05

1699 Words
Sepulangnya dari rumah Raka, Aditya mendatangi bar yang sering dikunjunginya. Tak segan-segan dia meneguk tiga botol vodka tanpa jeda berarti. Pikirannya masih didominasi oleh Indria dan pertengkaran kecil mereka beberapa jam yang lalu. Indria yang dia kenal dulu adalah sosok polos nan lugu. Tetapi, sekarang wanita itu telah bermetamorfosis, Aditya dapat merasakan Indria menatapnya penuh kebencian dan juga...terluka. Aditya mengakui dirinya memang cocok dicap dengan sebutan 'pria berengsek'. Pasalnya dia juga sering mendapat u*****n seperti itu dari wanita-wanita yang dikencanginya Namun, Aditya tak ambil pusing. Tetapi, ketika u*****n tersebut keluar dari mulut Indria, dia seolah tidak terima. Ingin sekali Aditya buktikan bahwa dirinya tak seberengsek itu. "Gue tidak seberengsek itu, Indria!!" seru Aditya marah. Untung saja dentuman musik di bar sangat keras jadi pengunjung lain tidak mendengar seruannya. "s**l!!" umpat Aditya saat bayangan wajah Indria terlintas di pikirannya. Tak hanya itu, perut buncit Indria pun tidak luput dari bayangannya. Entah mengapa perut buncit tersebut menyita perhatiannya, seakan-akan ada magnet yang menarik Aditya untuk senantiasa melihat ke arah perut Indria, meski dirinya saling beradu tajam dengan wanita itu tadi. Tunggu dulu.... Bukankah usia pernikahan Raka baru menginjak kurang lebih enam bulan? Sedangkan, Raka mengatakan jika istrinya akan melahirkan sekitar dua bulan lagi. Maka dapat dipastikan bahwa Indria telah mengandung sebelum wanita itu resmi menikah dengan Raka! Ckckck. Bahkan kamu tidur dengan dua pria dalam jangka waktu berdekatan. Lalu apa bedanya dirimu dengan diriku, Indria?! "Wajah polos nan lugu serta tangisan pilumu malam itu ternyata hanya topeng belaka. Ckck, dengan mudahnya gue tertipu." Aditya menggenggam kuat gelas yang dia pegang. Emosinya kian tak stabil. Rasa benci merajainya. Demi apa pun. Aditya penasaran dengan topeng-topeng apa saja yang Indria gunakan untuk membuat kesan 'baik' pada dirinya. Ckck. Awalnya gue ingin menunjukkan bahwa gue tak seberengsek yang kamu kira, Indria. Namun, sepertinya itu tidak akan menyenangkan. Bagaimana jika gue perlihatkan saja sosok pria berengsek yang sesungguhnya? Pasti jauh lebih menarik! ********** Bertemu dengan Aditya kembali bagai mimpi buruk yang jadi kenyataan bagi Indria. Kini Aditya adalah saudara iparnya, bukan orang asing. Status mereka telah berganti menjadi keluarga. Kepala Indria pening memikirkan fakta tersebut. Berniat menghindar bahkan melupakan pria berengsek itu, akan tetapi semua sia-sia. "Aku harus bagaimana sekarang?!" gumam Indria kalang kabut. "Betapa bodohnya diriku masuk ke sebuah keluarga, dimana ada Raka yang begitu baik padaku. Tapi  di sisi lain seseorang dari anggota keluarga ini pulalah yang dengan tega menghancurkanku!" Indria meratapi nasib dirinya yang begitu malang. "Kau sungguh bodoh, Indria!" Air mata menetes semakin deras menandai hatinya yang tengah sakit seperti ditikam pisau. Tangisan wanita itu terganggu karena dering handphone-nya. Segera saja Indria mengangkat telepon yang ternyata berasal dari Raka. "Hallo, Sayang," sapa suaminya di.seberang telepon. Indria menghapus jejak air matanya. Dia tak ingin Raka tahu jika dirinya sedang menangis. "Iya Raka," balas Indria pelan. "Kamu darimana saja sih? Aku menghubungimu beberapa kali tapi kamu malah tak mengangkat telepon dan membuatku khawatir saja tahu," keluh pria itu. "Aku tidak kemana-mana, Raka. Dan aku baik-baik saja kok," jawab Indria setengah berbohong. "Kamu benar baik -baik saja 'kan, Sayang? Perasaanku tidak enak di sini." Raka bermaksud memastikan sekali lagi. "Iya, Sayang," jawab Indria singkat. Tidak mungkin dia bercerita pada Raka tentang apa yang terjadi hari ini. Indria belum sanggup Raka memberitahu tentang semua ini, pria itu pasti akan terluka dan merasa bersalah ketika tahu jika saudara kembarnyalah yang telah menghancurkan dirinya! "Kamu sudah bertemu dengan saudara kembarku, Indria?" tanya pria itu. Indria yakin Raka pasti akan menanyakan hal tersebut. "Iya, baru saja aku bertemu dengannya," jawab Indria. Pertemuan yang penuh ketegangan baginya. "Bagaimana? Apa dia bersikap baik padamu?" tanya Raka sedikit khawatir. Entah, Indria juga tak bisa menangkap arti dari nada kekhawatiran suaminya. "Iya dia baik kok, Raka. Memangnya kenapa?" Indria bertanya. Dia berbohong tentang kebaikan Aditya. Sungguh di matanya pria berengsek itu tidak akan pernah bisa berbuat baik! "Tidak. Aditya sedikit arogan. Aku agak khawatir dia berlaku seenaknya padamu," jawab Raka. Indria sibuk dengan pikirannya, tak membalas dan memberi jawaban. Pria berengsek bernama Aditya itu, bukan lagi bersikap arogan atau seenaknya pada Indria. Melainkan, telah melakukan perbuatan yang jauh lebih menyakitkan! Semakin dia membenci Aditya, maka perasaan bodoh yang dia simpan di lubuk hatinya tersebut juga ikut bertambah. 'Apa di dunia ini tak ada seseorang yang lebih pantas kau cintai selain si Aditya pria berengsek itu, Indria?' "Indria...," panggil Raka pada sambungan telepon, lamunan wanita itu pun berakhir. "Iya," balas Indira dengan satu kata singkat. "Kamu kenapa? Melamun? Jika ada masalah ceritakan padaku Indria," pinta Raka. Sebenarnya rencana yang ia siapkanlah penyebab utama dari 'terguncangnya' jiwa Indria. Di seberang sana Raka tak henti-hentinya merasa bersalah. "Maaf Raka. Aku harus menutup teleponmu, badanku lelah dan butuh istirahat. Aku baik-baik saja di sini, tak ada masalah yang terjadi. Selamat tidur, Raka. Jaga kondisimu dengan baik." Tanpa menunggu balasan suaminya, Indria langsung menutup sambungan telepon di antara mereka. Dia tidak ingin diganggu dulu untuk sekarang. ************* Derap langkah kaki seseorang berjalan mendekati Aditya yang duduk santai sambil meneguk vodka. Suara musik DJ di bar menganggu indra pendengaran setiap pengunjung, termasuk orang itu. "Ckckck, lambat banget lo datang!" seru Aditya kesal kepada orang tersebut. "Sorry, gue habis ada rapat dadakan," jawab orang itu dengan nada baritone-nya. Dia duduk di samping sahabatnya. "Mau vodka lo, Bob?" tawar Aditya. Entah sudah berapa botol vodka ia minum. "Gue lagi belajar berhenti minum," jawab pria bernama Bobby itu. Dia merupakaan sahabat karib Aditya sejak SMA. "Ckckck, orang sekelas lo mulai berhenti minum? Gila aja!" sindir Aditya, kini ia tengah berada di bawah naungan minuman beralkohol. Bobby menggeleng, tingkah sahabatnya ini semakin menjadi dari waktu ke waktu. Arogan, frontal dan kasar itulah sifat yang mendominasi Aditya. Rokok dan minuman beralkohol sudah menjadi hidangan wajibnya sehari-hari, bahkan kegiatan 'kencan semalam' bersama wanita yang berbeda merupakan menu khusus untuk Aditya. Mungkin hanya n*****a yang belum pernah dicicipi olehnya. "Lo lebih gila dari gue Aditya," balas Bobby. Aditya tersenyum meremehkan. "Kalau lo kagak berani gila, maka lo nggak akan bisa menikmati indahnya dunia," tanggap pria itu santai. "Ckck, dunia malam maksud lo?" Bobby menyindir secara blak-blakan. Toh, mereka sering terlibat perdebatan sengit. "Dunia yang gue nikmati!" balas Aditya dengan kearoganannya. Dia menuang vodka ke dalam gelas, lalu meneguknya hingga tak bersisa. "Ckckck, dunia yang lo nikmati, sekaligus dunia yang akan menghancurkan diri lo sendiri!" tambah Bobby. "Terserah lo mau bilang apa, gue kagak peduli!" Arogansi Aditya semakin tak terkendali. "Terus ngapain lo nyuruh gue datang ke sini? Apa lo cuma ngajak gue buat debat? Kalau gini gue ogah datang!" Bobby sedikit terpancing emosinya. "Santai, bro! Lo nggak usah emosi segala," peringat Aditya dengan kesadaran yang kian menurun akibat vodka yang dia teguk dari tadi. "Lo yang duluan mancing emosi gue! Makanya, gunain otak lo dengan benar!" geram Bobby emosi. Dia sudah hilang kesabaran. Jika Aditya bukan sahabatnya, pasti dia tidak akan mau repot-repot datang ke bar ini dengan keadaan yang lelah. "Udahlah gue malas debat sama lo! Gue cuma pengen lo dengerin cerita gue," kata Aditya.dia malas membahas hal yang menurutnya tidak penting. "Sulit ngomong yang serius sama orang pemabuk kayak lo," sindir Bobby lagi. Akan tetapi Aditya tak mendengar. "Gue ketemu dia lagi," beri tahu sang sahabat. Bobby tampak berpikir. "Dia siapa? Gue kagak ngerti," balasnya jujur. "Perempuan itu." Aditya kembali memberi kata-kata yang ambigu bagi Bobby. "Perempuan yang mana? Lo 'kan banyak ngencanin wanita. Kalau ngomong itu jangan berbelit-belit." Suruh Bobby to the point. Aditya memandangnya tajam. "Gue benci nyebut nama perempuan itu!" dia berseru marah. "Kalau lo nggak mengatakan nama perempuan itu. Gimana gue bisa tahu? Makin error otak lo, Dit!" "Indria." Aditya menyebut nama tersebut dengan penuh kebencian. Bobby tampak berpikir, mengingat nama yang baru disebut sahabatnya. "Indria? Perempuan yang tidak disukai oleh Kirana 'kan? Perempuan yang dia minta untuk lo hancurkan itu?" Pertanyaan bertubi-tubi Bobby ajukan. Aditya mengangguk dengan rahang wajah mengeras dan sorot mata yang tajam. "Kapan lo ketemu dia? Lo harus minta maaf atas perbuatan lo, Dit!" suruh Bobby tanpa basa-basi. Dari awal dia menentang keras ketika Aditya berniat memenuhi keinginan Kirana, wanita yang dicintai oleh sahabatnya itu. Ya begitulah Aditya, dia tetap melakukan apa yang dia kehendaki tanpa memikirkan dampak kedepannya. Tujuan Aditya hanya satu yakni agar Kirana mau menjadi pacarnya. Bahkan dia rela dimanfaatkan oleh Kirana untuk balas dendam. Dibalik sifatnya terkenal yang arogan, frontal dan kasar. Bukankah sesungguhnya Aditya merupakan sosok yang bodoh? Dia dengan mudahnya dimanfaatkan oleh seorang wanita yang belum tentu mencintainya dengan tulus! "Kenapa gue harus minta maaf pada perempuan itu?!" Nada bicara Aditya tidak bersahabat. Bobby kembali mengeram marah melihat kefrontalan sahabatnya ini. "Jelas-jelas lo salah! Lo harus minta maaf, Dit. Ini saran gue, demi kebaikan lo juga." Nasihatnya. "Ckck demi kebaikan gue?! Yang ada harga diri gue bakal turun gara-gara perempuan bermuka topeng kayak dia!" ucapan kasar keluar dari mulut Aditya, seakan mengimplementasikan rasa benci dan marah yang memuncak. "Gila ya lo, udah salah malah kagak sadar diri. Gue nyesel punya sahabat pengecut seperti lo! Ingat lo itu pria!" Bobby menunjuk d**a Aditya kasar. Entah bagaimana caranya untuk menyadarkan sang sahabat dari egonya yang konyol. Aditya tak tersulut emosi dengan tindakan sahabatnya itu. Dia mencoba tenang. "Bagi gue dia tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang pernah gue kencani." Ego Aditya mengalahkan akal sehatnya sendiri. "Seandainya ini tempat yang sepi, gue bakal tonjok lo, Dit!" ancam Bobby serius. "Gue kagak ambil pusing ketika lo mau mengencani berapa banyak wanita di luar sana. Tapi, untuk kasus perempuan bernama Indria, gue ngerasa lo sungguh pria yang berengsek," ujarnya kemudian. "Lo hancurin dia demi mendapatkan wanita yang lo cintai. Lantas apa lo kagak termasuk pria pengecut juga?!" imbuh Bobby menunjukkan kesinisan. "Ckck, sejak kapan lo jadi sok bijak gini, Bob?!" Aditya terus menyindir. "Sejak gue tahu kalau gue punya sahabat berengsek kayak lo!" jawab Bobby juga memandang Aditya tajam. Aditya mengepalkan tangannya kuat, menyalurkan setumpukan emosi. Semua gara-gara perempuan itu!! "Lo kira dengan ini gue bakal minta maaf padanya?! Gue tidak berniat melakukan hal tersebut!" tegas Aditya. Dia bangkit dari kursi. Ia ingin pergi dari hadapan Bobby. Sebelum benar-benar pergi, Aditya menyempatkan diri untuk mengucapkan beberapa patah kata yang membuat Bobby naik pitam. "Asal lo tahu, Bob. Gue malah tertarik untuk membuat perempuan bertopeng itu semakin hancur! Gue pengin tahu sejauh mana dia mampu menutupi topengnya itu," kata Aditya sarkasme dengan smirk di wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD