Part 17

1299 Words
Batang kemboja yang mengitari pekarangan rumah sakit terlihat sangat mematuhi angin. Ke kiri pun ke kanan meliukkan badan. Pagi ini, Mery sudah diperbolehkan pulang. Sebelumnya dokter yang menangani Mery meminta Senja untuk ke ruangannya sebentar. Sedangkan Mery terlihat mulai merapikan beberapa barang yang akan dibawa pulang. Ketika sampai di ruangan, sang Dokter segera mempersilakan Senja untuk duduk. Tanpa berpikir panjang, Senja langsung mengikutinya. "Pak, kondisi nyonya Mery ini masih sangat lemah. Ia perlu banyak istirahat, terutama pikirannya jangan biarkan terlalu banyak tekanan," ujar dokter panjang lebar. Senja hanya menanggapinya dengan biasa saja. Sepertinya Senja tidak terlalu peduli dengan keadaan Mery, melintang ataupun membujur keadaannya senja tetap berpikir itu bukan urusannya. "Sebagai seorang suami, saya sarankan mas membawa istri refreshing atau mungkin lebih memberi perhatian untuk sekedar memberi efek tenang pada pikirannya," lanjut sang Dokter. Senja terlihat heran dengan saran yang menurutnya tak masuk akal. "Masih ada, Dok?" potong Senja pertanda tak menikmati apa yang sedang di bahas oleh sang dokter. "Ini vitamin dan obat-obatan yang harus rutin diminum oleh nyonya Mery ya, mas. Sekali lagi saya ingatkan ya, mas. Jangan sampai teledor menjaga istri dan janin yang sedang dikandung itu, mas. Risiko terjadinya keguguran juga sangat besar." Dokter berkaca mata itu memberikan vitamin serta obat-obatan yang lain. "Ok, Dok. Terima kasih." Begitulah jawaban Senja sembari menampilkan wajah yang tidak terlalu meminati percakapan mengenai Mery. "Istri, bukan istri. Dan ... anak juga bukan anak saya," batinnya kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu. "Sudah, Mas?" tanya Mery ketika Senja keluar dari ruangan itu. Tak ada jawaban dari Senja, ia berlalu melangkah meninggalkan Mery yang masih terheran. Mery mulai membuntuti Senja yang mulai berjalan menuju halaman. Sepasang suami yang sah tapi tidak saling sayang itu berjalan agak berjauhan. Senja berjalan lebih cepat sehingga Mery masih tertinggal di koridor rumah sakit. "Mana sih, jalan aja lama banget." Senja bicara tanpa ada orang ketika ia sudah sampai ke mobil. Seketika, ia melihat hadir Mery di lorong itu. Ia berjalan sembari memegangi perut yang mungkin saja masih terasa nyeri atau pun masih terasa sakit. Tubuhnya yang langsing dan kuning memucat itu terlihat terseok-seok. Tangannya juga menjinjing tas yang berisi beberapa pakaian miliknya sendiri. Tanpa ada inisiatif pria yang berstatus suami itu untuk membantunya. Senja masih mematung, terduduk dalam mobilnya sembari menunggu Mery sampai. Masih untung ia berkenan menjaga Mery beberapa malam. Itu pun sudah penuh rasa syukur Mery karena tanpa Senja entah seperti apa ia Sendirian di rumah sakit. Ckliikk .... Suara pintu mobil terbuka. Mery segera memasukkan barang-barangnya kemudian mendudukkan badannya ke atas mobil itu. Ini kali pertama ia satu mobil dengan Senja. Mery yang terduduk di samping kiri Senja itu menampilkan wajah cemberut. "Kenapa kamu?" tanya Senja tanpa dosa. Senja mulai menghidupkan mobilnya kemudian melaju meninggalkan rumah sakit itu. "Perut saya masih nyeri dibawa berjalan, Mas," lirih Mery. "Dokter bilang kamu udah sembuh makanya sudah diperbolehkan pulang. Kamu jangan mengada-ngada untuk mencari perhatian saya," sindir Senja dengan sangat tajam. "Buat apa saya mengada-ada, benar adanya. Perut saya nyeri," jawab Mery sedikit merintih. Masih dengan Senja yang sama, dengan dendam yang tiada kentara. Hening .... Keduanya tak lagi mengeluarkan suara, sepatah pun. Tak ada percakapan yang melintasi keduanya. Jalanan yang menampilkan hiruk pikuk kota pagi ini sangat berpolusi. Kemacetan juga selalu menghantui. Saat Senja tengah fokus menggenggam kemudi mobilnya. Ia terkejut saat mobil di depannya mendadak berhenti. Sontak ia segera menginjak pedal rem mendadak. Mery yang juga terlihat sangat terkejut itu hampir saja kepalanya menghantam dashboard yang ada di depannya. "Sial ... Apa-apaan ini?" Senja memandang ke depan dan mendapati macet panjang yang tengah mengungkung perjalanan mereka. Mery yang masih digelumuri rasa kaget tadi sontak memegang perutnya yang kembali merasakan nyeri. "Kenapa kamu ... lapar?" tanya Senja yang hanya memandang sekilas ke arah Mery. Sekarang pandangannya kembali fokus ke depan hanya untuk menghindari memandangi Mery. "Enggak," jawab Mery sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aduh ... aku yang lapar ini. Jam segini nih jadwal ngopi saya, nih," jelas Senja tanpa diminta. Dia masih melajukan mobilnya yang terjebak macet itu walaupun tersendat-sendat. Suasana bosan tentu menyapa kedua pasang manusia itu. Mery mulai menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kemudian memejamkan matanya. Senja yang sejak tadi diliput kesal, kini kembali dibuat kesal karena pengendara di depan sangat lama memajukan mobilnya walaupun sudah diklaksonin berkali-kali. Tak lama setelah itu, mereka melewati kafe yang menjadi tempat favorit senja untuk menyendiri. Tempat dengan nuansa alam yang waktu itu pernah terlihat oleh Mayola keberadaan Senja di sana. "Kita mampir bentar. Kamu kalo mau ikut, ayo! Kalo enggak, tunggu aja di mobil." Senja memarkirkan mobilnya di depan kafe itu. Setelah mobil itu berhenti, Senja langsung turun dan melangkahkan kakinya memasuki kafe. Ia langsung menuju lantai dua ke tempat favoritnya yang ia beri nama Sudut Renung. Mery membuntuti Senja kemudian melangkah menaiki anak tangga. Perutnya yang masih terasa nyeri itu ia paksa untuk berjalan. Senja yang sangat lincah menaiki anak tangga itu sudah sampai di lantai dua tanpa menghiraukan Mery yang masih berusaha mengangkat satu persatu kakinya. Dia bergelayut pada pegangan tangga yang juga terbuat dari kayu. Interior kafe nuansa alam ini memang mayoritas furnitur di dalamnya menggunakan kayu dan tanaman rambat baik itu yang asli maupun palsu. Ketika sampai di lantai dua, Mery menuju meja yang sudah terduduk Senja di sana. Baru saja ingin melekatkan bokongnya pada kursi, sontak Senja berkata, "Kamu yakin mau duduk di sini? Saran saya, ya ... sebaiknya kamu duduk di lain tempat saja," ucap Senja sambil memindai keadaan sekitar. Belum terlalu ramai orang. Namun, entah apa yang membuat Senja berlaku demikian. Tanpa suara, Mery langsung mencari tempat lain. Dia malas membantah atau pun mencari perkara hanya karena persoalan tempat duduk. Mereka duduk berjauhan, sesaat kemudian datang seorang waitress kafe dengan baju seragam berwarna merah, menyapa dengan senyum ramah. "Loh, Mas, istrinya kok, disuruh pindah?" tanyanya sontak Senja ternganga. "Tahu dari mana kalo itu istri saya?" tanya Senja. "He he cuma nebak, kok, Mas. Soalnya keliatan dari chemistrynya," jawab waitress yang tengah membawakan buku menu itu. "Chemistry apaan? Sudah ... sini buku menunya," pinta Senja. Waitress itu segera memberikan buku menu pada Senja. Dengan sigap Senja membukanya dan memilih sesuatu yang akan dipesan. "Saya pesan kopi item sama sponge cake vanila 1." Senja mengembalikan buku menu itu pada sang waitress. "O iya, Mas. Istrinya pesen apa?" tanyanya lagi yang membuat Senja kesal. "Mbak ... mending Mbak tanya langsung ke dia, ya kali saya mesen buat dia," geram Senja. "Ya elah, Mas. Cekcok dalam rumah tangga itu biasa, barangkali Mas mau menitipkan sesuatu agar kembali akur gitu?" goda sang Waitress yang membuat Senja mulai naik pitam. Sang waitress tidak ingin mengambil risiko karena takut melihat reaksi Senja. Ia pun langsung berjalan menuju meja Mery dan memberi buku menu itu dengan senyum ramah khasnya. "Hallo, Mbak. Ini daftar menunya." Ia langsung menyodorkannya pada Mery. Mery membukanya lalu memilih apa yang harus ia pesan untuk sarapan. Ia yang terbiasa sarapan nasi goreng, langsung membuka daftar menu yang menyajikan beberapa menu nasi goreng. Ia bahkan ragu memilih nasi goreng sosis atau nasi goreng bakso? "Mbak, saya pesen nasi goreng sosis tapi pake bakso juga, ya. Minumnya saya pesen teh hangat saja," ujar Mery. Mungkin itu yang dinamakan selera ibu hamil melebihi kapasitas biasa. Atau mungkin karena Mery ingin mengembangkan seleranya yang selama di rumah sakit terkungkung dengan hanya memakan nasi bubur. Waitress itu mengangguk dan mencatat pesanan Mery. Kemudian, ia pun berlalu. Senja terlihat mematung di sudut renung tempat ternyaman menurutnya itu, sedangkan Mery mulai mengasyikkan diri dengan ponselnya dan membuka laman sosial media. Di laman pertama, sontak matanya menangkap sosok Mahesa yang baru saja memposting fotonya di sebuah hutan rimba dengan caption. [Ini bahagiaku, aku tidak suka ada yang menggaduh.] Rasa kecewa tentu membuncah wanita yang tengah berbadan dua itu, yang tengah mengandung benih Mahesa. Bagaimana tidak? Ia merasa bahagia dengan pelariannya. Ia merasa bahagia tanpa Mery menggaduhnya. Tangis mulai menjatuhi pipi Mery
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD