Setelah sadar, Nezera melihat Rhain duduk dan membaca buku di sudut kamarnya. Saat ini, Nezera sudah mengenakan pakaiannya lengkap. Nezera membenarkan posisinya hingga setengah duduk, melihat Rhain yang tidak memiliki ekspresi di sudut sana, Nezera memberanikan diri untuk bertanya.
“Pangeran, apa kau sudah lama berada di sana?”
Rhain menutup bukunya, lalu berdiri dari sana dan berjalan keluar dari kamar Nezera. Terkejut dengan tingkah Rhain, Nezera berlari menghampiri pria itu.
“Pangeran, apa aku melakukan kesalahan? Aku sungguh minta maaf.”
“Lepaskan tanganmu!”
Nezera melepaskan tangannya dari tubuh Rhain. Dia melangkah mundur beberapa langkah lalu membiarkan pria itu kembali pergi menjauh darinya.
Nezera kembali berjalan ke dalam kamar, dia duduk di tepi ranjang dengan mengingat kejadian yang sudah terjadi beberapa waktu lalu. Hanya saja, Nezera tidak bisa mengingat apapun saat ini.
Termenung di dalam kamar itu seorang diri, tanpa sadar sudah ada yang menatapnya sejak beberapa menit. Seorang pria muda yang berusia jauh lebih di bawah Rhain. Ya … dia adalah Magnus. Anak termuda Ruse, yang kini sedang belajar untuk mengendalikan dirinya jika bertemu dengan manusia.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Magnus.
Nezera terjingkat mendengar suara Magnus, dia menunduk malu saat pria itu melangkah perlahan mendekati dirinya. Magnus berdiri di samping ranjang, dia memberikan sekotak cokelat pada Nezera.
“Aku dengar, makanan ini banyak disukai manusia seperti dirimu,” jelas Magnus.
“Terima kasih Pangeran.”
“Kau sepertinya sangat istimewa di mata Ayah dan Kakak. Apa kelebihan manusia seperti dirimu ini?” tanya Magnus yang tidak tahu apapun mengenai Nezera.
Nezera terdiam, tidak tahu harus menjawab apa di depan pria itu. Hingga seorang pelayan memberikan pakaian Nezera dan menyuruhnya untuk pergi ke kamar Raja. Nezera tidak mengerti dengan pemikiran Raja yang menyuruhnya untuk ke istana utama dengan pakaian yang terlihat istimewa.
“Hmm, sepertinya aka nada drama kali ini. Kau sungguh wanita yang bisa membuat perpecahan diantara kami,” ujar Magnus sembari berbalik badan dan pergi dari sana.
Nezera masih terdiam dan menatap pakaian itu. Dia tidak ingin pergi ke sana, karena takut jika Raja akan menyuruh hal aneh padanya.
“Nezera, Raja sedang menunggu, kau tidak mau mendapatkan hukuman bukan?” ujar seorang pelayan yang membawa pakaian itu.
“Ba-baiklah. Maafkan aku,” ucap Nezera.
Akhirnya Nezera segera mengganti pakaiannya dan bergegas menuju ke kamar Raja yang ada di istana utama. Berjalan seorang diri hingga sampai di depan kamar Raja. Nezera mengetuk pintu tiga kali dan Raja menyuruhnya untuk masuk ke dalam dengan segera.
“Tuanku … ada apa memanggil hamba?” tanya Nezera.
“Nezera, kemarilah!” panggil Ruse.
Nezera berjalan mendekat dan berdiri di samping ranjang Raja. Nezera nampak terkejut dengan tubuh Raja yang terlihat sangat kurus, dan jauh dari kata sehat. Raja menjelaskan pada Nezera jika dirinya mendapatkan serangan dari klan Red Rogues saat sedang berusaha mengantar pulang tamunya semalam. Ruse juga memberitahu Nezera jika obat dari semua itu adalah setetes darah dari tubuhnya.
Nezera melangkah mundur satu langkah. Takut, dan tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Bagaimana bisa darahnya menjadi sebuah obat bagi kaum vampire?
“Nezera … apa kau takut?” tanya Ruse.
“Tuanku … maafkan aku, aku sangat takut saat ini,” ujar Nezera.
“Aku akan menjelaskan padamu setelah kau memberikan setetes darah ke dalam mulutku. Kau bisa menggunakan jarum ini untuk mengeluarkan darah itu dari telunjuk jarimu.”
Mendengar penjelasan Ruse, Nezera berusaha untuk melakukannya. Akan tetapi, dia terlalu melukai jari itu hingga darah yang keluar cukup banyak.
“Akh!”
Nezera mengulurkan jarinya dan menempelkannya pada mulut Ruse. Pria itu memejamkan mata dan terlihat jelas jika tubuhnya berubah seketika. Ruse kembali muda seperti sedia kala. Dia tersenyum pada Nezera yang telah menyelamatkannya.
“Terima kasih,” ucap Ruse.
“Sama-sama ,Tuanku.”
Nezera merasa tubuhnya menjadi sangat lemas setelah mengeluarkan darah itu. Dia pun meminta izin untuk duduk di kursi yang ada di dalam kamar Ruse. Wajah Nezera terlihat sangat pucat, kepalanya terasa berputar. Dan Ruse mendekati Nezera untuk membantunya memulihkan diri.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Ruse.
“Tuanku, kepalaku terasa berputar. Apakah ini efek dari darah itu?” tanya Nezera memastikan.
“Mungkin saja, karena itu. Jangan sampai ada yang tahu selain kita,” ujar Ruse.
“Tuanku, aku … tidak bisa menahan diriku lagi.”
Tiba-tiba saja mata Nezera kembali terpejam rapat, dan dia terlihat sangat pucat.
Ruse merebahkan tubuh Nezera di atas ranjangnya. Lalu dia sendiri ke luar dari sana untuk melanjutkan pekerjaan. Di depan kamar sudah ada Lucian dan Magnus yang khawatir dengan kondisi Ruse.
“Ayah … mereka mengatakan jika kau terkena serangan dari Red Rogues.”
“Ya, dan aku sudah pulih sekarang,” jawab Ruse.
Mereka merasa sangat lega, akan tetapi tidak dengan Magnus yang tadi melihat keberadaan Nezera di dalam kamar Ruse. Magnus hendak masuk ke dalam kamar, tapi Lucian mencegahnya dan membawa adiknya itu pergi dari sana.
Setelah beberapa menit, Nezera membuka ke dua matanya. Pandangannya menyusuri ruangan kamar itu, hingga bisa dipastikan tidak ada siapapun di sana.
“Kepalaku sangat berat.”
Nezera berjalan keluar dari sana dan mencoba kembali ke dalam kamarnya sendiri. Namun, belum sampai di dalam kamar, Nezera bertemu dengan Sin yang baru saja kembali dari misi. Bersama Velorina, Sin menatap tajam pada Nezera.
“Hei, apa kau baik-baik saja?” tanya Sin.
“Ya, aku baik-baik saja Pangeran. Maaf sudah membuatmu berhenti melangkah.”
Nezera kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar. Dia berbaring di atas ranjang, lalu kembali memejamkan ke dua matanya.
***
Entah sudah berapa lama Nezera memejamkan mata. Saat terbangun, ada empat Pangeran yang sudah duduk mengelilingi dirinya. Tentu hal itu membuat Nezera terkejut dan bergerak menutup wajahnya dengan selimut.
“A-apa yang Pangeran lakukan di dalam kamarku?” tanya Nezera.
“Kamarmu?” tanya Magnus.
“Be-benar … bukan kah ini kamarku?” Nezera memastikan.
Pemilik kamar hanya terdiam, dan enggan berkata.
Tiga pria di sana menyuruh Rhain untuk mengatakan sesuatu pada Nezera.
“Kau … pergi sekarang juga, atau aku akan menghisap darahmu!” ancam Rhain.
Nezera membulatkan ke dua matanya dan beranjak dari sana. Pergerakan Nezera membuat ke tiga pria lainnya tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka jika pelayan itu akan datang ke kamar Rhain dan tidur di samping pria itu.
Napas Nezera tersengal karena berlari cukup jauh. Dan tubuhnya kini sudah tidak merasa lelah ataupun lemas lagi seperti sebelumnya. Nezera terlihat jauh lebih segar setelah terlelap beberapa jam. Saat menatap ke atas nakas, Nezera menemukan secarik kertas di sana. Itu adalah surat dari Philomena.
‘Sayang, apa kau baik-baik saja di dalam istana? Ibu sangat merindukan dirimu. Beberapa hari lalu, ada pengawal kerajaan yang mengirim sejumlah uang, dan mereka mengatakan jika itu hasil kerjamu. Ibu sangat senang, karena uang ini lebih dari cukup untuk hidup Ibu dan Demetria. Jika kau bisa pulang untuk beberapa saat, Ibu akan sangat senang menyambutmu dengan makanan dan minuman yang paling kau suka.’
“Ibu,” gumam Nezera sembari bercucuran airmata.
Nezera sangat merindukan keluarganya di wilayah Rebirt Desire. Ia tidak bisa kembali pulang jika Raja tidak memberikan izin. Dan saat ini, Nezera sudah tidak bisa lagi menahan diri. Dia berjalan mencari keberadaan Ruse, dan ingin meminta izin untuk pulang beberapa hari saja.
“Tu-tuanku.”
“Nezera … senang bisa melihatmu, aku mendengar jika kau berada di dalam kamar Rhain, apa kau lupa di mana kamarmu?” tanya Ruse.
“Tid-tidak … aku hanya sedang tidak sadar saja jika ada di sana.”
“Hahahha, tidak masalah. Aku senang ada yang berani masuk ke sana selain saudaranya.”
“Hmm.”
“Ah … maaf, aku lupa jika kau datang pasti memiliki tujuan. Apa yang sedang ingin kau minta dariku?”
“Hanya beberapa hari untuk kembali ke Rebirt Desire. Ibuku sangat merindukan aku. Dan … .”
“Baiklah … ajak Rhain bersamamu.”
“Apa? Tapi … Tuanku.”
“Kau bisa kembali ke sana, bersama Rhain.”
“Ba-baik, Tuanku.”