Perjalanan pulang terasa lebih lama dari biasanya. Bara duduk di kursi belakang mobilnya dengan siku bertumpu di jendela, menatap kota yang bergerak mundur dalam kilatan lampu. Biasanya pikirannya selalu penuh hitungan wilayah, distribusi, strategi. Malam ini tidak. Yang ada hanya sepasang bibir. Napas Alea yang bertabrakan dengan napasnya. Cara gadis itu mencengkeram jaketnya tanpa sadar. Detik singkat ketika dunia berhenti dan perang terasa tidak penting. Bara menggeser lidahnya ke sudut bibir, lalu menggigit pelan bibir bawahnya sendiri. “Manis,” gumamnya rendah, hampir seperti rahasia. “Aku suka, sayang.” Tangannya terangkat, menyentuh mulutnya sendiri, seakan memastikan momen itu benar-benar terjadi dan bukan ilusi karena terlalu takut kehilangan. Sopir di depan pura-pura tidak d

