Elsa yang tengah selonjoran di atas ranjang pasien yang tidak berpenghuni itu. Tepat di sebelah ranjang papa Mayola. Gadis berambut ikal itu membuang muka pada saat Mayola masuk ke ruangan. Rasa jengkelnya masih saja membuat ia bungkam walaupun sebenarnya pertikaian yang terjadi antar dua sahabat itu tidak akan pernah berlangsung lama.
“Kamu masih marah, El?” tanya Mayola sembari mencoba mendekati Elsa.
Elsa hanya terdiam dan seolah-olah tidak mendengar apa yang Mayola katakan.
“El, jangan ngambek, dong! Aku minta maaf tadi gak sengaja ngebentak kamu ....” Mayola masih berusaha membujuk Elsa.
Kali ini Elsa sudah mulai bereaksi, ia sangat tidak sanggup jika sahabatnya itu sudah memelas mengiba. Benteng pertahanannya untuk merajuk sepertinya sebentar lagi akan di hancurkan oleh rasa iba itu.
“El ... aku sedih banget kalo kamu gak mau maafin aku,” Mayola mulai mengguncang-guncang tubuh Elsa.
“Apa-apaan sih, May. Aku lagi males ngomong,” Jawab Elsa datar tanpa sedikit pun melihat ke arah Mayola. Ia memain-mainkan ponsel yang berada tepat di depan wajahnya.
“Aku mau cerita sesuatu, El.” Kali ini Mayola mulai membuka pembicaraan serius dengan menata nada bicaranya.
“Apa?” tanya Elsa masih dengan posisi yang sama, memandang layar ponsel tanpa memperhatikan Mayola.
“Aku sedih banget, El.” Semburat tangis itu mulai muncul.
Elsa yang tadi bersikap tak acuh kini memperhatikan wajah Mayola yang tengah tersedu itu. Ponsel yang tadi menjadi teman mengasyikan, ia singkirkan sejenak karena memperhatikan kesedihan sahabat yang sangat disayangnya itu.
“Kamu kenapa, May?” tanya Elsa dengan sungguh.
Elsa mulai mengambil kedua tangan Mayola lalu menggenggamnya. Tangan kuning langsat itu terasa dingin. Entah karena memang cuaca akhir-akhir ini memang selalu menghadirkan angin.
“May, cerita ke aku May. Ada masalah apa?” kali ini Elsa terduduk dari pembaringan yang begitu nyaman itu. Ia berusaha menjangkau Mayola untuk segera ia dekap untuk sekedar memberi kehangatan maupun penenangan.
“Wanita yang tadi kutolong itu, adalah istri Senja,” jawab Mayola sambil menahan sesegukan. Semburan tangis itu semakin kuat.
Sebagai seorang sahabat, Elsa pasti sudah tahu siapa senja di mata Mayola. Bahkan ia tahu bahwa senja mendiangi bilik khusus di hati Mayola.
“Sabar ya, May. Aku tahu gimana perasaanmu.” Lagi-lagi Elsa berusaha menjadi obat atas luka hati yang Mayola rasakan saat ini.
“Tadi aku juga ketemu senja, El.” Mayola melanjutkan ceritanya.
“Terus gimana?” tanya Elsa dengan sangat lembut. Tangannya juga menghapus bola air yang baru saja jatuh dari pipi Mayola.
“A-aku bingung, El. Di sisi lain, aku masih sangat menyayangi senja. Namun sisi lainnya mengatakan aku harus mengikhlaskan dia dengan istrinya itu.” Tangisnya semakin pecah.
Mery kembali meraih tubuh Mayola yang tengah di hantam hujan air mata itu.
“Sudah, May. Sekarang jalani aja apa yang terjadi. Kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Aku selalu mendoakan semoga kamu mendapatkan jodoh terbaik, bahkan lebih baik dari senja.” Elsa yang juga dilanda bingung ini masih berusaha membuat Mayola agar lebih tenang.
“Bagaimana dengan hatiku, El. Kata ikhlas mungkin saja bisa terucap dengan gampang dari bibirku tapi hatiku tidak.” Mayola menghapus air mata yang sudah membanjiri pipi tirus miliknya itu.
Elsa membenarkan posisi duduknya kemudian menghadap Mayola dengan sangat rapat. Kedua tangannya mulai meraih lengan atas Mayola sambil menatap lekat.
“May, sekarang liat aku,” titah Elsa.
Mayola segera menuruti perintah Elsa. Mata mereka saling tatap kemudian Elsa berucap, “kamu itu cantik, May. Kamu itu baik. Tidak mungkin Tuhan tidak mengirimkanmu jodoh yang terbaik juga. Aku yakin, kamu bakalan bisa ngelupain senja.”
Kali ini Mayola terdiam. Wajah ayunya terlihat tak berseri lagi.
“Aku gak suka kamu jadi murung gini, May. Ini bukan Mayola yang kukenal. Mayola yang sekarang jadi cengeng dan gampang menyerah. Ah, payah!” Elsa membuang mukanya.
“Sudah bertahun-tahun aku nungguin dia, El.”
“Dia gak pernah datang buat menjemputmu, May!” kali ini suara Elsa terdengar lebih meninggi. Mungkin karena ia geram melihat sahabatnya ini tersakiti.
“...”
“sudah ... sekarang gini, kamu harus memasang tekad dalam diri buat ngelupain Senja. Gak ada gunanya lagi berharap sama cowok pengecut macam dia.” Elsa berucap dengan wajah yang sangat serius.
Mayola masih terdiam, hanya suara sendu tangisnya yang terdengar sangat lirih yang juga dapat membuat Elsa merasa teriris.
“Sekarang aku tanya ... kamu maunya gimana, May? Tenggelam dan terus bertahan dengan rasa sakit ini atau melepaskan kemudian terbang bebas?” tanya Elsa dengan sangat tegas.
“Aku ingin melupakan dia, El. Aku harus bisa ngelupain dia,” jawab Mayola dengan tersedu-sedu.
“Nah ... ini baru Mayola yang kukenal.” Elsa mencubit sebelah pipi Mayola.
Elsa tersenyum kemudian diikuti Mayola dengan senyuman manis khasnya.
“Tapi ... aku masih terus kepikiran senja, El.”
“Jangan lagi kamu pikirin dia. Sekarang ... coba kamu siasati dirimu, dia udah tega ninggalin kamu yang selama ini nungguin dia. Ya ... walaupun itu pernikahan atas dasar perjodohan. Tapi kan, kalau Senja memang gak mau dijodohin apa salahnya dia memberontak dan menolak?” lagi-lagi ucapan Elsa ada benarnya di mata Mayola.
“Oke, El. Aku bertekad buat ngelupain dia.” Ucap Mayola dengan penuh semangat.
“Eh, May. Rantang nasi yang kubawa tadi belum dimakan, loh.” Elsa mulai mengingat-ingat di mana ia letak rantang nasi yang tadi ia bawa karena cacing di perutnya sudah mulai berdemo ria.
“Eh, iya. Gara-gara tadi keasyikan ngobrol sama tante Rukminin, jadi lupa kan?” jawab Mayola sambil mengambil rantang yang tadi ia simpan di atas meja.
Ketika Elsa datang tadi, tante Rukminn masih berada di rumah sakit. Mereka juga menghabiskan waktu untuk mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari masa kecil Mayola, kebiasaan aneh Mayola waktu kecil dan masih banyak lagi. Cerita-cerita yang dibawakan tante Rukminin ini semuanya mengocok perut dan memancing mereka buat selalu tertawa.
Ketika tante Rukminin pamit pulang, Mayola dan Elsa mengantarnya sampai ke halaman rumah sakit itu. Pada saat itulah Mayola melihat Mery yang tengah tergeletak turun dari ambulance yang membuat banyak drama terjadi sehingga merupakan rantang yang berisi nasi itu tadi.
“Wah ... sambel terasi, pucuk ubi....” Mayola berbinar ketika membuka dan melihat masakan yang ada di dalam rantang itu.
“sudah ... ayo makan, itu ibu yang masak tadi,” ucap Elsa.
“ayo ... udah gak sabar, nih.” Ajak Mayola sembari menelan saliva.
Mereka berdua menyantap masakan itu dengan sangat lahapnya. Selain karena menangis mengeluarkan banyak tenaga sehingga memunculkan rasa lapar dengan cepatnya, masakan yang dimasak oleh ibu Elsa ini memang tak tertandingi nikmatnya. Mereka juga menikmati makanan itu dengan penuh nafsu, seakan lupa dengan masalah yang tadi menjajah keduanya.
Akankah Mayola benar-benar mampu melupakan senja? Akankah Mayola benar-benar mampu membuka lembaran baru dan membuka hati untuk orang baru? Hanya waktu yang dapat menjawab semua itu.