatapnya.
"Cewek aneh..." gumam Azka mengacak-ngacak rambut Ray saking kesalnya.
Ray tertawa kemudian mencepol asal rambutnya kemudian duduk menghadap Azka sambil mengusap pipinya.
"Lo belum jawab pertanyaan gue, waktu dikelas tadi pas Bu Alya nanya jawaban, kok elo tau?" tanya Ray bingung. "Padahal elo cuma ngeliatin jendela, dasar cowok aneh!" ucap Ray membuat Azka menahan emosi mendengar perkataannya.
"Itu bukan aneh, tapi jenius!" ucap Azka memalingkan wajahnya. Gadis disampingnya kembali tertawa, apakah kalimatnya terdengar seperti sebuah lawakan.
"Azka, si jenius!" ucap Ray dramatis.
"Lo!" kesal Azka.
"Apa?" tantang Ray mendekatkan wajahnya.
Azka diam tak berkutik, gadis dihadapannya ini benar-benar cantik, pikir pemuda itu. Matanya bahkan sempat menatap sebuah kalung yang terpasang sempurna di leher jenjangnya.
"Terpesona ya, sama gue?" tanya Ray menaikkan alisnya.
"Kepedean!" ucap Azka kembali membuat Ray tertawa.
Ray menghela napas. "Cepat atau lambat lo bakal jatuh dalam pesona gue!" ucap Ray percaya diri.
Tanpa mengatakan hal itu, Azka juga sudah jatuh dalam pesonanya setelah beberapa detik bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.
"Udah ah! Gue mau minta es jeruk sama kepala sekolah!" Ray bangkit dari duduknya namun keseimbangannya tak stabil sebab kepalanya yang masih terasa pusing.
"Eh!"
Azka menahan tubuhnya yang hampir saja terjatuh.
"Awww!!" ringis Ray saat Azka melepaskan tubuhnya. Pemuda itu langsung pergi meninggalkan Ray yang masih terjatuh di tanah.