Alif termenung di dalam kamarnya, ia baru saja mendengar kabar kelahiran putri pertama Ridwan—punggawanya yang telah terlebih dahulu menikah dibandingkan dirinya. Terlihat raut wajah pangeran itu begitu tertekan dan muram. Bukan hanya karena penjaga yang telah melangkahinya, melainkan tuntutan dari kedua orang tuanya untuk segera menikah, demi kelangsungan nasab kerajaan. Bukan masalah besar sebenarnya, hanya masalah rasa yang belum tumbuh, sebab hatinya belum juga condong pada satu gadis pun. Alif mendamba gadis yang berbeda dari biasanya, entah berbeda dari segi apa, ia pun tak tahu.
“Berat betul sepertinya masalah yang ada di kepalamu, Putraku?” Sang bunda masuk ke dalam kamar Alif, hingga membuat pemuda itu terkejut, sedari tadi pintu diketuk tapi anaknya tak juga menyahut.
“Ibunda, nyaris lompat jantungku.” Alif menyentuh dadaanya yang sedikit terkesiap.
“Itu tandanya kau sudah memerlukan tulang rusuk untuk menjaga agar jantungmu baik-baik saja.” Permaisuri Syafitri menatap wajah putranya dengan penuh makna dan sedikit menggoda.
Alif paham ke mana arah pembicaraan bundanya, hanya saja ia masih bimbang. Ditambah beberapa lembar kain yang dibawa oleh Kemala Syafitri. Pemuda pesisir itu yakin pasti hal itu berkaitan dengan rencana perjodohan dirinya.
“Bukalah!” perintah Syafitri setelah menyodorkan gulungan kain itu pada Alif.
Dengan hati yang berdebar kencang, dan tangan yang sedikit gemetar, Alif mulai membuka gulungan kain itu. Namun, tiba-tiba saja Permaisuri Syafitri menggenggam erat tangan putranya, ia tahu anak semata wayangnya itu senantiasa dihinggapi keraguan berlebih. Dan pada saat itu pula sebagai ibu yang baik, Syafitri akan menguatkan Alif.
“Yakinlah pada dirimu sendiri. Ini pertama kalinya kau mengambil keputusan besar. Setelah itu hal-hal penting lainnya akan segera kau tangani, menggantikan ayahandamu yang mulai sakit-sakitan. Mengerti?”
“Iya, Bunda, Ananda paham.”
Ada tiga gulungan berisikan lukisan wajah calon permaisuri yang akan mendampingi Alif nantinya. Dua gambar tak berhasil memikat hatinya. Pemuda itu memang mudah terpaut dengan keelokan pada kesan pertama jumpa. Hingga ia memegang satu gulungan yang cukup lama membuat dirinya terpaku.
“Dia, Putri Rindu Naqi Rembulan. Seorang putri raja yang telah lama menaruh hati padamu. Kau saja yang tak pernah peka,” ujar Permaisuri Syafitri melihat gelagat anaknya yang aneh.
“Tapi apa kami pernah berjumpa, Bunda?”
“Benar, kan? Kau tak memperhatikannya saat utusan kerajaannya ada di sini. Dia datang sebagai penyambung lidah kerajaan seberang, agar hubungan kita semakin erat. Jadi bagaimana, kita sahkan saja pernikahanmu dengannya?” tuntut Kemala Syafitri begitu tak sabar.
“Nanti dulu, Bunda. Jika diperkenankan bolehkah Ananda bertemu sekali lagi dengannya?” ujar Alif dengan wajah sedikit memerah. Ia bisa malu juga ternyata.
“Tunggulah. Akan Bunda atur waktu yang tepat untukmu.”
Sang permaisuri meninggalkan Alif yang mulai dilanda kegelisahan. Dari lukisannya saja jelas terpancar kecantikan Putri Naqi. Bagaimana jika nanti berjumpa. Alif hanya takut tak bisa menahan debar di dadaanya saja, hingga ia terpaku dan seperti hilang akalnya.
“Astaghfirullah, Ya Rabb, maafkan hambamu yang mulai sedikit kelewat batas.”
***
Waktu yang dimaksud oleh sang bunda pun tiba. Satu rombongan keluarga telah siap dengan seserahan di tampan yang berlapiskan kain sutera. Tak tanggung-tanggung, Sultan Zulkarnain pun turut serta. Alif sedikit mengerutkan kening, bukankah ia hanya meminta pertemuan saja terlebih dahulu. Lalu mengapa semuanya seperti tanda jadi saja? Ah, ia sepertinya lupa, bahwa segala tindak-tanduknya di dalam istana telah diatur, terutama oleh sang bunda. Permaisuri Kemala Syafitri, meskipun orang tertinggi kedua di Kerajaan Pesisir, tetapi pengaruhnya bahkan bisa menyamai Sultan Zulkarnain.
Alif mengenakan pakain lengkap kas Kerajaan Pesisir, berwarna emas dan tak lupa pula rencong yang terselip di kain sarung. Ia terlihat begitu gagah dan menawan. Sungguh beruntung gadis yang akan menjadi istrinya. Rupa yang begitu terpahat sempurna itu pasti akan terus menurun pada anak dan cucunya.
Iring-iringan rombongan Alif memasuki istana bagian belakang. Tempat di mana para tamu beristirahat. Semua telah siap di balai utama itu. Para bangsawan dan tetua telah tiba dan hanya tinggal menunggu Alif saja yang datang. Ya, semua telah di sana kecuali Putri Rindu Naqi, ia akan dikeluarkan ketika jawaban iya telah ke luar dari bibir Alif, sebagai tanda resminya sebuah ikatan baru akan segera diresmikan.
“Dengan mengucap Bismillah. Ananda ingin mempersunting Putri Rindu Naqi sebagai istri Ananda kelak,” ucap Alif dengan lantang dan penuh keyakinan. Tak sedikit doa yang ia panjatkan agar hatinya tak meragu. Menjadi seorang suami artinya ia mengembang amanah dan tanggung jawab baru, disamping tugas utamanya menjadi seorang sultan.
Riuh syukur terdengar di seluruh penjuru ruangan. Tak lama kemudian gadis cantik yang telah dipinang Alif memasuki balai kerajaan. Wajah itu tak terlalu banyak dihias dengan perona wajah. Namun, hanya sekali senyuman saja mampu membuat dadaa pemuda pesisir itu berdesir hangat. Sungguh rupa itu begitu tercipta sempurna tanpa cela. Tak salah gadis itu diberi nama belakang Rembulan. Sebab wajahnya yang teduh mampu memberikan kehangatan di hati lelaki yang memandangnya.
“Tetapi, bolehlah hamba meminta mas kawin. Hak hamba sebagai istri pada Tuanku Teuku Alif Muda.” Dengan lemah lembut Putri Naqi berujar, tetapi mambu membuat jantung Alif seakan-akan lepas dari rusuknya. Suara yang begitu merdu itu membuatnya hampir kehilangan separuh akalnya.
‘Benar kata Ibunda. Aku sudah membutuhkan tulang rusuk agar tak menderita seperti ini,’ ucap Alif dalam hati.
Sultan Zulkarnain menepuk pundak Alif demi mengembalikan kesadaran putranya atas permintaan calon istrinya. Dengan memantapkan hati, pemuda itu mengiyakan permintaan Putri Naqi. Dan seisi balai sedikit terperangah dengan permintaan sang putri. Bukan emas, intan atau permata yang putri raja itu inginkan, melainkan ....
“Mengapa harus seribu kelopak bunga mawar, Dinda?” Alif mulai meremas tangannya sendiri. Sungguh ia tak paham apa maksud dari permintaan itu.
“Sebagai bukti, jika Kanda bersungguh-sungguh menginginkan diri ini sebagai istri. Jika yang hamba minta perhiasan dan sutera. Tentu sangat mudah bagimu untuk mengambilnya dari harta pusaka kerajaan. Sedangkan kelopak bunga mawar itu tentu harus kau petik sendiri jika ingin cepat terkumpul.”
“Seribu?” tanya Alif memastikan kembali permintaan barusan.
“Benar. Jika Kanda merasa kurang, bisa Dinda tambahkan.”
“Tidak usah. Akan kuusahakan permintaan Dinda dan istirahatlah. Jaga diri baik-baik sampai hari pernikahan kita tiba.”
Gelak tawa seisi balai kerajaan mulai bersahutan. Untuk pertama kalinya Alif dihadapkan pada situasi yang serba sulit. Sebab setahunya, kerajaannya tak memilik cukup bunga mawar untuk memenuhi permintaan Putri Naqi. Kalaupun menanam tentu memerlukan waktu beberapa bulan sampai panen.
“Artinya sang putri ingin melihatmu tumbuh lebih dewasa daripada semestinya. Menanam bunga mawar, sampai tumbuh dan bisa dipetik, membutuhkan kesabaran luar biasa. Kuharap putraku bisa mengerti apa hikmah dibalik permintaan berat itu. Benar, jika emas permata saja, tak terlalu terlihat pengorbananmu. Sungguh Putri Naqi itu cerdas. Bisa Bunda bayangkan bagaimana nanti jika ia mendampingimu. Dia akan menjadi sahabat yang tak bisa kau gantikan dengan siapa pun.” Sekali lagi Permaisuri Syafitri mempengaruhi isi kepala Alif. Pemuda pesisir itu memang tak pernah bisa lepas dari perkataan bundanya dalam mengambil keputusan. Meski andaikata ia tak setuju untuk menikah dengan Putri Naqi, perjodohan itu akan tetap dilaksanakan. Alif hanya bisa pasrah dan menerima keadaan saja.