Perlindungan Penuh Obsesi

1300 Words
Pagi datang tanpa cahaya di hidup Alea Arexi. Mansion Arexi masih berdiri angkuh di atas bukit yang penuh bebatuan, dikelilingi pagar besi tinggi dan penjaga bersenjata. Namun di dalamnya, udara selalu terasa pengap. Tidak pernah ada pagi yang benar-benar baru. Yang ada hanya lanjutan dari malam sebelumnya. Alea duduk di tepi ranjang, telapak tangannya gemetar saat membalut luka di rusuknya. Memar keunguan membentang dari perut hingga pinggang. Setiap tarikan napas terasa seperti disayat dari dalam. Ia tidak menangis. Menangis adalah kemewahan yang tidak pernah diberikan di dunia Arexi. Cermin besar di seberang ranjang memantulkan sosoknya wajah pucat, mata cekung, rahang mengeras. Tidak ada sisa gadis delapan belas tahun yang seharusnya hidup normal. Yang ada hanya alat, senjata dan aset. Pintu kamarnya diketuk satu kali. Bukan permintaan. Perintah. “Alea,” suara dingin itu menembus dinding. “Turun.” Ia tahu siapa. Fernandes Arexi tidak pernah memanggil dua kali. Alea berdiri, mengenakan kemeja hitam berlengan panjang untuk menyembunyikan lebam. Rambutnya dibiarkan terikat rendah. Saat melangkah keluar kamar, dua penjaga langsung mengapitnya. Seperti tahanan. Ruang makan mansion telah dipenuhi asap cerutu dan aroma kopi pahit. Di sana, duduk beberapa pria dengan wajah keras bekas luka, mata penuh perhitungan, jas mahal yang tidak bisa menyembunyikan darah di tangan mereka. Para gembong mafia. Setiap hari. Setiap pagi. Fernandes duduk di ujung meja panjang, seperti raja di singgasananya. Tangannya mengetuk meja pelan saat Alea masuk. “Kau terlambat,” katanya datar. “Aku terluka Pah.” jawab Alea tanpa emosi. Fernandes menatapnya singkat, lalu berpaling. “Dunia tidak akan pernah peduli.” Seorang pria berambut perak tertawa kecil. “Itu putrimu? cantik. Tapi matanya tajam.” “Dia memang cantik seperti ibunya. Namun tetap akan ku hukum kecuali,” jawab Fernandes. “Selama dia patuh.” Kata itu menghantam Alea lebih keras dari tamparan mana pun. Patuh. Ia duduk tanpa bicara, menyimak pembicaraan mereka tentang jalur distribusi senjata, pencucian uang, dan perebutan wilayah utara area yang selama ini netral, namun kini diperebutkan karena jalur laut barunya. Nama-nama kartel disebutkan dengan santai. Jumlah korban dibicarakan seperti angka di laporan keuangan. Alea menahan amarah. Setiap hari seperti ini. Setiap hari ia dipaksa duduk, mendengar, menghafal, lalu menjalankan perintah. Tidak ada ruang untuk membantah. Tidak ada tempat untuk orang lemah. Fernandes sengaja. Ia sengaja membuat Alea berenang di lautan monster agar ia lupa bahwa dirinya manusia. “Alea,” panggil Fernandes tiba-tiba. “Kau akan menghadiri pertemuan siang ini.” Dengan siapa, ingin Alea bertanya. Namun ia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum Fernandes melanjutkan. “Kartel Serigala Utara,” kata Fernandes. “Mereka menolak untuk tunduk.” Alea mengangkat kepala. “Itu wilayah konflik. Mereka punya sejarah perang berdarah.” “Aku tahu,” sahut Fernandes tenang. “Karena itu aku mengirim kau.” Pria-pria di meja saling pandang. Beberapa tersenyum miring. “Sebagai apa?” tanya Alea akhirnya. Fernandes mencondongkan tubuhnya. “Sebagai peringatan.” Dada Alea sesak. “Papa mengirimku ke sana hanya untuk ditakuti.” Fernandes menatapnya lurus. “Aku mengirimmu karena mereka tidak akan berani menembak anakku. Kau tameng sekaligus pesan.” Ada sesuatu di d**a Alea yang runtuh. Ia ingin tertawa. Ingin berteriak. Ingin mengatakan betapa busuknya pria di hadapannya. Namun bibirnya hanya bergerak pelan. “Baik.” Satu kata itu adalah penyerahannya. Dan Fernandes tahu. Siang itu, Alea berdiri di tengah gudang tua di wilayah utara. Bangunan reyot itu dikelilingi peti-peti kayu dan truk bersenjata. Aroma besi dan mesiu bercampur di udara. Di seberangnya, berdiri pemimpin Kartel Serigala Utara seorang pria besar dengan tato menjalar di leher dan mata yang menilai. “Kau anak Arexi,” katanya. “Fernandes terlalu pengecut untuk datang sendiri.” Alea tidak tersinggung. Ia hanya menatap dingin. “Aku datang membawa tawaran.” “Tawaran atau ancaman?” “Keduanya.” Pria itu tertawa kasar. “Kau sendirian?” Alea menggeleng kecil. “Tidak.” Ia tidak menunjuk siapapun di situ. Penembak jitu Fernandes sudah mengunci atap-atap di sekitar gudang. Negosiasi berjalan tegang. Suara meninggi. Kata-kata tajam beterbangan seperti pisau. Dan di tengah semua itu Alea merasakan sesuatu yang aneh. Tekanan. Seperti ada mata lain yang mengawasinya. Naluri lamanya berteriak. Ia menoleh perlahan. Di kejauhan, di balik deretan truk, sesosok pria berdiri bersandar santai jas hitam, tubuh tinggi, aura berbahaya. Bara Al Xavius. Jantung Alea menghantam rusuknya sendiri. “b******n itu,” gumamnya. Ia tidak seharusnya ada di sini. Wilayah utara adalah daerah netral yang tidak boleh dimasuki kartel mana pun tanpa deklarasi perang. Namun Bara tidak pernah peduli aturan. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum kali ini. Hanya ketegangan yang tajam seperti kawat. Pertemuan keempat mereka. Dan tidak satu pun dari mereka tahu bahwa ini akan berubah menjadi neraka. Ledakan pertama datang dari sisi barat gudang. BOOM! Teriakan pecah. Peluru mulai berdesing. Truk-truk terbakar. Kekacauan meledak tanpa peringatan. “SERANGAN!” teriak seseorang. “Sial, emang hari gue sial kalau ketemu sama Bara cowok gila itu.” ujar Alea dengan raut wajah kesalnya. Kartel lain muncul dari bayang-bayang Kartel Elang Hitam. Mereka memanfaatkan pertemuan ini untuk merebut wilayah utara sekaligus. Perang tiga arah. Alea refleks menjatuhkan diri ke balik peti kayu. Peluru menghantam besi di atas kepalanya. “b*****t!” desisnya. Ia meraih pistol di paha, membalas tembakan dengan akurat. Di tengah kekacauan, ia melihat Bara bergerak cepat, menarik salah satu anak buahnya yang hampir tertembak. Gerakannya presisi. Tanpa ragu. “Dia melindungi orangnya,” pikir Alea. Lalu ia sadar ia sendiri terbuka. “MERUNDUK!” teriak Bara tiba-tiba. Terlambat. Peluru melesat ke arahnya. Namun tubuh Bara sudah lebih dulu bergerak. Ia menerjang Alea, menjatuhkannya ke tanah. Tubuh mereka berguling. Peluru menghantam peti kayu tepat di tempat Alea berdiri tadi. Napas mereka ngos ngosan. “BARA LO GILA?!” bentak Alea. Bara menatapnya tajam. “Aku bisa tanya hal yang sama.” Ledakan lain mengguncang gudang. “Gue gak butuh perlindungan lo!” Alea mendorongnya. Bara menarik lengannya. “Hari ini, kita butuh satu sama lain.” Alea ingin membantah. Namun kenyataan tidak memberi pilihan. Peluru datang dari segala arah. Mereka bergerak bersama tanpa rencana, tanpa kesepakatan, hanya naluri bertahan hidup. Alea menutup sisi kiri. Bara kanan. Saat granat dilempar ke arah mereka, Alea refleks menendang benda itu menjauh. “Cepat!” teriaknya. Bara menariknya ke balik truk, tubuhnya melindungi Alea dari serpihan ledakan. Sesaat hening. Asap tebal memenuhi udara. Alea menyadari sesuatu yang mengganggu. Bara Al Xavius musuhnya baru saja menyelamatkan nyawanya dua kali. Dan gilanya ia juga melindungi pria yang seharusnya ia benci. “Apa ini?” bisiknya. Bara menatapnya dalam gelap. Matanya hitam, dalam, penuh api. “Ini perang,” katanya rendah. “Dan kamu terlalu berharga untuk mati hari ini.” “Kau obses,” desis Alea. Bara tersenyum tipis. “Dan kau terlalu keras kepala untuk lari.” Mereka bangkit bersamaan. Di kejauhan, pasukan Elang Hitam mulai mundur. Mereka tidak menyangka dua kartel terkuat akan bertahan dan melawan bersama meski tanpa perjanjian. Wilayah utara dipertahankan. Dengan darah. Dengan pengkhianatan. Dengan sesuatu yang tidak seharusnya tumbuh di antara dua musuh. Saat sirene polisi mulai terdengar dari jauh, Bara menoleh ke Alea. “Kita akan bertemu lagi Alea sayang.” katanya pasti. Alea menatapnya dingin. “Aku tidak menginginkan hal itu. Kalaupun terjadi itu hanya dalam mimpimu saja.” Bara tertawa pelan. “Kau bisa membenci aku. Tapi kau tidak bisa menghindar. You are mine Alea.” Ia menghilang dalam kegelapan sebelum Alea sempat menjawab. Malam itu, saat Alea kembali ke Mansion Arexi dengan luka baru dan pakaian penuh darah, Fernandes menatapnya lama. “Wilayah utara bertahan,” kata Fernandes. “Bagus.” “Aku hampir mati,” jawab Alea. Fernandes menatapnya tanpa rasa bersalah. “Tapi kau tidak mati bukan.” Alea menunduk, rahangnya mengeras. Di dalam dirinya, kemarahan pada ayahnya semakin mengkristal. Dan di sudut pikirannya, satu nama terus berdenyut seperti luka terbuka. Bara Al Xavius. Permainan ini benar-benar baru dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD