Perwakilan dari pihak istana datang, mereka mengiriman beberapa santunan, turut bersedih atas kematian seorang rakyat yang menjadi korban kekejaman Belanda. Namun, sang suami menolak semuanya. Santunan itu tak akan mampu menghidupkan kembali istrinya yang telah tiada. Tak ingin keadaan berlarut-larut dalam ketegangan, bergegas tuan guru memimpin jalannya pemakaman sampai raga itu dimasukkan ke dalam liang lahat. Pangeran Alif, ia turut mengikuti jalannya penguburan jenazah itu sampai selesai. Meski ia sangat malu untuk memeluk lelaki yang tengah berduka. Pangeran pesisir itu merasa semua merupakan kesalahannya, andai saja dia datang lebih cepat tentu wanita yang berhasil merebut hatinya pertama kali itu tak akan mati menderita.
Alif meninggalkan pemakaman setelah Ridwan sedikit memaksanya untuk bersegera kembali. Tersiar kabar Permaisuri Syarifah menunggunya di istana. Pemuda pesisir itu kembali dengan hati gundah gulana. Ia sedang tak bisa jika dihadapkan pada pernikahan dengan Putri Naqi, sedangkan ia masih memikirkan kematian wanita yang telah bersuami. Namun, ketika sang bunda telah memberi perintah, maka ia tak boleh mangkir, sebab bukan tak mungkin Ridwan lagi yang akan menjadi sasaran.
Sang pangeran mengemas dirinya dibantu para pelayan sebelum menghadap Sultan Zulkarnain dan Permaisuri Syarifah. Tata krama dalam istana tetap harus dijalankan dalam keadaan apa pun. Sejenak Alif memandang peta yang telah ia pasang di dinding kamarnya. Wilayah Kerajaan Pesisir dulu tak sesempit itu. Lalu perlahan-lahan bendera Belanda menancap di desa-desa yang jauh dari jangkauan. Kini ia menghadapi ancaman yang sama. Konon, menurut cerita bundanya, dua abangnya tewas sebab penyergapan rahasia yang dilakukan pihak lawan. Penyusup dan pengkhianat akan selalu ada di manapun.
Penerus singgasana Kerajaan Pesisir itu sampai di depan kamar orang tuanya. Terlihat Sultan Zulkarnain duduk dengan napas yang terasa sangat berat. Permaisuri Syafitri menatap Alif dengan tajam. Ada hal yang telah terjadi dalam kurun waktu pemuda itu ke luar dari istananya diam-diam.
“Pernikahanmu dengan Putri Naqi.” Permaisuri menarik napas terlebih dahulu, “Akan dilanjutkan setelah kita mengirimkan surat ke Kerajaan Malaka. Sudah diantarkan ketika kau kabur diam-diam dan nekat menyelamatkan seorang wanita hanya berempat saja. Kemungkinan dalam bulan ini kita akan memperoleh jawabannya, sekaligus dikirimnya seorang wali yang akan menjadi pengikat pernikahan antara kau dan Putri Naqi. Sampai di sini engkau paham, Putraku?”
“Paham, Bunda. Maaf jika Ananda mengendap-endap pergi, tapi tak bisa pula Ananda biarkan rakyat kita ditawan begitu saja tanpa pertolongan.” Alif menundukkan kepala, tak ingin kedua orang tuanya salah paham.
“Putraku. Ayahanda hargai rasa tanggung jawabmu sebagai seorang pemimpin. Namun, hendaknya engkau perhitungkan kembali langkahmu itu. Sebab jika sampai pihak lawan tak berbelas kasihan, engkau bisa tewas dan habis sudah garis keturunan kita.” Sultan Zulkarnanin mengutarakan kekhawatirannya sembari menahan batuk. Dengan cepat Permaisuri Syafitri memberikan sapu tangan untuk suaminya.
“Apa pun yang kau lakukan, setidaknya berundinglah dahulu dengan kami. Dan apa pun yang terjadi berusahalah untuk tetap hidup. Sebagai penyambung nasab Kerajaan Pesisir, kau satu-satunya anak lelaki yang tertinggal. Dua kakakmu tentu sudah jadi milik suaminya,” sambung Permaisuri Syafitri.
“Baik, Ananda mengerti, dan Ananda tak akan melupakan pesan Ayahanda dan Ibunda. Kalau begitu jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, Ananda undur diri. Assalammualaikum.” Untuk pertama kalinya Alif pergi tanpa disuruh oleh bundanya terlebih dahulu. Hatinya serasa dipenuhi beban seberat gunung. Tetap hidup dan meneruskan nasab kerajaan adalah dua hal yang tak pernah bisa ia atur sesuka hati.
***
Saat sedang melihat para punggawa istana latihan di tepi pantai. Alif didatangi oleh seseorang yang dulu menjadi teman belajarnya saat masih menempuh pendidikan di madrasah. Seorang lelaki yang juga tak kalah gagahnya. Teuku Firdaus, pemuda yang kini bergelar Panglima Laot menggantikan ayahnya yang telah tiada. Ia datang dengan pakaian khas bangsawan, lengkap dengan atribut kerajaan, pedang panjang serta bedil laras pendek yang digantung di pinggangnya. Dua sahabat yang telah lama tak bersua itu berpelukan setelah mengucapkan salam. Mereka berbincang sembari berjalan, mengamati persiapan pengamanan wilayah laut Kerajaan Pesisir. Sejak perundingan damai tak menemui titik temu. Semua panglima dari segala penjuru datang menguatkan wilayah yang berada dalam jangkauan kekuasaannya.
“Sepertinya perang kali ini benar-benar besar, dibandingkan belasan tahun silam, bukan?” Teuku Firdaus berjalan sembari memainkan air laut yang mengenai kakinya.
“Tidak bisa kita bantah lagi. Pemerintah Hindia Belanda sepertinya menggelontorkan emas yang tidak sedikit demi membiayai peperangan,” sahut Alif.
“Dan berupaya memecah belah kita dari dalam. Aku dengar kabar burung itu. Beberapa bangsawan sepuh menarik dukungan untuk istana. Dalam hal ini menarik hulubalang yang berada dalam pengaruh mereka.”
“Artinya kita kalah jumlah. Sementara itu pribumi pengkhianat yang didatangkan dari luar pulau jumlah mereka semakin banyak. Aku bisa membedakan kulit mereka yang legam diantara serdadu berkulit putih itu.”
“Benar, pertaruhan antara hidup dan mati kali ini lebih besar dari yang sudah-sudah.” Teuku Firdaus menoleh ke belakang, ia melihat seorang wanita yang meneriakkan namanya.
“Aku dengar kau sudah menikah baru beberapa hari, bukan? Kenapa tak memberi kabar pada istana?” Alif menahan bahu sahabatnya ketika ingin berlari menyusul istrinya.
“Tidak sempat, keburu hamba berangkat ke medan tempur. Hamba permisi Pangeran, istriku tak bisa menunggu lama.” Teuku Firdaus tak segan menampakkan kemesraan di hadapan Teuku Alif. Baru satu minggu mereka menikah sudah harus dipisahkan karena sebuah panggilan tugas yang besar. Terlihat Panglima Laot itu mencium kening istrinya sebelum akhirnya wanita itu kembali meninggalkannya di tepi pantai.
Beberapa saat kemudian, pihak istana dalam hal ini diwakili oleh Teuku Alif, melepas keberangkatan armada maritim Kerajaan Pesisir di bawah komando Panglima Laot Teuku Firdaus. Sampan-sampan kecil didorong ke tengah sebanyak puluhan, menuju kapal-kapal besar milik Kerajaan Pesisir. Tak banyak yang tersisa, hanya puluhan sebab sebagian kapal telah tua, rapuh dan sebagiannya hancur karena serangan Belanda.
Bendera kerajaan berkibar di bawah embusan angin laut yang sangat kencang. Dua kali bunyi meriam menjadi bukti kesiapan peperangan yang tak lama lagi akan meletus. Teuku Alif menoleh ke belakang. Ia melihat istri sahabatnya masih berada di pantai sembari mengusap pipinya. Wanita itu rupanya belum sanggup melepas kepergian lelaki yang baru satu minggu menjadi suaminya.
“Apa Putri Naqi akan seperti itu jika aku harus pergi berperang suatu hari nanti? Apa di hatinya ada aku, atau dia terpaksa karena perjodohan saja,” gumam Alif perlahan.
Ridwan datang memberi sebuah kabar yang mampu menarik lamunan Alif sampai ke dasar bumi. Waswas hatinya sejak tadi malam akhirnya terbukti juga. Desa paling ujung perbatasan kembali menjadi sasaran. Sang pangeran tak bisa tinggal diam begitu saja. Ia akan menjadi contoh bagi pemuda lainnya, jika Alif pengecut maka yang lain bisa jadi seperti itu. Namun, ia pun harus meminta izin terlebih dahulu pada orang tuanya. Sementara itu, Alif sendiri tak yakin akan diberi izin atau tidak.
“Ridwan, seperti biasa. Siapkan kudaku di belakang. Jika sampai Ibunda tak memberikan izin, kita berangkat diam-diam!” perintah Alif.
“Daulat, Tuanku,” jawab Ridwan dengan keyakinan penuh.
***
Adrian—lelaki bengis yang menjadi lawan Alif telah berkendara dengan kereta kuda. Ia menuju sebuah tempat yang sangat gelap. Tempat di mana para pembunuh berkumpul. Mereka bekerja berdasarkan upah. Tak peduli mana lawan mana kawan.
Saat lelaki itu turun, kumpulan orang-orang berpakaian hitam dengan ikat kepala merah menyambutnya. Adrian terlebih dahulu memamerkan sepeti emas pada para pembunuh agar diberi jalan untuk masuk. Emas yang ia berikan cukup untuk membayar ratusan kepala. Sebuah pekerjaan berat tetapi sangat mungkin dilakukan oleh perkumpulan gagak hitam.
“Kau mampu untuk menghancurkan sebuah armada laut?” tanya Adrian pada lelaki dengan mata satu di depannya.
“Yang tak kami bisa hanyalah memutar waktu. Selebihnya sepele. Nyawa raja pun ada harganya di depan kami.” Lelaki yang berpenampilan khas bajak laut itu meminum alkohol pemberian Adrian, ia sedikit memejam karena aromanya yang sangat kuat. Namun, lama-lama ia jadi menyukai rasanya. Jauh lebih nikmat dibandingkan arak tradisional.
“Soal nyawa seisi istana itu menjadi urusanku. Kau hanya perlu menghanguskan kapal-kapal perang yang sebentar lagi akan bergerak maju.”
“Beres. Tinggalkan saja emasmu di sini,” tunjuk lelaki bermata satu pada kotak dipangkuan Adrian.
“Tunjukkan dulu padaku bagaimana caramu menenggelamkan kapal-kapal itu.” Tak mau kalah Adrian bernegosiasi.
“Aku tak pernah bilang akan menenggelamkannya. Bukan itu cara kami bermain. Kau tak akan tahu, sebab jika ada yang tahu sudah lama perkumpulan ini diburu pihak kerajaan.”
“Lalu apa yang bisa menjadi jaminanku?”
“Oh, sepertinya kau meragukan kami. Mantili!” teriak lelaki itu pada anak perempuannya. Tak lama setelah itu ke luar seorang gadis cantik dengan sorot mata tajam. Ia meskipun usianya di bawah Alif, tetapi sudah banyak melanglang buana di bawa ayahnya.
“Aku harus membunuh si tampan ini?” Mantili mengerlingkan sebelah matanya pada Adrian.
“Bawakan tulang tengkorak buronan kita. Si rambut kuning ini meragukan cara kerja kita. Cuih!”
Beberapa waktu kemudian, Mantili ke luar dengan sebuah peti berukuran sedang. Di hadapan Adrian gadis itu membukanya, lalu ke luar bau busuk luar biasa yang membuat lelaki Belanda itu sampai meludah dan menutup mulutnya.
“Kau sudah yakin, Meester?” Mantili menaikkan sebelah alisnya pada Adrian.
“Sial. Bagaimana caranya kalian hidup dengan bangkai-bangkai ini?”
“Kau tak pernah paham makanan gagak memang bangkai.” Mantili menutup kotak itu dan merampas sepeti emas dari pangkuan Adrian.
“Oke, aku anggap perjanjian kita selesai. Armada maritim milik Kerajaan Pesisir, aku tak peduli apa pun caranya harus hancur. Jika satu tugas ini selesai aku akan terus berlangganan pada kalian.” Adrian ke luar dari ruangan lelaki dengan satu mata itu. Ia sejujurnya sedikit tertarik dengan paras Mantili. Begitu rupawan dan menggoda. Namun, ia tak pernah suka berurusan dengan wanita pembunuh dan sulit diatur. Ia lebih suka dengan gadis lugu yang takut dengan dirinya hingga lebih mudah menurut padanya. Namun, saat ia membuka pintu keretanya, Mantili telah berada di sana, menantinya dengan kaki naik ke kursi hingga kainnya tersingkap sampai ke pangkal paha.
“Verdomd. Siapa yang memberimu izin masuk ke keretaku!” bentak Adrian.
“Ontspannen, Meester Adrian,” jawab Mantili. Adrian sedikit terperanjat ketika gadis di hadapannya paham dengan bahasa negaranya.
“Buiten. Aku harus kembali. Aku tak suka bermain-main dengan anak kecil.” Lelaki bengis itu masuk ke kereta dan nyaris menarik Mantili ke luar. Namun, pertahanan gadis itu lebih kokoh dibandingkan dirinya.
“Aku paham tatapanmu tadi. Kau menginginkan tubuhku, bukan? Akui saja, tak ada yang perlu ditutupi. Ayahku tak akan marah, selama emasnya terus mengalir di kantongnya.”
“Ayahmu sakit? Mana ada lekaki yang tega menjual putrinya sendiri?”
“Memang, dia tak waras. Begitu pula denganku. Bisakah kita lanjutkan perbincangan di tempat lain. hanya kita berdua saja, Meester,” pinta Mantili.
“Kau tak takutkah?”
“Aku tidak takut dengan lelaki. Lagi pula kau bukan orang pertama. Selanjutnya akan kupastikan kau terus-menerus mencariku. Kau tak akan bisa lupa denganku.”
Dengan tatapan matanya yang penuh pesona, Mantili seakan-akan menghipnotis Adrian. Gadis itu sama bejatnya dengan ayahnya. Ia kerap menipu pria baik-baik dengan godaannya. Lalu setelah itu ajal pun menjemput. Kini gadis pembunuh itu akan menghabiskan waktu semalam suntuk dalam benteng Adrian. Ia penasaran juga bagaimana rasanya berpetualang dengan lelaki Belanda.
Sebelum Mantili dan ayahnya berangkat untuk membantai armada laut yang dipimpin oleh Teuku Firdaus, sudah menjadi kebiasaan para pembunuh dari perkumpulan gagak hitam akan berbuat dosa seharian penuh. Mereka tak takut dengan Tuhan, apalagi dengan manusia biasa. Para hamba emas yang hidup berdasarkan bayaran. Nurani telah tercabut, hati telah membeku. Hanya kematian yang menjadi satu-satunya cara agar pergerakan mereka sesegera mungkin dihentikan.
Menjadi pengkhianat di Kerajaaan Pesisir, semakin menambah pekerjaan Alif dalam mempertahankan keutuhan wilayahnya. Adrian, Pemerintah Hindia Belanda, perkumpulan gagak hitam, titah ibunda, bangsawan sepuh, peperangan menjadi beban tersendiri bagi sang pangeran. Entah ia mampu untuk melewatinya atau tidak.