Bab 9

806 Words
Tari menatap dirinya dari cermin meja riasnya, ia sungguh cantik dengan make up yang memoles wajahnya, juga gaun pengantin yang membalut tubuh langsingnya. Namun hatinya justru tengah berbalut luka sekarang, ia merasa telah melukai banyak orang. Pernikahan yang tak diinginkannya ini justru melukai hati dua sahabat baiknya, Bintang dan Luna yang harus terpisah karena dirinya. Air mata Tari kembali jatuh saat ia merasakan menjadi seorang Luna, sakitnya dikhianati sahabat dan kekasih. "Hei anak mama kok menangis sih, nanti make upnya luntur sayang" ucap Rani pada putrinya. "Mah Tari jahat ya?" ucap Tari. "Enggak" sahut Rani. "Tari jahat mah, Tari sudah melukai Luna. Tari merebut Bintang dari dia" ucap Tari dengan air mata yang masih berjatuhan. "Stop Tari, cukup. Jangan bicara seperti itu lagi. Kamu tidak merebut siapa pun, kamu disini juga korban nak. Kita juga tidak menginginkan ini terjadi" ucap Rani. "Harusnya pernikahan ini gak terjadi mah, harusnya bukan Tari yang jadi mempelai perempuannya" ucap Tari. "Cukup sayang sudah ya... ingat apa yang dokter katakan, jangan banyak pikiran" ucap Rani pada Tari. Tari bersama keluarganya menuju tempat pernikahan, tiba di tempat itu mereka pun segera masuk menempati kursinya yang telah disediakan. "Sudah, hapus air matamu Tari" omel Rani. Kenant mengantarkan putrinya, mereka menyusuri karpet merah. Di depan sana Bintang berdiri dengan tuxedo berwarna putih nampak tak bersemangat. Sama seperti Tari ia pun merasa bersalah pada Luna yang telah ia hancurkan hatinya juga pada Tari yang ia hancurkan masa depannya. Meski ia merasa dijebak namun Bintang tetap merasa bersalah pada Tari. Keduanya telah mengucap janji suci pernikahannya, dan mereka telah sah dan resmi menjadi pasangan suami istri. Bintang memasangkan cincin pernikahannya di jari manis Tari, dan begitu pun Tari yang memasangkan cincin pada jari manis Bintang. Pria itu kemudian menyingkap kain penutup wajah Tari kemudian mengecup keningnya. Tak ada resepsi, usai pemberkatan mereka kemudian mengadakan makan siang bersama dan Tari pun segera diboyong ke kediaman keluarga Bintang. Layaknya pasangan pengantin baru mereka pun mendapat kamar yang telah didekor sedemikian rupa. Bintang membuka kamarnya di ikuti Tari yang berjalan dibelakangnya. Bintang menghembuskan nafas lelahnya, ia duduk di sofa yang ada di kamarnya dan menatap Tari yang hanya berdiri didekat pintu. "Mau sampai kapan lo berdiri disitu Tar? lo gak mau ganti baju?" ucap Bintang dingin. "Gue gak bawa baju ganti" ucap Tati tak kalah dinginnya. "Ck" Bintang berdecak kemudian keluar kamar meninggalkan Tari. Pria itu menghampiri sang mama dan meminta baju ganti untuk Tari. "Baju buat Tari? loh itu coba di cek dulu di walk in closet, beberapa barangnya Tari sudah dipindahkan kemari nak, sudah ada di kamar kalian" ucap Naomi mamanya Bintang. "Dipindahkan ke kamar Bintang?" tanya Bintang. "Iya nak, bukankah Tari akan tinggal disini bersama kita, maka itu mama suruh orang untuk memindahkan barang-barangnya ke sini" ucap Naomi. Bintang hanya diam, ia kemudian berlalu ke kamarnya. "Kata mama barang lo sudah dipindahkan kemari termasuk pakaian, semua ada di walk in closet" ucap Bintang seraya menunjuk sebuah lorong yang menuju ke kamar mandi. "Oh" Tari hanya ber'oh saja. Tari memasuki lorong yang menuju kamar mandi, di sana ia melihat banyak rak dan pakaian yang bergantungan termasuk pakaiannya. Tatapan Tari jatuh pada satu rak, di sana tersusun pakaian miliknya dengan sangat rapi, termasuk beberapa barangnya yang lain. Ia mengambil satu dress simpel dengan motif bunga, kemudian membawanya ke kamar mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian Tari pun keluar. "Kita harus bicara Tar" ucap Bintang. "Ya memang harus seperti itukan" ucap Tari. Bintang menatap Tari, ia menarik nafasnya sebelum membuka suara lalu mengehembuskannya dengan kasar. "Gue mau kita membuat perjanjian" ucap Bintang. "Perjanjian?" tanya Tari bingung. "Bukankah lo tau pernikahan ini terjadi hanya karena sebuah keterpaksaan, kita gak menginginkannya" ucap Bintang. "Ya gue tau itu, pernikahan ini terjadi hanya karena sebuah tanggung jawab" ucap Tari. "Gue mencintai Luna Tar, sangat mencintainya, lo tau itu kan? jujur gue gak bisa menjalani pernikahan ini sama lo" ucap Bintang. "Ya gue pun begitu, gue juga merasakan hal yang sama. Gue gak bisa hidup bersama pria yang masih memikirkan perempuan lain, apalagi itu sahabat gue sendiri" ucap Tari. "Gue mau kita membuat satu perjanjian, setelah anak itu lahir gue ingin kita berpisah. Lo bisa meraih cita-cita lo yang sempat tertunda, dan gue bisa kembali mengatur rencana untuk menikah dengan Luna" ucap Bintang. "Baik gue setuju, artinya gue bisa bebas dengan siapa pun? dengan pria mana pun?" tanya Tari. "Oh silahkan, gue gak akan melarang. Dan soal anak... lo jangan khawatir setelah berpisah nanti gue akan tetap bertanggung jawab dengan membiayai segala kebutuhannya" ucap Bintang. "Ya" angguk Tari setuju. "Nanti gue akan buat surat perjanjiannya. Oh ya satu lagi Tar... gue gak mau ada satu orang pun yang tau soal perjanjian kita ini" ucap Bintang. "Ya gue mengerti" ucap Tari. "Dan untuk pembagian tempat tidur di kamar ini... gue akan tidur di sofa, dan lo bisa di kasur" ucap Bintang. "Enggak, biar gue di sofa. Ini kamar lo dan di sini gue cuma numpang" ucap Tari. "Sudahlah gak usah keras kepala" ucap Bintang. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD