Bab 5

776 Words
Akhir-akhir ini Tari terus berusaha menghindar dari Luna terlebih saat melihat sang sahabat tengah bersama Bintang, ia merasa bersalah karena telah tidur bersama Bintang. Meski hal tersebut adalah sebuah musibah baginya namun Tari tetap merasa bersalah karena telah tidur bersama calon suami sahabatnya tersebut. Setelah rapi Tari segera turun dari kamarnya ia ke ruang makan untuk sarapan. "Pagi Non" sapa artnya. "Pagi bi, mana papa mama dan adek?" tanya Tari. "Belum pulang, mereka lari keliling komplek" sahut bibi. "Oh" angguk Tari seraya duduk di kursi makannya. "Kamu sesekali ikut lari bareng juga dong sayang" ucap Rani yang tiba-tiba sudah berada di belakang Tari. "Eh sudah pulang mah" ucap Tari. "Kamu molor aja kerjaannya, kenapa sih akhir-akhir ini demen banget bobo terus" ucap Rani lagi pada putrinya. "Iya nanti ikut" ucap Tari. "Jangan iya-iya aja kak, besok wajib ikut" ucap Audy. "Iya bawel" omel Tari. Tari kemudian berlari ke kamar mandi ketika merasakan mual, ia menuju washtafel dan menumpahkan isi perutnya disana. "Kenapa sayang?" tanya Kenant pada putrinya. "Gapapa cuma mual pah" sahut Tari. "Ya sudah isi perutmu dulu, biar mualnya hilang" ucap Rani. "Iya mah" angguk Tari. Tengah sarapan bersama Rani menatap putri sulungnya yang terlihat lebih berisi tubuhnya, perempuan itu heran karena biasanya Tari sangat menjaga berat badannya. "Kamu gemukan sayang?" ucap Rani. "Iya nih mah, naik tiga kilo" sahut Tari. "Pantas" ucap Rani. Usai makan Tari kembali berlari ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya disana, Rani yang melihat itu sedikit heran, ia pun segera menyusul putrinya. "Kamu gapapa Tar?" tanya Rani. "Gapapa kok mah" ucap Tari. Rani menatap Tari dan ia merasa ada yang berbeda dari putrinya tersebut, nalurinya sebagai seorang ibu dan seorang perempuan tak dapat dibohongi. "Tar... apa yang sudah terjadi?" tanya Rani pada putrinya. "Maksud mama?" tanya Tari. "Kamu hamil sayang?" tanya Rani lagi. "Mama bicara apa sih? ya enggaklah mah" ucap Tari kesal. "Mama tau Tari, jangan tutupi apa pun dari mama. Banyak perubahan pada dirimu" ucap Rani. "Enggak mah, gak mungkin" omel Tari bersikeras. "Katakan pada mama siapa yang melakukannya?!" tekan Rani. "Ada apa ini kenapa kalian ribut disini?" Kenant menyusul istri dan anaknya yang berada di kamar mandi dapur. Rani masih menatap tajam putrinya. "Katakan pada mama Tari, kamu gak bisa membohongi mama. Mama bisa membacanya dari perubahanmu, kamu gemukan dan sekarang kamu mual, itu tanda-tandanya" ucap Rani. "Ada apa mah?" tanya Kenant lagi. "Tanyakan sendiri pada anakmu apa yang sudah terjadi, dia gak mau mengaku" omel Rani. "Mengaku apa mah?" ucap Tari yang masih berusaha menyembunyikan apa yang sudah terjadi. Kenant menatap istri dan anaknya dengan bingung. "Ada apa ini papa tidak mengerti?" ucap Kenant. "Kita ke dokter kamu harus diperiksa Tari" ucap Rani. "Mah Tari gak mau, Tari gak kenapa-napa" Tari bersikeras. "Kalau gak kenapa-napa ayo jangan takut" paksa Rani. "Ada apa sebenarnya ini mah?" tanya Kenant lagi. "Papa ikut saja" ucap Rani pada sang suami. Dalam perjalanan ke sebuah klinik Tari terus menunduk ia begitu takut apa yang mamanya katakan benar adanya, ia takut bagaimana nanti kalau benar dirinya hamil, kalau benar ia hamil apa ia harus memberitahu Bintang, lalu bagaimana nanti hubungannya dengan Luna. Tiba di klinik Tari langsung diperiksa dan benar saja dokter menyatakan dirinya tengah hamil dengan kandungan yang berusia tiga minggu. Kedua orang tuanya tentu saja marah dan langsung membawa Tari pulang, mereka tak habis pikir bagaimana bisa Tari melakukan perbuatan terlarang itu, mereka menyayangkan Tari yang bergaul dengan bebasnya. Tari menangis mendengar tuduhan dan teriakan sang papa tentang dirinya, ia kemudian ditarik dan didorong ke kamarnya. "Katakan siapa ayahnya?!" teriak Kenant begitu marah karena Tari terus diam dan hanya terisak-isak. "Katakan Tari siapa ayahnya, dia harus bertanggung jawab" ucap Rani. "Gak mungkin mah" ucap Tari. "Apanya yang gak mungkin? dia harus bertanggung jawab!!" teriak Kenant. "Dia akan menikah dengan orang lain pah" ucap Tari. "Bagaimana pun dia harus bertanggung jawab pada anak dalam.kandunganmu itu Tari. Atau kamu mau digugurkan saja bayi itu? ini aib Tari, aib. Memalukan" geram Rani. "Maafin Tari mah pah" isak Tari. "Katakan pada papa siapa ayahnya, jangan sampai papa cari tau sendiri" ucap Kenant. "Biar Tari yang bicara padanya pah" ucap Tari. "Baik papa akan beri waktu pada kamu, dan besok lusa kamu harus membawa pria itu ke hadapan papa" ucap Kenant. "Mama gak menyangka kamu seliar ini, kamu mencoreng nama baik keluarga kita Tari" ucap Rani yang kemudian keluar dari kamar putrinya. Tari diam dan melamun, apakah harus ia menemui Bintang dan mengatakan yang sebenarnya. Mengatakan kalau kesalahan satu malam itu kini telah membuahkan janin di rahimnya, ia begitu takut kehamilannya akan mengacaukan segalanya, mengacaukan pernikahan Bintang dan persahabatannya bersama Luna. "Ya Tuhan aku harus apa? haruskah aku mengatakan padanya? lalu bagaimana nanti kalau Luna tau, aku takut semua akan runyam" ucap batin Tari. Tari mengusap air matanya, ia menatap phonselnya menimbang-nimbang untuk menghubungi Bintang. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD