Part 5

1168 Words
Mayola tertidur di samping ranjang Papanya yang tengah tergeletak tak berdaya. Dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya di ranjang sang Papa. “Brakk!” suara pintu ruangan Papa Mayola terbuka dengan kasar. Terdengar ketukan demi ketukan sepatu hak yang menancap pada ubin ruangan yang dilapisi keramik ini. Mayola berusaha membuka mata dan mengedarkan pandangan ke sumber suara. “Mama! Akhirnya Mama datang juga,” ucap Mayola sembari berjalan ke arah mamanya. Dengan santun, Mayola mencari tangan perempuan tersebut, untuk segera ia cium. Namun, dengan cepat sang Mama menepis tangan Mayola. “Apa-apaan, sih?” sergah Mamanya “Bagaimana ceritanya si tua bangka ini kok, bisa jatuh? Kamu memang tidak bisa diandalkan Mayola, bukankah saya menyuruh kamu untuk menjaganya?” Sambungnya. “Ma-maaf, Ma. Mayola lengah dalam menjaga Papa,” ucap Mayola sambil mengucek-ngucek matanya menggunakan tangan. “kalian ini, bisanya cuma merepotkan saja,” timpal Mamanya sambil tangannya meraba-raba tas import dari brand ternama. Entah dari mana Mamanya mempunyai cukup uang untuk mengoleksi barang-barang dengan merk terkenal. Dia mengeluarkan segepok uang dari tas itu, lalu melemparkan tepat ke atas ranjang Pak Broto yang masih tertutup matanya itu. “Ini untuk biaya, jangan lagi telepon-telepon Mama,” kakinya melangkah keluar ruangan tanpa ada sedikit pun wajah khawatir dari raut mukanya. “Ma, tinggallah di sini sebentar sampai keadaan Papa membaik,” Mayola berusaha menarik tangan mamanya. “Heh Mayola! Lepas, kamu jangan aneh-aneh ya. Nasib baik Mama mau membantu buat biaya rumah sakit Papa kamu. Kalo enggak, mau dapet uang dari mana kamu? Jual diri?” lanjutnya lagi yang membuat aksi Mayola terhenti. Dia membiarkan Mamanya beranjak dengan liuk-liuk tubuhnya yang masih meninggalkan luka dan masih terngiang-ngiang di telinga Mayola. Dia hancur, rapuh, tanpa ada satu pun tempat untuk bersandar. Dia mengambil uang yang tadi dilempar oleh Mamanya lalu disimpan untuk biaya pengobatan sang Papa. Dengan uang sedemikian banyak, pastilah cukup untuk membayar sewa kamar dan pengobatan. Ruangan yang di tempati Papa Mayola bukanlah ruangan VIP yang ber-AC maupun dengan fasilitas TV. Ruangan ini adalah ruangan umum selayaknya masyarakat kalangan bawah. Ruangan dengan luas 4x6 m ini diisi oleh 3 ranjang yang seharunya diisi oleh 3 orang. Namun, dua ranjang di samping ranjang Papanya terlihat kosong karena mungkin saja belum ada pasien yang mengisi. *** Elsa sudah pamit pulang sekitar sejam yang lalu, setelah dokter memperbolehkan Mayola untuk Masuk ke dalam ruangan menjenguk Papanya. Dengan niat kembali ke rumah sakit, Elsa menjemput barang-barang yang sekiranya diperlukan oleh Mayola untuk menginap di rumah sakit. Setelah mandi dan menyiapkan diri, dia berjalan dari rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Mayola, hanya saja jaraknya tidak terlalu dekat karena banyak sekali pohon-pohon cokelat dan tumbuhan liar lainnya membatasi rumah mereka. Elsa keluar dari halaman rumahnya yang berpagar bambu itu. Dengan terkejut, retinanya menangkap dua orang mencurigakan yang tengah memperhatikan rumah Mayola. Mereka bergoncengan naik motor rx k*ng yang suaranya sangat nyaring memekakkan telinga. Diam-diam Elsa mengawasi mereka. Ia melangkah dengan sangat hati-hati sekali, langkah yang sengaja ia jinjit-jinjit agar tidak terpergok oleh dua orang asing yang mencurigakan tadi. Langkah demi langkah ia tapaki dengan melintasi dedaunan kering lalu bersembunyi di balik pohon cokelat yang batangnya sudah lumayan berumur. Elsa terus memperhatikan mereka tanpa membiarkan dua orang tersebut lepas dari pandangannya. “Loh! Itu kan Anto?” Batin Elsa sepertinya mengenali salah satu dari dua orang tersebut. “Lalu ... itu siapa?” dia mengamati seorang pemuda berkulit putih, yang pastinya sangat kontras dengan kulit-kulit pemuda desa pada umumnya. “Apa yang mereka lakukan di rumah Mayola?” pertanyaan itu kembali muncul dalam batin Elsa. Sesaat kemudian, suara dering handpone Elsa berbunyi. Dengan sangat gugup Elsa berusaha meraih ponsel itu di dalam sakunya. Dengan cemas Elsa berusaha menekan-nekan benda pintar itu agar tidak ketahuan oleh kawanan yang sedang dalam pengawasannya. Terlihat di layar pipih itu nama Sahabatku Mayola “aduh! Mayola ngapain, sih?” Elsa berusaha mengangkat telepon dari Mayola. “Halo, May! Bentar dulu, ya. Ada yang penting ini.” Suara Elsa sedikit berbisik, suaranya terbiasa berbicara keras kini dengan hati-hati sekali dia pelankan. “Ada apa, El?” tanya Mayola dengan nada khawatir. “Nanti aku ceritain, deh! Matiin dulu,” titah Elsa. “yaudah, kamu hati-hati ya. Assalamualaikum,” tutup Mayola. Elsa kembali memasukan ponselnya ke dalam saku. Akan tetapi, dua orang yang tadi ia awasi sudah menghilang. Motor yang tadi terparkir juga sudah terlihat. Bukankah suara motor itu sangat nyaring? Lalu bagaimana bisa menghilang dan lepas dari pandangan serta pendengaran elsa? “Aduh! gara-gara Mayola, nih.” Sungut Elsa dengan kesal. “ngapain si Anto anak berandalan itu ke rumah Mayola? Jangan-jangan mau mencuri,” Elsa masih terus menduga-duga. “Kalau begitu gak boleh di biarin, nih. Aku harus segera lapor ke Mayola.” Wajahnya penuh keseriusan. Elsa berjalan keluar dari rimbunan semak-semak yang tadi menjadi tempat persembunyiannya dalam menjalankan misi mengintip dua pemuda mencurigakan itu. Dengan berlari kecil dia segera menuju rumah Mayola dan memeriksa mungkin saja Anto dan kawannya tadi sudah berhasil masuk dan mencuri benda-benda berharga yang ada di rumah Mayola. Mata Elsa dipendar ke seluruh penjuru rumah Mayola, tidak terlihat olehnya ada sesuatu yang terjadi di sana. Pintu rumahnya juga masih terkunci rapat. Elsa mendorong-dorong pintu itu, siapa tahu sudah jebol oleh tangan si Anto dan kawannya itu. Namun, tetap tidak terbuka pintu tersebut masih terkunci seperti semula. “Jangan-jangan, si Anto melihat aku yang tengah bersembunyi, makanya gak jadi mencuri. Awas! Kamu Nto, bakal aku interogasi!” kali ini Elsa bicara sendiri. Dia mengambil kunci rumah Mayola yang tadi sengaja Mayola berikan padanya. Dengan memasukkan kunci itu lalu memutarnya beberapa kali, terbuka sudah pintu rumah yang itu. Dia juga masih mewanti-wanti dan mengamati seluruh jendela. Tetap, tidak ada yang mencurigakan. Kembali ke tujuan awal, dia mengambil seluruh perlengkapan yang seperlunya untuk dibawa ke rumah sakit. Pakaian papa Mayola, pakaian Mayola, serta beberapa buah sarung. Setelah itu, dia kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, dering suara ponsel Elsa kembali bersuara. Benar. Sudah pasti itu telepon dari Mayola karena tidak mungkin dari pacar karena Elsa ini jomblo dari lahir. Bukan karena ia tak cantik, hanya saja suara nyaring dan kerasnya itu membuat laki-laki takut mendekatinya. Begitulah Mayola kerap kali menggoda Elsa. Persahabatan dua orang tersebut sudah seperti saudara, diejek seperti apa pun tidak akan ada yang sakit hati. “Halo ... May.” Dengan nada keras khasnya dan suara yang sedikit ngos-ngosan. “Halo, iya. Ada apa, El,” jawab Mayola dengan nada khawatir. “Ada orang mau maling di rumahmu, May.” Nada bicara Elsa penuh keyakinan. “Serius, El? Terus gimana?” “orangnya udah pergi, May. Udah aman, kok. Rumahmu juga udah kukunci kuat-kuat, pakai kekuatan batin juga, ha ha ha.” Elsa melerai kekhawatiran dan ketegangan yang dirasakan Mayola. “yaudah, cepetan kesini. Papa mau ganti baju, nih.” “oke siap, buk bos,” ejek Elsa. “hati-hati, ya. Bye!” Mayola menutup sambungan telepon itu. *** Disisi lain, Mahesa mengumpat dengan menyebutkan seluruh sumpah serapah yang ada. Misinya telah gagal karena ada seorang wanita yang diam-diam mengintainya. Apa yang akan dilakukan Mahesa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD