Part 18

1149 Words
Dentam suara gugup itu memenuhi rongga d**a Mama Mayola. Dari tadi pagi, dering telepon dari gawainya tidak berhenti berbunyi. Ia tidak mempedulikannya sama sekali.  Suasana rumah sudah terlihat sepi. Tidak ada lagi yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa apa lagi hanya sekedar berkunjung ke sana. Elsa juga sudah berangkat bekerja sedangkan ibunya yang bekerja serabutan sepertinya juga sudah tidak berada di rumah. Ibu Elsa jarang sekali berada di rumah kalau pagi hari, ia sering ke rumah Bu Anis untuk sekedar mencuci dan menyetrika pakaian di sana. Sampai jam segini juga sepertinya belum pulang.  Mayola terduduk di kursi kayu di halaman rumahnya. Ia merenung sendirian sambil mengamati mamanya yang tengah menjemur beberapa helai kain panjang. Kain yang kemarin digunakan untuk menutup jasad papanya. Lagi-lagi ia teringat dengan sang papa.  Mayola juga terheran, mengapa mamanya berubah seketika? Mengapa tidak sewaktu papa masih ada mama mengabdi layaknya seperti seorang istri? "May ... udah bangun?" tanya sang Mama ketika selesai menjemur. Ekspresinya terkejut melihat Mayola merana di sana.  Dia mendekat ke arah Mayola. Mayola  tak acuh, ia memandang ke bawah, mengamati tanah. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.  "May, gak baik bengong," ucap sang Mama menyadarkan Mayola.  Wanita yang sudah berusia tetapi wajahnya masih sangat cantik itu terduduk di samping Mayola. Dia mengelus tangan Mayola untuk saling menguatkan. Perpisahan memang telah membuat keduanya sadar bahwa kebersamaan itu harus disyukuri dan selalu dinikmati.  Kali ini Mayola seakan trauma semenjak kepergian sang papa. Ia mulai memeluk mamanya yang juga dibalas dengan sangat erat. Mereka saling rangkul kemudian meneteskan air mata. Sepagi ini, mereka sudah dikerumuni rasa sedih.  "Sudah ... ayo ke dalam, Mama udah masakin kamu nasi kuning." Sontak sang Mama mengangkat tubuhnya sambil meraba kedua pipinya untuk segera menghapus air mata.  Ia menarik tangan Mayola untuk segera masuk ke dalam rumah. Mayola hanya mengikuti tubuhnya yang kini di komando oleh sang Mama.  Langkah mereka langsung menuju dapur. Mayola terkesiap melihat masakan yang tela tersaji di atas meja makan. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat mamanya menyentuh dapur, apalagi membuatkan makanan.  "Dalam rangka apa masak nasi kuning, Ma?" tanya Mayola terheran. Karena tidak biasanya sang mama memasak terlebih lagi nasi kuning.  "Ini salah satu permintaan kamu yang baru sempat Mama kabulkan," ucap sang Mama.  Mayola kembali dibuat heran. Entah Kapan dia minta nasi kuning ada mamanya. Mungkin karena ada banyak sekali list permintaan yang dilontarkan Mayola tetapi tidak terkabulkan bahkan, sejak ia kecil.  "Ayo ... di cicip, May." Mamanya mengambil piring dan sendok kemudian dimasukkan nasi kuning tadi ke atasnya.  Mayola mengambil piring itu dengan penuh rasa haru. Nelangsa akan teringat mendiang papanya pun tentang sikap sang mama berubah menjadi penyayang dan perhatian.  "Kamu kurang suka?" tanya Mamanya dengan wajah harap cemas menantikan jawaban Mayola.  Mayola yang mulai mengunyah dan menahan mata yang tengah berembun itu terlihat sangat menikmati nasi kuning buatan mamanya.  "Enak banget, Ma." Akhirnya, air mata haru yang ia tahan-tahan itu terjatuh juga. Mayola menyendokkan lagi nasi kuning yang berada di piring itu. Segera, ia menyuapi Mamanya.  "Ayo, Ma. Coba," ucapnya.  Mamanya segera membukakan mulut, menikmati nasi kuning suapan gadis yang selama ini ia telantarkan itu.  Dammmmm.... Suara hantaman benda keras terdengar menghantam sesuatu di halaman rumah Mayola. Sepasang anak dan ibu itu berlari tergopoh-gopoh mengejar sumber suara.  Netra Mayola menangkap sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di halaman rumahnya. Sejurus kemudian, ia melihat seorang pria mengenakan jas dan beberapa anak buahnya.  Mama Mayola sangat terkejut menyaksikan siapa yang datang. Sontak ia berlari menuju pintu depan untuk segera menguncinya. Mayola terheran, tetapi juga menaruh cemas atas semua kelakuan mamanya.  "Mundur, May," perintah sang Mama sambil berjaga-jaga di depan pintu.  "Ada apa, Ma?" tanya Mayola heran. "Mundur! Sekarang masuk ke kamar," bentak Mamanya. Mayola mengikuti perintah sang Mama dengan d**a yang bergemuruh sangat kencang.  Wanita yang terlihat sangat cemas itu mengucurkan peluh yang seketika terbit saat tamu tak diundang itu datang. "Ros! Buka pintunya, Ros. Aku tahu kamu berada di dalam," ucap pria berkumis dan memakai topi bundar itu.  "Kamu jangan sampai lupa janji, Ros." Ia mengedor-ngedor pintu rumah dengan sangat nafsu.  Mama Mayola yang tengah dirundung takut itu tidak mengeluarkan suara sepatah pun. Begitu juga dengan Mayola yang masih mengintip dari dalam kamarnya.  "Kamu jangan main-main sama saya, Ros. Kamu belum tahu siapa saya? Berani berurusan dengan saya berarti berani mati!" ancamnya.  Mayola mendengar hal itu sungguh sangat terkejut. Apa yang terjadi dengan Mamanya? Mengapa orang tersebut mengganggu mereka?  Suasana sekitar rumah Mayola hari ini sangat sepi. Warung di depan rumah Mayola juga sedang tutup jadi dengan leluasa para orang jahat tadi melakukan aksinya.  "Ros ... Ros ... Kalau tidak dibuka, saya akan suruh anak buah saya mendobrak pintu ini. Kujamin kau akan mati!" bentaknya dengan diiringi ketukan pintu lebih keras.  Mayola yang merasa geram dengan perkataan orang itu akhirnya keluar dari kamar langsung menuju Mamanya. Ia tidak ingin nyawa mamanya terancam.  "May, jangan!" Mamanya menarik Mayola yang ingin segera membukakan pintu itu.  Mayola hanya terdiam kemudian langsung membukakan pintu yang tidak berhenti di ketuk itu.  Ia terperanjat memandang 3 orang pria yang tidak ia kenal. Satu orang memakai jaz dengan tampilan rapi dan dilengkapi topi bulat di kepalanya. Sedangkan dua lainnya hanya memakai kaos berwarna hitam dengan ukuran badan yang besar dan tinggi-tinggi. Raut sangar yang menjelma di wajah ke tiganya membuat Mayola gugup. Namun, ia harus memberanikan diri untuk membela Mamanya.  "Ada apa ribut-ribut di rumah saya?" tanya Mayola dengan sangat berani.  "Eh bocah ingusan, minggir lo!" jawab salah satu pria yang memakai baju kaos biasa. Sepertinya dia adalah ajudan dari tuan yang memakai jaz ini.  Mereka melangkaui Mayola kemudian menarik tangan Mamanya. Mereka mendekap leher Mama Mayola dengan melingkarkan tangan kirinya dari belakang. Mayola mulai mengerang ketakutan.  "Lepaskan! Lepaskan aku," Mama Mayola berusaha memberontak tetapi tenaga pria itu tidak dapat terkalahkan. "Mama ...." Mayola meraung sambil berusaha melepaskan mamanya.  "Ingat ya, Ros. Kamu masih punya tanggung jawab sama saya. Jangan sesekali ingin melarikan diri." ancam pria ber jaz itu.  "Dasar Kepar*t! Saya gak mau lagi ikut denganmu." berontak sang Mama. "Oh ... jadi kamu mau lari dari tanggung jawab? Kamu sengaja tidak mengangkat telepon saya? Sudah saya duga!" ucapnya, kemudian langsung menarik Mayola dan membekap mulutnya dari belakang.  "Kalau begitu, saya anggap ini sebagai gantinya!" Mayola yang tak berdaya itu mengerang berusaha meminta pertolongan.  "Jangan ganggu anakku!" bentak mamanya.  "Jadi bagaimana? Masih mau menolak permintaanku? Masih ingin kabur dari tanggung jawab? Saya tidak akan segan-segan menjadikan anakmu ini sebagai seorang pelac*r," ancamnya dengan nada sedikit berbisik dan tangannya menggenggam dagu Mama Mayola.  "Baiklah ... saya akan ikut denganmu tapi tolong ... Jangan sangkut pautkan anakku dalam hal ini," rintih Mamanya berusaha melindungi Mayola.  Mayola yang masih terpaku dalam genggaman sang ajudan itu akhirnya dilepaskan. Ia masih berusaha menahan Mamanya yang akan segera dibawa oleh tiga pria itu.  "Ma, jangan tinggalin Mayola lagi, Ma." Gadis itu merintih dengan sangat mengiris. Sang Mama hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan mereka untuk segera meninggalkan Mayola yang masih berpangku dengan kesedihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD