Mansion Al Xavius berdiri seperti singgasana dingin di atas bukit batu, menghadap laut yang gelap dan tak pernah benar-benar tenang.
Malam menempel erat di dinding-dinding beton tebalnya, seolah bangunan itu sendiri ikut menyimpan dosa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bara melangkah masuk tanpa ekspresi. Jaket kulitnya masih berbau mesiu dan asap pelabuhan. Luka kecil di pelipisnya belum sempat dibersihkan, darahnya sudah mengering. Tapi bukan itu yang membuat udara di mansion terasa berat.
Tatapan Papa Andreas dan Mama Sandra menusuknya seperti dua laras senjata yang sudah dikokang.
Mereka duduk di ruang utama. Sofa kulit hitam. Lampu gantung rendah. Meja marmer besar yang lebih sering dipakai untuk keputusan hidup dan mati dibanding makan malam keluarga.
Bara berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Masih ingat punya orang tua, hah?”
Suara Andreas Al Xavius dingin, datar, tanpa emosi. Pria itu duduk tegak, jasnya rapi, rambutnya disisir sempurna. Ketua jaringan mafia lintas pelabuhan barat. Pria yang tak pernah bertanya dua kali sebelum menarik pelatuk.
Bara terkekeh pelan. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti refleks orang yang sudah terlalu lama hidup di bawah tekanan.
“Why?” katanya santai, memasukkan tangan ke saku celana. “Kenapa Papa suruh Bara pulang?”
Sandra Al Xavius tidak langsung bicara. Wanita itu menatap putranya lama. Wajahnya lembut, anggun, tapi matanya menyimpan ketajaman yang sama mematikannya dengan Andreas. Ia tahu kapan harus menjadi ibu, dan kapan harus menjadi bagian dari dunia gelap ini.
Andreas menyilangkan tangan di atas meja.
“Kamu harus menikah.”
Bara mengangkat alis. “Menikah?”
“Kami sudah sepakat,” lanjut Andreas. “Dengan anak teman Papa. Aliansi lama dan tentu itu akan membuat kita akan semakin kuat kedepannya.”
Detik berikutnya,
BRAK!
Tangan Bara menghantam meja marmer dengan keras. Gelas kristal bergetar. Beberapa retak halus muncul di permukaan meja.
“No,” katanya tegas, rahangnya mengeras. “Jangan paksa aku hal konyol ini, Pah.”
Andreas tidak terkejut. Seolah sudah memperkirakan ledakan itu.
“Konyol?” ulangnya pelan. “Yang konyol itu hidup tanpa perhitungan di dunia kita.”
Bara menatap balik tanpa gentar. “Aku bukan alat politik.”
“Kamu anak dari mafia,” potong Andreas dingin. “Dan itu artinya kamu aset besar untuk keluarga kita ini Bara.”
Mama Sandra bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping Bara. Tangannya menyentuh lengan putranya dengan lembut, kontras dengan kerasnya kata-kata Andreas.
“Boy,” ucapnya pelan. “Tidak ada pilihan lain. Kita hidup di kalangan mafia. Kamu harus punya istri dari kalangan itu juga.”
Nada suaranya seperti bujukan. Tapi Bara tahu, itu bukan permintaan. Itu vonis. Bara menarik tangannya menjauh. Matanya gelap.
“Bara tidak akan menikah.”
“Andreas,” kata Sandra lembut, “beri dia waktu,”
“Tidak ada waktu,” potong Andreas. “Kesepakatan sudah dibuat.”
Bara berdiri. Kursinya terseret ke belakang dengan suara keras. “Batalkan.”
Andreas ikut berdiri. Tinggi mereka hampir sejajar. Aura dua pria itu bertabrakan, memenuhi ruangan.
“Kamu lupa siapa yang menghidupimu,” kata Andreas pelan. “Dan siapa yang bisa mematikanmu.”
Bara tertawa singkat. Sinis. “Ancaman dari Papa sendiri sekarang? jangan mengira kau masih memberiku uang Pah, aku Bara Al Xavius hidup dengan kedua kakiku sendiri tanpa melibatkan harta Papa.” lanjutnya dengan dingin namun tegas.
“Kenyataan,” balas Andreas. “Kamu terlalu lama berkeliaran, Bara. Terlalu banyak emosi. Terlalu banyak gangguan yang bahkan sulit untuk kamu atasi sendiri. Menurutlah kali ini.”
Bara tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Bilang saja,” katanya dingin. “Papa tidak suka perempuan itu.”
Sandra terdiam.
Andreas menatap lurus. “Alea Arexi.”
Nama itu menggema di kepala Bara seperti peluru yang menghantam dinding. “Dia bukan gangguan,” jawab Bara tegas. “Dia alasan.”
“Andreas,” Sandra mencoba menengahi, “dia hanya,”
“Dia putri Fernandes Arexi,” potong Andreas. “Musuh lama kita. Dan kamu terlalu dekat dengannya Bara, ini penghinaan namanya.”
Bara mengepalkan tangan. “Dunia ini tidak hitam putih, Pah.”
“Justru karena itu,” balas Andreas. “Kita butuh ikatan yang jelas. Pernikahan ini akan menguatkan posisi kita.”
Bara menggeleng keras. “Tidak,” katanya. “Di hati Bara sudah ada satu perempuan.”
Sandra menatap putranya. Ada sesuatu di matanya. Bukan marah. Bukan kaget. Tapi sedih. “Dia?” tanya Sandra pelan.
Bara mengangguk. “Alea. Dan itu hak paten. Tidak bisa diubah oleh siapa pun.”
Hening lalu Andreas tertawa kecil. Dingin. “Kamu pikir cinta ada tempatnya di dunia ini?” tanyanya. “Lihat sekelilingmu.”
Bara mendekat satu langkah. “Justru karena dunia ini kejam, aku tidak akan menyerahkan satu-satunya hal yang membuatku masih manusia.”
Andreas menatapnya lama. Lalu berkata pelan, berbahaya. “Kalau begitu,” katanya, “siap-siap kehilangan lebih dari sekadar cinta.”
Bara tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah pergi.
“Bara,” panggil Sandra. Ia berhenti sejenak.
“Hati-hati,” kata ibunya lirih. “Cinta bisa menjadi senjata paling mematikan.”
Bara tidak menoleh. “Kalau begitu,” katanya datar, “biar aku yang tertembak.”
Di sisi lain kota, Alea berdiri di ruang latihan bawah tanah Mansion Arexi. Tangannya berlumuran darah bukan darahnya sendiri. Napasnya teratur. Wajahnya dingin. Fernandes mengamati dari balik kaca antipeluru.
“Kamu lambat satu detik,” katanya melalui interkom.
Alea tidak menjawab. Ia hanya menarik pisau dari tubuh target latihan dan menyekanya di jaket hitamnya.
“Kelemahan sekecil apa pun bisa membunuhmu,” lanjut Fernandes.
Alea menoleh. Tatapannya tajam. “Papa sudah mencoba.”
Fernandes terdiam. “Besok,” katanya kemudian, “kamu akan bertemu tamu.”
Alea mengernyit. “Siapa?”
“Aliansi lama,” jawab Fernandes. “Kamu harus terlihat sempurna.”
Alea merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Naluri. “Pernikahan?” tanyanya dingin.
Fernandes tersenyum tipis. “Kamu cerdas.”
Alea tertawa kecil. Tanpa bahagia. “Takdir apa lagi ini Pah?” sindirnya.
Fernandes mendekat. “Ini bukan tentang takdir. Ini tentang kelangsungan.”
Alea menatap bayangannya sendiri di kaca. Lehernya masih membiru. Luka-lukanya belum sembuh. Di kepalanya, satu wajah muncul. Bara.
“Katakan saja, Papa,” ucap Alea pelan. “Papa ingin Alea menjadi pion kan?”
Fernandes menepuk bahunya. Keras. Klaim.
“Kamu Arexi.”
Alea menepis tangan itu. “Dan Papa lupa,” katanya dingin, “pion juga bisa menusuk rajanya.”
Fernandes tertawa kecil. “Kita lihat nanti.”
Malam semakin larut. Di dua mansion berbeda, dua jiwa yang terikat takdir yang sama sedang bersiap menghadapi perang yang bukan lagi soal senjata melainkan pilihan. Dan cinta. Yang di dunia ini, selalu menuntut darah sebagai harga.
Mansion Al Xavius kembali sunyi setelah langkah Bara menghilang di lorong panjang. Pintu besar tertutup pelan, namun gaungnya terasa seperti ledakan di d**a dua orang yang ditinggalkan di ruang utama itu.
Mama Sandra masih berdiri di tempatnya. Tangannya gemetar samar. Napasnya tertahan terlalu lama.
“Anak kita berubah,” bisiknya akhirnya.
Papa Andreas duduk kembali di kursinya. Perlahan. Terlalu terkendali. Tapi Sandra mengenalnya terlalu lama untuk tidak melihat retakan kecil di balik wajah dingin itu.
“Dia tumbuh,” jawab Andreas singkat.
Sandra menoleh tajam. “Tidak. Dia terluka.”
Andreas menghela napas panjang. Ia menatap meja marmer yang retak halus akibat gebrakan Bara tadi. Retakan itu kecil, nyaris tak terlihat namun cukup untuk mengingatkannya pada satu hal yang selalu ia takutkan. Kekuatan Bara.
Bara bukan hanya anaknya. Bara adalah senjata yang ia ciptakan sendiri.
Usia dua puluh tiga tahun, namun sudah menyandang dua gelar yang bahkan pria-pria tua di dunia mafia butuh puluhan tahun untuk mencapainya. CEO jaringan legal Al Xavius Group di siang hari. Ketua mafia paling ditakuti di dunia di malam hari.
Dan Bara melakukannya dengan caranya sendiri. Tanpa ragu. Tanpa takut. Tanpa belas kasihan.
“Kamu lihat matanya tadi?” tanya Sandra lirih. “Itu bukan mata anak yang sedang membantah orang tuanya. Itu mata predator yang sedang menahan diri.”
Andreas terdiam. Ia ingat dengan jelas bagaimana Bara kecil dulu. Bocah berusia delapan tahun yang berdiri di samping jasad pria yang mencoba membunuhnya. Darah di tangannya. Wajahnya pucat. Tapi tidak menangis.
“Pah,” katanya saat itu, suaranya tenang. “Kalau aku tidak menembaknya, dia akan menembak kita.”
Sejak hari itu, Andreas tahu darah mafia di tubuh putranya tidak hanya mengalir. Ia mendidih.
“Kita yang mengajarinya,” ujar Andreas akhirnya. “Dunia ini tidak ramah pada yang lemah.”
Sandra menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca. “Kita mengajarinya bertahan. Tapi kita lupa mengajarinya hidup.”
Ia duduk perlahan, tangannya menekan dadanya sendiri. Napasnya terasa berat.
“Aku takut,” aku Sandra jujur. “Bukan pada musuh. Tapi pada anak kita sendiri.”
Andreas menatap istrinya. Lama. Tak banyak orang yang berani berkata seperti itu padanya. “Kamu pikir aku tidak?” balasnya pelan.
Sandra terkejut. Andreas jarang mengakui ketakutan. “Bara bukan lagi anak yang bisa kita tekan dengan perintah,” lanjut Andreas. “Kalau dia marah dia bisa melakukan apa saja.” Kalimat itu menggantung di udara. “Termasuk membunuh mereka berdua.”
Sandra menutup mulutnya, menahan isak yang hampir lolos, “tidak akan,”
“Kamu yakin?” potong Andreas. “Kita hidup di dunia yang sama-sama kejam. Darah kita mengalir di tubuhnya. Dan kamu tahu, Bara tidak pernah setengah-setengah kalau ada orang yang berani mengusiknya.”
Sandra teringat bagaimana Bara menghabisi satu keluarga pengkhianat dua tahun lalu. Tanpa emosi. Tanpa ragu. Bahkan Andreas sempat terkejut dengan metode yang digunakan putranya terlalu bersih, terlalu dingin. Terlalu efektif.
“Kalau kita memaksanya menikah,” ujar Sandra pelan, “kita sedang menekan pelatuk.”
Andreas mengepalkan tangan. Ia tahu itu. Tapi ia juga tahu satu hal lain. Tahta. “Kalau kita tidak menjaga aliansi,” katanya, “kita membuka celah. Dunia ini tidak menunggu kita siap.”
Sandra menatap suaminya. “Apa arti tahta kalau harus dibayar dengan kehilangan anak kita?”
Andreas tidak langsung menjawab. Ia bangkit, berjalan ke jendela besar yang menghadap kota. Lampu-lampu berkilau di kejauhan seperti ribuan nyawa yang bergantung pada keputusan mereka.
“Bara terlalu berharga,” katanya akhirnya. “Bukan hanya sebagai anak. Tapi sebagai pemimpin.”
Sandra berdiri, mendekat. “Justru itu. Pemimpin yang tertekan adalah bom waktu.”
Andreas terdiam. “Alea Arexi,” ucap Sandra perlahan. “Perempuan itu bukan sekadar cinta sesaat.”
Andreas mengerutkan kening. “Dia membuat Bara goyah,” lanjut Sandra. “Dan juga tenang. Dua hal yang jarang ada pada dirinya.”
Andreas mengingat tatapan Bara saat menyebut nama Alea. Tegas. Yakin. Tidak bisa digoyahkan oleh apapun.
“Fernandes Arexi tidak akan diam,” kata Andreas.
“Dan Bara juga tidak,” balas Sandra. “Pertanyaannya, maukah kita berada di sisi anak kita, atau menjadi musuhnya?” Kalimat itu menusuk lebih tajam dari peluru.
Andreas menutup mata sejenak. Ia telah membunuh ratusan orang demi mempertahankan kekuasaan. Mengorbankan banyak hal. Tapi satu hal yang tidak pernah ia bayangkan. Harus berperang dengan darah dagingnya sendiri.
“Kalau Bara memilih melawan,” kata Andreas pelan, “dia bisa menghancurkan segalanya.”
“Termasuk kita,” tambah Sandra. Hening kembali. Di luar, angin malam berhembus pelan. Seolah dunia pun menahan napas.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Sandra akhirnya, suaranya hampir bergetar.
Andreas membuka mata. Tatapannya berat. Penuh perhitungan. “Kita mundur satu langkah,” katanya. “Bukan menyerah. Tapi mengamati keadaan dulu.”
Sandra menatapnya, harapan kecil menyelinap. “Pernikahan itu kita tunda,” lanjut Andreas. “Untuk sementara.”
Sandra menghela napas lega, meski tahu itu bukan kemenangan penuh. “Dan Alea?” tanya Sandra.
Andreas menoleh ke arah bayangan mereka di kaca jendela. “Perempuan itu,” katanya pelan, “bisa menjadi kelemahan Bara.”
“Atau kekuatannya,” sahut Sandra cepat.
Andreas tidak membantah. “Kita akan lihat,” katanya akhirnya. “Siapa yang lebih dulu menghancurkan siapa.”
Sandra menatap suaminya lama. “Aku hanya ingin satu hal.”
“Apa?”
“Jangan jadikan anak kita musuh.”
Andreas tidak menjawab. Namun untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ketua mafia itu merasakan sesuatu yang asing di dadanya. Ia merasa takut baru kali ini.
Karena ia tahu jika Bara Al Xavius benar-benar marah maka dunia ini tidak akan cukup besar untuk menampung kehancurannya.