Bab 11

809 Words
Tari membaca dengan teliti isi perjanjiannya dengan Bintang, dalam perjanjian itu berisi tentang hubungan pernikahan mereka yang akan selesai ketika Tari telah melahirkan, juga kebebasan keduanya yang bisa menjalin hubungan dengan siapa saja tanpa ada larangan dari kedua pihak. Tari setuju dalam perjanjian itu, ia kemudian menandatangani kertas bermaterai tersebut, begitu pun Bintang yang juga ikut menandatanganinya, masing-masing dari mereka pun memegang dan menyimpan surat perjanjian itu. "Setelah lo melahirkan nanti gue dan Luna berencana akan menikah" ucap Bintang. "Ya silahkan saja, gue gak melarang" ucap Tari. "Gue harap lo pun bisa bertemu lelaki baik yang bisa membahagiakan lo Tar" ucap Bintang. "Amin" sahut Tari seraya tersenyum. --- Seperti biasanya Tari membantu menyiapkan sarapan, dan setelah semua siap ia kemudian kembali ke kamar untuk bersiap ke kampus. "Mau ke kampus Tar?" tanya mertuanya. "Iya mah" angguk Tari. "Di antar Bintang saja ya, mama gak mau kamu bawa mobil sendiri" ucap Naomi. "Ah gapapa mah, Tari masih bisa nyetir sendiri kok" sahut Tari. "Eh mama gak mau dibantah ya, Bin antar istrimu ke kampusnya dan nanti pulang biar supir yang jemput" ucap Naomi. "Mah... mama dengar sendirikan Tari bilang dia masih bisa nyetir" ucap Bintang. "Mama gak mau ambil resiko, kalau dia ada apa-apa di jalan bagaimana" omel Naomi. "Bintang Tari apa susahnya sih mengikuti apa yang mama kalian katakan" omel Herman papa Bintang. Akhirnya hari itu Tari pun menumpang mobil suami sementaranya untuk berangkat ke kampus. "Lo ngapain sih ke kampus lagi? bukannya lo tinggal menunggu sidang doang ya" ucap Bintang. "Ada beberapa hal yang harus gue urus" ucap Tari. Tiba di kampus dari kejauhan Luna melihat Tari yang turun dari mobil Bintang, ia tentu saja marah dan menggeram kesal. Perlahan perempuan itu menghampiri Tari. Dan ini untuk pertama kalinya mereka bertemu dengan status Tari yang telah menjadi istri sah Bintang. Tanpa kata Luna menatap tajam Tari, tatapan membunuh dan penuh permusuhan. "Hai Lun" sapa Tari canggung. Luna hanya diam ia melengos pergi dari hadapan Tari. Tari menghampiri Caca sahabat baiknya yang sedang duduk di taman dengan sebuah laptop di depannya. "Hai Ca" sapa Tari. "Eh hai pengantin baru" goda Caca. "Apaan sih lo" omel Tari. "Ya memang kenyataannya lo pengantin barukan" ucap Caca. "Apaan sih lo. Gak enak kalau Luna dengar Ca" tegur Tari. "Dia masih marah sama lo?" tanya Caca. "Ya jelaslah Ca, secara gue yang sudah merusak rencana pernikahan dia dan Bintang" ucap Tari. "Lo juga gak menginginkan ini kan Tar, lo juga korban di sini. Dan harusnya dia bisa terima dong kalau dia gak bejodoh sama Bintang. Bukankah jodoh, rezeki dan maut itu Tuhan yang menentukan, kita gak bisa memaksakan" ucap Caca. "Ya memang tapi masalahnya Luna beranggapan gue adalah perusak dalam hubungan dia dan Bintang" ucap Tari. "Kenapa cuma lo yang disalahkan? dalam hal ini Bintang juga salah, dia meniduri lo" ucap Caca. "Sudahlah Ca, gak akan ada habisnya kalau lo mendebat ini" ucap Tari. "Lo ngapain kemari?" tanya Caca. "Mau ketemu pak Aldi" ucap  Tari. "Ngapain?" tanya Caca lagi. "Adalah" sahut Tari yang kemudian bergegas pergi dan menuju ruang dosennya tersebut. Belum lagi tiba di ruangan dosen tampan itu Tari bertemu dosennya tersebut tepat di bawah tangga. "Pak kebetulan bertemu di sini, tadinya saya mau ke ruangan bapak" ucap Tari. "Hai Tar, ada apa?" tanya dosen muda nan tampan tersebut. "Mau mengembalikan ini pak" Tari memberikan sebuah buku berukuran tebal pada yang sempat ia pinjam pada dosennya tersebut. "Saya dengar kamu sudah menikah" ucap pak Aldi seraya menerima bukunya. "Ya... maaf tidak mengundang pak, karena hanya pesta kecil yang dihadiri keluarga inti saja" ucap Tari sungkan. "Yah... kalah cepat rupanya saya" ucap Aldi. "Maksud pak Aldi?" tanya Tari. "Sudahlah lupakan saja" ucap pak Aldi. "Kalau begitu saya permisi pak, terima kasih bukunya" ucap Tari. "Ya sama-sama Tar" Aldi menatap lekat punggung Tari, ia tersenyum melihat mahasiswa cantiknya tersebut. Tari kembali menghampiri Caca, keduanya berbincang berbagai hal sampai akhirnya jam makan siang. Tari dan Caca pun menuju kedai yang tak jauh dari kampus untuk makan siang bersama. Tengah asik bersantap siang tak sengaja tatapan Caca jatuh pada sebuah mobil yang berhenti di depan kampus. "Tar itu mobil Bintang kan, eh tapi kok... itu Luna kan yang masuk mobilnya" ucap Caca. "Sudahlah Ca gak perlu diributkan" ucap mm Tari cuek, ia terus menikmati makanannya. Caca menatap Tari heran. "Tar... jangan bilang mereka masih menjalin hubungan" ucap Caca seraya menatap tajam Tari. "Ya begitulah" ucap Tari santai. "Astaga Tar, dan lo diam aja diperlakukan seperti ini? lo istrinya Tari lo berhak marah saat suami lo bertingkah seperti itu" geram Caca. "Sudahlah Ca lo gak berhak ikut campur" ucap Tari yang mulai kesal. "Oh gitu... jadi sekarang gue sudah gak boleh ikut campur apa pun masalah lo" sahut Caca. "Bukan seperti itu Ca, gue punya alasan kenapa gue hanya diam saat melihat mereka bersama seperti tadi" ucap Tari. "Apa Tar? ada apa?" tanya Caca. "Sorry Ca gue belum bisa cerita sekarang" ucap Tari. Caca menatap sahabatnya, ia tak habis pikir dengan rumah tangga yang sahabatnya itu jalani. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD