Bab. 5 Makan Siang Spesial

1055 Words
Setelah pernikahan selesai dan semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Mulin dan Johan masih duduk di teras masjid. Sedang teman-teman mereka pun sudah kembali beraktivitas seperti biasa ada yang langsung terjun membantu para petani di kebun dan ada juga yang melakukan sosialisasi di Balai Warga. "Gue denger dari Anwar lusa kita akan balik ke kita, Mul," ujar Johan dengan pandangan yang ia buang jauh ke depan. "Cepet banget. Kenapa nggak ada yang bilang sama gue?" protes Mulin dengan nada panik. Johan pun tersenyum sekilas. "Heh. Mana mungkin kita ada yang berani gangguin pengantin baru," sindirnya sambil menatap ke arah Mulin. "Cih. Dasar," balas Mulin sambil menggelengkan kepala dan menahan senyum gelinya. "Loe udah jadi orang sini, Sob. Jadi, loe bisa pulang ke kota sesuka hati loe. Lagian, kayaknya disini lebih aman deh buat elo." "Iya. Gue juga tau itu." "Oh, iya. Hari ini loe malam pertama buat loe sama si kembang desa, kan. Haha. Loe benar-benar beruntung. Sob," ujar Johan sambil menepuk pundak sahabatnya. Lagi-lagi Mulin pun hanya tersenyum sekilas. "Haha. Gue tau maksud elo. Tapi, ini masih terlalu siang untuk gue balik ke rumah Juragan Parno." Johan pun mengangkat tangannya untuk melihat jam tangan di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu lima belas menit di Balai Warga. Kita ke sana saja yuk!" ajak Johan sambil beranjak. Mulin pun hanya mengangkat kedua alisnya bersamaan sambil menganggukkan kepalanya sekali. Keduanya pun kemudian berjalan ke arah Balai Warga dengan beriringan. Sedang di rumah Pak Lurah seperti biasa Kinan dan Bu Sri sedang menata makanan untuk para Mahasiswa itu makan siang. Di sudut ruangan Kinan pun menata makanan yang sengaja dia buat untuk lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu. "Kinan. Apa iku?" (Apa itu) tanya Bu Sri dengan kening yang berkerut sempurna. Melihat anak semata wayangnya sedang menata makanan yang berbeda dengan menu yang ia buat tadi. "Kagem Mas Mulin, Bu. Spesial," (Untuk Mas Mulin, Bu. Spesial) jawab Kinan dengan wajah yang berseri-seri. Bu Sri pun langsung tersenyum. "Betul, Nduk. Kowe kudu bisa melayani suami apik-apik," (Benar, Nak [perempuan]. Kamu harus bisa melayani suami dengan baik-baik) pesan Bu Sri sambil mengelus pundak putrinya itu. "Inggih, Bu. Ibu niku panutan kula. Dados, kula ajeng tiru napa-napa sing sampun Ibu lakoni dateng kula kalih Bapak," ( Iya, Bu. Ibu itu panutan aku. Jadi, aku akan meniru apa-apa yang sudah Ibu lakukan untuk aku dan Bapak) jawab Kinan. Ibunya pun masih tersenyum manis ke arahnya. Sampai-sampai dari jarak yang cukup dekat mereka mendengar para Mahasiswa itu berjalan mendekati sambil bercanda gurau. Sehingga suaranya sudah sampai sebelum sosok mereka muncul. "Nah, iku wes pada teka. Ayo, Nduk. Piring karo sendok ojo podo klalen," (Nah, itu mereka sudah datang. Ayo, Nak [perempuan]. Piring dan sendoknya jangan sampai kelupaan) perintah sang ibu. "Inggih, Bu. Sampun." (Iya, Bu. Sudah) Tak butuh waktu lama mereka pun masuk ke dalam ruangan itu. Saat melihat Mulin berada di antara mereka. Dengan sigap Kinan langsung menghadang kedatangannya. "Mas Mulin," panggil Kinan. Mulin pun langsung menghentikan langkahnya seketika. "Ciyeeee. Yang pengantin baru," ledek teman-teman Mulin kompak. "Pengen nempel terus," sahut Johan ikut-ikutan. Mulin pun hanya tersenyum sekilas. Lalu ia malah merangkul pundak Kinan lalu menarik wanita yang baru menjadi istri sirinya itu ke dalam pelukan. "Nggak usah pada iri ya," balas Mulin sambil melangkahkan kakinya ke arah meja makan. Sedang Kinan yang masih syok dengan perlakuan Mulin pun hanya mengikuti langkah cowok itu tanpa merubah posisi kedua lengan kekar Mulin yang melingkar di badannya. "Wuuuu," balas anak-anak lainnya. Setelah sampai di depan meja makan Kinan baru teringat sesuatu. "Tunggu, Mas. Aku punya sesuatu untuk Mas Mulin," ujar Kinan kemudian. "Apa?" tanya Mulin penasaran. Kedua alisnya pun hampir bertabrakan satu sama lain. "Yuk! Sini," jawab Kinan yang justru semakin mempertegas garis kerutan di kening Mulin. Kini Kinan pun berani melepas pelukan cowok tampan itu. Lalu meraih tangannya untuk ia genggam. Kinan pun menarik tangan Mulin ke sudut ruangan. "Ini spesial untuk Mas Mulin," ujar Kinan. "Makas… sih," ujar Mulin dengan senyum yang tiba-tiba memudar. Ketika pandangannya jatuh di atas makanan yang Kinan bilang spesial itu. "Kenapa, Mas?" tanya Kinan bingung. Lalu ia melongokkan kepalanya ke atas makanan itu. "Lho, kok usah habis makanannya?" ucap Kinan syok. Melihat makanan ia masak khusus suaminya kini telah raib. Hanya menyisakan kuahnya saja. "Hehe. Itu khusus untuk Mulin ya Ki. Maaf, ya tadi aku ambil sedikit. Habis aku kelaperan," celetuk Yoga sambil nyengir kuda. "Sedikit kok habis, Kak?" protes Kinan. "Sedikit-sedikit, Ki. Tau-tau habis. Habis enak sih. Hehe," ujarnya lagi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yah…. Padahal, itu kan aku masak khusus untuk Mas Mulin," ujar Kinan dengan nada kecewa. "Maaf, Ki," balas Yoga penuh penyesalan. "Udah nggak papa. Besok juga kamu bisa membuatkannya lagi, kan?" tanya Mulin. "Iya, Mas. Pasti," ucap Kinan cepat. "Ya, udah. Sekarang aku makan seadanya saja ya." Mulin pun mengambil nasi lalu ia letakkan dalam piringnya. Kemudian ia pun mengambil kuah opor ayam dan menyiramnya di atas nasi di piringnya. "Jangan Mas. Itu kan cuma kuah." "Nggak papa. Aku juga pengen merasakan masakan istriku yang katanya enak," balasnya yang membuat hati Kinan terasa meleleh. Lihat saja wajahnya yang kini bak kepiting rebus. Merah merona. Kinan pun menundukkan kepalanya sambil senyam-senyum sendiri. "Lho kamu nggak makan Ki?" tanya Mulin yang langsung mengalihkan perhatian Kinan. "Ems… nanti gampang, Mas." "Jangan gitu dong," balas Mulin. Lalu ia oun mengambil nasi lagi. Begitu pun dengan nasi dan sendok. "Yuk kita makan bareng," ajaknya sambil menarik tangan Kinan untuk segera mengikutinya. Di kursi samping rumah. Tempat yang biasa mereka gunakan untuk makan siang berdua. Mulin pun melepaskan genggaman tangannya. Mereka pun segera duduk di kursi itu. Mulin meraih sendok di piringnya lalu mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Kemudian ia pun mengangkat sendok itu ke arah wanita cantik di depannya. "Nih. A," ucap Mulin sambil tersenyum manis. Sumpah, hati Kinan pun seakan melayang-layang di udara. Ia memang pernah pacaran sebelumnya, tapi rasanya tidak seindah ini. Dengan senyum kebahagiaan yang terus terpancar di bibir Kinan. Ia pun membuka mulutnya perlahan. Dan tanpa basa-basi, Mulin segera memasukkan nasi di atas sendok itu ke dalam mulut sang istri. Sungguh, keduanya terlihat begitu menikmati kebersamaan mereka. Sampai-sampai mereka tidak sadar kalau anak-anak yang lan sedang mengintipnya dari balik pintu dan jendela. Bahkan, Bu Sri pun ikut-ikutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD