Part 19

1005 Words
Getaran kedamaian merajai tatkala ia membiarkan sunyi merasuk relung hati. Iya, dia damai ketika mengingat seorang gadis kecil yang kini menjelma bak bidadari. Akan tetapi, selendang yang seharusnya ia curi itu hilang dan belum sempat ia dekap.  Mayola, gadis idaman yang tak sempat dijadikan seorang istri. Keadaan yang telah mengungkungnya dalam malapetaka, yang sama sekali tidak ia perbuat.  Mata Senja sengaja ia pendar mengamati jalanan yang tengah menampung impitan mobil yang berdesak-desakan karena macet itu. Dari lantai dua, pandangannya tentu lebih leluasa melihat keadaan sekitar.  Sudut renung yang menjadi tempat idamannya itu memang terlihat sangat nyaman. Selain karena pohon rambat yang memenuhi sudut itu, terdapat juga beberapa ornamen ukiran yang menyerupai batik. Ornamen tersebut mampu menambah aksen unik dari sudut itu. Pikirannya yang memang sengaja ia terbangkan pada sosok gadis yang tak henti-hentinya ia puja, siapa lagi kalau bukan Mayola?  Senja sempat kebingungan mencari Mayola di rumah sakit kemarin. Bodohnya, dia juga lupa menanyakan ruangan tempat pak Broto dirawat. Pria yang sangat menggilai Mayola itu pun bertanya pada suster yang mengurus administrasi rumah sakit tetapi nihil. Ruangan pak Broto tidak ia temukan. Pun, Mayola.  "Permisi, Mas. Ini pesanannya," seketika pelayan pria dengan seragam merah seperti tadi menyadarkan lamunan Senja.  "I-iya, Mas. Terima kasih," balas Senja.  Pria tersebut langsung meletakkan pesanan Senja ke atas Meja bundar yang juga terbuat dari kayu.  Sejurus kemudian, pria itu langsung menuju meja Mery dengan tujuan yang sama yaitu mengantarkan pesanan. Sekilas, Senja menatap Mery yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Jempol seksi Mery terlihat menari-nari di atas layarnya.  Pria itu sontak mengalihkan pandangan dengan sigap saat ia tak sengaja kedapatan oleh Mery diam-diam menatapnya. Senja terlihat gelagapan menghindari gugupnya.  Ketika ia terkesiap, tanpa sengaja tangannya menjatuhkan gelas kopi yang baru sekali ia teguk itu.  Brakkk!  Gelas dengan bahan dasar kaca itu menghantam lantai dan bercerai berai keutuhannya. Serpihan kaca berceceran di lantai. Degup d**a Senja berubah dentam yang menghasilkan perasaan tidak enak! Disisi lain, pada saat bersamaan, Mayola tengah bertahan dalam pemberontakannya. Bagaimana mungkin ia membiarkan Mamanya, satu-satunya keluarga yang tertinggal dalam hidupnya itu dibawa oleh orang asing yang sama sekali tidak ia kenal.  Mayola masih tak mampu berkutik dalam dekapan para ajudan, sedangkan sang Mama diperintah untuk segera mengemasi barang-barangnya. "Mama, jangan pergi, Ma!" teriakan Mayola seakan tiada arti.  Mamanya yang kini terpengaruh oleh tekanan akhirnya menaati perintah tua bangka bertopi bundar itu.  "Diam!" Bentaknya ketika Mayola mulai mengerang berusaha memberontak dan melepaskan diri dari genggaman ajudannya.  "May, Mama harus pergi. Mama tidak ingin kamu menjadi sasaran atas semua kesalahan Mama," rintih Mamanya sambil berusaha meraih kedua tangan Mayola yang masih di pegangi dari belakang oleh ajudan sangar itu.  "Tidak, Ma. Jangan pergi! Kita harus melawan sama bangs*t-bangs*t ini," jawab Mayola dengan suara yang terlalu jelas karena mulutnya juga dibekap dengan tangan.  Plakkkkk!  Satu tamparan mendarat di pipi tirus Mayola. Sangat perih tentunya, perih itu juga menjalar ke rongga dadanya.  "Apa, melawan? Berani-beraninya kamu melawan saya," geramnya dengan wajah gusar.  "Sudah ... tolong jangan sakiti anak saya." Mama Mayola mengerang dan menangis sesegukan.  "Ayo, ikut!" Tangannya di tarik dengan paksa.  Mayola yang tak berdaya itu didorong hingga terjatuh ke lantai. Ia berusaha membangkitkan tubuhnya yang terjatuh itu untuk berdiri tegak. Ia segera berlari menuju mobil yang membawa Mamanya itu. Dengan tangis penuh dendam, Mayola berusaha menggapai Mamanya yang juga menangis tak berdaya itu.  Mayola berusaha mengejar mobil sedan yang dengan sigap melaju meninggalkan kampung itu. Sampai akhirnya, ia menyerah. Langkahnya tak mampu lagi mencapai mobil yang telah membawa mamanya.  Mayola terduduk di tengah jalanan kemudian ... terbaring tak sadarkan diri.  ***  Matanya terbuka, memindai beberapa pasang mata yang tengah mengamatinya. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing itu, sembari mengingat-ingat hal apa yang telah menimpanya.  "May ... kamu kenapa?" tanya salah seorang yang berada di sana.  Mayola masih belum mampu melihat dengan jelas siapa saja yang berada di sana.  Orang-orang tersebut membubuhi Mayola dengan kayu putih untuk mengatasi efek pusing dan melegakan sedikit nafasnya yang terengah-engah.  "May ... ini Elsa," ucap Elsa sembari memijit-mijit kening Mayola.  Entah kenapa, tubuh Mayola akhir-akhir ini memang sering sekali merasa sangat lemah. Mungkin karena efek kesedihan yang berkepanjangan atau mungkin ada efek yang lain.  Mayola mulai berusaha untuk duduk dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Aksi Mayola tersebut tentu dibantu oleh Elsa yang juga terduduk di tepi ranjang itu.  Mayola mulai membuka matanya dan memandang satu persatu orang yang berada di sana. Diwajah orang-orang tersebut tersimpan banyak sekali tanda tanya yang mungkin akan segera mereka lontarkan pada Mayola.  "Apa yang terjadi, May?" Suara Bu Yulis, ibu Elsa membuka pertanyaan.  Mayola terdiam. Kemudian mulai mengerang mengingat kejadian yang tadi menimpanya.  "Mama ...." jawab Mayola terputus.  "Ada apa dengan Mamamu, Nak?" tanya Ibu Elsa dengan tulus.  Beberapa warga yang bersiap memasang kuping itu sepertinya sangat penasaran dengan jawaban Mayola selanjutnya. Entah karena menaruh prihatin atau mungkin untuk mengumpulkan informasi untuk diolah menjadi bahan gosip yang apik.  "Mama dibawa sama orang jahat, Bu."  jawab Mayola dengan tangis yang mulai mengucur.  "Loh kok bisa!" "Kapan?" "Mungkin memang keinginan mamamu kali, May."  Suara mereka menggema semakin mengiris perasaan Mayola yang tengah tercabik-cabik.  "Diam! Ibu-ibu kalo julid mending pulang aja, orang lagi berduka. Lagi bergelut dengan kesedihan kalian malah menodong dengan berbagai pertanyaan," bentak Elsa dengan geram.  Semuanya diam! Kali ini ia merangkul Mayola yang tidak henti-hentinya di datangi kesedihan itu.  "El, Aku ingin cari Mama," ucap Mayola.  "Coba kamu ceritakan dulu, May. Bagaimana kejadiannya. Biar kita bisa lapor polisi!" jawab Elsa. Dengan sesegukan, Mayola mulai menceritakan rincian kejadian yang menimpanya. Dia juga memberitahu ciri-ciri orang yang tadi datang menjemput Mamanya. Para ibu-ibu julid yang masih berada di sana masih saja menodong dengan pertanyaan seperti tudingan.  Apa Mamamu terlibat sindikat n*****a, May? atau mungkin Mamamu dijadikan wanita malam untuk memuaskan para jalang? Atau mungkin juga mamamu punya hutang?  Hantaman pertanyaan itu membuat Mayola semakin sesak. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk ke depannya. Hanya tangis yang selalu berada bersamanya. Tak ada hari indah, tak ada hari bahagia. Belum lagi kering tanah kuburan papanya, hal duka kembali menghampiri hidupnya. Mama satu-satunya keluarga yang tertinggal kini juga menghilang entah ke mana.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD