Alif bangun sedikit lebih terlambat dari biasanya, tubuhnya lelah setelah seharian kemaren mengurus persiapan untuk sebuah perundingan besar. Bahkan pintu kamarnya harus digedor oleh para pelayannya. Ia beruntung pagi itu Permaisuri Syafitri sedang tak melakukan sidak rutin dan lebih memilih mempersiapkan Sultan Zulkarnain. Sang pangeran langsung berkemas didampingi oleh para pelayan lelakinya. Lalu ia bergegas ke masjid di dalam lingkungan istana untuk menunaikan shalat Shubuh berjama’ah, lanjut mendengar tausiyah yang rutin diberikan oleh para ulama setiap harinya.
Pangeran berdarah Arab tersebut memegang jantungnya yang sedikit berdebar kencang. Makin hari perasaannya semakin tak enak dan mimpi buruk itu terus datang menghantui malamnya. Hal demikian berimbas pada jam tidurnya yang kacau. Bahkan tak jarang ia harus tertidur di meja kerjanya karena harus membayar kurangnya istirahat di malam hari. Ia ingin menceritakan pada bundanya perihal mimpi buruk itu. Namun, masih terngiang perkataan para guru agar hal seperti itu tak diceritakan dan dilupakan saja.
Lelaki berhidung mancung itu melanjutkan kegiatan paginya dengan menyiram bunga mawar yang akan menjadi maharnya untuk Putri Naqi. Ia sendiri yang menanam dan merawatnya dengan penuh kesabaran. Jika dilihat dari bunga-bunga yang mulai bermunculan, tak lama lagi pernikahannya dengan Putri Naqi akan segera ditetapkan tanggalnya. Persiapan dari dua kerajaan akan dimulai semewah mungkin.
“Ridwan. Hatiku risau, bolehkah aku utarakan padamu?” ujar sang pangeran sembari menyiram bunga tanamannya.
“Silakan saja, Tuanku. Hamba akan mendengarkan dengan baik,” jawab punggawa setia tersebut.
“Aku tahu mimpi buruk itu tak layak diceritakan. Tapi rasanya kalau datang berkali-kali itu bukan mimpi, melainkan peringatan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ayah, Bunda, Putri Naqi tewas di tangan Belanda, dan aku hanya membatu dari arah lain karena ketidak berdayaanku. Katakan padaku, kalau sampai mimpi itu terjadi, apa aku manusia tak berhati karena hanya bisa menonton saja?” Alif mengelus dadanya yang terasa sesak. Jika benar mimpinya terjadi ia tak akan bisa hidup sendiri saja di dunia ini tanpa keluarganya. Lelaki berdarah Arab itu masih bergantung pada suara sang bunda.
“Tuanku. Semoga itu hanya bunga tidur saja, dan tidak ada kaitannya dengan perundingan yang siang nanti akan kita datangi.”
“Begitukah? Aku lebih khawatir kalau itu adalah gerbang pembuka kegagalan kita. Akhir-akhir ini kita sering berseteru dengan para ulama. Kaum bangsawan sering tak mendengarkan nasehat para guru. Kita ini dalam masa berada di atas angin, angkuh dan keras bagai batu atau bagaimana? Mengapa Ayah dan bangsawan sepuh lainnya begitu kuat menolak pendapat para penerus ajaran nabi kita. Aku takut Allah murka pada kita dan memberi peringatan dengan luar biasa.”
“Bukankah lebih baik kita berbaik sangka, Tuanku.” Ridwan memandang keringat dingin yang menetes di pelipis Alif. Punggawa sekaligus sahabat itu yakin, Alif sedang bergemuruh hatinya sebab gundah yang mulai merajai sanubarinya.
“Inginnya demikian, selalu berbaik sangka. Tapi, pangeran pun manusia biasa juga. Jika tahu bebanku sangatlah berat aku lebih baik memilih tak lahir saja ke dunia ini.” Alif mengembuskan napas panjang, membuang segala keluh kesahnya.
“Tuanku, jangan sampai perkataan ini didengar ibunda Tuan. Karena beliau tak suka melihat putranya lemah. Cukup denganku saja Tuan mengeluh seperti ini, dan nanti setelah menikah Tuan akan memiliki teman hidup untuk berbagi suka dan duka. Setidaknya Tuan tak lagi bingung menyuarakan isi hati.”
“Benarkah? Apa seperti itu rasanya menikah? Katakan padaku mengapa sejak kau beristri jadi terlihat lebih baik dari saat melajang. Sebesar itukah cinta mengubahmu?” Alif menepuk pundak Ridwan yang salah tingkah. Sang pangeran mengakhiri kegalauannya sebab ia harus mengerjakan hal lainnya. Lelaki berhidung mancung itu menuju pantai sejenak. Berlatih silat untuk menguatkan fisiknya, lanjut belajar memanah dan menembak berbekal senapan rampasan pengkhianat beberapa hari yang lalu.
Saat pangeran pesisir itu melintasi ruang pertemuan, bisa ia lihat beberapa pelayan sedang membereskan balai kerajaan. Pemuda keturunan Arab itu sepertinya melewatkan beberapa pertemuan penting yang tak melibatkan dirinya. Padahal ialah penerus sultan berikutnya.
“Ada pertemuan apa tadi?” Alif menegur dayang wanita yang mengemas buah-buahan segar di meja.
“Tuan Pangeran, para guru kembali datang memperingatkan Sultan. Itu saja yang hamba tahu,” jawab dayang dengan menundukkan kepalanya.
“Hasilnya? Apa Ayahanda masih berkeras hati?” Alif memandang pelayan tersebut dan hanya gelengan kepala saja yang ia dapatkan sebagai jawaban.
Bergegas sang pangeran berganti pakaian resmi kerajaan. Tak lama lagi, usai Dzuhur pertemuan berikutnya akan digelar. Ia tak boleh melewatkannya. Sebagai seorang pangeran ia lebih condong pada pendapat para guru agar tak menyetujui Belanda mengambil alih jalur perdagangan di pelabuhan. Awalnya mungkin hanya berdagang saja, tetapi lambat laun mereka akan menguasai semua yang ada di daratan.
“Tuanku. Kita harus segera bersiap. Sebagian bangsawan telah berada di dekat balai istana.” Ridwan mengetuk pintu kamar Alif. Pangeran Alif sedang memandang peta Kerajaan Pesisir yang baru saja selesai ia gambar lengkap dengan garis pantai tempat kapal Belanda berlabuh.
Dengan gagah Alif berjalan didampingi Ridwan menuju balai pertemuan. Sebagian dayang wanita menundukkan kepala ketika berpapasan dengan tuan mereka. Tak ayal bisik-bisik pun terdengar. Alif memang kerap kali menjadi bahan pembicaraan, mengingat ia terlahir lebih mirip sang ibu yang berdarah Arab. Bahkan tak memiliki saingan, dalam hal ini saudara lelakinya telah tiada semua.
Pertemuan dibuka setelah semua bangsawan hadir dan para guru pun tiba. Dan yang lebih membuat Alif membelalakkan mata kedatangan tiba-tiba utusan Belanda sebanyak empat orang. Mereka menenteng sebuah peti berisikan intan, permata dan sutra. Kelemahan sebagian petinggi istana yang silau dengan harta dunia. Pangeran yang duduk di sebelah Sultan tak bisa mengelak dari perdebatan alot yang tak memiliki titik temu.
Para guru yang datang mewakili majelis ulama berkali-kali memperingati ancaman Belanda yang akan merampas semuanya. Bukan hanya sekali dua kali saja Pemerintah Hindia Belanda membombardir beberapa kerajaan yang awal mulanya dianggap kawan. Maka lebih baik mati merdeka daripada hidup diperbudak.
“Daripada kita mengorbankan darah para pemuda. Bukankah lebih baik kita bekerjasama membangun negeri jadi lebih baik. Harta mereka bisa kita manfaatkan untuk kesejahteraan rakyat kita,” ujar salah satu bangsawan yang telah sepuh dengan santainya.
“Bagaimana kalau awal mulanya hanya membangun saja. Lalu semakin lama mereka memaksa kita untuk menyembah tuhan mereka. Tak Tuan pelajarikah apa misi mereka kemari, selain emas dan kejayaan mereka juga menyebarkan keyakinan yang sangat bertentangan dengan tauhid kita!” bantah sang guru yang cukup disegani di kalangan rakyat jelata.
“Lalu Tuan Guru ingin kami bagaimana? Tetap mengangkat senjata dan mati-matian sampai rakyat tak punya tempat tinggal. Tak kalian pikirkan jugakah bagaimana nasib wanita dan anak-anak jika sampai perundingan ini tak menemui akhir yang baik.”
“Itu berarti Tuan tak cukup mengenal watak rakyat pesisir. Para wanita itu lebih memilih untuk mati daripada dipaksa menjadi b***k tuan-tuan berambut pirang ini. Harga surga itu tidak murah, Tuanku. Terkadang ada masanya harus ditempuh dengan darah dan air mata.”
“Tapi kita diberi pilihan saat ini. Kita bisa meminta agar dibebaskan tetap menyembah Allah sebagai satu-satunya tuhan kita. Nanti kami para bangsawan yang akan berunding. Kalian para ulama mengajar ngaji sajalah di surau. Tak usah khawatirkan urusan kerajaan lagi,” cemooh bangsawan sepuh tersebut.
Sultan Zulkarnain tak juga buka suara dengan perundingan itu. Ia sepertinya sedang merisaukan kesehatannya sendiri yang kian buruk. Sementara itu Permaisuri Syafitri hanya mendengar saja dari balik tabir. Sungguh bukan keputusan mudah untuk diambil dengan segala perhitungannya. Wanita itu hanya memiliki Alif sebagai satu-satunya penerus. Ia khawatir putra yang ia besarkan tewas di tangan penjajah sebagaimana dua yang lainnya, sedangkan dua putrinya telah mengikuti para suami ke kerajaan seberang.
“Kita ambil keputusan siang ini juga. Siapa yang setuju denganku untuk bekerjasama dengan Belanda. Naikkan tangan kalian.” Bangsawan sepuh itu mengambil inisiatif diikuti dengan yang lain. Hasilnya cukup mengejutkan, banyak yang setuju agar meletakkan senjata. Pihak Belanda tersenyum puas dengan segala taktik liciknya.
“Siapa yang tidak setuju, naikkan tangan kalian!” Alif membuka suara dengan tiba-tiba dan membuat yang lain memalingkan wajah ke arahnya. Setidaknya para guru berada di pihaknya walau tak sebanyak para bangsawan. Ditambah dengan keberpihakan Permaisuri Syafitri yang harus mendukung langkah apa pun yang diambil putranya.
“Kau kalah suara, Pangeran!”
“Jangan lupakan siapa aku di sini, Tuanku. Jangan lupakan wewenang Pangeran sebagai pengganti Sultan!” tegas Alif.
“Kau bahkan belum dinobatkan sebagai Raja!” hardik bangsawan sepuh tersebut.
“Restuku membersamaimu, Anakku.” Sultan Zulkarnain berdiri dan seketika itu ia harus duduk kembali. Kesehatannya semakin memburuk hari demi hari. Sigap Permaisuri Syafitri ke luar dari tabir dan membantu suaminya turun dari singgasana. Wanita yang wajahnya dilapisi kain itu menyerahkan semua keputusan pada putranya.
“Setelah keputusan diambil temui Bunda, apa pun itu, Putraku.” Permaisuri Syafitri memegang tangan Sultan menuntunnya untuk kembali ke kamar.
“Dengan kedaulatan di tangan yang baru saja dilimpahkan oleh Ayahanda padaku. Dengan ini aku Teuku Alif Muda selaku Pangeran Kerajaan Pesisir menolak kerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda. Bawa kembali intan permata kalian, kami masih bisa mencari dengan keringat kami sendiri. Tak akan kami gadaikan aqidah kami.”
“Kalau begitu Tuan Pangeran akan menyesali keputusan Tuan. Ingatlah, Tuan Adrian tak pernah suka dengan penolakan.” Salah satu pria Belanda berambut pirang berdiri dan memperingati Alif.
“Maka biarkan itu terjadi. Aku menunggu Tuan Adrian datang ke hadapanku.”
“Selamat tinggal, Pangeran Alif, semoga kau siap dengan harga yang harus kau bayar.” Empat orang Belanda itu meninggalkan balai istana. Diikuti dengan bangsawan sepuh lalu yang lainnya, mereka tak ingin terlibat dalam peperangan lagi. Mereka tak mau kehilangan harta yang sudah ditimbun dengan susah payah.
“Semoga keputusanku ini benar, Tuan Guru. Jujur saja ada waswas di hatiku.” Alif memandang siapa saja yang masih berada di pihaknya. Tak banyak, hanya orang-orang jujur dan pemberani saja yang siap mati demi membela agamanya.
“Allah pasti menolongmu, Tuanku. Kami pun tak akan tinggal diam saja. Segenap jiwa raga akan dipersembahkan demi menghalau para penjajah itu.”
“Tidak, jangan begini. Tuan Guru pikirkan saja bagaimana keselamatan para wanita dan anak-anak. Aku titip mereka pada kalian. Aku harus bergegas, ada beberapa hal penting yang harus segera diselesaikan.” Alif pamit dan mencium dengan takzim satu per satu tangan para guru yang hadir di sana.
Bergegas ia berlari diikuti Ridwan di belakangnya. Alif khawatir dengan kesehatan ayahandanya.
“Keputusan sudah diambil, bukan?” Permaisuri Syafitri membantu Sultan Zulkarnain minum obat meredakan nyeri pernapasannya.
“Sudah, Bunda.”
“Dan sebagian bangsawan kecewa?” Pertanyaan sang ratu dijawab iya oleh Alif, “Kalau begitu kita harus mempercepat rencana pernikahanmu dengan Putri Naqi, tak perlu ada pesta mewah. Kita perlu sekutu untuk memukul mundur musuh. Bersiaplah, Putraku. Sisanya biar Bunda yang mengurus.”