Indria tampak menerawang kembali ingatannya pada peristiwa malam itu. Semua masa depan yang dia tata dengan baik hancur begitu saja akibat perbuatan pria yang terkenal suka main perempuan itu. Perih dan sakit merupakan dua hal yang dapat menggambarkan bagaimana perasaan Indria sampai sekarang. "Perempuan bukanlah benda mati yang dapat kamu permainkan seenaknya! Aku punya perasaan dan hati! Aku benci diperlakukan seperti itu! Sungguh aku tidak pernah menyangka kamu akan melakukan hal tersebut padaku, Aditya. Aku selalu berpikiran kalau kamu orang yang baik sebelum peristiwa malam itu terjadi. Tapi, yang aku dapat apa?" Kali ini Indria memandang Aditya dengan kedua bola mata yang menyiratkan kekecewaan mendalam. Pria itu mengepalkan tangan kanan kuat-kuat. Dia marah dan benci pada dirinya

