Malam seperti menolak berakhir bagi Bara Al Xavius. Gerbang besi mansion pribadinya terbuka perlahan ketika mobil hitam itu memasuki halaman.
Lampu sorot otomatis menyala, membelah gelap, menyambut tuannya pulang seperti seorang raja yang baru selesai dari medan perang.
Tidak ada musik. Tidak ada suara sapaan.
Hanya langkah para penjaga yang buru-buru menunduk. Mereka tahu. Jika Bara pulang dengan wajah setenang itu, berarti badai sedang mencari tempat untuk meledak.
Mesin mobil mati. Bara keluar tanpa menunggu pintu dibukakan. Tangannya menyisir rambut ke belakang, rahangnya mengeras. Luka di pelipisnya tampak semakin jelas di bawah cahaya putih. Kering. Tapi amarah di matanya masih basah, menyala.
Ia berjalan masuk. Setiap langkah sepatu kulitnya memantul panjang di lorong marmer. Tidak ada satu pun staf yang berani mengangkat kepala. Bahkan udara terasa seperti menyingkir, memberi jalan. Pintu ruang kerja didorong.
BRAK!
Daun pintu menghantam dinding. Beberapa pria yang berjaga di dalam langsung berdiri tegak.
“Keluar,” ucap Bara singkat.
Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menawar. Dalam hitungan detik ruangan itu kosong, menyisakan Bara sendirian dengan detak jantungnya sendiri yang terdengar seperti genderang perang.
Ia berjalan menuju meja besar di tengah ruangan. Pernikahan, aliansi dan kesepakatan. Seolah hidupnya hanya angka yang bisa dipindahkan di papan catur.
Tangan Bara menyapu semua barang di atas meja. Laptop, berkas, gelas kristal jatuh berantakan ke lantai.
PRANG!
Suara pecahannya seperti musik kecil bagi kemarahannya.
“Papa pikir aku ini apa?!” desisnya pelan. “Barang dagangan begitu, hm?”
Ia tertawa singkat. Tajam. Pahit. Mereka selalu mengajarinya menjadi kuat. Mengajarinya untuk tidak tunduk. Mengajarinya untuk mengambil, bukan dimiliki.
Dan sekarang mereka ingin memilikinya. Ironis. Bara membuka kancing jasnya, membuang jasnya ke sofa, lalu berdiri menghadap jendela tinggi yang memperlihatkan seluruh kota. Lampu-lampu berkilau seperti ribuan nyawa yang bisa ia tekan kapan saja.
Tapi malam ini bukan tentang kota. Ini tentang Alea. Nama itu saja sudah cukup membuat napasnya berubah.
Wajah perempuan itu muncul jelas. Dingin. Tegak. Luka di tubuhnya seakan tidak pernah mampu membuatnya terlihat lemah.
Alea bukan beban. Alea alasan ia masih punya sisi manusia. “Aku tidak akan melepasmu baby girl,” ucap Bara pelan pada bayangan kota.
Apa pun yang terjadi. Bahkan jika yang harus ia hadapi adalah orang yang memberinya darah. Tangannya mengepal.
Kalau mereka pikir ancaman bisa membuatnya mundur, berarti Papa Andreas lupa satu hal paling penting tentang putranya. Bara tidak pernah mundur.
Di wilayah lain, malam punya wajah yang berbeda.
Markas Fred tidak mengenal kehangatan keluarga. Tempat itu dibangun dari ketakutan dan ketaatan mutlak. Dinding beton tebalnya seperti menelan suara, tapi tidak pernah mampu menelan dendam.
Galang berdiri di tengah ruangan. Darah menetes tipis dari pelipisnya, hasil dari interogasi sebelumnya. Namun bahunya tetap lurus. Kepalanya tegak. Matanya hidup dengan api yang tidak bisa dipadamkan siapa pun.
Fred duduk di kursi besarnya. Santai. Elegan. Mengamati putranya seperti melihat masalah yang harus diselesaikan.
“Kau memanggilku untuk apa?” tanya Fred dingin.
Galang menatap lurus. Tidak ragu. “Aku mencintai Briela, Pah.”
Waktu berhenti. Anak buah yang berjaga bahkan lupa cara bernapas. Fred bangkit. Langkahnya pelan, tapi setiap detiknya membawa ancaman.
BUGH!
Pukulan itu mendarat keras di wajah Galang. Suara benturan daging memenuhi ruangan. Tubuh Galang terhuyung, lututnya hampir menyentuh lantai.
Namun ia bertahan. Ia berdiri lagi. Ia selalu berdiri lagi.
Fred menarik kerahnya kasar. “Kau tidak punya hak menyebut nama itu!” bentaknya. “Kau tahu siapa dia bagi rencana kita?!”
Galang menyeringai. Darah mengalir dari bibirnya, tapi senyumnya tidak hilang. “Apa rencanamu lebih penting dari hidupku?” tanyanya pelan.
Fred mendorongnya hingga jatuh kali ini. Benar-benar jatuh. “Kau anak yang bahkan tak pernah kuharapkan lahir!” raung Fred. “Dan kau berani menentangku demi Briela? Bangun Galang. Briela lebih penting dari kau yang anakku sendiri.”
Galang tertawa pelan di lantai. Lelah, tapi menantang. “Kalau Briela tahu aku anakmu,” katanya, menatap dari bawah dengan sorot berbahaya, “apa dia masih akan memanggilmu Paman dengan hormat?”
Itu dia. Kalimat yang tidak boleh ada. Wajah Fred berubah. Bukan hanya marah. Takut. Dalam sepersekian detik, ketua besar itu melihat masa depan yang bisa runtuh hanya oleh satu rahasia.
“Seret dia!” perintahnya meledak.
Beberapa pria langsung menarik Galang berdiri. Pukulan tambahan mendarat, tapi Galang hanya tertawa kecil.
Ia menang. Karena untuk pertama kalinya, ia melihat ayahnya goyah. “Masukkan ke penjara bawah tanah,” lanjut Fred tajam. “Rantai dia. Jangan beri makan sampai dia tahu siapa tuannya!”
Galang diseret pergi. Namun sebelum tubuhnya hilang di lorong, ia memutar kepala sedikit.
“Perasaan tidak pernah tunduk, Pah,” katanya.
Pintu besi menutup. Dentumannya panjang.
Fred berdiri dengan napas berat. Tangannya gemetar samar, sesuatu yang jarang terjadi.
Ia membenci situasi ini. Ia membenci bahwa cinta bisa membuat seseorang berani melawan darahnya sendiri.
Angin malam menyentuh kulit Briela dengan lembut. Kontras sekali dengan perang yang terjadi di tempat lain.
Ia duduk di balkon mansion, mengenakan pakaian hitam tipis, kaki terlipat, dagu bertumpu di lutut. Kota terlihat damai dari kejauhan.
Terlalu damai. Pikirannya tidak. Kenapa wajah itu muncul lagi? Kenapa harus Bara? Briela mendesah kesal, memejamkan mata, berharap bayangan itu pergi.
Tidak. Semakin jelas. Cara Bara berdiri di hadapannya. Cara pria itu seolah tidak peduli pada risiko. Cara suaranya berubah lebih hangat ketika berbicara padanya.
Menyebalkan. Pipinya memanas. “Sial,” gumamnya. “Gue mikir apa sih?”
Ia berdiri, berjalan gelisah. “Gak ada cinta. Gak ada kasih sayang,” katanya lebih keras, seperti mantra untuk membentengi diri.
Ia tumbuh di dunia di mana perasaan adalah kelemahan. Orang mati karena ragu. Orang dihancurkan karena percaya.
Ia tidak akan jadi salah satu dari mereka. Tidak akan. Tapi kalau begitu kenapa ia ingin tahu apakah Bara sudah sampai rumah? Kenapa ia khawatir?
Kenapa dadanya terasa aneh setiap kali mengingat ancaman yang mengelilingi pria itu?
Briela menggertakkan gigi. “Berhenti,” perintahnya pada diri sendiri. Namun hati tidak pernah benar-benar patuh.
Bara masih berdiri di depan jendela ketika salah satu tangan kanannya masuk dengan hati-hati.
“Tuan,” katanya pelan, “kita mendapat kabar.”
Bara tidak menoleh. “Apa.”
“Orang tua anda mulai bergerak. Mereka berbicara dengan beberapa keluarga untuk mempercepat aliansi Ini terlalu berbahaya.”
“Tuan?”
Bara akhirnya menoleh. Matanya membuat pria itu menelan ludah. “Siapkan mobil,” ucap Bara.
“Kita mau ke mana?”
Jawaban Bara singkat. “Ke manapun yang bisa membuat mereka berhenti mengatur hidupku.” Dan malam itu, keputusan mulai lahir.
Di penjara bawah tanah, Galang bersandar pada dinding dingin. Rantai mengikat tangannya, tapi tidak bisa mengikat pikirannya.
Ia tertawa kecil, lalu meringis karena luka di wajahnya. Briela. Ia membayangkan perempuan itu. Keras kepala. Cantik. Berbahaya. Layak diperjuangkan. “Aku tidak akan menyerah,” bisiknya.
Bahkan jika ia harus keluar dari sana sebagai musuh ayahnya sendiri.
Malam yang sama. Tiga anak dari tiga kerajaan gelap. Semuanya mencintai orang yang salah menurut keluarga mereka. Dan para orang tua mulai belajar satu hal yang terlambat mereka sadari.
Anak-anak yang mereka besarkan sebagai senjata suatu hari bisa berbalik mengarah pada mereka. Badai belum berakhir. Tapi retakan sudah muncul. Dan ketika retakan itu melebar, tidak ada tahta yang cukup kuat untuk bertahan.