Bintang menyambangi apartemen Davin, ia menyambangi sahabatnya tersebut dan mencari tau siapa yang sudah menjebaknya bersama Tari. Dengan raut wajah penuh emosi ia pun menyambangi apartemen sang sahabat.
"Eh Bin masuk" ucap Davin.
"Lo pasti tau kejadian malam itu kan Di" ucap Bintang tanpa berbasa-basi.
"Kejadian apa? kejadian yang mana?" tanya Davin tak mengerti.
"Jangan pura-pura lo" geram Bintang.
"Pura-pura bagaimana Bin? gue benar-benar gak tau apa pun" ucap Davin.
Bintang meneliti ruang apartemen Davin mencari letak cctv namun hasilnya nihil diruangan itu tak terdapat cctv. Ia kemudian segera keluar dan menuju perkantoran dari apartemen tersebut ia kemudian meminta bantuan seseorang untuk melihat rekaman cctv di malam naas itu.
Namun setelah beberapa saat mencari filenya rekaman di malam itu tak ditemukan, Bintang benar-benar geram. Ia kemudian menuju hotel tempatnya dan Tari menghabiskan malam waktu itu. Di sana pun hasilnya sama tak ditemukan rekaman dirinya bersama Tari dan orang yang mengantarkan mereka, sepertinya orang tersebut sudah merencanakan semuanya dengan sangat rapi untuk menjebaknya.
Bintang pulang dengan tangan kosong, ia memasuki rumah dengan raut wajah yang kusut.
"Bin..." sapa sang mama begitu melihat Bintang memasuki rumah.
"Mama dan mamanya Tari sudah membicarakan semuanya. Tanggal pernikahan kalian sudah ditetapkan" ucap Naomi.
"Terserah, Bintang bisa apa mah? gak ada yang bisa Kevin perbuat selain hanya bertanggung jawab dengan apa yang sudah Bintang lakukan" ucap Bintang kemudian berlalu menuju kamarnya.
Naomi menatap iba pada sang putra yang seperti kehilangan semangat hidupnya. Ia tau putra bungsunya tersebut begitu mencintai Luna, kehilangan Luna sama artinya kehilangan kebahagiaannya. Namun kenyataannya mereka tak berjodoh, ujian yang datang memisahkan mereka.
"Oma..." teriak si cantik Gabby yang datang bersama mamanya.
"Eh cucu oma" Naomi segera menghampiri sang cucu kemudian memeluk dan menciuminya dengan gemas.
"Mah apa benar kabar yang Kania dengar? Bintang dan Luna batal menikah?" tanya Kania.
"Gabby ke kamar uncle dulu ya sayang, main sama uncle. Oma dan maminya Gabby harus bicara" ucap Naomi pada cucunya.
"Baik oma" angguk Gabby seraya menuju kamar Bintang yang berada di lantai atas.
"Hati-hati nak" ucap Kania begitu sang putri menaiki anak tangga.
Kania mengikuti langkah mamanya ke ruang keluarga.
"Apa yang sudah terjadi mah? mereka bertengkar?" tanya Kania.
"Tari hamil karena adikmu" ucap Naomi seraya menghembuskan nafasnya lelah.
"Tari hamil karena Bintang? mereka...?" tanya Kania.
"Mereka dijebak, entah siapa yang menjebaknya, saat ini papamu sedang meminta orang untuk menyelidikinya. Dan sekarang orang tua Tari meminta tanggung jawab, mau gak mau Bintang harus meninggalkan Luna dan menikahi Tari" ucap Naomi.
"Astaga..." gumam Kania.
"Kasian adikmu, dia seperti orang linglung. Putus dari Luna dia seperti kehilangan semangat hidupnya" ucap Naomi.
"Ya mau bagaimana lagi mah, ini musibah kita pun gak menginginkannya kan. Dan kali ini Bintang harus bertanggung jawab pada apa yang sudah ia dan Tari lakukan" ucap Kania.
"Ya kamu benar bagaimana pun Bintang dan harus bertanggung jawab pada Tari, pada anaknya yang kini sudah berada di rahim Tari" ucap sang mama.
---
Pulang dari rumah orang tuanya Kania dan Gabby mampir ke kediaman Tari, ia disambut baik orang tua Tari.
"Hallo tante" sapa Kania.
"Hai sayang, hai cantik" Rani menyapa balik ibu dan anak itu.
"Sebelumnya Kania minta maaf atas apa yang sudah terjadi tan" ucap Kania.
"Semua sudah beres Kania, kamu tak perlu minta maaf. Bintang dan Tari akan bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka perbuat" ucap Rani, mamanya Tari.
"Boleh ketemu Tari tan?" tanya Kania.
"Langsung ke kamarnya saja, ayo tante antarkan" ucap Rani.
Rani menuntun Gabby menuju kamar Tari. Tak berapa lama setelah mengetuk pintu pun terbuka.
"Hei sayang" sapa Tari, ia menunduk mengecup pipi Gabby.
"Kalian bicaralah mama tinggal ya" ucap Naomi.
"Ya, terima kasih tante" ucap Kania.
Gabby asik dengan beberapa boneka yang ada di kamar Tari, sementara itu sang mami pun asik berbicara dengan si pemilik kamar.
"Kakak pasti sudah tau ceritanya kan" ucap Tari.
"Ya... sudah berapa minggu usianya?" tanya Kania seraya mengusap perut rata Tari.
"Tiga minggu kak. Jujur gue benar-benar merasa bersalah, karena gue Luna dan Bintang batal menikah" ucap Tari menunduk.
"Hei jangan merasa bersalah seperti itu, bagaimana pun lo juga korban Tar" ucap Kania.
"Orang diluar sana mana tau kak, mereka hanya memandang gue sebagai seorang perusak. Mereka beranggapan gue menjebak Bintang dan merebutnya dari Luna" ucap Tari dengan menitikkan air matanya.
"Jangan dengarkan apa kata orang diluar sana, intinya lo gak melakukan itukan, lo juga korban. Sekarang jangan pikirkan apa pun, lo hanya perlu fokus pada kehamilan lo" ucap Kania.
"Terima kasih sudah mendukung gue kak, terima kasih karena kakak gak berpikiran buruk tentang gue" ucap Tari seraya menggenggam tangan Kania.
"Gue tau elo Tari, gue kenal lo sudah cukup lama. Jadi gak mungkinlah lo akan sejahat itu pada Bintang" ucap Kania.
"Sudahlah sekarang berhenti menangis, jelek tau" ucap Kania seraya menghapus air mata di pipi Tari.
Tari tersenyum tipis, ia menghapus air matanya lalu memeluk calon kakak iparnya tersebut.
♥♥♥