Malam tidak pernah benar-benar ramah bagi Alea Arexi. Ia berdiri di tengah ruang kerja yang terlalu besar untuk disebut ruangan keluarga, namun terlalu dingin untuk disebut rumah.
Lampu gantung kristal memantulkan cahaya putih ke lantai marmer, membuat bayangan tubuhnya tampak kecil di hadapan meja panjang tempat Fernandes Arexi berdiri.
Papanya. Pria itu tidak pernah perlu meninggikan suara untuk membuat dunia gemetar. Diamnya saja sudah cukup menjadi ancaman.
“Ada sesuatu yang harus kau ambil malam ini,” ucap Fernandes akhirnya.
Alea tidak langsung menjawab. Ia sudah hafal. Setiap kalimat yang dimulai seperti itu tidak pernah berakhir dengan pilihan. Hanya perintah.
“Di mana?” tanyanya singkat.
Fernandes melempar sebuah foto ke atas meja. Gedung besar dengan pagar tinggi, lampu penjagaan, dan lambang keluarga yang terlalu ia kenal.
Darah Alea terasa turun satu derajat.
“Andreas Al Xavius menyimpan berkas kerja sama di sana. Aku mau itu ada di tanganku sebelum fajar.”
Tentu saja. Tentu saja harus keluarga itu lagi.
“Tingkat keamanan mereka naik dua kali lipat sejak kejadian terakhir,” Alea berkata datar. “Mereka pasti mengantisipasi serangan.”
“Dan?” Fernandes menatapnya. Satu kata. Tajam.
Alea menelan napas. “Aku berangkat sekarang.”
Tidak ada pujian. Tidak ada terima kasih. Fernandes hanya menatapnya seolah melihat senjata yang ia kirim ke medan perang.
“Kau anakku,” katanya pelan, tapi keras. “Jangan kembali sebelum tugasmu selesai.”
Kalimat itu selalu punya arti lain. Lebih baik mati daripada gagal. Alea berbalik. Tumit sepatunya memantul pelan di lantai marmer, terdengar seperti hitungan mundur bagi nasibnya sendiri.
Di kamarnya, ia bergerak cepat. Pakaian hitam, lentur, menyatu dengan bayangan. Senjata kecil di paha. Pisau di punggung. Dan terakhir.
Topeng. Benda itu menutup separuh wajahnya, menghapus identitasnya sebagai putri seorang ketua mafia, menyisakan hanya seorang bayangan yang siap melukai atau dilukai.
“Takdir,” gumamnya lirih. Takdir yang bahkan tidak pernah ia pilih.
Markas Andreas berdiri terang seperti binatang besar yang tidak pernah tidur.
Mobil Alea berhenti jauh dari area utama. Ia berjalan kaki, menyusuri jalur gelap, membiarkan hujan tipis yang mulai turun menyatu dengan kulitnya. Dingin membuat pikirannya lebih fokus.
Dari atas tembok, ia bisa melihat patroli bergerak cepat. Banyak. Tegang. Mereka memang menunggu sesuatu. Sayang sekali mereka tidak pernah tahu dari arah mana bahaya datang.
Alea melompat turun nyaris tanpa suara. Tubuhnya menyelinap di antara kendaraan, bayangan, dan celah kamera yang sudah ia hafal dari peta keamanan.
Satu penjaga menyadari gerakan. Terlambat.
Tangan Alea menutup mulut pria itu, pukulan singkat membuatnya roboh tanpa sempat memberi alarm. Ia menyeret tubuh itu ke balik pilar, napasnya tetap stabil.
Tidak boleh ragu. Ragu berarti mati. Ia masuk lebih dalam. Lorong demi lorong. Bau besi dan kekuasaan. Tempat itu mengingatkannya bahwa dunia mereka sama kotornya, hanya berbeda lambang keluarga.
Ruang arsip ada di lantai dua. Alea menaiki tangga darurat. Namun tepat ketika ia hampir sampai, sirene pendek berbunyi.
Seseorang menemukan penjaga tadi. “Penyusup!”
Suara teriakan pecah. Alea mendecak pelan. Cepat. Ia berlari. Dua pria menghadangnya jatuh dalam hitungan detik. Map yang ia cari berada di lemari besi kecil yang sudah disebutkan Fernandes.
Kode berhasil dibuka. Tangannya meraih berkas itu. Dapat. Namun langkah kaki membanjiri lorong. “Ouh sial!”
Andreas sedang berada di ruang rapat ketika kabar itu datang.
“Ketua! Ada penyusup!”
Pria itu berdiri begitu cepat hingga kursinya terlempar. Wajahnya berubah gelap. “Berani sekali,” desisnya.
Ia berjalan keluar, amarahnya memimpin. Tak seorang pun mencuri darinya dan pulang dengan selamat.
Alea menerobos pintu darurat menuju halaman belakang. Udara malam menghantam wajahnya, hujan kini turun lebih jelas. Sorot lampu mengejarnya, peluru mulai menyentuh dinding dekat tubuhnya.
Ia berlari zig-zag, melompati pagar rendah.
Lalu suara itu datang. “Berhenti!” Suara itu dingin, berat dan penuh kuasa.
Alea menoleh sepersekian detik.
Andreas. Pria itu berdiri beberapa meter darinya dengan pistol terangkat. Tatapannya tajam, berusaha menembus topeng.
Ia tidak mengenalinya. Syukurlah. Namun langkah lain menyusul dari sisi kanan. Cepat.
Lebih muda. Lebih mengguncang bagi jantung Alea daripada yang ia inginkan.
Bara. Pria itu bergerak seperti badai, mengejar tanpa ragu, tanpa takut. Seolah penyusup ini adalah urusan pribadinya.
“TANGKAP DIA!” teriak Bara.
Tentu saja. Selalu dia. Alea mengutuk dalam hati, lalu melompat melewati pagar berikutnya. Bara tepat di belakangnya. Terlalu dekat.
Kenapa napas pria itu terdengar begitu jelas?Kenapa keberadaannya selalu terasa bahkan di tengah perang?
Alea mendarat, berlari lagi. Map itu ia genggam kuat. “Maaf, Bara. Sejak lahir memang begini.”
Ia berhasil mencapai area gelap di luar pagar utama. Mobilnya sudah menunggu dalam jarak beberapa puluh meter. Hanya sedikit lagi. Namun langkah Bara tetap mengejar.
“BERHENTI!” kali ini lebih dekat.
Nada dinginnya merayap di punggung Alea.
Jangan menoleh. Jangan goyah. Ia mempercepat langkah.
Dalam satu momen nekat, Alea berhenti di tikungan kecil, menoleh sebentar ke arah Bara yang hampir menyusul. Hujan membasahi topengnya.
“Sorry,” ucapnya pelan, cukup keras untuk terdengar.
Bara membeku sedikit, mungkin terkejut karena penyusup ini berani berbicara.
“Kita memang ditakdirkan jadi musuh.” Lalu Alea berlari lagi.
Ia masuk ke mobil, mesin menyala, ban berdecit tajam meninggalkan lokasi sebelum Bara bisa mencapai pintu.
Mobil itu lenyap ke jalan raya.
Bara berdiri di sana, d**a naik turun, hujan mengalir di wajahnya. Matanya mengikuti arah kendaraan itu sampai tak terlihat.
Ada sesuatu. Suara tadi. Kenapa terasa familiar? Namun tidak cukup jelas untuk dijadikan jawaban.
Andreas datang beberapa detik kemudian, wajahnya murka. “Dia lolos?”
Bara mengepalkan tangan. “Ya.”
“Siapa dia?!” Bara terdiam. Aku tidak tahu. Dan entah kenapa, ketidaktahuan itu membuat dadanya tidak nyaman.
Jauh dari sana, Alea menghentikan mobil di sisi jalan sepi. Hujan turun lembut sekarang.
Tangannya gemetar kecil ketika ia menatap map di pangkuannya. Lambang keluarga Al Xavius tercetak jelas di sana. Misi selesai. Ia seharusnya lega. Tapi yang terasa justru berat.
Wajah Bara saat berteriak mengejarnya terlintas lagi. Cara pria itu tidak menembak. Cara ia ingin menangkap.
Kenapa? Alea menengadah ke langit gelap.
“Maaf,” bisiknya lagi. “Kalau dunia kita berbeda, mungkin ceritanya juga beda.”
Tapi dunia tidak pernah memberi mungkin bagi anak-anak seperti mereka. Ia menginjak gas. Mobil kembali melaju menuju mansion Arexi.
Besok ketika mereka bertemu lagi jika bertemu mereka akan berdiri di sisi yang berlawanan.
Sebagai musuh. Tanpa pernah tahu bahwa malam ini, jarak mereka hanya beberapa langkah dan satu topeng.
“Apa itu kamu baby girl?” ujar Bara dengan nada dinginnya, ia langsung tersenyum miring.