Part 15

1081 Words
Badan Mayola terhuyung, ia menyeret langkahnya dengan dibantu Elsa. Sahabat setianya itu juga sudah memberitahu Ibunya di kampung tentang kabar duka yang sangat tidak terduga ini. Ibu Elsa juga dengan sigap memberi tahu warga lainnya agar segera membantu mengurus pemakaman. Menjelang pagi, Elsa sudah menyiapkan segala syarat kepulangan jenazah pak Broto, papa Mayola. Untung saja ada Elsa, kalau tidak bagaimana mungkin Mayola sanggup mengurus semuanya sendirian. Mata yang semalaman tidak tidur itu terlihat sembab karena bercampur air mata. Jeritan histeris Mayola terdengar sangat menyayat. Kehilangan karena kematian tentu membuat Mayola sangat terpukul. Ambulans yang menjemput sudah datang, jenazah yang sudah di mandikan oleh pihak rumah sakit itu di masukan ke dalam ambulans. Tak luput, Mayola dan Elsa juga masuk ke sana. Mereka saling rangkul, tangis demi tangis seperti tak pernah putus. Suaranya yang mengalun diiringi suara khas kepiluan dari mobil ambulans ini. Ketika melaju ke sebuah perkampungan tempat tinggal Mayola. Elsa segera mengarahkan pada sopir yang mengemudi mengenai jalan mana saja yang harus mereka tempuh. “pak, belok kiri, ya,” terdengar suara Elsa tersedu-sedu. Pak sopir hanya mengangguk kemudian mengarahkan mobil itu ke kiri. tidak jauh dari persimpangan tadi, sudah terlihat banyak sekali bendera kuning menghiasi pinggir jalanan. ambulans itu pun segera menghentikan lajunya. "May, kita sudah sampai," ucap Elsa ketika mobil itu berhenti tepat di halaman rumah Mayola. Mayola yang sedari tadi membenamkan wajahnya dalam dekapan Elsa segera mengusap pipinya yang dipenuhi air mata. Para warga segera membuka bak belakang mobil ambulans itu kemudian langsung menurunkan jenazah papa Mayola. Mayola kembali terhuyung. dengan sigap, ibu Elsa membantu memapah Mayola menuju ke dalam rumah. Jenazah itu segera di letakkan pada kasur pembaringan yang telah disiapkan oleh ibu elsa dan para warga lainnya. Mayola yang masih terus menerus menangis histeris memanggil papanya kini terduduk tak berdaya di samping raga yang tidak lagi bernyawa itu. "El, tolong teleponin mama aku, ya." masih dalam sedu dia berucap. Elsa segera melaksanakan perintah Mayola. para warga yang berbondong datang mengucap bela sungkawa menambah perih luka d**a gadis yang tengah dilanda duka mendalam itu. via telepon.... "Ha-halo, Tante. ini saya, Elsa." Elsa berusaha menyeimbangkan nada bicaranya agar sedih itu tak segera meluah. mama Mayola yang baru terbangun dari tidurnya itu segera terduduk. tidak pernah selama hidup bertetangga Elsa menghubunginya. "Iya ... ada apa Elsa?" tanya mama Mayola dari seberang sana. "tan, om Broto meninggal ...." tangis itu akhirnya pecah. Elsa yang tadi sedikit menjauh dari Mayola akhirnya mulai meluahkan air matanya. "tolong jangan dulu di kuburkan. tunggu saya pulang, El," jawab mamanya dengan suara gemetar, walau tak ada air mata yang keluar. mama Mayola segera melangkahkan kakinya kemudian turun dari ranjang. langsung saja ia berbenah di sebuah apartemen mewah itu, memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. tanpa menunggu lama, ia berganti pakaian  kemudian segera keluar dari gerbang kemewahan yang selama ini mengungkungnya. ia berjalan dengan sangat tergesa-gesa kemudian langsung memesan taksi online dari aplikasi di hpnya. tidak lama setelah itu, taksi itu datang. tujuannya tentu langsung ke kediaman yang selama ini ia tinggalkan itu. "ayo ... tunggu apalagi? jenazah itu alangkah lebih baiknya segera kita makamkan," ucap seorang ustaz yang tadi memimpin jalannya pembacaan yasin. "tunggu dulu, pak. tunggu mama saya pulang," larang Mayola ketika sebagian orang akan segera mengangkat jenazah untuk segera di salatkan. "palingan juga pulangnya malem," sahut seorang ibu-ibu dari kejauhan. Mayola tidak lagi memikirkan omongan orang-orang tentang mamanya. dalam pikirannya, pada saat sekarang ini sang mama harus melihat dan mengantar kepergian papanya untuk yang terakhir kali. mereka melanjutkan bacaan tahlil sembari menunggu wanita yang ditunggu-tunggu itu datang. Mayola masih seta dalam dekapan ibu Elsa dan sebagian warga yang prihatin terhadapnya. jarum-jarum yang semalam tertanam di halaman rumah Mayola seakan menjadi saksi kesedihan atas semua yang tanpa henti menimpanya. "May, kamu yang sabar, ya. jangan terlalu di turut rasa sedih. kita semua bakalan menyusul ke sana, ke surga Nya." kata-kata lembut seorang warga yang ber bela sungkawa itu mengingatkan Mayola pada tante Rukminin. Mayola kembali meraih tangan Elsa kemudian berbisik padanya, "El, tolong kabarin tante Rukminin juga, ya. dia harus tahu," Mayola kembali menghapus air mata di pipinya yang juga terlanjur jatuh. "iya, May," jawab Elsa sembari menjauhkan diri dari jenazah dan kerumunan warga. esa segera meraih ponselnya kemudian menekan kontak yang tersimpan di hand pone Mayola ini. tertulis di sana nama kontak tante Rukminin. tanpa jeda lama, Elsa langsung saja memencet tombol hijau yang ada di layar. walaupun terlewat dering untuk beberapa saat, tante Rukminin tetap mengangkat telepon itu. "Hallo," sahutnya dari seberang sana. "Tante, ini saya, Elsa." suara Elsa terdengar sangat lirih. "iya Elsa. ada apa? ada yang bisa tante bantu? atau ada sesuatu yang terjadi di rumah sakit?" tanya tante Rukminin bertubi-tubi karena rasa khawatir. "kami sudah tidak di rumah sakit, tan. kami sudah sampai kampung," ucap Elsa terpotong. "Alhamdulillah, berarti papanya Mayola sudah siuman?" tanya tante Rukminin tanpa menunggu penjelasan dari Elsa. "Bu-bukan itu maksudnya, tan," lirih Elsa. "pak Broto sudah meninggal, tan. saya disuruh sama mayola ngabarin tante," lanjutnya. tante Rukminin terdiam beberapa saat. "tan, tante?" suara Elsa kembali menyadarkan tante Rukminin. "i-iya, El. tante akan segera ke sana," ucapnya kemudian bergegas menyiapkan diri menuju kampung itu. tak terasa, selama perjalanan menuju kampung tempat tinggal Mayola itu, mata tante Rukminn juga sering kali menyemburkan air. entah itu karena rasa ibanya pada mendian papa Mayola atau mungkin rasa ibanya kepada Mayola itu sendiri. *** wanita yang ditunggu-tunggu itu datang. kali ini ia sama sekali tidak memasangkan wajah pongah khasnya. raut duka sepertinya juga terpancar dari wajahnya. ia segera turun dari taksi berwarna hijau itu kemudian menurunkan lopernya. semua pasang mata memandang lekat ke arahnya, ke arah wajah yang biasanya dipolesi bedak dan lipstik tebal itu kali ini terlihat polos tanpa polesan sama sekali. ia berjalan dengan lunglai karena benar-benar merasa kehilangan suami tersayang. namun, bukankah selama ini ia selalu menganggap pak Broto ini sebagai beban yang harus ia tanggung biaya makan maupun biaya pengobatan? Entah lah mungkin saat ini hatinya tengah tergerak untuk merasakan sedih. sesampainya di depan jenazah yang tengah terbujur kaku itu, mama Mayola segera menghempaskan badannya ke lantai. sembari menjerit, ia mulai mengeluarkan air mata. para warga ada yang menatapnya dengan rasa iba, tetapi tak banyak juga yang memandangnya dengan penuh cemoohan. tidak lama setelah itu, sebuah mobil mewah juga berhenti tepat di halaman rumah Mayola. keluarlah seorang wanita dengan perwatakan lembut itu dengan penuh sendu. ia langsung melangkah memasuki rumah. sembari melihat jenazah pak Broto yang sudah memucat itu, terlihat olehnya Mayola dan mamanya. kemudian, tante Rukminin dan mama Mayola saling tatap dalam waktu yang lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD