Part 16

1045 Words
Mereka mengiringi jenazah itu untuk di antar ke pengistirahatan terakhirnya. Badan Mayola yang lemah tak berdaya itu dipandu oleh Tante Rukminin yang mendekapnya dari samping. Tangis-tangis itu tidak berkesudahan. Tangis-tangis itu masih saja terdengar mengiris.  Pun mama Mayola, wajah yang terkenal angkuh itu akhirnya diliput sendu. Entah karena menyesal atas perlakuannya selama ini pada sang suami atau entah ingin menarik simpati warga yang selama ini selalu mencibirnya. Lantunan laillahaillallah dari mereka yang memikul keranda terdengar sangat menyayat bahkan menusuk sampai ke tulang batin para pengiringnya terutama Mayola. Rasa kehilangan yang teramat dalam membuatnya tak sanggup lagi mengeluarkan sepatah kata.  Elsa dan ibunya yang sangat setia mendampingi keluarga Mayola yang tengah diselimuti duka mendalam itu juga terlihat mengucurkan air mata. Ditangan Elsa, ia merangkul foto almarhum pak Broto, Papa Mayola.  Terlihat, Anto yang tengah berselancar dengan sepeda motor kesayangannya itu menyusuri area pemakaman di dekat persawahan. Ia menatap heran orang-orang yang berbondong-bondong membawa keranda jenazah. Tak luput oleh pandangannya, ia menangkap sosok Mayola yang juga menjadi pengiringnya.  "Siapa yang meninggal?" batin Anto. Karena rasa penasaran yang memenuhi rongga d**a, dia masih terus mengamati rombongan itu kemudian menghentikan laju motornya di pinggir jalanan. Bukankah semalam mereka yang mengerjakan sesuatu yang magis di halaman rumah Mayola. Mengapa ia sangat kebingungan tatkala kabar kematian menyelimuti korban yang memang menjadi sasarannya itu. "Pak Broto ...." Mata Anto terbelalak ketika memandang foto yang dibawa oleh Elsa. Ia segera memutar motornya lalu melaju dengan sangat sigap.  Pemakaman terletak di dekat persawahan itu sudah terlihat. Tanah galian berwarna cokelat yang tertumpuk itu membuat Mayola mengerang dan kembali menangis histeris. Bagaimana tidak, tak terbayangkan olehnya papa yang sangat ia sayang itu akan segera tertimbun di sana. Ritual pemakaman telah usai, para warga yang tadi ikut mengantar sudah beranjak pulang. Tinggallah Mayola, mamanya, tante Rukminin serta Elsa dan ibunya yang masih terduduk di sana. Di samping makam sang papa.  "Sudah, May ... Papamu pasti sudah tenang di alam sana," bujuk Tante Rukminin dengan suara lembut khasnya. "Ini semua tak adil, Tan. Mengapa semua kepiluan selalu melanda hidupuku yang tiada daya upaya ini, Tan. Kesedihan tidak pernah berkesudahan menghampiri hidupku," rintih Mayola. "May, tak baik bicara begitu di depan makam papamu, ayo ... Kita pulang," ajak ibu Elsa. Mayola masih terduduk memeluk batu nisan sang papa. Mamanya juga terlihat menangis sendu di sampingnya.  "Ayo, May, kita pulang," ajak tante Rukminin sambil membantu Mayola untuk berdiri. "Nggak mau, Tan," berontak Mayola.  "May, ikhlaskan papamu. Kalau ia tahu kamu terus-menerus sedih seperti ini, pasti ia akan ikutan sedih. Biarkan ia bahagia di sana, kamu juga harus membahagiakan nya dengan mengirimkan doa dari sini, bukan terus-terusan bersedih," ungkap Elsa.  Mayola yang sangat lemah ini dituntun oleh tante Rukminin untuk berdiri. Tatkala mereka melangkah pergi meninggalkan jenazah yang baru saja tertanam itu ... Mayola pingsan tak sadarkan diri.  "May, ayo ... makan dulu," ucap seorang ibu-ibu dengan perwatakan tulus itu. Semangkuk bubur ayam yang tersaji sama sekali tak menggugah selera Mayola. Ia yang tengah terbaring di kamar ini memindai keadaan sekeliling. Masih terlihat Elsa yang selalu setia mendampinginya. "Tante Rukminin ... mana?" itu yang terlintas di pikirannya saat melihat tak ada sosok itu di sana.  "Tante Rukminin sudah pamit pulang tadi, May," jawa Elsa. Ia sama sekali tak menanyakan sosok mamanya sendiri yang juga tak terlihat di sana. Mungkin ke alfaan sang mama selama ini tidak terlalu menghadirkan rasa khawatir apabila sosok itu tak lagi ada.  Ketika kepalanya merasa pusing, ia memegangnya dengan tangan. Sigap, ibu Elsa mengolesinya dengan kayu putih. Sesaat setelah itu, wanita bertubuh langsing itu muncul dari pintu. "Gimana keadaan Mayola, Buk?" Bagaimana mungkin, mamanya yang selama ini sibuk dengan urusannya sendiri bisa memberikan perhatian dengan menanyakan keadaan Mayola. "Sudah mendingan, tapi dia masih tak mau makan," jawab Ibu Elsa sambil terus memijit-mijit kepala Mayola.  Perempuan yang ia panggil mama itu terduduk di pinggir ranjang Mayola. Ia mengelus tangan Mayola yang masih tergelatak itu. Sontak, Mayola menarik tangganya pertanda tak diminati untuk dielus.  "May, mama mau minta maaf," ucap mamanya tulus. Mayola terhenti sejenak lalu mengamati manik mata yang biasanya membelalak itu. "Minta maaf buat apa?" jawab Mayola singkat. "Buat segalanya, May." Tangis Mamanya meledak di hadapan Mayola.  Mayola sontak terduduk kemudian memeluk wanita itu. Tangis mereka beradu. Entah kapan terakhir kali sepasang anak dan ibu ini berpelukan yang pastinya kali ini terasa sangat memilukan.  ***  Danau Walia, terlihat tenang tapi berpotensi menenggelamkan. Panorama alam sekitar yang mampu menghipnotis mata memandang. Tak jarang, para wisatawan yang berdatangan akan ketagihan menikmati keindahannya.  Termasuk Mayola, kali ini ia terduduk dengan penuh rasa iba meluahkan lukanya ke danau itu. Danau yang memang menjadi tempat untuknya mengadu kesedihan bukan berwisata.  Matanya memandang lekat air yang tenang itu ... pikirannya terbang jauh.  Gubuk tempat tinggal Mahesa memang tidak jauh dari sana tetapi tidak terlihat seperti berpenghuni.  Mentari yang akan segera membenamkan diri itu menandakan bahwa kelam akan segera menyapa. Mayola masih asyik menikmati sunyi sepi itu tidak ingin ada seorang pun yang mengganggu. Pun, tak ingin ada orang yang menemaninya ke danau ini.  Terkejut.  Anto dengan sigap menutup mulut bosnya itu dengan tangan saat mereka membukakan pintu gubuk itu. Dua orang itu menatap punggung Mayola yang tengah menghadap ke danau.  "Bos, masuk dulu ... ada orang di sana," bisik Anto sembari menutup pintu gubuk itu kembali. "Iya ... aku liat, lepas dulu tanganmu. Bau ...." cecar Mahesa dengan mata nyalang. "He-he, ma-maaf, Bos." Anto menyeringai. "Siapa itu, Nto?" tanya Mahesa. "Ya, mana saya tahu, Bos. Wajahnya kan gak keliatan," jawab Anto polos.  Mereka mulai mengintip dari celah-celah dinding bambu itu. "Jangan-jangan ...." ucap Anto membuat bulu kuduk meremang. "Jangan-jangan apa, Nto?" tanya Mahesa geram. "Su-su ...." "s**u Apa?" "Sundel bolong," jawab Anto. "Lo kan liat itu punggungnya gak bolong, jangan macem-macem pikiran lo ih," ucap Mahesa yang ternyata juga merasakan meremang.  Anto dan Mahesa masih mengamati perempuan yang tengah terduduk itu. Mereka juga tidak ingin menampakkan diri karena takut persembunyiannya diketahui oleh warga.  Tak berselang lama, wanita yng tadi dalam pengamatan tiba-tiba menghilang. Lenyap dari pandangan mereka berdua. "Loh, Bos. Kan betul tebakan saya, pasti itu tadi jelmaan setan," tebak Anto sambil meraba tengkuknya.  Mahesa mengedarkan pandangannya ke sekitaran danau. Benar. Sosok itu tidak lagi terlihat.  Mayola berjalan dengan sedikit kedamaian dalam hatinya. Selepas pemakaman sang papa tadi pagi. Ia memang telah saling memaafkan dengan sang Mama. Akankah permintaan maaf itu tulus?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD