Pov Author
Di kursi tunggu rumah sakit, Mayola duduk termangu. Dia menunggu papanya yang tengah diperiksa. Elsa juga terlihat setia mendampinginya.
"El, kalau kamu mau pulang duluan, pulang saja. Aku jadi tidak enak ngeliat kamu kelamaan nunggu," ucap Mayola karena merasa tidak enak dengan Elsa yang sudah menunggu terlalu lama.
"Aku nemanin mau kamu saja, May! Enggak mungkin aku ninggalin kamu sendirian disini," jawab Elsa.
Sudah sekitar 30 menit mereka menunggu kabar baik dari dokter yang tengah memeriksa di dalam ruangan. Rasa cemas tidak bisa ia kendalikan. Sesekali Mayola mondar-mandir di depan pintu ruangan sambil menggigit telunjuknya. Rasa cemas dan gemetar telah menggoncangkan seluruh tubuhnya.
"El, kamu tunggu disini dulu, ya! aku mau menelpon Mama," ucap Mayola lalu menjauh beberapa meter dari pintu ruangan.
Elsa hanya terdiam memandang punggung Mayola. Cucuran darah segar yang mengalir dari kulit kepala Papanya, membuat Mayola dan Elsa khawatir tak terkira.
"Gimana, May?" tanya Elsa ketika Mayola kembali mendekat.
Hanya gelengan yang mampu ia tampilkan. Elsa sepertinya sudah mengerti semua yang terjadi.
***
Mahesa terduduk pongah dipinggir danau sebuah hutan. Sudah berbulan-bulan dia tidak menampakkan badan pada keluarga, apalagi kekasihnya.
Dia tahu, kemarin adalah hari pernikahan Mery dan Senja. Senyumnya mengembang dengan sangat angkuh.
"Sukses!" ucapnya sambil melemparkan batu-batu kecil ke riak danau.
Rembulan malam menemaninya, yang tengah membawa kepongahan atas keberhasilannya menikahkan pacar dengan kekasihnya itu.
Dia kembali berjalan ke gubuk kecil yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama berbulan-bulan. Dia sengaja menghilangkan diri dari keramaian katanya untuk mencari kedamaian.
Malam kian larut, dengan penerangan lampu togok Mahesa berdiang sendirian. Gubuk ini milik keluarga Anto, sahabatnya.
***
Dengan sorot kesal, Senja menatap wanita yang tengah tertidur di sebelahnya. Hal ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, menikahi seorang gadis yang bukan menjadi pilihannya. Ups! Apakah Mery masih bisa dikatakan gadis?
Dia terpaksa harus tidur seranjang dengan wanita ini. Hush! Sudahlah tidak mencintai, malah mendengkur keras sekali. Malam ini sepertinya Senja tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Kedua tangan Senja berusaha menutup telinga, tetapi suara dengkuran keras itu tidak bisa lenyap dari pendengarannya.
"Gila nih cewek!" kutuknya dalam hati.
Seandainya saja perdebatan panjang tadi dimenangkan oleh Senja, mungkin dia tidak akan pernah bermimpi tidur seranjang dengan Mery. Namun, sama seperti sebelum-sebelumnya, Senja tidak pernah memenangkan suatu perdebatan jika harus berhadapan dengan orangtuanya.
"Sudah, Senja! Kamu jangan aneh-aneh ya! Mery itu sekarang istrimu. Jadi buat apa kamu tidur berbeda kamar dengannya!" ucap Mamanya dengan mata yang seperti ingin segera keluar dari cangkangnya.
"Tapi, Ma ... Kamar Mahesa 'kan tidak dihuni, apa salahnya aku tidur disana terlebih dahulu, sampai suatu saat membiasakan diri dengan semua hal aneh ini!" jawab Senja dengan memegang tangan Mamanya.
"Ya bagaimana kamu mau membiasakan diri jika saat ini saja kamu mau pisah ranjang!" jawab Mamanya dengan nada penuh penekanan.
"Ma, aku ini punya rasa. Punya sekeping hati yang harus bahagia. Pernikahan ini saja tidak membuat aku bahagia, apalagi harus sekamar dengan wanita yang samasekali tidak aku cinta." Senja masih berusaha membantah sang Mama walaupun dia mengetahui bahwa wanita yang telah melahirkan dia itu mempunyai hati yang sangat keras, melebihi baja.
"Sudah Senja! Cinta itu akan datang karena terbiasa. Makanya kamu harus membiasakan diri dengan pernikahan ini!" bentak sang Mama kemudian berlalu meninggalkan senja dan papanya yang tengah duduk di ruangan televisi.
Wanita dengan hati yang keras ini juga memiliki suara yang sangat tinggi. Papanya memandang Senja tanpa menaruh rasa kasihan. Dengan sorot tajam dia langsung mengarahkan telunjuk agar Senja segera memasuki kamarnya.
Seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh ibunya, Senja berjalan menunduk mengikuti semua perintah orangtuanya berharap rasa kasihan yang akan datang padanya kemudian permen yang dia inginkan diberikan dengan sendirinya.
Ah, usia tidak sebercanda itu. Bukankah dari kecil Senja memang tidak pernah mendapatkan apa yang dia mau? Bukankah Mahesa yang seorang anak emas selalu memenangkan apa yang dia inginkan?
"Brakkkkk!" suara senja membukakan pintu dengan sangat keras.
Mery terbelalak menatap ambang pintu. Dia yang tengah mengoleskan krim malam di wajahnya kini kembali menatap cermin melanjutkan aksinya.
"Kenapa kamu?" tanyanya sampai melirik sedikitpun kearah Senja.
Senja bergeming kemudian berbaring di ranjang paling sudut, menatap dinding.
"Kamu masih belum terima dengan keputusan ini? Sudah, nikmati saja semua yang terjadi" ucap Mery sembari merebahkan diri dan berbaring di sebelah Senja.
Mery dengan sikap menggoda, mengusap punggung Senja dengan jemarinya. Senja terperangah kemudian berteriak.
"Stop! Kamu jangan coba-coba sentuh aku," Bentak Senja tanpa melihat kearah Mery sedikitpun.
***
Pagi menjemput, Senja terbangun setelah semalaman menikmati nyanyian nyaring yang dihasilkan suara dengkuran Mery. Nyanyian yang samasekali tidak merdu, apalagi diminati.
Mery sudah tidak berada disampingnya. bersyukur sekali Senja karena sepagi ini dia harus berhadapan dengan wanita yang selalu membuat hidupnya kacau.
Disisi lain, Mahesa yang tengah mengamati embun di dedaunan, menyesap udara sejuk pegunungan. Tempat ini sangat cocok untuk bersembunyi, apalagi untuk menghindari semua salah yang telah ia perbuat pada Mery.
Dia kembali berjalan menuju danau tempat ia terbiasa bermenung. Menikmati bahagia yang tergores oleh belati yang dia asah sendiri. Hatinya yang memiliki dua sisi terkadang merasa bahagia apabila melihat kekasih yang ia cinta bersama Senja, abang kandungnya. Walaupun Senja si penurut itu selalu membuat dia kesal.
Seperti biasa, makanan untuk Mahesa selalu rutin diantar oleh orang suruhannya. Pagi, Siang, dan Malam. Bermodalkan uang perusahaan yang ia bawa kabur, tidak terhitung jumlahnya. Mahesa mampu membayar orang untuk mengantarkan makanan agar benar-benar lenyap dari permukaan.
Hutan, di lereng pegunungan itu terletak tidak jauh dari kampung Mayola. Mahesa mengetahui itu, dan kediaman Mayola juga terkadang menjadi intaiannya.
"Mahesa!" sapa seseorang yang baru saja sampai dan menenteng plastik putih di tangannya.
Dia Anto! pemuda luntang lantung yang bersedia menjadi pesuruh Mahesa. Dia juga yang telah menyiapkan gubuk itu untuk didiami oleh Mahesa.
"Ngagetin aja!" seru Mahesa ketika memandang ke arah Anto.
Anto berjalan dan mendekat ke pinggir danau. Mahesa yang tengah duduk di batang pohon mati, yang sudah roboh tertiup angin.
"Ini, aku bawain sarapan. Nasi goreng dari kedai Aceng!" sambung nya sambil menyodorkan kertas tadi.
"Aku lagi tidak nafsu, makan, Nto!" jawab Mahesa lalu berusaha menjangkau batu-batu kecil kemudian melemparnya ke danau.
"Loh! kenapa? Bukannya Senja sudah dinikahkan dengan Mery? Bukankah itu tujuanmu?" tanya Anto lagi.
"Entahlah, Nto!" jawab Mahesa tanpa semangat.
"Eh ... Tadi gue lewat rumah, Mayola! Papanya dibawa kerumah sakit, Sa!" seru Anto. Dia memang kerap membawakan berita apa saja untuk di ceritakan pada Mahesa. Apalagi jika itu menyangkut Mayola.
"lu serius, Nto? terus gimana keadaannya?" tanya Mahesa dengan raut penasaran
"Serius lah, Sa. Masak iya gue bohong. Tadi, waktu balik dari rumah Aceng, gue ngeliat Ambulans membawa papanya. Dari kepala papanya mengalir simbahan darah, Sa!" lanjut Anto.
Mahesa memegang kepalanya. dan kembali menelusup melihat wajahnya diantara riak danau.