Ridwan maju melindungi tuannya. Lelaki yang terpaut usia empat tahun dari Alif itu telah bersumpah setia menjaga Alif dengan segenap jiwanya. Ia mengunuskan rencong, sebagai pertanda siap bertarung, meski lawan di depannya tak seimbang, berjumlah empat orang, cukup kewalahan untuk pemuda seusianya.
Namun, belum sempat mereka bertarung, iring-iringan kereta kencana telah datang. Perampok yang tadinya ingin membunuh Alif dan Ridwan berniat kabur. Akan tetapi, niat mereka berhasil dihentikan ketika punggawa Kerajaan Pesisir dengan kemampuan lebih tinggi berhasil meringkus mereka. Empat orang perampok itu langsung mendapat hukuman di tempat.
Permaisuri Syarifah menyaksikan langsung hukuman itu dari dalam kereta. Sebagai orang tertinggi kedua di wilayah pesisir, tak sembarang orang yang boleh melihat wajah cantiknya yang lebih banyak guratan khas Arab. Dari rupa itulah menurun ke Alif hingga pemuda itu terlihat menawan meski berusia sepuluh tahun.
Cambuk dilayangkan sebanyak puluhan kali di punggung para perampok itu. Permaisuri Syarifah menyaksikan sembari tersenyum. Tak ada yang boleh menyakiti putranya, atau siapa pun yang berani akan berurusan dengan kematian. Alif memperhatikan semuanya dari balik punggung Ridwan. Dua orang anak lelaki itu juga jantungnya sedang tak menentu, sebab tak lama lagi mereka pun akan dijatuhi hukuman.
Tangan permaisuri terulur ke luar kereta, ia memanggil putranya—Alif. Gegas putra makhkota itu mendekat dan masuk ke dalam kereta. Duduk bersama bundanya ketika hukuman telah selesai dilaksanakan, lalu bergegas kembali ke istana yang terbuat dari kayu hutan terbaik.
“Kenapa kau tak menuruti perkataan ibumu. Apa perlu Sultan maju dan memberi hukuman langsung untukmu, Putraku?” tanya Syarifah sembari menggenggam jemari Alif.
“Tidak, Bunda. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi, wallahi.”
“Benar, memang seharusnya begitu. Kau itu panutan, kalau kau rusak bagaimana pula dengan yang lain? Jadi katakan pada bundamu, apa yang kau temui di luar sana? Menarikkah di luar istana?”
“A-aku hanya melihat gadis-gadis yang sedang menjemur ikan.”
“Hmm, bukankah sudah Bunda katakan untuk menjaga kedua matamu. Apa perlu Bunda menghukum gadis-gadis itu agar kau tak lagi sembrono ke luar istana?”
“Ja-jangan mereka tak bersalah.”
“Bagus kalau kau tahu. Mulai saat ini penjagaanmu akan diperketat. Ridwan juga akan dikenai hukuman karena tak bisa menjagamu!” tegas Permaisuri Syarifah.
“Tapi?”
“Jangan membantah lagi. Kau pun akan menerima hukuman sampai di rumah. Berapa banyak ilmu yang terbuang percuma karena kelalaianmu. Kau itu calon pemimpin. Kalau sibuk mengurus perempuan saja kapan kau akan mengatur negerimu.”
Alif tak menjawab lagi perkataan bundanya. Yang iya bayangkan sekarang adalah hukuman yang akan diberikan pada Ridwan karena ulahnya. Ia tak menyangka jika punggawa kepercayaannya pun akan terkena getahnya akibat melanggar peraturan istana. Entah hukuman cambuk atau pukulan yang akan diterima Ridwan. Alif sendiri pun tak tahu hukuman apa untuk dirinya sendiri.
Sampai di istana, Alif dibawa oleh sang bunda ke dalam kamarnya. Sebilah rotan Permaisuri Syarifah ambil lalu entakkan di betis putranya berkali-kali. Tak luput pula tapak tangan bocah itu terkena sabetan. Meski tak sampai puluhan kali, rasanya tetap saja perih, hingga anak itu terisak.
“Maafkan, Bunda, Putraku. Tapi Bunda harus berbuat demikian demi mendidikmu. Agar kau tak lalai. Hari-hari kita kiat berat, penjajahan tak kunjung usai. Kau harus jadi pemuda kuat dan dibanggakan, mengerti?” Dengan terisak wanita itu memeluk putranya. Bukan tanpa sebab ia berbuat sedemikian rupa, melainkan amanat dari Sultan Zulkarnain—suaminya. Sedangkan suaminya juga mendapat tekanan dari para tetua.
Pagi hari, Alif diajak berjalan di tepi pantai oleh bundanya. Selagi tak ramai orang berlarian di sana. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh wanita bangsawan tersebut untuk meminta maaf atas kekasarannya semalam.
Beberapa punggawa mengawal dari jarak yang tak begitu jauh. Wajah Permaisuri Syarifah ditutupi kerudung yang lebar menutupi leher sampai d**a. Wanita itu mengenggam erat tangan Alif, sembari menunjuk ke arah lautan luas, tempat sang putra biasa latihan silat.
“Jauh dari seberang lautan sana. Para penjajah berwajah asing, berkulit putih, dan berambut kuning itu datang. Awal mulanya mereka menawarkan kerjasama perdagangan yang amat menguntungkan. Lama-lama mereka ingin menguasai semua yang ada di tanah, dan laut milik kita. Semakin lama pula mereka menunjukkan kebengisan pada gadis-gadis kita. Beruntung perempuan di sini pilih tanding, tak seperti di seberang pulau sana. Diam saja ketika dijadikan gundik. Ditiduri tapi tak dinikahi, hina. Cuih!” Ibunda Alif menjelaskan dengan panjang lebar perilah perang panjang yang terus saja bergulir. Ia merasa putranya telah cukup usia untuk mengetahui semuanya, atau barangkali lebih tepatnya, ia paksa untuk siap.
“Apa yang harus Ananda lalukan, Bunda?”
“Jadilah lebih kuat daripada Sultan Zulkarnain, ayahmu. Teruslah belajar dan berlatih. Kesampingkan dahulu urusan asmara. Masalah itu akan kami tangani dengan baik. Bunda dan ayahmu saja menikah tanpa cinta sama sekali. Kalau kau telah siap memimpin, akan banyak wanita yang rela menjadi istrimu. Baik dari kalangan bangsawan atau putri raja sekali pun. Apakah Ananda mengerti maksud bundamu ini?”
“Daulat, Bunda. Ananda berjanji akan sepenuh hati menjalankan amanat besar yang diemban ke pundak Ananda.”
“Buktikan kau lelaki sejati. Tak peduli kau dalam keadaan senang atau pun sulit. Kau harus tegak dalam tauhid. Tak boleh kau menjalin kerja sama dengan musuh yang mengancam agama dan tanah kita. Hanya lelaki kuat yang bisa menjalankaannya. Jangan seperti ulebalang busuk lainnya yang selalu merayu Sultan untuk tunduk di bawah kaki Belanda.” Ucapan Syarifah menjadi cambuk di hati Alif. Anak lelaki berusia sepuluh tahun itu berjanji akan menjadi kebanggaan istana terutama ibunya. Ia pun tak lagi memikirkan gadis manis yang sempat mencuri hatinya.
Tahun demi tahun Alif lewati dengan terus belajar, ia bisa menguasai semuanya dengan baik, termasuk bahasa asing yang digunakan oleh para penjajah. Terutama dalam hal menggambar peta wilayah, ia begitu mahir. Belum ada yang bisa mengalahkannya di istana itu. Pangeran Pesisir tersebut selain cerdik, pandai, juga rupawan, tak salah banyak putri yang menaruh hatinya padanya. Termasuk Putri Rindu Naqi Rembulan yang merupakan putri kesayangan Kerajaan Malaka.
Sayang sekali di usianya yang memasuki tahun ke 17, Alif belum ingin mengikat janji dengan putri manapun. Ia masih merasa ada yang kurang dalam dirinya. Sang pangeran kerap salah dalam mengambil keputusan. Alif kerap bimbang dan meragu. Padahal tak kurang doa yang ia ucapkan agar hatinya condong pada satu keputusan yang benar. Ya, hatinya memang sedikit lemah setelah masa kecilnya dulu kena hukuman dari sang bunda. Lelaki itu jadi takut mengutarakan semua keinginannya. Ia harus menjadi anak baik yang membanggakan semua pihak.