Hari pertama menjadi seorang menantu di rumah itu, Tari bangun pagi sekali ia berusaha menyesuaikan diri dengan orang rumah, ia turun ke dapur membantu menyiapkan sarapan hal yang sebelumnya hampir tak pernah dilakukannya saat masih tinggal bersama orang tuanya.
Tari membantu bibi menyiapkan sarapan mulai dari memasak hingga menyiapkan meja makan.
"Selamat pagi" sapa Naomi mamanya Bintang.
"Pagi nyonya" sahut artnya.
"Pagi tante" sagut Tari.
"Loh kok masih panggil tante sih, mama dong Tar, kamu kan sekarang sudah jadi anaknya kami" ucap Herman papanya Bintang.
"Iya Tar jangan panggil tante lagi, mama dong sayang" ucap Naomi.
"Maaf... Tari masih canggung mah" ucap Tari.
"Biasakan dari sekarang nak" ucap Herman.
"Kamu bangun dari jam berapa Tar?" tanya Naomi seraya mengambil peralatan makan mereka.
"Non Tari bangun dari pagi sekali nyah, dia bantu saya memasak" ucap bibi.
"Astaga sayang... harusnya kamu tidak melakukan itu, itu sudah menjadi tugasnya bibi. Lagi pula kamu sedang hamil" ucap Naomi.
"Gapapa kok mah, Tari sekalian belajar masak" ucap Tari.
"Hhh kamu... ya sudah sana bangunkan Bintang" ucap Naomi.
"Bintang sudah bangun mah" sahut yang tiba-tiba masuk ruang makan.
Pria itu kemudian menarik kursinya dan duduk di sana.
"Ya sudah ayo Tar duduk dan sarapan" ucap mama mertuanya.
"I... iya mah" Tari menarik kursi tepat disamping mama mertuanya.
"Kok di sini sih, di samping suamimu dong sayang, biar kamu bisa melayaninya" ucap Naomi.
"Oh iya mah" Tari kemudian berpindah duduk tepat di samping Bintang.
Dan baru saja Tari mendaratkan pantatnya di kursi seketika ia merasa sangat mual, ia pun segera berlari ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya di sana.
"Disusul dong Bin istrimu, kasian dia" omel Naomi.
"Hhh menyusahkan saja" omel Bintang, dengan malas-malasan ia berdiri lalu menyusul Tari ke kamar mandi dapur.
Dari pintu Bintang melihat Tari yang tengah muntah.
"Kalau jijik gak usah ke sini, gue gapapa kok" ucap Tari.
"Tapi mama yang minta gue kemari, kalau gue gak nurutin alamat perang" omel Bintang.
"Ya sudah sana lo keluar gue sudah gapapa" ucap Tari.
"Ya sudah ayo lo juga keluar" ucap Bintang.
Keduanya lalu duduk kembali ke kursi makannya, dan untuk pertama kalinya Tari melayani Bintang.
"Lo mau teh atau kopi?" tanya Tari.
"Kopi, bukannya lo tau gue suka kopi" ucap Bintang.
"Eh ini kok panggilannya masih lo gue, gak sopan. Kalian ini sudah suami istri dirubah dong panggilannya" omel Naomi.
"Sudah kebiasaan mah, aneh rasanya kalau panggil aku kamu" sahut Bintang seraya menerima kopi dari Tari.
"Dibiasakan dari sekarang biar tidak canggung lagi, pokoknya awas ya kalau mama dengar kalian saling memanggil dengan panggilan seperti itu" omel Naomi.
"Hmm iya" sahut Bintang cuek.
Selesai sarapan Bintang kembali ke kamarnya, ia berbaring di ranjang bermalas-malasan disana. Tak lama Tari pun menyusulnya.
"Nanti siang gue mau keluar, mau ketemu Luna" ucap Bintang .
"Ya" sahut Tari.
"Maksud gue lo ikut aja, biar mama papa gak curiga, nanti lo gue turunin di rumah orang tua lo" ucap Bintang.
"Ya terserah" sahut Tari seraya mendaratkan pantatnya di sofa dan berbaring di sana.
Bintang menatap Tari yang tengah berbaring di sofa dan memejamkan matanya.
"Tar..."
"Hm" sahut Tari bergumam.
"Gue gak pernah berpikir kita bisa terjebak dalam situasi ini" ucap Tari.
"Apalagi gue, gila aja gue hidup sama cowok macam lo seumur hidup" ucap Tari.
Keduanya kemudian terdiam menyelami kesalahan yang telah mereka perbuat.
---
Bintang menurunkan Tari tepat di depan kediaman orang tuanya, ia kemudian memacu mobilnya menuju sebuah cafe menemui Luna yang telah menunggunya.
"Hai sayang maaf lama" ucap Bintang seraya mengecup kening Luna.
"Jangan menyentuhku" omel Luna seraya mendorong Bintang.
"Lun..."
"Untuk apa lagi kamu mengajakku bertemu, sudahlah Bin di antara kita sudah gak ada apa-apa lagi, sudah cukup kamu menyakiti aku" ucap Luna.
"Lun please dengarkan aku" ucap Bintang seraya menggenggam erat tangan Luna.
"Apa lagi Bin? semua sudah jelas, kamu meninggalkanku, dan memilih menikahi Tari" geram Luna.
"Aku terpaksa Lun, aku dan Tari dijebak, kamu sudah tau itukan. Dan Mila pun juga gak menginginkan pernikahan ini" ucap Bintang.
"Oh ya?" Luna tersenyum sinis.
"Aku dan Tari sudah menyepakati sebuah perjanjian, kami akan berpisah setelah anak itu lahir" ucap Bintang.
"Apa??" tanya Luna tak percaya.
"Ya kami akan berpisah saat anak itu lahir, dan kita akan kembali bersama. Kumohon bersabarlah" pinta Bintang.
"Kamu serius?" tanya Luna.
"Tentu saja, aku mencintaimu sayang... hanya kamu yang aku inginkan, bukan Tari atau perempuan lainnya" ucap Bintang.
"Janji sama aku kamu gak akan menyentuh dia" ucap Luna.
"Aku janji, cukup sekali kesalahan yang aku lakukan" ucap Bintang.
Luna tersenyum ia kemudian memeluk erat Bintang, pria yang begitu dicintainya.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi" ucap Luna.
"Ya aku janji sayang, aku janji tidak akan meninggalkanmu dan tidak akan mengecewakanmu lagi" bisik Bintang seraya memeluk erat Luna.
♥♥♥