5. Membujuk Pangeran

1376 Words
Sudah tiga hari Nezera berada di dalam istana utama, dia hanya melayani apa yang diperlukan Ruse di sana. Jika tidak ada kegiatan yang penting, Ruse hanya akan menyuruh Nezera duduk dan menemaninya melihat perkembangan wilayah Eternal Desire. Nezera bisa melihat seluruh pulau dari kekuatan Ruse yang ditunjukkannya setiap hari. Cukup menghibur dikala Nezera merindukan ibu dan adiknya yang ada di rumah. Tidak tahu jika dia akan tinggal di dalam istana, Nezera bahkan tidak membawa pakaian ke sana. Namun, karena Nezera adalah pelayan kesayangan Ruse, dia mendapatkan keistimewaan untuk mendapatkan kamar yang memiliki isi lengkap. Sehingga kehidupan Nezera terjamin di sana bersama sang Raja. Setiap harinya, Nezera akan melihat ada banyak prajurit dan klan vampire lainnya yang datang dan menjelaskan mengenai wilayah mereka. Hingga Lucian datang bersama seorang tahanan, pria dengan darah manusia yang sudah tercemar dengan racun vampire itu sedang berusaha membaur dengan manusia di dalam Eternal Desire. Biasanya, manusia yang sudah tercemar akan langsung masuk ke dalam ruang isolasi selama beberapa minggu, hingga kesadaran mereka kembali dan tidak menyakiti manusia. Karena bagaimana pun mereka bisa saja sewaktu-waktu menyerang perkampungan manusia yang sudah dibangun oleh klan Eternal Desire. Manusia itu menatap tajam ke arah Nezera, dia bisa mencium aroma lain dari tubuh Nezera. Lucian memberikannya pada seorang penjaga tahanan, dan membawa pria itu pergi dari sana. “Ayah, kenapa Rhain tidak nampak beberapa hari ini?” tanya Lucian. “Dia sedang membenahi diri.” “Apa maksud Ayah?” “Datang saja ke kastil milik Rhain, kau akan tahu jawabannya di sana,” ujar Ruse. Lucian hanya mengangkat bahunya sekilas, lalu berpamitan untuk pergi dari sana. “Nezera, apa kau tahu kastil yang ada di barat?” tanya Ruse. “Apakah itu kastil milik Pangeran Rhain?” “Ya kau benar. Datanglah ke sana, dan berikan ini padanya. Jika dia mengusirmu, kau harus memastikan dulu agar Rhain menerima  ini,” jelas Ruse. “Baik, Tuanku.” Nezera menerima sebuah benda dari Ruse, lalu dia berjalan menuju ke kastil Barat. Kastil itu terletak cukup jauh dari istana utama, dan Nezera lupa jika dirinya bukanlah vampire yang bisa berjalan dengan cepat untuk bisa sampai di tempat itu. “Ah … sial! Kenapa aku lupa? Kastil itu ada di ujung barat, dan sangat jauh dari istana utama!” gerutu Nezera. Setelah berjalan kaki sejauh lima kilometer, Nezera melihat kastil yang besar dan memiliki dua penjaga gerbang di depannya. Nezera menunjukkan lencana dari Raja agar bisa masuk ke dalam wilayah milik Rhain. Dia masih berjalan menyusuri lorong kastil, bertemu dengan beberapa pelayan di sana. “Maaf, dimana kamar Pangeran? Raja menyuruh aku untuk memberikan ini padanya,” ujar Nezera. “Pangeran sedang berada di dalam kamar itu, dia sedang tidak ingin diganggu, jika kau masih ingin bertemu, sebaiknya berhati-hatilah,” ujar seorang pelayan. Nezera mengangguk, dan melanjutkan perjalanannya untuk bisa bertemu dengan salah satu anak Raja itu. Tok Tok Tok “Pangeran, hamba datang karena Raja. Beliau memberikan ini padamu, apa kau tidak ingin keluar dan melihatnya?” tanya Nezera yang mencoba membuat Pangeran keluar dari sana. Terasa sunyi dan seperti tidak ada kehidupan di sana. sampai akhirnya Nezera terkejut dengan kehadiran Rhain di belakang tubuhnya. Rhain meraih benda itu dengan cepat dari tangan Nezera, dan pergi ke ujung lorong dengan cepat. “Astaga! Pangeran membuat aku terkejut,” ujar Nezera. “Pergi!” usir Rhain. “Apa? Maaf, Raja berpesan agar aku melihat kau menggunakan alat itu,” ujar Nezera. “Tidak perlu, aku akan menggunakannya saat kau sudah pergi dari sini!” “Tidak, dan aku tidak ingin Raja marah hanya karena kau tidak melakukannya, Pangeran!” Nezera berdiri di sana sedangkan Rhain terlihat masih menatap alat yang kini ada di tangannya. Alat itu adalah sebuah peta yang dibuat Ruse untuk Rhain. Ruse ingin Rhain pergi ke suatu tempat, dan menemukan beberapa barang di sana. Akan tetapi, di dalam pesan terakhir, ternyata Ruse ingin Rhain pergi dengan membawa Nezera, bukan Cleon. “Katakan pada Ayah, aku akan pergi dengan Cleon. Kau bisa pergi dari sini sekarang juga.” “Tidak bisa, Raja mengutus aku untuk mengikuti dirimu.” “Dasar keras kepala! Apa kau tidak sayang dengan nyawamu? Ayah ingin kau mati jika ikut bersamaku!” ujar Rhain. Nezera kembali memikirkan keselamatannya, jika dia benar tidak bisa kembali karena tewas, bagaimana dengan ibu dan adiknya? Tetapi … jika dia tidak pergi, maka dia akan mati di tangan Raja. “Tidak masalah, aku akan tetap pergi denganmu.” Rhain terlihat kesal dan memutuskan memanggil Cleon untuk mengusir Nezera. Pria bertubuh tinggi dengan mata merah itu berjalan dengan cepat hingga sampai di samping Nezera. “Nona, sebaiknya kau pergi dari sini!” usir Cleon. “Ini adalah lencana dari Raja yang membuat aku bertahan, jika kau mengusir aku, sebaiknya kau pastikan aku sampai di depan Raja dengan selamat, dan bersama Pangeran.” “Terlalu banyak berbicara, dan terlalu banyak keinginan!” ujar Rhain. Vampire itu mendekat dan menarik tangan Nezera dengan cepat. Mereka pergi menuju istana utama dan menghadap raja. Rhain mengembalikan Nezera pada ayahnya, agar tidak terluka saat menjalankan misi berbahaya. “Ayah, kenapa kau mengirim manusia ini?” tanya Rhain, kesal. “Akhirnya kau datang kemari, Nezera memang sangat pandai membujuk-mu rupanya.” “Apa?” “Tuanku, Pangeran sudah mengatakan jika dia bersedia pergi, hanya saja … Pangeran ingin pergi bersama pengawal pribadinya,” jelas Nezera. “Begitu rupanya. Baiklah, kau bisa pergi bersama Cleon. Kau harus kembali sebelum matahari terbit keesokan harinya,” ujar Ruse. “Baik, Ayah.” Rhain berbalik badan dan pergi dari sana. Sedangkan Nezera kembali duduk di samping Raja untuk menemaninya menjamu beberapa tamu yang datang ke istana. Diantara pada tamu kali ini, ada yang selalu meminta pelayanan lebih dari sekedar melayani di meja makan. Nezera terlihat sangat anggun, karena Raja memberikan pakaian yang sangat cantik dan juga indah. Gaun putih dengan memperlihatkan belahan daada dan punggungnya, membuat Nezera terlihat seksi dan menggoda. “Tuanku tidak pernah salah memilih, apa dia pelayan baru?” tanya seorang vampire. “Ya, dia adalah pelayan pribadi milikku, dan aku tidak akan memberikan dia pada siapapun,” jelas Ruse. “Ah … begitu rupanya.” “Jika kau menginginkan pelayan, ambil yang lain. Mereka tidak kalah cantik dengan Nezera.” “Tuanku selalu tahu apa yang sedang kami inginkan.” Nezera menelan ludahnya kasar, tidak menyangka jika para klan vampire di wilayah itu sangat haus akan kegiatan panas. Nezera telah selesai dengan kegiatannya di sana, dan sekarang waktunya dia kembali ke dalam kamarnya. Tanpa Nezera ketahui, seorang vampire sudah berada di dalam kamarnya. Menunggu Nezera hingga masuk ke dalam kamar itu, lalu menguncinya di sana. Nezera yang tidak tahu berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, tiba-tiba saja vampire itu menahan Nezera dan melempar tubuhnya ke atas ranjang. “Akh!” keluh Nezera. Kedua mata Nezera terlihat terbuka lebar, dia kini ketakutan karena wajah seram vampire itu membuatnya seperti berada di dalam lubang hitam. “A-apa yang akan Tuan lakukan? Aku mohon, jangan mendekat! Raja akan sangat marah jika tahu kau ada di sini,” ujar Nezera. “Hahaha, apa kau tidak tahu … Raja dan aku sudah bersahabat sangat baik sejak lama, dia tentu tidak akan keberatan jika aku mencicipi pelayan pribadinya,” ujar pria itu. “A-apa? Tidak … jangan lakukan apapun padaku, Tuan. Aku mohon! Aku di sini hanya ingin bekerja dengan baik, dan aku hanya ingin melaku –“ “Terlalu banyak bicara!” sela pria itu yang akhirnya mendekat dan kembali menahan tubuh Nezera. Pria itu mendekatkan wajahnya pada Nezera. Dan hampir saja dia menikmati puncak gundukan kenyal di sana. Sayang … Rhain melihat semua itu dan menyerangnya. BRAK “Sepertinya Ayah tidak mengizinkan kau untuk menyentuhnya, tetapi kenapa kau masih melakukannya?” tanya Rhain. “Cih! Kenapa kau ada di sini?” “Ada yang tertinggal, dan aku ingin mengambilnya. Tetapi, aku melihat hal yang tidak ingin aku lihat.” Tubuh Nezera terasa lemas, bahkan untuk bergerak saja, dia tidak mampu. Keributan itu diketahui oleh Ruse, pria bernama Killer itu mendapatkan hukuman dari Raja. “Rhain, bantu Nezera! Aku akan mengurus Killer.” “Apa?” Rhain bisa melihat tubuh Nezera yang tidak mengenakan sehelai benang pun. Mata Nezera terlihat kosong, dan seperti terkena sihir. Sebelum menyadarkan Nezera, Rhain memasang pakaian pada tubuh itu. “Menyusahkan saja!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD