Zeus terbangun dari tidurnya siang itu setelah semalaman ia bertemu beberapa kolega dan menyelesaikan beberapa pekerjaan di tempat yang jauh. Seperti hari-hari biasanya, tidak ada yang membuat Zeus harus segera bangun. Pria itu sama sekali tak bergerak di atas ranjang sempit itu. Kedua tangan terbuka, beberapa kali mengerjapkan matanya dengan lemah, Zeus melihat lurus ke arah atap kamar. Tidak melihat apa pun, selain lampu tua yang tidak terlalu menarik untuk diamati, namun Zeus tetap diam di sana, merasa begitu damai. Ruangan yang remang-remang disiram cahaya kemerahan dari lampu tidur kamar. Bukan kamarnya. Dengan tenang, ia menghela napas pelan membuat dadanya naik turun perlahan. Begitu ia sadar, kamar itu dipenuhi oleh bau parfum wanita. Bau yang bukan darah Simca. Zeus mengh

