Anto berhasil mendapatkan sushi pesanan Mahesa. Entah dari mana ia dapatkan makanan jepang itu. Mahesa sama sekali tidak peduli dari mana asal makanan ia makan dengan lahap itu, yang pasti Anto selalu mampu memenuhi keinginan Mahesa.
“Bagi, dong, Bos!” Anto terlihat menelan-nelan salivanya melihat Mahesa makan dengan sangat lahap.
“Nih, satu aja ya,” Anto hanya mengangguk dan segera mengambil sushi itu.
Mahesa memang sangat menggemari makanan-makanan khas jepang, terutama sushi ini. Wajar, sushi sebanyak itu ia habiskan sendiri dan hanya memberi sedikit untuk Anto.
Sushi yang hanya sebuah itu, Anto makan dengan sangat pelan-pelan. Selain menikmati kenikmatannya, Anto juga takut cepat habis karena mahesa tidak mungkin ingin membaginya lagi. Mahesa memang seperti itu sifatnya, sesuatu yang harus menjadi miliknya tidak ingin ia berbagi pada siapa pun.
Contohkan saja Mayola, ia enggan membiarkan senja memiliki Mayola sehingga ia harus menghalalkan segala cara agar ia tidak bersama dengan Mayola.
“Bos, a-anu ....” ucap Anto ter bata.
“A-anu apaan? Sejak kapan lo jadi gagap gini, Nto?” tanya Mahesa terheran.
“Saya mau minta izin, bos,” ucapnya lagi.
“Izin apaan? Cuti kerja? Gak boleh! gue gak bisa makan dong kalo lo gak ada,” tegas Mahesa.
“Bu-bukan itu, bos.” Anto menggaruk-garuk kepalanya.
“Terus apa?”
“Mau minta sushi nya satu lagi boleh?” Anto memelas sambil nyengir kuda.
“Dasar lu, kamp*et, gue kira apaan.” Sontak Mahesa memukul kepala Anto.
“Udah ambil, tapi jangan banyak-banyak,”
Mereka menghabiskan sushi itu dengan sangat lahap. Setelah kenyang, Anto mulai lagi aksi menyembulkan asap rokok yang menjadi kegemarannya. Sedangkan mahesa hanya duduk di atas katil sambil membayangkan sosok Mayola yang menjadi idolanya.
“Nto, kira-kira kapan kita bisa menanam jarum-jarum itu di halaman rumah Mayola?” Mahesa mulai membuka pertanyaan.
“Ya ... tunggu aman dulu lah, Bos,” jawab Anto
“Jadi kapan kira-kira aman, Nto?” tanya Mahesa lagi.
“Di sana tuh, daerah ramai orang-orang nongkrong, bos. Apalagi malam hari, warung di seberang rumah Mayola itu menjadi tempat perkumpulan bapak-bapak buat main kartu,” sambungnya.
“Lah ... terus gimana dong, Nto?” tanya Mahesa lagi.
“Alternatifnya hanya siang hari, tapi pada saat orang-orang tengah break salat,” Anto kali ini menyembulkan asap itu dengan sedikit buas.
“Yaudah, Nto, lu atur jadwalnya. Kapan kita harus beraksi,” ucap Mahesa sambil menepuk-nepuk pundak Anto yang sangat kekar dan tegap itu.
Mahesa dan Anto kembali mengamati sekeliling rumah Mayola. Tidak hanya itu, sekitaran rumah Elsa juga menjadi pengamatan mereka. Sudah berkali-kali motor dengan suara nyaring yang sangat memekakkan telinga itu mondar-mandir melintasi halaman rumah Mayola. Kebetulan, pak Badri sebagai ketua Rt yang tengah mengalami sakit gigi sangat muak dengan suara motor yang keras itu.
Sontak pak Badri keluar dari dalam rumahnya lalu memaki Anto dan mahesa yang tengah sibuk mengedarkan pandangan untuk mencari keamanan.
“Heh ... kalian kalo mau latihan balap jangan di sini. Gue lagi sakit gigi, nih, pusing dengar suara motor kalian sangat bising.” Pak Badri kembali berteriak.
“Kabur, Nto ... cepetan. Mahesa merasa sangat was-was. Takut aksi mereka ketahuan oleh pak Badri.
Dengan memutar gas, motor itu langsung membawa mereka menjauh dari tempat itu. Pak Badri semakin meraung-raung mendengar suara motor yang melaju kencang dan hanya meninggalkan asap pekat.
“Ada-ada saja kelakuan anak sekarang,” umpat pak Badri.
Tidak lama setelah itu, terdengar azan zuhur yang menandakan hari sudah tengah hari. Matahari yang seharusnya berada tepat di atas ubun-ubun kepala, kali ini tidak terlihat wujudnya. Mungkin ia malu-malu menampakkan diri pada bumi yang selalu diselimuti hujan murung ini.
Rinai-rinai kecil itu terjatuh di wajah Elsa yang sesekali ia hapus dengan tangan. Sebagai seorang karyawan mini market yang bekerja dengan shift, dia kebagian shitf pagi dan siang hari sudah diperbolehkan pulang. Niatnya pulang untuk sekedar berganti pakaian kemudian kembali ke kota untuk menjenguk Elsa dan papanya. Ia kasihan melihat Mayola yang hanya mengurus sang papa sendirian.
Orang tua Elsa juga sangat prihatin pada Mayola dan papanya, walaupun merek agak kurang menyukai mamanya. Wajar saja, mamanya yang selalu menjadi buah bibir warga karena kelakuannya yang melenceng dari harkat martabat seorang wanita.
Pernah suatu ketika, mama Mayola mendapat teguran keras dari para tetangga karena di antar oleh seorang pria pada saat sudah larut malam. Ia sepertinya sama sekali tidak menggubris peringatan para warga itu dan masih saja terus menerus ia ulang hal itu. Itulah yang menyebabkan warga dan para tetangga menjadi muak dan tidak lagi ingin mengurus urusan mama Mayola.
Mengapa papa Mayola tidak bertindak tegas? Sudah. Tetapi tetap kemenangan itu masih tetap menjadi milik sang mama karena dengan berdalih mencari uang. Jika bukan ia yang mencari uang maka satu keluarga tidak akan makan.
“Kalian jangan sesekali mencampuri urusan saya,” ucap sang mama ketika saat itu di datangi oleh para warga.
“Perbuatan Anda telah mencoreng wilayah perkampungan kita,” jawab salah satu dari mereka.
Mayola saat itu hanya bisa menangis bahkan merasa sangat dikucilkan oleh warga. Papanya yang lumpuh juga terlihat sangat tidak berdaya.
“pergi kalian dari rumah saya. Kalian tidak akan tahu bagaimana keadaan keluarga kami. Kalian tidak akan tahu ...” ucapnya lagi terhenti. “kami sekeluarga tidak akan makan mendengar omongan kalian, seharusnya kalian sibuklah dengan urusan masing-masing tanpa harus mencercoki urusan saya,” bentak sang mama yang membuat orang-orang pergi meninggalkan rumah mereka.
Bukan karena merasa kalah tetapi mereka semua bertujuan untuk mengucil keluarga itu dari pergaulan desa. Akan tetapi, Elsa dan keluarganya tidak pernah menjauhi Mayola dan papanya karena mereka tahu bahwa Mayola dan papanya tidaklah salah dalam hal ini.
Elsa sudah memesan ojek untuk segera berangkat ke kota. Kali ini ia juga membawakan bekal untuk menginap. Jarak dari rumahnya ke kota hanya sekitar 45 menit perjalanan hanya saja terkadang kemacetan menyebabkan perjalanan hingga 2 jam tetapi sangat jarang.
Tak luput, ia juga membawa bekal makanan yang sengaja di masak oleh ibunya untuk Mayola. Rantang 4 tingkat itu berisi nasi pulen di rantang paling bawah, rantang berikutnya berisi sayur asem, selanjutnya sambal terasi, dan yang terakhir ada tahu dan tempe goreng garing. Sudah pasti Mayola sangat menyukai makanan yang dibawakan oleh Elsa ini.
Elsa menempuh perjalanan yang lumayan lancar walaupun memang udara dingin yang mengembus menembus jaket tebal yang ia kenakan. Rinai tak lagi turun tetapi angin dingin itu masih terus berembus. Sebentar lagi akan segera sampai di rumah sakit dan gigil itu akan segera berakhir.