Hari berganti malam, Kay dan May sudah tertidur sedangkan Ray asik bermain game di ponselnya. Gadis itu melangkah menuju balkon dengan satu tangan membawa ponsel dan satu tangan lagi memegang gelas s**u.
Beberapa saat kemudian, Ray nampak serius bermain hingga u*****n terdengar jelas dari mulutnya saat seseorang meneleponnya.
"Gue lagi main game!"
"Gue pengen ketemu elo."
Ray menunduk, menatap sebuah motor yang terparkir didepan pagar rumahnya. Gadis itu berlari kecil menuruni tangga hingga tiba di pagar.
"Ngapain lo?!" tanya Ray pada Azka.
"Ck, buka!" titah Azka membuat Ray membuka pagar rumahnya. Azka masuk dengan motornya menenteng kresek berisi makanan yang dibelinya saat dalam perjalanan.
"Azka, ini udah tengah malam! Lo aneh banget!" ucap Ray saat Azka memarkirkan motornya.
"Gue malas serumah sama kakak gue," ucap Azka jujur.
"Loh?" bingung Ray menyimpan ponselnya sembari menuntun pemuda itu masuk kerumah.
"Tau ah!" singkat Azka menaruh kresek tersebut di meja ruang tamu.
"Lo mau minum apa?" tawar Ray menaruh ponselnya di meja.
"Apa aja," jawab Azka. Ray mengangguk lalu pergi menuju dapur dan kembali membawa segelas kopi dan sekaleng minuman soda.
Azka mengambil kaleng soda tersebut kemudian meminumnya.
"Terus, lo mau nginap disini apa gimana?" tanya Ray membuka kresek yang dibawa Azka dan ternyata isinya adalah martabak manis.
Ray duduk dilantai sedangkan Azka duduk di sofa dengan punggung menyender dan mata yang mulai terpejam.
"Azka!" panggil Ray membuat mata Azka kembali terbuka. Pemuda itu turun dan duduk di lantai seperti Ray.
"Emang biasanya kakak lo nggak ada dirumah ya? Gue aja baru tau kalau Kak Gilang itu kakak lo," ucap Ray menyantap martabak yang dibeli Azka.
"Tuh orang nggak jelas," ucap Azka membuat Ray tahu kalau Azka benar-benar tak menyukai Gilang.
"Nanti gue nginap dirumah Kevin," ucap Azka merebahkan kepalanya dimeja ruang tamu.
"Kenapa nggak langsung kerumah Kevin aja?" tanya Ray polos.
"Ck! Gue pengen ketemu elo!" jawab Azka memejamkan mata.
Ray tersenyum kembali mengambil sepotong martabak manis lalu mendekat pada Azka.
"Hah? Gue nggak dengar," ucap Ray mendekatkan kepalanya.
"Gue pengen ketemu elo, Ray!" ulang Azka dengan gumaman kecil.
Ray tersenyum mengusap bibirnya dan membiarkan Azka tertidur sedangkan ia menghabiskan martabak manis yang dibeli pemuda itu.
Pukul tiga pagi, Azka terbangun memijat lehernya. Ia menoleh mendapati Ray masih terjaga bermain game online.
"Jam berapa?" tanya Azka parau.
"Tiga lewat lima menit," jawab Ray tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Azka bangkit sembari menggertakkan tulang-tulangnya. Pemuda itu meraih ponsel Ray lalu mematikannya.
"Tidur," ucap Azka membuat Ray menganga lebar.
"Azka! Gue lagi asik- asik main game!" seru Ray mengambil kembali ponselnya.
"Pantesan waktu di kelas kerjaan lo cuma tidur," ucap Azka duduk disamping gadis itu. Azka meraih minuman soda yang masih tersisa lalu meminumnya.
"Lo kalau mau tidur, ya tidur aja. Jangan ganggu gue," ucap Ray kesal.
"Gue biasa tahajud, makanya kebangun."
Azka berucap santai membuat Ray menoleh padanya.
"Disana, mushola. Kalau mau sholat," tunjuk Ray mematikan ponselnya.
Azka mengikuti arah pandang Ray. Pemuda itu melepas jaketnya kemudian beranjak pergi.
Beberapa saat kemudian, Azka kembali dengan penampilan yang terlihat lebih segar membuat Ray terdiam memperhatikan Azka yang kembali memasang jaketnya.
"Mau pergi?" tanya Ray.
"Martabaknya lo abisin?" tanya Azka balik.
"Bukannya elo beliin gue!?" tanya Ray spontan meninggikan suaranya.
"Sttt... nanti teman-teman lo bangun," ucap Azka dengan senyum kecil.
"Gue pergi nih," ucap Azka melangkah menuju pintu diikuti Ray.
"Kunci pagar, kunci pintu, lampu halaman jangan lo matiin. Nanti dikira nggak berpenghuni," ucap Azka membuat Ray mengangkat tangan menyentuh kening pemuda itu.
"Lo Azka atau bukan?" tanya Ray dengan polosnya.
"Ups! Sorry! Gue nggak maksud batalin wudhu lo!" Ray mundur beberapa langkah membuat Azka kembali tersenyum.
"Sikap lo aneh banget, siang dingin, malam hangat." Gumam Ray.
Azka mengangkat tangan mengusap kepala gadis itu.
"Gue pergi, lo langsung tidur. Jangan lupa kunci pagar," ucap Azka kemudian melangkah menghampiri motornya.
Ray melambai kecil pada kepergian Azka setelah ia mengunci pagar. Gadis itu kembali masuk kerumah dengan memegang kepalanya.
"Raysa! Raysa! Raysa Elyana Samudera!"
"Pantesan selama ini Azka selalu nasihatin gue, inilah, itulah. Marah- marah karena hal sepele, nggak jelas banget menurut gue dan aneh aja!"
"Ternyata..." gumam Ray menatap sofa ruang tamu.
"Dia paham agama..." ucap gadis itu menangkup wajahnya.
"Awww!!! Azkaaa! I love you!!!" teriak Ray berlari menaiki tangga dengan tawa kecil.
"Ngigo lo?" tanya Kay yang tidurnya terusik oleh teriakan Ray.
Tanpa menjawab, Ray merebahkan tubuhnya diantara Kay dan May kemudian memejamkan mata.
"Tumben tidur cepat," ucap Kay menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah empat.
Pagi harinya, Ray bangun lebih awal bahkan sempat memasak sarapan sederhana untuk Kay dan May.
"Ray! Lo aneh..." ucap May menyantap masakan Ray.
"Astagfirullah, jangan gitu. Harusnya bersukur pagi ini bidadari masak buat kalian..." ucap Ray lembut.
"Uhuk!" Kay tersedak minumnya.
"Ray!" panggil Kay menyentuh kening temannya itu. "Lo!----"
"Enggak baik ngomong didepan makanan, mari kawan- kawan kita makan. Bismillahirrohmanirrohim..." ucap Ray membuat aktivitas makan May terhenti.
Mereka berangkat sekolah bersama dan kali ini, Ray mengemudi dengan santai tanpa mendapat klakson dari pengemudi lain. Kay turun lebih dulu disusul May kemudian Ray.
Saat Ray menginjakkan kakinya di tanah, tanpa sepengetahuannya ia menginjak kotoran kucing, mungkin. Hingga membuat Kay dan May terkejut.
Ray menarik napas lalu berjalan menuju sebuah batu kemudian menginjakkan sepatunya disana.
"Sabar... Raysa Elyana Samudera, sabar..." ucap Ray tersenyum pada Kay dan May.
May mendekati Ray, kemudian mengguncangkan bahu gadis itu.
"Siapapun elo yang udah merasuki tubuh Ray! Keluarrrr!" ucap May membuat perhatian beberapa orang tertuju padanya termasuk satpam sekolah.
"Heh! Gue nggak kerasukan!" gerutu Ray membuat May tersenyum cengengesan.
Ray menatap seseorang yang memasuki sekolah menggunakan motornya.
"Azka si Jenius..." cibir Kay mendahului Ray yang hendak mengucapkan kalimat itu.
"Pergi lo! Sana!" usir Ray kesal. Kay tertawa kemudian merangkul May lalu pergi menuju kelas.
"Azka!" panggil Ray sesaat setelah Azka melepas helmnya.
"Eh! Assalamualaikum, Azka..." ucap Ray dengan senyum sumringah.
"Waalaikumsalam," jawab Azka pelan.
"Azka, apa aktivitas lo pagi ini? Hm?" tanya Ray saat mereka melangkah bersama.
Azka menoleh pada Ray yang masih menampilkan senyuman yang sama. Pemuda itu mengangkat tangan mencubit pipi Ray.
"Anjir sakit!!!" keluh Ray menepis tangan Azka.
"Eh. Astagfirullah, sakit." Ray berucap pelan sembari mengusap pipinya yang memerah.
"Raysa---"
"Iya, Azka?!" tanya Ray cepat.
Azka menghentikan langkahnya kemudian tertawa akan tingkah gadis itu.
"Lo nggak perlu ngerubah kepribadian," ucap Azka membuat Ray terdiam lalu melepas satu kancing seragamnya.
"Gue mau memantaskan diri malah elo cegah!" ucap Ray melangkah meninggalkan Azka yang masih tertawa atas tingkah gadis itu.
"Kak Ray!"
Langkah keduanya terhenti, Ray menoleh lebih dulu diikuti Azka. Ekspresi Ray berubah seketika, dan Azka tak mengerti maksud gadis itu.