bc

Teuku Alif, Pangeran Kerajaan Pesisir

book_age18+
181
FOLLOW
1K
READ
serious
kicking
scary
realistic earth
kingdom building
war
like
intro-logo
Blurb

Hidup di zaman penjajah tidaklah mudah, walau bergelar bangsawan bahkan putra raja sekali pun. Justru tanggung jawab besar berada di pundaknya, ketika satu demi satu pembesar kerajaan tewas akibat serangan Belanda yang datang bertubi-tubi. Harta telah kandas, istana telah hangus. Orang-orang yang dikasihi telah pergi mendahului. Kini hanya tersisa Alif seorang sebagai satu-satunya penerus yang diharapkan. Pemuda Pesisir itu tak menyerah, ia melanjutkan misi pendahulunya demi menyelamatkan agama dan mengusir penjajah yang semakin beringas. Dengan sisa pemuda yang ada ia menjadi pemimpin sebuah pergerkan gerilya, berkelana dari satu daerah ke daerah lain menumpas Belanda meski nyawa menjadi taruhannya. Mampukah Alif menjalan misi besar itu dengan pasukan kecilnya? Apakah semua orang benar-benar setia padanya? Atau justru pengkhianatan yang ia terima?

chap-preview
Free preview
Kelahiran Pangeran
Pesisir Aceh 1885 Di tengah hiruk pikuk perang melawan Belanda yang tak kunjung berhenti di seluruh nusantara, Permaisuri Kemala Syafitri tengah melawan rasa sakit yang teramat sangat. Usia kandungannya telah mencapai kata cukup untuk melahirkan. Suaminya, Teuku Zulfikar yang bergelar sultan sedang tidak di istana. Lelaki yang menjabat sebagai raja itu tengah bernegosiasi dengan beberapa bangsawan di sekitar wilayahnya demi menambah armada perang dan pasokan makanan, sebab beberapa punggawa kerajaan telah mengalami kekalahan jumlah. Permaisuri berdiri dari ranjang emasnya, ia mengambil selendang lalu berjalan membuka pintu. Tertatih sembari memegang perutnya yang semakin nyeri. Tak lama kemudian beberapa dayang yang melihatnya datang membantu sang ratu. “Sepertinya bayi ini tak sabar melihat dunia,” ujar Syafitri dengan peluh mengalir di pelipisnya. “Tapi belum genap sembilan bulan, Tuanku,” sahut salah satu dayangnya. Tak ayal setitik air keruh mulai mengalir di antara kedua kaki Syafitri. Tanpa banyak ucap lagi, beberapa dayang gegas menyiapkan kamar persalinan. Mereka memanggil dukun perempuan yang biasa menangani perihal persalinan. Air bersih, kain baru, serta beberapa ramuan untuk pemulihan telah disiapkan di dalam kamar yang telah menjadi saksi bisu kelahiran putra dan putri raja itu. Napas Permaisuri Syafitri semakin tak menentu ketika rasa sakit semakin menjadi di pinggangnya. Ia nyaris menyerah ketika tulang panggulnya serasa patah saat kepala bayi semakin dalam menekan. Padahal, itu bukanlah kelahiran pertama baginya. Atas perintah dukun beranak itu, Permaisuri Syafitri terus mengedan sekuat tenaga, para dayang memberikan sapu tangan bersih untuk digigit oleh sang tuan. Sedangkan yang lainnya memegang tangan Syafitri demi memberi dukungan. Saat yang dinanti pun tiba, suara tangis bayi menjadi denting dawai yang begitu indah di tengah kegelapan malam. Bayi yang pada kehamilan Syafitri kali ini memberikan rasa mual dan pening luar biasa. “Selamat Permisuri Kemala Syafitri, bayimu laki-laki yang sangat tampan, persis seperti ayahnya,” ucap sang tabib sembari memberikan anak itu pada tuannya. “Sesuai dengan ramalan para tetua.” Syafitri memandang wajah cerah bak purnama itu dengan menitikkan air mata. Bayi itu menjadi penenang di hatinya, kala dua orang anak lelakinya telah berpulang ke rahmatullah terelebih dahulu. Sebab ikut berperang melawan Belanda. Pintu ruang persalinan itu digedor beberapa kali ketika orang-orang di dalam sana terlalu larut dengan kebahagiaan sang permaisuri. Mereka semua lupa untuk melapor pada sang raja. Nyaris sedikit lagi ruang bersalin itu terbuka, ketika Raja Zulkarnain begitu tak sabar meminang putranya, padahal ruang itu terlarang bagi para pria apa pun jabatannya. Sang dukun beranak membawa bayi yang masih merah itu dan telah dibungkus selimut kepada tuannya. Zulkarnain pun tak kalah menitikkan air mata. Ia dulunya sempat menyerah kala nasab dan keturunannya tak akan ada yang meneruskan. Mengingat dua putranya telah tiada dan hanya menyisakan dua putri saja. Namun, Allah memberinya keselamatan. Kelahiran seorang putra yang akan dia berikan tumpuan seluruh harapan. Sebagai raja berikutnya, sebagai penguasa Negeri Pesisir dan sebagai pengusir penjajah Belanda yang hendak menguasai seluruh nusantara dan hasil alamnya. “Dia akan kunamakan, Teuku Alif Muda, mengikut nama abangnya yang telah tiada.” Zulkarnain mengecup kening bayi yang masih tertidur pulas itu. Raja itu melirik ke arah istrinya yang masih terbaring di ranjang persalinan. Ia merasa begitu banyak utang budi pada Syafitri, sebab telah berkali-kali melahirkan dan merawat seluruh anaknya dengan tanpa pilih kasih. *** Memasuki tahun kelima, Alif mulai diajarkan mengaji huruf hijaiyah satu per satu sampai anak lelaki itu paham. Tahun demi tahun ia dididik oleh beberapa syekh dan alim ulama. Sebagai seorang calon raja, ia tak bisa hidup biasa saja seperti halnya rakyat jelata. Ia harus lebih cerdik dan pandai, sebab Alif nantinya memegang tanggung jawab yang begitu besar. Bahkan nanti calon istrinya pun akan dipilih oleh kedua orang tuanya. Baik hatinya condong pada perempuan itu atau pun tidak. Semua demi menjaga kemurnian keturunan bangsawan pada darahnya. Pada tahun ke tujuh, Alif mulai belajar silat. Bela diri khas pesisir yang juga wajib ia kuasai. Zulkarnain mengutus langsung guru dari sebuah perguruan yang mumpuni. Sang pangeran dilatih di dekat pantai, agar tubuhnya terbiasa terkena debur ombak yang begitu kokoh menghancurkan karang. Tak hanya belajar agama dan silat saja. Pangeran Alif juga diajari ilmu politik dan strategi perang. Selain huruf Arab Melayu, ia juga mempelajari huruf latin yang kerap digunakan orang Belanda sebagai alat komunikasi. Huruf yang memilik bentuk dan pengucapan yang berbeda dengan yang biasa ia pelajari. Sebagai seorang pangeran, ia pun hanya anak lelaki biasa saja. Didikan yang terlalu keras, membuat Alif bosan hanya berkutat antara istana, masjid, madrasah dan pantai saja. Ia pun ingin mengetahui bagaimana asyiknya lingkungan di luar sana. Pada pagi hari sebelum pergi menemui syekhnya, Alif meminta izin pada ibundanya untuk pergi mengunjungi desa yang tak terlalu jauh dari istananya. “Apa tak cukup semua kesenangan di istana ini untukmu, Putraku?” tanya sang bunda setelah menyesap secawan teh hangat. “Ananda hanya penasaran dengan wanita luar istana, Ibunda. Mungkin mereka lebih cantik daripada dayang-dayang yang selalu mengurusku,” jawab polos sang pangeran. Siapa saja yang mendengarnya tertawa geli dengan pengakuan Alif. “Usiamu belum cukup untuk menikah, Putraku. Kau masih 10 tahun, sudah mulai memikirkan perempuan. Apa perlu ibundamu ini menjodohkanmu sekarang juga?” Permaisuri Syafitri pun tertawa sembari memamerkan giginya yang kokoh karena mengunyah sirih. “Sekali saja Bunda,” rengek Alif dengan polosnya. “Tidak. Usiamu yang sekarang untuk belajar, bukan memikirkan main dan perempuan. Ada masanya nanti kau akan bertemu dengan jodohmu.” “Tapi—“ “Bunda bilang tidak ya tidak. Kau paham!” Syafitri mengemas cawan yang ada di tangannya. Ia memang keras dan tegas mendidik semua anak keturunannya bersama Zulkarnain, sebab tak sedikit tanggung jawab yang akan diemban nanti. Pangeran yang masih polos itu pun mulai menitikan air mata. Ia berlari meninggalkan ibundanya yang terus memanggil. Anak lelaki itu sangat gesit menghindar, beberapa dayang yang diutus oleh permaisuri tak bisa menemukannya. Jadilah siang itu Alif tak belajar mengaji bersama gurunya. Pangeran pesisir itu malah mengajak punggawa pribadinya—Ridwan, ke desa yang tak jauh dari istananya. Sebenarnya sang punggawa yang usianya terpaut beberapa tahun dari Alif itu telah mengingatkan hukuman yang akan diterima ketika kembali. Namun, Alif tak menghiraukannya. Ia tetap menunggang kuda melihat desa sebelah yang masyarakatnya tengah menjemur ikan hasil tangkapan nelayan. Alif senyum-senyum sendiri ketika melihat beberapa wanita berlarian di dekat tempat menjemur ikan. Ia terpana dengan pesona gadis desa itu. Selendang yang terurai karena terpaan angin membuat kecantikan gadis-gadis di desa itu semakin menguar. “Menurutmu apa Ibunda akan memperbolehkanku untuk memperistri gadis desa ini, Bang Ridwan?” tanya Alif. “Mana mungkin, Pangeran, engkau paham sendiri bagaimana aturan dalam istana. Lebih baik kita cepat kembali. Aku khawatir ketika kembali para tetua akan murka karena kealpaanmu. Hari juga hampir Zuhur.” “Bailah, kita kembali. Tapi besok kita curi-curi waktu lagi datang ke tempat ini. Hatiku sudah terpaut dengan gadis itu,” tunjuk Alif pada gadis yang melompat dari atas batu. Dua orang iitu hendak menunggang kuda untuk kembali ke istana. Namun, mereka dihadang oleh segerombolan orang tak dikenal yang membawa parang. Rombongan itu memandang pakaian Alif yang halus dan megah, khas penghuni kerajaan, serta Ridwan yang memakai ikat kepala sebagai punggawa. “Pilih harta atau nyawa?” ancam salah seorang perampok itu sembari menghunuskan pedangnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sang Pewaris

read
54.0K
bc

JANUARI

read
49.3K
bc

Marriage Aggreement

read
87.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook