Alea, You Are Mine!

1098 Words
Mansion Arexi tidak pernah memberi ruang untuk malam yang benar-benar usai. Bagi Alea Arexi, malam hanyalah jeda singkat sebelum luka baru diciptakan. Lampu kristal di langit-langit tetap menyala terang, membuat bayangan tubuhnya yang lelah terpantul di dinding marmer mansion Alea itu. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak darah tipis luka di lengannya belum sepenuhnya kering, dan perutnya masih terasa seperti diremas dari dalam. Ia baru kembali dari markas. Begitu pintu utama tertutup, Alea tahu. Udara di dalam mansion terlalu sunyi. Terlalu tegang. Tidak ada suara musik. Tidak ada pelayan. Tidak ada siapa pun yang berani berkeliaran. Papa sudah menunggu. Fernandes Arexi berdiri di tengah ruang tengah, jas hitamnya rapi, rambutnya tersisir sempurna, seolah ia tidak sedang menunggu putrinya yang pulang dengan tubuh hampir hancur. Tatapannya dingin. Tidak ada kemarahan tidak ada kekecewaan. Ini bakal lebih buruk dari yang Alea kira. “Kau kalah lagi Alea.” ucapnya tenang. Alea berhenti melangkah. Tubuhnya kaku. “Wilayah utara tidak jatuh, Pa.” Fernandes mendekat tanpa terburu-buru. PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Alea. Kepalanya terhempas ke samping. Dunia berputar. Ia nyaris jatuh, tapi sebelum sempat menyeimbangkan diri. BUGH! Tendangan itu menghantam perutnya dengan kuat. Alea terlempar ke lantai marmer, napasnya terputus, rasa nyeri menjalar brutal ke seluruh tubuh. Ia menggeliat, mencoba menarik udara, namun sepatu kulit Fernandes sudah menekan dadanya. “Kau membuatku terlihat lemah,” kata Fernandes dingin. “Kartel lain berani masuk wilayah netral karena kau tidak mampu mengendalikan keadaan.” Alea mencoba menggerakkan tangan. Sia-sia. Tubuhnya terlalu lelah. Terlalu sakit. “Papa,” suaranya serak. “Aku hampir mati.” Fernandes menurunkan kakinya bukan karena iba, tapi karena tidak lagi membutuhkannya. Ia berjongkok, menarik rambut Alea dengan kasar hingga wajah putrinya mendongak. “Dan kau tidak mati,” katanya pelan. “Itu artinya kau gagal dengan cara yang masih bisa kuterima.” Kepala Alea dibenturkan ke lantai. DUGH! DUGH! Yang ketiga membuat pandangannya gelap sesaat. Ia tidak bisa berkutik. Tidak bisa melawan. Tidak bisa berteriak. Tubuhnya tidak lagi menuruti perintah. Rasa sakit menumpuk, menghancurkan pertahanannya satu per satu. “Kau terlalu banyak berpikir,” lanjut Fernandes. “Perasaan tidak punya tempat di dunia ini.” Alea tertawa kecil suara pecah yang lebih mirip tangisan. “Aku manusia, Pah. AKU ANAK PAPA, KALAU PERLU BUNUH ALEA SEKALIAN PAH BIAR ALEA KETEMU SAMA MAMA” Fernandes berdiri. Lalu sesuatu yang jauh lebih menghancurkan daripada pukulan terjadi. Ia membungkuk dan mengecup kening Alea. Lembut. Lama. Seolah penuh kasih. “Papamu ini hanya ingin kau kuat,” katanya. “Papa melakukan ini demi kamu.” Itulah saat di mana air mata Alea akhirnya jatuh. Bukan deras. Bukan terisak. Tapi satu-satu, diam seolah penuh dengan kebencian. Ia muak dengan ini semua, ia bukan monster ia bukan pembunuh. Muak pada tangan yang memukulnya lalu menyebutnya cinta. Muak pada pria yang mematahkan tubuh dan jiwanya lalu menyebutnya pendidikan. Muak pada dirinya sendiri karena masih berdiri di hadapan Papa seperti anak kecil yang berharap dimaafkan. “Kau ingin Papa memaafkanmu?” tanya Fernandes. Alea tidak langsung menjawab. “Pergi ke kasino,” lanjutnya. “Menangkan 100 triliun malam ini.” Alea mengangkat kepala. “Itu tidak masuk akal.” Fernandes menatapnya datar. “Kalau gagal, jangan kembali ke mansion ini.” Kalimat itu bukan ancaman. Itu pembuangan. Alea mencoba kabur. Bukan karena rencana matang melainkan karena ia sudah tidak sanggup bernapas di dunia Arexi. Begitu keluar dari kasino pertama, ia berbelok ke gang sempit, menurunkan tudung kepalanya, mengganti jaket, berjalan berlawanan arah. Ia menahan nyeri di rusuknya, memaksa kaki melangkah meski tubuhnya menjerit. Namun Arexi selalu tahu. Lampu mobil menyala terang dari belakang. Rem berdecit. Dua pria turun. Alea berlari hanya beberapa langkah sebelum lengannya ditarik keras. Ia menendang, mencakar, menggigit. “LEPASIN AKU SIALAN!” PLAK! “Diamlah Nona Alea.” Tamparan keras membuatnya terdiam. “Kau milik Tuan Fernandes,” desis salah satu penjaga. “Dan aset bagus tidak boleh hilang.”Ia diseret kembali. Kali ini Fernandes tidak memukulnya. Ia hanya duduk di kursi, menatap Alea lama, seolah sedang menilai barang rusak yang tidak sesuai standar. “Kau bahkan gagal melarikan diri,” katanya tenang. “Menyedihkan.” Kalimat itu menghancurkan Alea lebih dalam daripada pukulan mana pun. Kasino Black Serpent berkilau seperti surga palsu. Lampu neon, musik keras, denting chip, tawa penuh kepalsuan. Alea duduk di meja taruhan tertinggi dengan wajah kosong. Tangannya stabil. Matanya dingin. Ia bertaruh. Sekali. Dua kali hingga puluhan kali. Angka terus naik. 50 triliun hampir tercapai. Orang-orang mulai berbisik, memperhatikan gadis muda yang bermain tanpa ragu, seolah uang bukan apa-apa baginya. Lalu suara itu muncul. “Kamu selalu terlihat paling hidup saat mau menghancurkan diri sendiri.” Alea menoleh. Bara Al Xavius. Ia duduk santai di seberangnya, jas gelapnya terbuka, tatapannya tajam namun penuh ketertarikan yang tidak ia sembunyikan. “Kenapa kamu selalu ada mana mana bastard?” tanya Alea dingin. Bara tersenyum kecil. “Karena kamu selalu berada di tempat yang salah baby girl.” Alea berdiri. “Menjauh.” Namun Bara bergerak lebih cepat. Dalam satu gerakan, ia mengangkat Alea menggendongnya tanpa peduli teriakan, tanpa peduli tatapan orang-orang. “BARA! TURUNIN AKU!” Alea memukul bahunya. “Aku tidak akan membiarkan kamu mati di sini sayang.” jawab Bara tenang. Ia membawanya keluar. Memasukkan Alea ke mobil. Dan pergi ke Mansion Al Xavius sunyi. Besar. Dingin. Terlalu bersih. Begitu diturunkan, Alea mendorong Bara sekuat tenaga. “Lepaskan aku sekarang,” teriaknya. “Jangan buat aku marah!” Bara mendekat. Tangannya menyentuh pipi Alea dengan lembut, kontras dengan dunia kejam yang mereka tinggali. “Alea,” bisiknya. “Aku tidak akan menyakitimu.” “Kamu sudah melakukannya,” desis Alea. Bara menunduk, bibirnya dekat telinga Alea. “You are mine, baby girl.” Alea tersenyum manis. Tangannya bergerak cepat. Pistol terangkat. Hampir menempel di dahi Bara. “Dalam mimpimu, brengsek.” Klik. Kosong. Bara tertawa pelan. “Kamu selalu terlalu berani. Jangan ikuti kata Papamu sayang kau hanya akan jadi b***k mesin pembunuhnya selamanya.” Alea tidak menunggu. Ia berbalik dan lari. Menuruni tangga, melewati lorong, keluar dari mansion itu tanpa menoleh. Bara tidak mengejar. Ia hanya menatap ke arah Alea menghilang. “See, semakin kamu lari,” gumamnya, “semakin aku ingin memilikimu baby girl.” Malam itu, Alea kembali ke Mansion Arexi.. Dengan luka baru. Dengan kebencian yang matang. Fernandes menatapnya singkat. “Kau masih hidup.” Alea tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, ia tidak takut pada Papa. Ia hanya menunggu. Karena cepat atau lambat seseorang akan mati. Dan Alea Arexi tidak berniat menjadi korbannya lagi. “Alea come here!” titah Fernandes dengan nada dinginnya. “What?” “AARGHHH…!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD