Mahesa menyandarkan tubuhnya pada papan kering yang menjadi dinding gubuk di tepian danau itu. Danau Walia yang biasanya terlihat sejuk kali ini seakan bara yang membentang tenang. Perlahan menjadi penyulut emosi yang siap meledak dari ubun-ubun kepala Mahesa.
“Sial! Tuh cewek siapa sih?” tanya Mahesa pada Anto yang sedang menyembulkan asap sebat dari dalam mulutnya.
“Itu Elsa, temannya Mayola. Rumahnya bersebelahan dengan kebun coklat tadi,” jawab Anto.
“Gara-gara tuh cewek, gagal semua rencana kita,” Tujuh buah jarum yang dibungkus dengan kertas usang itu dikeluarkan oleh Mahesa dari dalam kantong.
“padahal, tinggal sedikit lagi rencana kita berhasil,” kata Anto dengan asap yang semakin menjadi-jadi terembus.
“Jadi, kapan kita beraksi lagi?” tanya Mahesa sambil membungkus kembali ketujuh jarum tadi.
“kita mesti hati-hati lagi, soalnya bisa saja tu cewek mengadu ke ketua Rt. Bisa-bisa terkena masalah besar kita.” Anto memegang kepalanya.
“Nah, itu dia yang jadi masalah. Dasar tuh cewek kampung, kepo banget sama urusan orang,” sungut Mahesa kesal.
“Mungkin dia mengira kita ini preman yang mau bongkar rumah Mayola.” Kali ini Anto kelihatan gugup.
“Sudahlah! Pusing gue mikirin tuh cewek,” Mahesa mengangkat kepalanya yang tadi bersandar di dinding gubuk.
Dia segera merebahkan badannya ke atas kasur tipis di atas katil. Tentu sangat berbeda dengan kehidupannya yang selalu serba mewah sewaktu tinggal di kota.
“Jadi ... sekarang Bos mikirin si Elsa, ya. Biasanya selalu Mayola yang di pikirin,” goda Anto
“jangan lagi lo sebut nama tuh cewek.” Mata Mahesa membelalak ke arah Anto yang sedang nyengir kuda.
Anto sangat gugup apabila tuannya ini sudah berlaku demikian. Mungkin moodnya sedang tidak baik karena aksi yang telah dirancang berhari-hari ternyata digagalkan oleh seorang wanita yang bernama Elsa.
“gue laper, Nto. Beliin gue makan, dong!” titah Mahesa yang wajib diiyakan.
Sebagai orang suruhan, Anto selalu siap diandalkan apabila Mahesa membutuhkan sesuatu. Contohnya saja makan, setiap pagi, siang, malam, Anto selalu siaga mengantarkannya.
“siap, Bos!” jawab Anto dengan selalu sigap.
“Nto, hari ini gue pengenya makan sushi,” lagi-lagi titah Mahesa membuat Anto bingung.
“Aduh! Di pedesaan seperti ini, mana ada yang jual Sushi, Bos!” Anto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“terserah lo mau cari kemana. Yang penting, hari ini gue pengen Sushi.” Nada bicara Mahesa penuh penekanan.
“Kalau Susy, ada, Boss! Kembang desa yang cantiknya jauh di atas Mayola.” Anto memasang raut meyakinkan.
“Heh, Nto. Gue bilang pengen makan Sushi, bukan pengen Susy. Secantik apa pun dia, gak bakal mungkin mampu menggantikan posisi Mayola di hati gue.” Nada suara Mahesa mulai meninggi.
“ya, ma-maaf, bos. Saya ‘kan cuma nawarin,” raut wajah Anto penuh rasa bersalah.
Mahesa hanya terdiam memandang Anto yang kerap kali membuat ia kesal. Sudah berlipat-lipat rasa kekesalan yang Mahesa dapatkan hari ini.
“Tunggu apalagi, Nto?” nada bicaranya kembali di naikkan setakak.
“i-iya, Bos. Sorry sorry, Bos, saya berangkat sekarang.” Anto segera beranjak dari tempat itu, jika tidak, mungkin saja ia akan segera menjadi santapan singa yang sedang lapar.
Ketika Anto menghilang di bawa jarak, Mahesa melangkahkan kakinya keluar gubuk. Dia hanya terduduk memandang danau Walia yang selalu dipuja oleh banyak orang.
“Kamu itu berharga, Mayola. Tunggu suatu saat akan kubayar dengan mahar yang setara,” ucap Mahesa dalam hati.
***
Pagi menjemput, Senja terbangun setelah semalaman menikmati nyanyian nyaring yang dihasilkan suara dengkuran Mery. Nyanyian yang sama sekali tidak merdu, apalagi diminati.
Mery sudah tidak berada di sampingnya. bersyukur sekali Senja karena se pagi ini dia harus berhadapan dengan wanita yang selalu membuat hidupnya kacau.
Senja terduduk di pinggir ranjang, kemudian menggeliat meregangkan otot-ototnya. Tatkala terlihat rinai berguguran di tepian jendela kamarnya, dia mencium aroma kopi hitam yang menjadi minuman favoritnya.
Matanya tertuju pada seorang perempuan yang kemarin dinikahinya itu. Dia membawa baki yang berisi kopi untuk Senja. Dengan senyum lebar khasnya, dia menyodorkan gelas itu ke hadapan Senja.
Senja sama sekali tidak menggubris apalagi mengambil gelas yang disodorkan oleh Mery, dia beranjak mendekati jendela dengan langkah pelan, lalu membuka jendela itu dengan lebar. Ia sengaja membiarkan cahaya yang redup itu menyelusup masuk ke dalam ruang kamarnya, hawa dingin yang dihasilkan angin dan sesekali mengembuskan rinai itu mengempas suasana dingin yang menyelimuti kedua pengantin baru itu.
“Kopinya, Mas.” Mery mengawali pembicaraan. Entah sejak kapan sebutan mas ia sematkan untuk Senja. Bukankah biasanya ia memanggil Senja dengan sebutan kakak?
“Tidak usah repot-repot kamu mencari perhatian saya, Mer. Kamu pikir dengan kamu membawakan minuman kesukaan saya, hati saya bakalan luluh?” jawaban yang diberikan sangat menusuk perasaan Mery.
“yaudah ... kopinya saya taruh di sini, Mas.” Mery meletakkan kopi itu ke atas nakas di samping ranjang.
“Apa, Mas?” tanya Senja dengan raut sarkas. “Sejak kapan saya jadi Masmu?” kali ini diiringi tawa ringan yang bermaksud menyindir Mery.
“Apa salahnya dengan sebutan mas? Mas, ayolah ... kita ini korban, kamu jangan seolah-olah menjadi korban sendirian. Kalau bukan karena adikmu itu, aku tidak mungkin menjadi w************n yang mau saja dinikahkan dengan pria yang tidak saya cinta.” Kali ini air muka Mery berubah, matanya mulai berembun.
“Nah ... itu kamu tahu kalau di antara kita tidak saling cinta, lalu kenapa kamu meminta saya bertanggung jawab atas semua yang tidak saya lakukan?” bentak Senja yang membuat Mery sangat terperanjat.
Matanya mulai nyalang, menahan air yang sebentar lagi gugur dari pelupuknya. “Mas, tolong mengerti keadaan saya. Ada manusia yang harus saya hidup kan di dalam sini, Mas. Saya tidak mungkin membiarkan ia lahir tanpa sosok seorang ayah.” Tangannya menunjuk ke arah perut yang masih rata itu, bibirnya gemetar, matanya telah berhasil menyemburkan air.
“Sudah berapa kali saya tegaskan? Itu bukan urusan saya, itu bukan anak saya. Sekarang kamu keluar dari kamar saya.” Senja semakin sanksi. Rupanya didikan keras yang ia alami selama ini juga menjadikan dirinya sosok orang yang keras. Walaupun itu tidak berani ia aplikasikan pada kedua orang tuanya.
Mery masih terduduk dan menghapus air matanya dengan kasar. “Cepat!” Mery dikagetkan dengan tangan yang memukul jendela itu dengan kasar.
Tidak berselang lama, Mery beranjak dengan penuh kelukaan di hatinya. Senja berani berlaku demikian karena di rumah ini sudah tidak ada lagi kedua orang tua yang selalu mengungkungnya dengan ke tidak berdayaan.
Kali ini ia bebas karena di rumah hanya tinggal ia dan Mery saja. Orang tuanya pergi untuk beberapa hari bekerja keluar kota. Jangan berharap mereka akan menikmati masa berdua itu dengan bermesraan seperti pengantin baru pada umumnya. Malahan, Senja mengambil kesempatan ini untuk segera menyiksa Mery agar ia pergi dari kehidupan Senja ... untuk selamanya.