Part 7

1181 Words
Selepas menghempaskan pintu dengan sangat kasar, Senja kali ini menghempaskan badannya ke atas ranjang. Dia sama sekali tidak menggubris suara tangis Mery yang terdengar sangat mengiris itu. Dia berbaring dengan memejamkan matanya dengan paksa. Sudah pasti pikirannya melayang pada sosok Mayola yang selalu terpatri di hatinya. Pikirannya memutar kembali kaset lama. Ya, di sana mereka selalu mengawali hari berdua dengan sangat bahagia. Benar kata orang kebanyakan. Jikalau ada laki-laki dan wanita yang telah lama bersahabat, tidak mungkin salah satu bahkan keduanya di antara mereka tidak menaruh rasa suka dan cinta. Walaupun, banyak juga yang tidak berani berkata jujur dengan beragam alasan tertentu. Contohkan saja pada kisah Mayola dan Senja ini, sangat di sayangkan mereka telah terjebak oleh waktu yang sengaja memperolok keduanya. Kaset itu tidak ia biarkan berputar dalam waktu yang lama karena menambah rasa luka, kecewa, serta rasa bersalah dari dalam dirinya. Senja mengangkat tubuhnya itu dengan berniat membersihkan diri ke kamar mandi. Akan tetapi, aroma kopi yang tadi ia caci maki seakan menggodanya untuk segera mencicipi. “Gak ada salahnya kali aku coba, nih kopi,” batin Senja. “Tapi ... gak usah, ah, gengsi. Ntar aku ngopi di luar aja.” Dia kembali melirik-lirik gelas berwarna putih itu. Selain cuaca dingin yang memang sangat cocok ditemani oleh kopi, dia memang pecandu kopi yang akut. Dia mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya memunculkan banyak sekali kedilemaan. Antara berangkat ke kamar mandi, atau menyesap sedikit kopi hitam yang harumnya menelusuk kedua rongga hidung itu. “Bodoamat! Daripada kutahan, mending aku minum sekarang.” Tangannya mengambil cangkir berwarna putih suci itu lalu dengan penuh nafsu ia menyesap kopi hitam yang telah menggodanya. Dengan satu kali tegukan, kopi yang sudah berangsur dingin itu ia habiskan dalam sekejap. Dia beranjak dari ranjang lalu menyambar handuk yang tengah bergelantungan. Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. *** Mery yang tadi sudah kenyang sarapan bentakan dan cacian dari Senja, terduduk di meja makan dengan sepiring nasi goreng yang masih utuh di hadapannya. Nasi goreng yang biasanya menjadi makanan favorit Mery, kali ini tidak ada sedikit pun niatnya untuk segera menyantap nasi goreng itu. “Dasar! Laki-laki b******n. Lo b***t, Mahesa ...” tangis itu kembali gugur, sesal Mery sama sekali tidak ada arti. “Gara-gara, lo. Hidup gue jadi hancur, impian gue selama ini jadi berantakan.” Kali ini kedua tangan Mery mulai memukul-mukul perutnya sendiri dengan sangat kuat. Pikirannya berterbangan pada malam itu, seandainya saja ia tidak meminum minuman yang telah sengaja diberi obat tidur oleh Mahesa, tidak mungkin hal naas itu terjadi. Dia terbangun dalam keadaan tidak berbusana di atas kasur. Ya, pada saat itu ada pesta ulang tahun salah satu sahabat Mahesa yang bernama Bagas. Saat itu Mahesa meminta Mery untuk menemaninya ke pesta itu, dengan senang hati Mery menerima ajakan dari kekasih tercintanya itu. Mery dijemput oleh Mahesa ke apartemennya, kemudian meluncur ke sebuah club malam sebagai lokasi pesta. Awalnya, Mery berusaha menikmati susana pesta yang tidak biasa itu. Tidak ada kue ulang tahun apalagi acara tiup lilin. Di sana hanya tersaji minuman-minuman beralkohol dan wanita-wanita yang berpakaian sexy. Mery memang terkenal sebagai sosok yang centil tetapi suasana seperti ini tidak menjadi kebiasaannya. Dia hanya menyentilkan diri pada sesuatu yang masih dikategorikan wajar. Saat itu, Mahesa kerap kali menyodorkan minuman yang berbau menyengat itu. Mery menolak dengan alasan tidak terbiasa meminum minuman seperti itu. Akan tetapi, Bagas dan teman-teman yang lainnya menertawakan Mery, mengatakan pergaulan Mery masih seperti pergaulan anak ABG. “Di coba aja, Mer. Gak bakal terjadi apa-apa, kok.” Tangan Bagas menyelusup ke bagian paha Mery yang sedikit terbuka itu. “Eh ... lo jangan berani kurang ajar ke pacar gue.” Wajah Mahesa seperti sangat tidak suka dengan kelakuan Bagas pada Mery. “Santai aja, Bro.” Tawa renyah mulai menyelimuti sekumpulan orang yang tengah menikmati pesta ulang tahun itu. Di sana ada sekitar sepuluh orang laki-laki dengan pasangan mereka masing-masing. Mereka masih saja membujuk Mery agar segera melakukan apa yang mereka semua lakukan, yaitu meminum minuman yang tersaji. Karena merasa tidak enak, akhirnya Mery mewujudkan apa yang menjadi kemauan orang-orang pada saat itu. Mery meneguk minuman beralkohol yang telah ditambahkan obat tidur itu. Selang beberapa menit, Mery mulai memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Di sinilah Mahesa mulai melancarkan aksi bejatnya. Ia segera menggendong Mery yang dalam keadaan tidak sadarkan diri itu ke kamar atas yang sudah terlebih dahulu ia booking. Kawan-kawannya yang lain hanya menyeringai lalu diiringi tawa kemenangan. Pada saat terbangun, Mery mengucek kedua bola matanya. Dia dikejutkan dengan keberadaannya yang tengah terkapar tanpa busana di atas ranjang. Dia berusaha menarik selimut untuk menutupi tubuh mulusnya itu. Sambil mengingat-ingat kejadian yang telah menimpanya, ia dikejutkan dengan kehadiran Mahesa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sudah rapi, dengan baju kemeja yang ia kenakan semalam. “Eh, sayang. Sudah bangun?” Dia mendekat ke arah Mery dengan bahasa paling lembut. Mery hanya terdiam mengingat kehormatannya telah direnggut oleh Mahesa, pacar tercinta. Dia meringkuk di atas ranjang itu lalu memeluk lututnya sendiri. Tangisnya pecah, Mahesa masih terus berusaha membujuknya. “Sudah ... kamu tenang, ya sayang. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang telah aku lakukan. Kita melakukan ini semua ‘kan dengan landasan cinta.” Mahesa mulai duduk dan memeluk Mery yang tengah menangis gigil. “Cinta? Kamu telah mengambil keperawananku dengan paksa, Mahesa. Hu hu hu,” tangis itu semakin menderu-deru. Mahesa mendekap tubuh Mery yang terbungkus selimut itu sembari berbisik kata-kata penenang yang sangat meyakinkan. Mery akhirnya merelakan apa yang terjadi dengan memegang seluruh janji yang telah Mahesa ucapkan. Alam sadar kembali memanggilnya, ia menghentikan lamunan yang telah membawa pilu masa lalu itu kembali teringat olehnya. Ia disadarkan oleh kehadiran Senja yang telah berpakaian rapi menuruni anak tangga. Mata Senja tertuju pada Mery yang juga tengah memperhatikannya. Iya, mata mereka tertangkap saling pandang. Senja berusaha menghindar tatapan itu. Pun Mery, ia berusaha menghapus kembali air mata tangis yang jatuh dari sana. “Kamu masih sakit hati dengan perkataanku tadi?” tanya Senja dengan penuh kesombongan. “Iya ... kamu dan adikmu itu sama. Sama-sama bangs*t,” sungut Mery kesal. “Apa? Hah, apa kamu bilang. Bisa kamu ulangi sekali lagi?” Senja mengangkat dagu Mery yang sedikit menunduk itu. “Kalo kamu bilang aku dan Mahesa itu sama, kamu salah besar.”  Dia melepas paksa dagu yang tadi ia pegang. “Jangan sesekali berlaku kasar terhadapku, Mas. Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi,” ancam Mery yang membuat Senja tertawa getir. “ya, sudah. Silakan di laporin. Kamu pikir aku bakalan takut?” Senja beranjak menuju ambang pintu. “Mas mau ke mana?” tanya Mery sambil memandang punggung kekar itu berlalu. “Mau keluar cari makan,” lanjutnya. Mery menyusul langkah itu menuju pintu. Dengan berlari kecil, ia berusaha mengejar Senja yang tengah masuk ke dalam mobil itu. “Mas, makan di rumah saja. Tadi aku sudah masakin nasi goreng buat mas.” Mery berusaha berteriak dan mengetuk-ngetuk kaca mobil Senja. Perkataan Mery sama sekali tidak ia peduli, mungkin karena sengaja ingin membuat Mery membencinya. Mobil itu melaju dengan sangat gesit, meninggalkan Mery yang tengah menjerit-jerit memanggil Senja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD