Seiring perutnya yang terasa sangat sakit dan mules, Mery masih terus berusaha menghubungi senja tapi nomor tujuannya itu masih saja tidak dapat di hubungi. Kepalanya juga mulai terasa pusing, semua benda di rumahnya itu terasa seperti berputar-putar. Semakin ia mencoba menekan-nekan kepalanya, perputaran benda itu terasa semakin kencang.
“Ya Allah, apa yang terjadi denganku?” batin Mery sembari berusaha merayapi dinding agar bisa berjalan menuju pintu keluar.
Dia mulai berjalan seperti menjinjing seluruh tubuhnya. Tangannya meraih dinding untuk dijadikan tempat bergantung. Kepalanya terasa semakin pusing, tangannya terasa tidak sanggup lagi menopang badan.
“Brakkkk!” Mery menjatuhkan tubuhnya yang tak berdaya itu ke lantai.
Dia merasa seperti ada yang mengganjal, ada sesuatu yang mengaliri kedua kakinya. Benar. Darah segar mengaliri kaki putih mulusnya itu. Sudah di pastikan darah itu berasal dari sel*nkangan Mery.
Mery menjerit histeris, ia mulai menangis dan berusaha meraih kembali ponsel yang juga terjatuh tidak seberapa jauh darinya. Aliran darah itu terlihat semakin banyak membasahi lantai keramik.
“To-tolooooooong!”
“To-looooooong!”
“Tolooooooong!” suara yang sudah hampir parau itu terdengar sangat pilu
Ia berharap para tetangga mampu mendengar teriakannya. Akan tetapi tidak seorang pun yang mendengarnya buktinya tidak satu pun dari mereka yang datang memberikan pertolongan. Mungkin saat ini termasuk jam kerja sehingga tetangga-tetangga sebelah rumahnya itu tidak berada di rumah.
Mery kembali menarik-narik badannya yang terjatuh itu dengan cara mengesot di lantai. Dia mengerahkan semua tenaga yang ada untuk menuju pintu keluar. Pintu itu sudah di depan mata, sekitar tiga meter lagi ia akan mencapainya.
Peluh bercucuran membanjiri tubuhnya, entah itu peluh menahan rasa sakit, menahan rasa cemas atau bahkan rasa takut kehilangan buah hati yang tadi sengaja ia pukuli. Wajahnya juga terlihat sudah memucat mungkin karena terlalu banyak darah yang keluar.
“To-toooolongg.” Dia kembali meminta pertolongan dengan suara yang hampir tercekat karena rasa sakit itu masih terasa sangat dahsyat.
“Brakkkk!” Mery benar-benar tidak lagi berdaya, ponsel yang tadi berada di tangannya kini terjatuh seiring matanya yang juga telah mengatup rapat.
***
Suasana rumah sakit yang sangat ramai ini membuat pasangan sahabat Mayola dan Elsa berjalan di sela-sela jimpitan banyak orang. Tatkala mereka beranjak menuju ruangan sang papa, Mayola melihat sesosok perempuan yang tengah tergelatak tak berdaya turun dari ambulance rumah sakit.
Iya. Itu perempuan yang telah merebut kebahagiaannya. Dia tidak melihat siapa pun di sana, tidak ada Senja bahkan keluarga lainnya.
“May, lo kenapa?” tanya Elsa terheran melihat Mayola tengah mengamati Mery dengan sangat lekat.
“Engga, ada apa-apa, kok. Yok kembali ke ruangan papa,” ajak Mayola sambil menarik tangan Elsa dan menghindar dari Mery yang tengah dalam keadaan sekarat itu.
“Cepat, dok. Takutnya janin yang berada di dalam kandungan Ibu ini tidak bisa di selamatkan,” raung seorang dokter sembari mendorong dengan cepat ranjang troli rumah sakit.
Mayola mendengar itu kemudian kembali mendelik ke arah ranjang itu. Ia melihat sangat banyak darah mengaliri kaki kanan dan kiri milik Mery. Dadanya bergemuruh, perasaannya mulai berkecamuk. Entah itu rasa iba atau mungkin rasa benci yang bersemayam di hatinya itu
Sebagai seorang manusia, ia mengesampingkan ego kemudian ikut serta mengantarkan Mery menuju ruang IGD untuk segera di periksa.
“Mbak mengenali pasien ini?” tanya seorang dokter pada Mayola.
“Iya, dok. Dia teman saya. Tolong selamatkan dia dan anaknya,” ucap Mery yang berusaha ia buat tegar.
“Maaf, mbak. Mbaknya tunggu di luar, ya.” Ketika sampai di depan pintu IGD itu.
“Baik, dok.” Mayola dan Elsa menuruti perkataan dokter itu.
Elsa memandang Mayola dengan heran, mengapa tidak dari awal mengatakan bahwa dia mengenali pasien ini. Atau mungkin ini adalah teman lamanya sewaktu di kota. Begitulah pikir Elsa.
“El, kita tunggu di sini dulu gak apa-apa ‘kan?” tanya Mayola
“ya gak apa-apalah. Santai aja lagi,” jawab Elsa
“eh, May. Tuh orang gak ada keluarganya apa? Kasian banget,” tanya Elsa dengan wajah sangat ingin tahu.
Mayola hanya terdiam kemudian Elsa semakin menyimpan rasa heran.
“loh ... tadi ‘kan dokter bilang ia tengah mengandung, apa dia sudah punya suami, May?” tanya Elsa lagi tak ada habis-habisnya membuat pikiran Mayola semakin kacau.
“El, bisa diem gak, sih?” kali ini Mayola terlihat sangat kesal.
“Yaelah ... gitu aja marah!” gerutu Elsa kemudian beranjak meninggalkan Mayola yang masih terduduk di kursi tunggu.
Elsa berjalan menuju ruangan papa Mayola tanpa sedikit pun kembali memperhatikan Mayola yang masih setia terduduk itu. Mayola sengaja tidak mengejar Elsa yang mungkin saja ngambek karena Mayola tidak mengindahkan apalagi menjawab sekumpulan pertanyaan yang diajukan Elsa.
Sesaat kemudian, di saat Mayola tengah merenung sendirian. Dokter yang menangani Mery keluar dari ruangan.
“Anda keluarga pasien yang bernama Mery?” tanya sang dokter.
Mayola yang tengah terduduk itu sontak berdiri.
“I-iya ... saya keluarganya, dok,” jawab Mayola dengan hati bergetar menahan remuk redam. Bagaimana mungkin ia mengaku sebagai keluarga dari seseorang yang telah menjadi rivalnya dalam dunia asmara?
“Boleh kita bicara sebentar?” tanya dokter lagi.
“Boleh, dok.” Dokter mempersilakan Mayola memasuki ruangan itu.
“Mari ... silakan duduk,” pinta dokter itu.
Mayola segera memenuhi permintaan itu kemudian terduduk di kursi berwarna putih pasi menyerupai wajah Mayola saat ini. Bagaimana tidak, ia harus rela menahan sakit hati demi seseorang yang tengah tak berdaya ini.
“Kandungan nyonya Mery ini agak sedikit lemah,” kata sang dokter memulai bicara.
Mayola hanya terdiam kemudian memperhatikan dengan telaten semua yang dijelaskan oleh dokter.
“kalau boleh tau, suami nyonya Mery ini kemana? Tadi tim kami menyelamatkan nyonya Mery tengah pingsan sendirian di rumahnya. Untung saja ada yang menelepon ambulance untuk segera diselamatkan,” terang dokter itu lagi.
Mayola kembali teringat bahwa tadi pagi ketika ia ke apotek menebus obat sang papa, ia melihat senja tengah santai di sebuah Cafe. Mengapa Mery bisa berada sendirian di rumah?
“Saya tidak tahu di mana suaminya, dok,” jawab Mayola spontan.
“Baiklah ... saya berpesan, agar nyonya Mery ini istirahat yang cukup, jangan stres, dan jangan terlalu kecapean karena gak baik buat kondisi janin yang berada dalam kandungannya.” Dokter itu kembali menjelaskan dan Mayola hanya kembali mengangguk-angguk saja.
“Ada lagi, dok?” tanya Mayola berusaha menahan suara agar terdengar tegar.
“Nyonya Mery masih tengah dalam keadaan pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kepulihan nyonya Mery,” lanjut sang dokter lagi yang sudah bosan Mayola anggukkan.
“sudah, dok?”
“saya rasa cukup ... kamu jangan lupa hubungi suaminya, ya,” pinta sang dokter tanpa tahu apa yang tengah menghalangi komunikasi Mayola dan senja.
Akankah Mayola menghubungi sahabat yang telah menjelma menjadi suami orang itu?