Mansion Arexi selalu sunyi menjelang fajar.
Sunyi yang bukan menenangkan, melainkan menekan. Seolah setiap dinding menyimpan gema jeritan masa lalu, setiap sudut lorong menyimpan perintah yang tidak bisa ditolak.
Alea berdiri di depan jendela kamarnya, menatap taman luas yang basah oleh embun. Pipinya masih sedikit nyeri. Bukan karena tamparan malam sebelumnya itu sudah terlalu biasa melainkan karena satu nama yang terus berputar di kepalanya.
Bara Al Xavius.
Sentuhan singkat yang seperti klaim. Tatapan yang bukan sekadar ancaman. Dan tawa rendah yang seolah menertawakan seluruh dunia, termasuk dirinya.
“Aku tidak boleh memikirkannya,” gumam Alea pada pantulan wajahnya di kaca.
Namun dunia tidak peduli pada keinginan Alea. Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.
Fernandes Arexi masuk dengan langkah berat, jas abu-abu gelap melekat sempurna di tubuhnya. Di tangannya, sebuah map hitam tebal.
“Kau gagal membawa koper transaksi,” katanya tanpa basa-basi.
Alea menoleh perlahan. “Itu wilayah Bara Al Xavius. Jika aku memaksa,”
“Alasan,” potong Fernandes tajam. “Di dunia ini, hanya hasil yang dihitung.”
Alea menggenggam jemarinya. “Aku keluar hidup-hidup. Itu sudah,”
PLAK!
Tamparan kali ini lebih keras dari sebelumnya. Alea terdorong ke samping, hampir kehilangan keseimbangan.
“Kau hidup karena mereka mengizinkanmu,” bentak Fernandes. “Bukan karena kau hebat.”
Darah terasa di sudut bibir Alea. Ia menyekanya pelan, lalu menatap ayahnya dengan mata dingin.
Fernandes melempar map hitam ke arah ranjang. “Kau punya kesempatan menebus kegagalanmu.”
Alea membuka map itu. Isinya foto-foto. Pria-pria dengan jas mahal. Wanita-wanita dengan gaun berkilau. Lampu kristal. Meja judi.
“Cassino Aurora,” ucap Alea pelan.
“Tempat berkumpulnya para kepala keluarga mafia kelas atas,” lanjut Fernandes. “Aku butuh berkas yang disimpan di ruang VIP lantai tiga. Data transaksi. Nama pengkhianat.”
“Aku menyamar?” tanya Alea.
Fernandes tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah berarti baik. “Kau masuk sebagai pelayan.”
Alea mendongak cepat. “Apa?”
“Kau perempuan,” kata Fernandes dingin. “Manfaatkan itu.”
Dada Alea bergetar. “Papa selalu bilang tidak ada laki-laki atau perempuan di dunia gelap.”
“Dan sekarang aku bilang ada,” sahut Fernandes mendekat. “Saat itu menguntungkanku.”
Hening menekan ruangan. “Aku tidak menolak,” ujar Alea akhirnya. Bukan karena setuju. Tapi karena ia tahu apa yang terjadi jika ia mencoba melawan.
Fernandes menepuk pipinya pelan, seperti menepuk barang milik pribadi. “Bagus. Jangan buatku kecewa lagi.”
Cassino Aurora berkilau seperti surga palsu.
Lampu emas, lantai marmer, suara chip judi beradu, tawa-tawa palsu bercampur bau alkohol mahal. Dunia ini tidak pernah bersih. Ia hanya pandai menyembunyikan darahnya di balik kemewahan.
Alea mengenakan gaun hitam sederhana dengan belahan kecil di samping. Rambutnya disanggul rendah. Wajahnya dirias tipis cukup untuk menyamarkan ketajaman sorot matanya.
Ia berjalan membawa nampan minuman, langkahnya tenang, punggungnya tegak.
Namun dunia ini kejam pada yang terlihat lemah.
“Hei, pelayan baru?” ejek seorang pria bertubuh besar sambil menyeringai. “Kurusan amat. Bisa kerja apa?”
Tawa meledak di sekitarnya.
Alea tidak menoleh. Fernandes mengajarinya satu hal emosi adalah kelemahan. Namun ejekan itu masih saja tidak berhenti.
“Wajahnya sih lumayan,” celetuk yang lain. “Tapi tatapannya bikin gak nyaman.”
“Kayak mau ngebunuh orang,” sambung yang lain disambut tawa.
Alea melangkah pergi. Rahangnya mengeras. Ia mengingat misi. Lantai tiga. Ruang VIP.
Namun sebelum ia mencapai tangga, suasana di Cassino berubah. Seperti malam itu. Tekanan udara bergeser. Suara menjadi lebih pelan. Orang-orang memberi jalan.
Alea tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Namun ia tetap melakukannya.
Bara Al Xavius berdiri di tengah ruangan, jas hitamnya kali ini dipadukan dengan kemeja putih terbuka satu kancing. Wajahnya sama dinginnya, namun matanya mata itu langsung menemukannya.
Tatapan mereka bertemu. Bara menyipitkan mata. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia tahu.
Alea berpaling cepat dan melanjutkan langkah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. “Sial jantung bodoh jangan terpesona, dia mafia. Orang paling sadis pembunuh sepertimu dan Papamu.” ujarnya dalam hati.
Ia hampir mencapai tangga ketika sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangannya.
“Berhenti.” suara itu rendah. Dingin. Penuh kepemilikan.
Alea menoleh tajam. “Lepas.”
Bara menatapnya dari atas ke bawah. “Aku tahu itu kamu, baby girl. Jangan mengelak lagi.”
Darah Alea mendidih. “Lo ngapain sih? Kita gak kenal, ya. Jangan ikut campur urusan gue.”
Beberapa kepala menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar.
Bara mendekat, menurunkan suaranya hingga hanya Alea yang mendengar. “Panggilnya aku kamu. Jangan lo gue. Gak sopan, sayang.”
Senyum miring itu muncul lagi. Menyebalkan. Berbahaya. Alea tidak berpikir dua kali.
BUGH!
“Sssshhsss.”
Pukulannya menghantam tepat di rahang Bara. Suara benturan terdengar jelas. Cassino mendadak senyap.
Bara terhuyung setengah langkah. Beberapa anak buahnya langsung bergerak, tapi ia mengangkat tangan, menghentikan mereka.
Alea tidak menunggu. Ia berlari. Melewati meja judi. Melewati pintu utama. Nafasnya terengah saat ia keluar ke udara malam.
Ia tidak membawa apa-apa. Tidak ada berkas. Tidak ada data. Hanya kemarahan dan kesadaran yang menghantamnya telak.
“Habislah aku.”
Mansion Arexi menyambutnya dengan dingin.
Alea baru saja menutup pintu kamarnya ketika dua pria menarik lengannya kasar.
Fernandes sudah menunggu di ruang tengah.
“Berkasnya?” tanya Fernandes pelan. Terlalu pelan.
Alea menunduk. “Aku gagal.”
BUGH!
“AARGHH….!” teriak Alea keras.
Detik berikutnya tubuh Alea terlempar ke lantai. Tendangan keras menghantam perutnya. Nafasnya terhempas. Rasa sakit menjalar brutal.
“Kau mempermalukanku!” teriak Fernandes. “Di depan siapa? Bara Al Xavius!”
Alea meringkuk, menahan erangan.
Fernandes mencengkeram rambutnya, memaksanya mendongak. “Dengar baik-baik, Alea Arexi. Kau bukan anak. Kau aset.”
Darah menetes dari sudut bibir Alea. Namun matanya mata itu tetap menyala.
“Aku akan kirim kau lagi,” lanjut Fernandes dingin. “Dan kali ini, kau pulang harus membawa apa yang kuminta. Atau kau tidak usah pulang sama sekali Alea!”
Fernandes melepasnya begitu saja. Tubuh Alea terjatuh ke lantai marmer. Saat langkah Fernandes menjauh, Alea memejamkan mata.
Di dadanya, bukan hanya rasa sakit yang berdenyut. Ada api kemarahan, tekad dan bayangan mata gelap yang menatapnya di Cassino.
Bara Al Xavius.
Pria itu bukan sekadar musuh baginya. Dan Alea tahu, permainan gila ini baru saja dimulai.