1. Siapa Aku?
Kau memilihkannya untuk menjauhkan aku darimu…
Aku bukan pilihanmu.
Tapi aku akan memilih seseorang yang benar-benar memilihku...
---------
Ayu berhenti melangkah tepat di balik pintu balkon.
Suara itu...
suara yang terlalu ia kenal, membuat dadanya seketika terasa kosong.
“Elvina…” suara Ares terdengar rendah, lembut-nada yang tidak pernah Ayu dengar saat pria itu berbicara padanya.
“Aku rindu,” balas Elvina manja. Tubuhnya menempel erat di d**a Ares.
“Bukankah sebentar lagi kau akan menikah dengan adik angkatmu itu?”
Ares terkekeh pelan. Tangannya naik, mengusap punggung Elvina dengan gerakan yang nakal dan terlalu akrab untuk sekadar nostalgia.
“Kau tahu jawabannya,” katanya. “Cintaku hanya padamu.”
Ayu memejamkan mata.
Namun telinganya tidak bisa berhenti mendengar.
“Tubuhmu selalu membuatku lupa segalanya,” lanjut Ares lirih. “Berbeda dengan dia. Terlalu banyak aturan. Terlalu sok suci.”
Elvina tertawa kecil, puas. Ia mengaitkan lengannya ke leher Ares, jarak di antara mereka lenyap.
“Jadi aku harus menunggu sampai kapan?” bisik Elvina, bibirnya begitu dekat dengan rahang Ares.
“Sebentar saja,” jawab Ares.
“Semua ini hanya keinginan ibuku,” ujar Ares rendah. “Lagipula, ini hukuman untukmu. Dulu kau meninggalkanku dan menikah dengan pria lain. Jadi sekarang aku juga melakukan hal yang sama. Biar impas.”
Ia tersenyum tipis. “Setelah menikah, aku akan menceraikannya. Lalu kita bersama.”
Elvina menahan tangan Ares yang memeluknya semakin erat.
“Satu bulan,” katanya tegas, meski nadanya tetap manja. “Aku tak mau lebih.”
Ares menunduk. Kening mereka bersentuhan, jarak di antara mereka lenyap.
“Kenapa kau masih meragukan cintaku?” bisiknya dengan suara berat.
Ia mengecup dahi Elvina.
Lalu pipinya.
Dan akhirnya bibirnya.
Bukan sekadar sentuhan singkat, melainkan ciuman yang dalam dan penuh gairah.
Tubuh mereka saling menempel, seolah tak ada ruang bagi siapa pun, termasuk perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Ayu membuka mata.
Pemandangan itu…
balkon kamar itu…
kamar yang disiapkan untuknya.
Untuk pernikahannya.
Perutnya mual. Dadanya nyeri.
Ia merasa jijik-pada mereka… dan pada dirinya sendiri karena terlalu berharap dan selalu mengalah.
Tanpa sengaja, kakinya menginjak benda kecil di lantai.
Krak.
Suara itu memecah momen.
Ares dan Elvina menoleh bersamaan.
Mata Ayu bertemu dengan mata Ares.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada panik.
Hanya keterkejutan singkat…
lalu diam.
Ayu mundur satu langkah.
Lalu berbalik dan berlari.
Air matanya jatuh tanpa suara. Tangannya gemetar saat berpegangan pada dinding. Langkahnya tak beraturan, dadanya sesak oleh kenyataan yang terlalu kejam.
Tangga itu terasa curam.
Dunia berputar.
Satu pijakan meleset.
Tubuhnya terjatuh, menghantam anak tangga satu demi satu.
Dan sebelum semuanya gelap, satu pikiran melintas di benaknya,
Lebih baik aku lupa…
daripada terus mencintai pria yang tak pernah memilihku.
----------
Aroma obat-obatan menusuk hidung Ayu saat kesadarannya perlahan kembali.
Lampu putih di atas kepala terasa terlalu terang, membuat matanya perih.
Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya. Berat.
Seolah tubuh itu bukan miliknya.
“Dia sadar.”
Suara itu terdengar datar.
Ares.
Tenang. Terlalu tenang.
Ayu menoleh perlahan. Ares berdiri di samping ranjang, wajahnya tampan, rapi, dan dingin. Tidak tampak rasa khawatir di wajah itu. Namun entah kenapa, d**a Ayu terasa sesak saat mata mereka bertemu.
Bayangan di balkon itu kembali muncul.
Tangan Ares yang memeluk Elvina.
Ucapannya yang begitu kejam.
Kini tangan yang sama menggenggam tangan Ayu.
Ayu tahu, ia tidak boleh menikah dengannya.
Ia hanya akan dipermainkan.
Satu bulan… lalu diceraikan?
Untuk apa ia menyerahkan jiwa dan raganya pada pria seperti ini?
Ia harus mengulur waktu.
Namun Ayu juga tidak ingin menyakiti ibu Ares, perempuan yang telah membesarkannya.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul.
“Aku… siapa?”
Ia menarik tangannya dari genggaman Ares.
Ares menatapnya lama, seakan sedang memastikan sesuatu. Ia tidak panik. Hanya terdiam sejenak.
“Kau tidak mengenaliku?”
Ayu menggeleng, memasang wajah polos.
Ares sempat terdiam dan ,mengerutkan keningnya, namun kemudian, kilat kelegaan itu muncul jelas di mata Ares.
Dan entah kenapa, hal itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Padahal Ayu sudah seharusnya tahu,
Ares tidak akan pernah merasa kehilangan dirinya.
“Kau Nadyra Ayu,” jawab Ares pelan.
Nada suaranya terdengar seperti sedang menjelaskan sesuatu yang sederhana. Tidak penting.
Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Tangannya menepuk punggung tangan Ayu. Hangat… namun justru membuat Ayu merasa semakin jijik.
“Kau adalah adik angkatku.”
Ayu menelan ludah.
Adik angkat?
Belum sempat ia mencerna kalimat itu, Ares menoleh ke arah seseorang yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan.
“Dan dia,” katanya sambil menunjuk pria berkemeja gelap dengan tubuh tegap,
“adalah tunanganmu.”
Ayu menatap ke arah Damar,
asisten setia Ares.
Tatapan pria itu langsung bertemu dengannya. Tenang. Sopan. Dan entah kenapa… terasa paling aman di ruangan itu.
“Kau sangat mencintainya,” lanjut Ares.
“Karena itu kau pasti terpukul saat kecelakaan kemarin. Masa kau lupa?”
Kata mencintai bergema di kepala Ayu.
Ia menoleh kembali pada Ares.
Ada jarak di wajah pria itu. Dingin. Seolah Ayu bukan siapa-siapa selain tanggung jawab yang merepotkan.
Sementara Damar-yang katanya tunangannya,
justru menatap Ayu seakan ia adalah sesuatu yang harus ia jaga. Ada tatapan iba di mata itu.
Dada Ayu kembali terasa sesak.
Entah kenapa, Ayu merasa…
ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat besar.
Cinta yang selama ini begitu ia agungkan perlahan luntur,
tidak bersisa.
Yang tertinggal hanya penyesalan.
Mengapa aku bisa begitu mencintai pria seperti Kak Ares?
Mulai saat ini, tekad Ayu
aku harus menghapus semua perasaanku pada kak Ares.
Selamanya.
---------
“Untuk apa kau berdiri di sana, Mar?” ujar Ares santai.
“Ayo ke sini. Jangan mentang-mentang ada aku, kau jadi sok kalem dan jaga sikap. Anggap saja aku tidak ada di sini.”
Kata-kata itu menghantam Ayu tanpa suara.
Dadanya terasa nyeri, namun wajahnya tetap datar. Pandangannya beralih pada Damar yang tampak tertegun. Hanya sesaat. Setelah itu, pria itu melangkah mendekat dan berdiri di samping Ayu.
“Kau sudah merasa lebih baik, Yu?” tanya Damar lembut, meski nadanya terdengar kaku.
“Jangan paksa dirimu untuk mengingat aku dulu. Yang penting kau pulih.”
Ayu terdiam, menatap pria di hadapannya.
Ia mengenal Damar. Sering melihatnya. Namun tidak pernah benar-benar dekat. Selama ini Ayu selalu menjaga jarak, tidak pernah memberi ruang bagi pria lain selain Ares.
Baiklah…
Kalau itu maumu.
Sekali lagi aku akan mengabulkan permintaan terakhirmu.
Setelah ini, jangan harap aku akan terus mengalah.
Perlahan, Ayu mengangkat tangan.
Dan tanpa ragu, ia menarik tangan Damar lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya.
“Maaf kalau aku sudah membuatmu khawatir, sayang,” ucap Ayu lembut.
“Jangan cemas. Aku pasti akan mengingatmu… perlahan. Apalagi kau adalah orang yang kucintai.”
Tubuh Damar langsung menegang.
Jelas terlihat ia kaku, tidak terbiasa diperlakukan seperti itu.
“Duduk di sampingku, sayang,” lanjut Ayu pelan.
“Biar aku tidak merasa sendiri. Kak Ares bisa melanjutkan kegiatannya. Aku minta waktu Damar sehari saja, boleh? Untuk menemaniku. Aku takut sendirian di rumah sakit.”
Ares terdiam.
Terkejut.
Selama ini, Ayu tidak pernah memanggil dia dengan sebutan sayang.
Tidak pernah semanja itu.
Tidak pernah, bahkan setelah mereka bertunangan.
Perhatiannya memang selalu penuh.
Namun tidak pernah seperti ini.
Ada rasa tidak rela yang tiba-tiba mencuat di dadanya, saat mendengar Ayu memanggil Damar begitu mudah.
Bukankah Ayu sangat mencintaiku?
Walaupun amnesia… seharusnya masih ada sedikit rasa itu.
Egonya terasa tergores.
Dan untuk pertama kalinya, Ares menyadari sesuatu,
Ia tidak siap melihat Ayu bersikap seperti ini pada pria lain.
Padahal rencana itu telah Ares susun dengan sangat rapi dan cepat,
untuk menghadapi ibunya,
untuk menenangkan Elvina,
saat ia tahu Ayu lupa ingatan.
Namun kini, melihat Ayu berdiri di sisi Damar,
memanggil pria itu dengan 'sayang' tanpa ragu,
hatinya justru goyah.
Untuk pertama kalinya, Ares merasa tidak lagi sepenuhnya memegang kendali.
Akankah rencana awal itu tetap ia jalankan?
Atau justru…
ia yang akan merasa kehilangan Ayu sebelum sempat mengakuinya?
Bersambung.........