bc

Balas Dendam Salah Sasaran

book_age18+
12
FOLLOW
1K
READ
billionaire
revenge
HE
friends to lovers
bxg
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Lima tahun lalu, hidup William Arsenio Abraham runtuh bersama hancurnya sang adik, Arsyla Amira Abraham.

Bagi Arsen, hanya ada satu penyebab yaitu Yoga Prasetya Adinata, sosok pria yang memutuskan hubungan asmaranya dengan Arsy, hingga gadis itu jatuh dalam depresi dan harus disingkirkan ke luar negeri demi menutup aib keluarga Abraham.

Sejak saat itu, Arsen hidup dengan satu tujuan, yaitu balas dendam. Targetnya bukan Yoga secara langsung, melainkan seseorang yang jauh lebih berharga. Rosalinda Elvarista Adinata, adik perempuan Yoga. Perempuan cantik yang akrab disapa Rosi dalam kesehariannya.

Kesempatan itu datang tanpa diduga. Sebuah insiden yang membuat Rosi patah hati, membawanya melakukan hal gila dengan mencari pria yang ia rasa bisa menyelamatkan harga dirinya.

Dan kesempatan itu Arsen pergunakan dengan sebaik-baiknya. Menerima tawaran Rosi tanpa harus berpikir dua kali.

Rencana Arsen sederhana. Menikahi Rosi dan membuat Rosi jatuh cinta padanya, lalu menghancurkannya, agar Yoga merasakan luka yang sama seperti apa yang dia rasakan selama lima tahun ini.

Namun rencana tetaplah rencana. Semakin dekat, Arsen justru melihat sisi lain dari Rosi. Wanita mandiri, lembut, tulus, dan tanpa cela, tapi punya sisi lemah yang tidak pernah Rosi tunjukkan pada siapa pun juga, termasuk pada Yoga, kakak kandungnya. Perasaan yang seharusnya tidak ada kini mulai tumbuh tanpa diminta. Perlahan, dendam yang ia jaga selama lima tahun mulai goyah. Dan saat kebenaran terungkap, bahwa Yoga mungkin bukan dalang di balik kehancuran Arsy, Arsen dihadapkan pada pilihan yang bisa paling sulit.

Melanjutkan misi balas dendamnya atau mempertahankan wanita yang kini menjadi satu-satunya alasan dia bertahan.

Karena kali ini, jika ia salah memilih maka yang hancur bukan hanya Rosi. Tapi juga dirinya sendiri.

chap-preview
Free preview
1. Club Dan Air Mineral
Lampu-lampu club malam berpendar liar, menari di antara dentuman musik yang memekakkan telinga. Malam selalu punya cara sendiri untuk menyembunyikan luka, dalam gelap dan juga kebisingan di tengah hiruk pikuk yang membuat siapa pun seolah lupa bagaimana caranya mencinta. Namun tidak untuk Rosi. Perempuan muda berusia dua puluh lima tahun itu duduk di salah satu sofa pojok yang ada di dalam night club tersebut, jauh dari keramaian dance floor. Gaun hitam elegan membungkus tubuh rampingnya. Rambut panjang yang terurai sedikit berantakan seolah ia tak benar-benar peduli bagaimana penampilannya malam ini. Di atas meja tepat di hadapannya, tidak ada botol minuman mahal seperti kebanyakan pengunjung yang lain. Tidak ada gelas berisi alkohol yang biasanya menjadi pelarian orang-orang yang patah hati seperti dirinya kini. Yang ada hanya beberapa botol air mineral. Ini sudah gelas ke empat belas. Rosi mengangkat gelas itu lagi, meneguknya tanpa jeda. Tenggorokannya terasa penuh, perutnya bahkan mulai kembung, tapi ia tetap melanjutkan. Seolah dengan menelan air sebanyak mungkin, ia bisa menenggelamkan semua rasa sesak di dadanya. “Konyol,” gumamnya lirih. Entah pada dirinya sendiri, atau pada keadaan yang membuat dirinya jadi hancur seperti ini. Pikiran Rosi kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Di mana ketika dia yang menghadiri acara pesta ulang tahun sepupunya, justru dia harus disuguhi pemandangan yang sangat menyesakkan d**a. Vito, kekasih sekaligus calon suaminya kedapatan berciuman dengan Selena, anak dari adik papanya yang malam ini sedang berulang tahun ke dua puluh tiga. Sungguh, sakitnya dikhianati oleh orang-orang terdekatnya itu tak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Dia bahkan tidak menangis saat itu. Tidak marah. Tidak juga memohon pada keduanya untuk mengakhiri perselingkuhan. Rosi hanya diam lalu pergi, tanpa mau mendengar penjelasan apapun dari keduanya. Dan sekarang semuanya terasa terlambat untuk bereaksi. Gelas kelima belas. Rosi kembali menuangkan air dari botol ke dalam gelas, lalu meminumnya hingga habis. Napasnya sedikit berat. Perutnya benar-benar sudah tidak nyaman, tapi ia justru merasa itu lebih baik. Lebih baik merasa penuh secara fisik daripada kosong secara emosional. Lantas, tanpa dia harapkan seorang pria tiba-tiba mendekat. “Kamu sendirian?” Rosi tidak langsung menjawab. Ia hanya menoleh perlahan, menatap pria itu dengan sorot mata datar. Tidak ada ekspresi. Tidak ada ketertarikan. Hanya tatapan dingin dan menusuk yang ia layangkan. Pria itu sempat tersenyum penuh percaya diri, mungkin terbiasa mendapatkan respon positif dari perempuan-perempuan di tempat seperti ini. Namun senyumnya memudar dalam hitungan detik. Tatapan Rosi yang terlalu tajam juga tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut wanita itu membuat si pria memilih mundur teratur. “Sorry.” Pria itu pergi. Rosi kembali menatap gelasnya. Satu gelas lagi berhasilnya memenuhi lambungnya. ••• Sementara itu di sisi lain ruangan, di area VIP yang sedikit lebih tenang, sekelompok pria duduk santai dengan aura yang jelas berbeda dari pengunjung lain. Mereka adalah orang-orang kelas atas yang datang dengan setelan jas mahal, jam tangan eksklusif, dan dompet tebal. “Gue masih nggak percaya barusan ditolak,” keluh salah satu dari mereka sambil menggelengkan kepalanya. Yang lain tertawa. “Lo? Ditolak? Yang bener saja," jawab rekan yang lainnya. “Serius. Gue cuma ngajak ngobrol baik-baik.” “Terus?” “Dia cuma ngeliatin gue. Tajam banget. Kayak gue ini penjahat.” Tawa mereka kembali pecah. Namun salah satu dari mereka tidak ikut tertawa. William Arsenio. Pria itu duduk sedikit bersandar, satu tangan memegang gelas, matanya mengamati ruangan dengan santai tapi penuh perhitungan. Wajahnya tegas, rahangnya kuat, dan sorot matanya tajam. Terlalu tajam untuk seseorang yang sekadar ingin bersenang-senang. “Gadis aneh,” lanjut pria yang tadi bercerita. “Dia mabuk bukan karena alkohol. Tapi kebanyakan minum air mineral. Ada-ada saja. Cantik-cantik stres juga.” Arsen sedikit mengangkat alis. Tiba-tiba saja dia penasaran dengan cerita sang teman. “Siapa?” Salah satu temannya menunjuk ke arah sudut ruangan. “Itu. Namanya Rosi.” Arsen mengikuti arah tunjuk itu. Dan untuk pertama kalinya malam itu, pandangannya berhenti pada sosok perempuan di pojok itu. Dengan gelas air di tangannya. Dengan ekspresi kosong yang tidak cocok dengan suasana sekitar. “Kenal dia?” tanya Arsen, suaranya rendah. “Enggak sih secara pribadi,” jawab temannya. “Tapi tau. Dia salah satu selebgram yang lumayan terkenal. Followers-nya jutaan. Selain cantik, dia juga anak pengusaha. Pemilik Adinata Group.” Deg. Ada sesuatu yang berubah di wajah Arsen. Nama Adinata Group, cukup membuat udara di sekitarnya terasa sedikit lebih dingin. Sebab nama itu bukan sekadar nama, tapi adalah target utama. Sebuah kebetulan atau mungkin kesempatan yang datang sesuai dengan keinginannya. Sudah lima tahun Arsen tinggal di Australia. Lima tahun membangun sesuatu yang tidak semua orang tahu. Dan salah satu alasan ia kembali ke Indonesia adalah untuk menyelesaikan urusannya dengan salah satu keluarga Adinata. Dan sekarang putri keluarga itu duduk sendirian, beberapa meter darinya, dalam kondisi yang jauh dari kata baik. “Menarik,” gumam Arsen pelan. “Apanya?” tanya temannya. Arsen tidak langsung menjawab. Ia masih menatap Rosi. Beberapa rencana dan strategi mulai ia susun di dalam kepalanya. Namun, tak lama kemudian sosok perempuan yang tidak lepas dari jangkauan matanya beranjak berdiri meninggalkan tempat. Arsen tersentak. Tidak ingin buruannya lepas begitu saja. Tanpa memperdulikan teman-temannya Arsen berdiri. "Sen, mau ke mana lo?" "Gue ada urusan bentar. Cabut dulu, bye!" Dengan tergesa-gesa Arsen keluar dari night club. Kepalanya memutar ke kiri dan ke kanan hanya untuk mencari ke mana sosok perempuan itu perginya. Dan yap! Tak jauh darinya, lebih tepatnya di area parkiran, sosok yang ia cari sedang berjongkok. Perempuan bernama Rosi itu sedang muntah-muntah. Suaranya terdengar ketika Arsen mulai mendekat. Tanpa diminta, Arsen mengeluarkan sapu tangan dari saku celana lalu ia ulurkan tepat di depan wajah si wanita. Tentu saja hal tersebut mengejutkan Rosi. Tak ayal Rosi terima juga sapu tangan itu yang kemudian ia gunakan untuk mengelap bibirnya yang belepotan. "Terima kasih," ucapnya lirih. "Lain kali jangan kebanyakan minum. Air putih itu cukup dikonsumsi satu setengah liter per hari. Kalau kebanyakan ya jadinya begini," sindir Arsen membuat mata Rosi membulat. Sungguh Rosi tidak menyangka jika ada yang memperhatikannya di dalam sana tadi. "Apaan sih! Nggak usah ikut campur urusan orang kalau kamu nggak bisa kasih solusi atas permasalahan hidup yang saya alami." "Masalah apa memangnya yang tidak ada solusinya?" Rosi diam sejenak. Mengingat kembali hal gila apa yang sudah dilakukan kekasih dan sepupunya. Tiba-tiba matanya kembali berkaca-kaca. Sungguh pengkhianatan terbesar selama dua puluh lima tahun hidupnya, sanggup menghancurkan segalanya. Tak hanya hatinya yang hancur tapi juga kepercayaannya. Rosi menatap pria di hadapannya. Lalu bertanya, "Apa kamu bisa menyelamatkan harga diri saya?" "Dengan cara?" "Menikahi saya."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
701.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
941.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
337.4K
bc

Not just, the Beta

read
336.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook