Part 12

1184 Words
Mayola masih memandang wajah cantik yang matanya masih mengatup itu, bibir mungil yang biasanya dipolesi lipstik berwarna pink kini terlihat pucat legam. Dia masih terus membayangkan nasib Mery yang mungkin saja beruntung karena telah berhasil merebut Senjanya. Ponsel di tangannya masih terus ia tekan-tekan dengan jempol bengkaknya. Akankah jempol itu mengarahkannya untuk segera menelepon Senja? Entahlah, hatinya mengatakan jangan. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan senja apalagi menghubunginya. Tidak berselang lama, pintu ruangan itu kembali berdecit. Manik mata Mayola menuju sumber suara. Pandangan itu sengaja tidak ia kedipkan untuk beberapa saat, sampai saat ini ia merasa kelu. “Mayola?!” serunya ketika baru saja memasuki ruangan itu. Mayola terkesiap. Seraup wajah yang sangat ia kenal kini hadir di depan matanya. Pandangan mereka bersirobok sama-sama terkejut dan menatap heran. “Se-senja,” ucap Mayola dengan bibir gemetar. Kelu dan malu itu kembali terasa meski mereka sudah melewati masa puluhan tahun bersahabat. Manik mata mereka yang tadi sempat saling tatap kini terasa jauh. Mayola sengaja membuang pandangannya ke sembarang arah sembari bangkit dari kursi tempatnya terduduk tadi. Bagaimana mungkin senja dapat mengetahui bahwa istrinya berada di rumah sakit? Bukankah Mayola tidak jadi memberi kabar kepada senja? Entahlah. Atau mungkin inilah yang disebut insting suami dan istri. “Sejak kapan kamu di sini?” senja masih menatap Mayola dengan tatapan heran. “Anda sebagai suami seharusnya bertanggung jawab menjaga istri,” jawab Mayola dengan penuh sarkas. “Maksud kamu apa?” tanya senja lagi. “Saya sebenarnya memang tidak ada urusan dengan Anda dan keluarga Anda. Akan tetapi, Anda hampir saja membahayakan dua nyawa sekaligus,” jawab Mayola lagi. “Mayola, aku bener-bener gak ngerti maksud kamu. Apa yang saya lakukan sehingga saya yang di tuduh membahayakan nyawa wanita ini dan anak yang ada diperutnya itu?” tunjuk senja ke arah perut Mery yang masih tergeletak tak sadarkan diri. “Anda nongkrong dengan santainya di sebuah Cafe, sedangkan istri sedang sekarat sendirian di rumah. Di mana letak nurani Anda sebagai manusia?” sindir Mayola lagi yang ia usahakan sehalus mungkin. “kamu jangan terlalu sok tahu urusanku. Tidak sepatutnya kamu menuding aku seperti itu,” jawab senja sembari meraih jari tangan Mery yang memucat. Mayola merasakan nyeri yang menusuk di ulu hatinya itu kembali kambuh, ia menahan matanya agar tidak menjatuhkan air dari sana. Ia mulai memundurkan langkahnya perlahan kemudian berjalan menuju pintu keluar. Sesampainya di depan pintu keluar, ia segera membuka pintu itu lalu segera keluar dari ruangan. tangis yang ingin segera meluah itu akhirnya meledak seperti bom waktu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, masih tidak percaya bahwa senjanya telah berani berlaku mesra di hadapannya. “Aku tahu, kamu akan melakukan hal ini. Cengengmu masih sama, tidak ada yang berbeda,” bisik Senja sambil berusaha menghapus bulir yang terjatuh di pipi Mayola. “Apa-apaan kamu? Mengapa mengikutiku keluar?” tanya Mayola. “Aku Cuma ingin mengujimu, kemudian memastikan bahwa tidak seharusnya ada duka di antara kita,” ucap senja sembari menarik tangan Mayola menuju kursi di sebuah taman di samping ruangan Mery tadi. Mayola hanya mengikuti ke mana langkah senja membawanya. Matanya yang masih bengkak itu terlihat memerah. “Coba kamu ceritakan, bagaimana kamu bisa berada di sini?” tanya Senja pada Mayola ketika mereka berdua telah berhasil melekatkan b****g ke kursi taman. “Aku memang tengah berada di rumah sakit ini, papaku sakit.” Mayola menjawab sambil menahan-nahan sesak yang ada. “di mana papamu? Sakit apa dia?” tanya Senja beruntun. “itu tidak penting! yang terpenting sekarang, kamu harus menjaga Mery dan anak yang sedang ia kandung itu. Tadi dokter berpesan agar Mery tidak boleh stres, jangan terlalu capek dan harus beristirahat yang cukup soalnya kondisi kandungan Mery itu sangat lemah,” ucap Mayola panjang lebar menjelaskan. Senja hanya bungkam tidak ada reaksi apa-apa atas yang telah Mayola jelaskan. Ia sepertinya sama-sekali tidak berminat untuk mengetahui apa yang tengah menimpa Mery. “Aku merasa itu bukan urusanku, May. Dia sudah dewasa, seharusnya sudah pandai menjaga dirinya sendiri,” kali ini nada bicaranya sedikit di naikkan. “Tapi, Sen ... ibu hamil itu rentan terkena stres,” jawab Mayola meyakinkan. “Jadi ... kamu memintaku untuk melayani dia sebagai seorang istri? Kamu kan tahu aku sama sekali tidak ada rasa padanya. Apalagi mencintai sebagai seorang istri. Bagaimana mungkin aku bisa memperlakukannya sebagai seorang istri?” kali ini Senja memasang raut seakan-akan paling benar. Daun-daun bunga yang merasa kedinginan karena selepas turun rinai itu menyaksikan dua insan yang tengah berdebat panjang. “Jadi ... kamu maunya gimana? Setidaknya kamu kan bisa menjaga Mery itu sebagai seorang adik, bukan seorang istri,” Mayola mencoba mencari pembenaran. “Ha ha ha ha. kamu lucu, May. Bagaimana mungkin bisa berlaku demikian? Sudah jelas-jelas tertulis di surat nikah bahwa nama dialah yang tercantum sebagai istri saya, bagaimana mungkin saya bisa menganggapnya sebagai seorang adik?” Senja dengan maha kebenarannya kini menodong Mayola yang hanya terdiam. “Asal kamu tahu, Sen. Jika saja tadi tidak kedatangan tukang sampah kompleks, entah-entah nyawa istri serta calon anakmu ini akan selamat,” Mayola berusaha kembali menjelaskan. “Maksudmu?” tanya senja heran. “Mery tergeletak di lantai dengan penuh darah berceceran di sana. Untung saja di selamatkan oleh tukang sampah kompleks itu, mereka juga yang menelepon ambulance untuk segera menjemput Mery. Terus ...,” ucap Mayola sedikit tertahan. “Terus apa?” tanya Senja dengan sangat santai. “Sesampainya di rumah sakit ini, aku merasa iba melihat dia tergeletak tak berdaya di atas ranjang, tanpa ada satu pun keluarga yang mendampinginya.” Lanjut Mayola. “jadi ... kamu merasa bahagia bisa menyelamatkan rivalmu dari ancaman penjemputan nyawa? Mengapa kamu tidak membiarkan dia meregang nyawanya di sini, bukankah itu membuatmu tidak ada saingan lagi?” kali ini Senja sengaja menjawab dengan diiringi tertawa kecil. “kamu bukan manusia, Sen.” Jawab Mayola melihat tingkah senja yang sangat berbeda dengan senja yang ia kenali dulu. Jangan di tanya mengenai kematian Mery, tentu itu yang menjadikan Senja lebih bahagia dan lebih leluasa bergerak tanpa ada yang membatasi dengan embel-embel istri. “lalu ... kamu dari mana tahu kalo Mery di rumah sakit??” tanya Mayola untuk mengobati rasa penasaran yang dari tadi ia pendam. “dari orang tuaku, ada yang menelepon ke mereka. Mungkin itu tadi, tukang sampah kompleks yang ngasih tahu.” Jawab Senja santai. Suasana mendadak hening. Kali ini tidak lagi terdengar suara, yang tadinya berdebat hebat, kini bertahan dalam diam. Keduanya seakan-akan menerbangkan khayal yang entah kemana muaranya. “Pak Senja Yudharma!” panggil seorang suster sontak menghentikan lamunan keduanya. “Iya, sus. Ada apa ya?” tanya senja heran. “Istri bapak sudah sadar, Pak,” jawab suster tersebut membuat jarak di antara mereka kembali terasa jauh. “Sudah ... sekarang temui istrimu sana!” titah Mayola sebagai bentuk ikhlasnya. “Tidak!” jawab senja spontan. “Kamu jangan berlaku seperti anak kecil, sen. Ayolah ... Mery sangat menunggu hadirmu di saat seperti ini,” ucap Mayola lagi. Senja hanya terdiam kemudian beranjak meninggalkan Mayola yang masih terduduk di atas kursi taman itu. Punggung senja semakin menjauh kemudian di telan pintu ruangan. Senja telah masuk ke sana untuk segera menemui istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD