Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Alea menyetir tanpa benar-benar melihat jalan. Lampu kota lewat seperti garis cahaya yang kabur, sementara di kepalanya hanya ada satu wajah.
Bara. Cara pria itu berteriak memerintah.
Cara langkahnya yang semakin dekat. Cara suaranya menembus hujan ketika ia berkata berhenti.
Ia hampir tertangkap. Hampir. Kalau saja tadi ia terpeleset satu detik lebih lama, kalau saja napasnya goyah, kalau saja Bara berhasil menarik topengnya
Alea menekan pedal gas sedikit lebih dalam.
“Fokus,” gumamnya pada diri sendiri. “Misi selesai Alea. Lo gak salah ini takdir lo jangan pikirkan cowok yang sekarang jadi musuh lo. Fokus Alea. AARGH!”
Tapi hatinya tidak merasa menang. Yang ada justru perasaan aneh. Berat. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di halaman markas Al Xavius bersama tatapan pria itu.
Kenapa dia tidak menembak? Itu pertanyaan yang terus kembali. Bara terkenal kejam ketika menghadapi musuh. Ia bukan tipe yang memberi kesempatan kedua. Tapi malam ini, saat jarak mereka cukup dekat untuk mengakhiri segalanya. Namun tadi jelas tidak ada peluru.
Yang ada hanya perintah untuk menangkap.
Menangkap berarti membuka topeng. Menangkap berarti melihat wajahnya.
Alea menggigit bibirnya keras. “Gak mungkin, gak mungkin Bara tau kalau itu gue.” bisiknya.
Tidak mungkin Bara mengenalinya hanya dari gerakan. Itu mustahil. Ia memakai penyamaran, suara ditahan, jarak pandang minim. Mustahil. Tapi kenapa firasatnya mengatakan sebaliknya?
Mobil akhirnya memasuki gerbang mansion Arexi. Besi tinggi terbuka lambat, seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang pulang. Rumah atau penjara Alea tak bisa memastikan keduanya itu.
Alea mematikan mesin, mengambil map dari kursi sebelahnya, lalu turun. Langkahnya tegas, meski di dalam ia masih gemetar.
Fernandes sudah menunggu. Selalu begitu. Pria itu seperti tidak pernah tidur ketika menyangkut perang.
Ia berdiri di ruang utama, jasnya rapi, wajahnya dingin. “Ada masalah? Apa kau gagal lagi Alea?” tanyanya ketika melihat Alea datang tanpa luka berarti.
“Tidak.” Alea menyerahkan map itu. “Target didapat. Ambil ini.”
Fernandes menerimanya, memeriksa lambang keluarga Al Xavius di bagian depan. Matanya menyipit puas.
“Bagus,” katanya singkat.
Hanya itu. Selalu hanya itu.
Namun kali ini Alea tidak langsung pergi. Ada sesuatu yang mengganjal. Terlalu besar untuk ia telan sendiri.
“Pah,” panggilnya.
Fernandes menoleh sedikit. “Apa?”
Alea ragu sepersekian detik. Ia benci ragu. Tapi nama itu terlalu berbahaya.
“Bara ada di sana.”
Tangan Fernandes berhenti membuka map.
“Memang seharusnya dia ada di sana,” jawabnya datar. “Itu wilayahnya.”
“Aku hampir tertangkap.”
Fernandes menatapnya sekarang. Tajam. Menghitung. “Lalu kenapa kau berdiri di sini?”
“Aku lolos.”
“Berarti tidak ada masalah.”
Bukan itu. Bukan itu yang ingin Alea katakan.
Ia menarik napas. “Dia tidak menembakku Pah. Harusnya dia tau Alea ini musuh udah dia habisi atau mungkin bisa aja langsung di bakarnya hidup hidup.”
Fernandes terdiam. Ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin. “Maksudmu?” suaranya turun.
“Dia bisa menembak,” Alea menjelaskan. “Jaraknya cukup dekat. Tapi dia memilih mengejar. Seperti dia ingin melihat siapa aku.”
Fernandes memandang putrinya lama. Lama sekali sampai Alea merasa seperti sedang diperiksa, bukan diajak bicara.
“Kau takut dia tahu?” tanya pria itu.
Alea ingin langsung menjawab tidak. Tapi bayangan mata Bara tadi terlalu nyata. “Aku gak yakin,” akhirnya ia jujur.
Fernandes mendekat satu langkah. “Dengar baik-baik. Jika Bara tahu kau yang masuk ke sana, maka perang akan berubah bentuk. Andreas tidak akan ragu mengorbankanmu untuk menghancurkanku.”
Alea tersenyum tipis. “Bukankah sejak lahir memang begitu?”
“Ini berbeda.”
“Tetap saja hasilnya sama,” Alea memotong. “Aku akan mati bukan?”
Fernandes tidak menyukai nada itu. “Selama aku hidup, tidak ada yang akan menyentuhmu.”
Alea hampir tertawa. Ia ingin percaya. Tapi dunia mereka tidak pernah berjalan berdasarkan janji orang tua.
“Kalau dia mencurigai sesuatu, kita harus bergerak lebih cepat,” kata Fernandes kemudian. “Mulai sekarang kau tidak keluar sendirian selama menjalankan misi.”
Alea mengangguk, meski dalam hati menolak.
Jika Bara memang curiga, penjagaan tambahan tidak akan menghentikannya.
Pria itu keras kepala. Berbahaya. Dan selalu mendapatkan apa yang ia mau. Termasuk jawaban. “Pergilah istirahat,” ucap Fernandes.
Alea berbalik, tapi langkahnya terasa berat.
Satu pertanyaan masih menempel. Apa benar Bara tahu?
Di sisi lain kota, Bara tidak pulang untuk tidur.
Ia menyetir tanpa arah jelas, tapi pikirannya sangat terarah ke Alea.
Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya seperti film yang tidak ingin selesai. Setiap gerakan semakin memperkuat keyakinannya.
Itu dia. Ia bisa saja langsung menyerbu mansion Arexi malam ini juga. Bisa saja datang, menarik perempuan itu keluar, memaksanya membuka semua rahasia.
Tapi ia tidak bodoh. Jika ia bergerak salah, Andreas akan tahu. Dan jika Andreas tahu, Alea dalam bahaya.
Mobilnya berhenti di tepi jalan kosong. Bara mematikan mesin, lalu menatap kegelapan.
“Kau bikin aku gila,” gumamnya.
Ia mengambil ponsel, membuka foto lama yang sudah lama tidak ia hapus. Alea tersenyum di sana. Tidak tahu bahwa masa depan akan memaksa mereka berdiri berlawanan.
“Apa kau sadar aku hampir mengenalimu tadi?” bisiknya.
Ia membayangkan jika topeng itu terbuka.
Apakah Alea akan memohon? Atau menantangnya kembali.
Entah kenapa, Bara yakin perempuan itu akan tetap menatapnya dengan keras kepala. Senyum miring muncul di bibirnya. “Kau tidak berubah,” katanya pelan. “Tetap nekat.”
Namun bersama senyum itu datang ketakutan. Jika ia bisa mengenali Alea, cepat atau lambat Andreas juga bisa.
Ia harus bergerak lebih dulu. Bara menyalakan mesin lagi. “Kalau kau mau main sembunyi,” katanya, tatapan berubah tajam, “aku akan jadi orang pertama yang menemukanmu baby girl.”
Malam semakin larut ketika Alea akhirnya sampai di kamarnya. Ia membuka topengnya, menatap bayangan sendiri di cermin.
Wajah yang sama. Tapi malam ini terasa berbeda. Bara hampir melihatnya. Dan bagian paling berbahaya. Sebagian dari dirinya hampir membiarkan itu terjadi.
Alea menyentuh pipinya pelan. “Kenapa lo berhenti waktu dia manggil Alea.” tanyanya pada refleksi dirinya.
Kenapa suaranya membuat kakimu goyah. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir semua kemungkinan.
Bara musuh. Bara anak Andreas. Bara adalah orang yang harus ia jauhi. Namun kenapa setiap memikirkan pria itu, yang ia rasakan bukan benci melainkan takut kehilangan.
Alea menjatuhkan tubuhnya ke kasur tanpa mengganti pakaian.Jika Bara benar mulai curiga, maka pertemuan mereka berikutnya tidak akan sesederhana kejar-kejaran.
Topeng mungkin tidak akan cukup. Dan saat hari itu datang ia tidak tahu apakah masih punya kekuatan untuk lari.
Sementara jauh di sana, Bara memutuskan menuju keputusan yang sama berbahayanya.
Ia akan menemukannya.
Bukan sebagai musuh. Bukan sebagai anak Andreas. Tapi sebagai pria yang tidak mau terlambat lagi.
“Bersiaplah, baby girl,” bisiknya pada fajar yang mulai muncul. “Kalau itu benar kamu, aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi.”