Bab 6

789 Words
Keduanya bertemu di sela jam istirahat kantor Bintang, ia menemui Tari di restauran yang tak jauh dari kantornya. Keduanya duduk di salah satu pojok restauran, bukan tanpa alasan Tari memilih meja yang berada dipojok, ia coba menghindari orang yang bisa saja mendengar pembicaraannya dan Bintang. Dari jauh terlihat Bintang melangkah lebar, mimik wajahnya terlihat serius. "Ada apa?" tanya Bintang begitu menemui Tari dan tanpa berbasa basi seperti biasanya. "Aku hamil" ucap Tari. BLAAAMMM!!! Bagai tersambar petir Bintang begitu kaget mendengarnya. "Tar lo yakin?" tanya Bintang yang terlihat tidak tenang. "Kalau gue gak yakin gue gak akan ada di sini dan mengajak lo bicara Bin. Gue bahkan sudah memeriksanya" ucap Tari. "Ya Tuhan" Bintang mengusap wajahnya kasar, ia bingung harus berbuat apa. "Lo yakin itu anak gue?" tanya Bintang. "Maksud lo apa bertanya seperti itu? lo pikir gue perempuan gampangan yang tidur dengan banyak pria begitu?" geram Tari marah. "Sorry Tar, gue gak bermaksud seperti itu. Gue hanya sedang bingung" ucap Bintang yang benar-benar resah. "Nyokap dan bokap gue mau lo bertanggung jawab" ucap Tari menunduk. "Bertanggung jawab bagaimana? menikahi lo? lalu bagaimana dengan Luna? lo taukan gue dan Luna sudah berencana menikah tahun depan" ucap Bintang yang terlihat emosi. "Gue tau itu Bintang. Tapi mau bagaimana? gue hamil dan ini aib untuk keluarga gue. Gue juga gak menginginkan ini" ucap Tari seraya menghapus air matanya kemudian berlalu pergi dari hadapan Bintang. Kedua orang tua Tari menatapnya, ia kembali disidang di kamarnya. "Sudah bicara dengan pria itu?" tanya sang papa. "Sudah pah" ucap Tari seraya mengangguk. "Lalu?" tanya papanya lagi. "Belum tau pah, dia bingung karena dia sendiri akan menikah dengan tunangannya" ucap Tari pelan namun masih bisa didengar. "Bagaimana pun dia harus menikahimu, kamu hamil anaknya" geram Kenant. "Sebenarnya siapa pria itu Tari? apa kami mengenalnya?" tanya Rani pada putrinya. "Mah..." "Jawab Tari, siapa dia?!" geram Kenant. "Pah biar ini jadi urusan Tari dan dia dulu" ucap Tari. "Katakan Tari siapa dia, masalah ini harus segera diselesaikan. Kamu mau perutmu semakin besar baru dinikahi pria itu?" geram Kenant lagi. "Tari katakan sayang, siapa dia?" tanya Rani. Tari diam menunduk dengan air matanya yang mengalir di pipi chubbynya. "Dia... Bintang..." ucap Tari pelan namun masih bisa didengar orang tuanya. Kenant dan Rani tentu kaget mendengarnya, tak menyangka pria itu adalah Bintang putra dari kenalan mereka. "Bintang? Bintang putra Herman dan Naomi?" tanya Kenant memastikan dan Tari menganggguk. "Astaga bagaimana bisa Tari? bukankah kamu tau sendiri dia sudah bertunangan dengan sahabatmu" ucap Rani. "Kita harus menemui mas Herman dan mba Naomi mah, kita harus selesaikan masalah ini" ucap Kenant. "Ya pah" ucap Rani setuju. Malam itu Rani dan Kenant menyambangi kediaman orang tua Bintang. Bintang yang tengah berada di kamarnya bingung ketika mengetahui kedatangan orang tua Tari. Para orang tua itu kini tengah duduk di ruang tamu. "Wah ada angin apa kalian datang kemari? kenapa tidak memberi kabar dek?" tanya Herman papanya Kevin. "Iya mas, ada yang ingin kami sampaikan terkait masalah anak-anak" ucap Kenant. "Maksud suami saya Tari dan Bintang mas mba" ucap Rani bersuara. "Ada apa dengan mereka?" tanya Naomi mamanya Bintang. Herman dan Naomi pun tak kalah kagetnya begitu mendengar apa yang orang tua Tari sampaikan. Mereka kemudian memanggil Bintang yang berada di kamarnya. "Katakan Bintang apa benar?" tanya sang mama. "Iya mah. Dan jujur Bintang sendiri gak tau bagaimana bisa berada di hotel itu sama Tari" ucap Bintang. "Ya Tuhan Bintang, apa yang sudah kamu lakukan" ucap Naomi. "Kalian dijebak?" tanya Kenant papanya Tari. "Ya om sepertinya begitu" ucap Bintang. "Papa akan cari tau siapa yang sudah sudab melakukannya pada kalian" ucap Herman. "Namun sebelum itu selesaikan masalah ini mas" ucap Rani. "Oh tentu dek, Bintang akan bertanggung jawab" ucap Herman. "Baik, kami menunggu itikat baik mas dan mba untuk menyelesaikan masalah ini" ucap Kenant, tak terlihat senyum diraut wajahnya. Kenant dan Rani kemudian berlalu pergi dari kediaman orang tua Bintang. Tinggallah kini Bintang yang berhadapan dengan orang tuanya. "Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan Bintang? kamu merusak semuanya, kamu merusak Tari dan merusak rencana pernikahanmu. Apa nanti yang harus kita sampaikan pada orang tuanya Luna?" geram Naomi. "Bintang juga gak menginginkan ini terjadi mah, ini di luar kuasa Bintang, Bintang gak sadar melakukannya" ucap Bintang. "Sebagai seorang lelaki kamu harus bertanggung jawab pada apa yang sudah kamu lakukan Bin, nikahi Tari" ucap sang papa. "Pah tapi..." "Nanti biar kami yang bicara pada orang tuanya Luna" ucap Naomi. "Tapi Bintang gak mencintai Tari pah, dan Bintang hanya menginginkan Luna untuk Bintang jadikan istri" ucap Bintang. "Tapi kamu harus bertanggung jawab pada apa yang kamu lakukan Bin, terlebih sekarang Tari hamil anakmu" ucap Naomi. Bintang meninggalkan kedua orang tuanya dengan perasaan risau. Ia bingung, disisi lain ia tak ingin menyudahi hubungannya dengan Luna perempuan yang sangat dicintainya namun disisi lain ia juga harus bertanggung jawab pada Tari yang kini tengah mengandung anaknya. "Gue harus apa?" gumam Bintang. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD