Malam menjelang. Mentari pun berangsur kembali ke tempat peraduannya. Meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta dengan segala kesibukan orang-orang yang terasa tiada hentinya. Lihat saja sekarang! Jam sudah menunjukkan pukul 17.45. Kantor pun sudah sepi. Karena sebagian besar karyawan sudah lebih dahulu pulang untuk melepas penat setelah seharian menguras tenaga dan pikirannya untuk bekerja. Namun, berbeda dengan seorang pemilik tunggal PT. Indo Karya Furniture. Daffa Mulin Abimana. Sang ahli waris perusahaan meubel bertaraf Internasional itu, justru lebih memilih berdiam diri di dalam ruangannya sambil membuat proposal yang akan diajukan ke klien barunya.
Tok. Tok. Tok. Bunyi pintu kaca di ruangannya.
"Masuk!" ujar Daffa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop di depannya. Dan tanpa menunggu perintah selanjutnya. Wira, sang asisten pun masuk dengan langkah tegapnya.
"Ini kopinya, Boss," ujar Wira sambil meletakkan secangkir Coffe Latte di atas lambar yang menahan rasa panas. Ketika dibawa Wira tadi.
"Oke. Makasih ya," balas Daffa tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa ada yang perlu saya bantu lagi, Bos?" tanya Wira.
"Apa pesawat Mr. Michael Smith sudah sampai?" tanya Daffa sambil meraih cangkir itu.
"Sudah Bos. Sekitar jam empat sore. Dan jam delapan tepat, ia akan makan malam di restoran hotel Ganesha. Tempat Mr. Michael Smith menginap," jawab Wira cepat. Daffa pun mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum licik.
Wira memanglah orang kepercayaan yang tidak pernah mengecewakan Daffa. Ia selalu melakukan apa yang Daffa inginkan dengan sempurna. Bahkan, tanpa Daffa bicara panjang lebar lebih dulu.
Kedekatan mereka memang sudah terikat erat. Ibarat kata sampai mendarah daging. Sebab, mereka sudah bersama sejak kecil. Sejak mereka masih bayi malah. Wira yang notabene adalah anak asisten rumah tangga keluarga Abimana. Harus menjadi teman sekaligus asisten Daffa sejak kecil. Karena dulu Abimana tidak pernah mengizinkan anaknya itu menuntut ilmu di sekolah umum. Abimana selalu mengundang guru privat untuk mengajari Daffa tentang ilmu pengetahuan dan juga bisnis. Lalu menjadikan Wira sebagai teman bermain dan belajar Daffa. Agar anaknya itu tidak bosan dan merasa jenuh. Sejak kecil pun ia sudah dilatih bagaimana cara melayani Daffa sebagai Bos muda oleh orang tuanya.
Kembali pada Daffa yang kini sedang menyusuri koridor hotel Ganesha. Di belakangnya, Wira membuntuti dengan setia. Sambil membawakan tas kantor si Bos muda yang berisi berkas proposal. Sesekali Daffa melirik jam tangan yang ia beli saat pergi melancong ke Italia dulu. 'Masih setengah jam lagi. Yeay. Ada waktu buat gue siap-siap,' batin Daffa sambil terus berjalan.
Sampai di depan sebuah lift Wira langsung menekan tombol untuk membuka pintu berwarna silver itu. Dengan pandangan lurus ke depan dan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana katun yang berwarna sama dengan warna jasnya, Daffa masuk ke dalam lift itu. Lalu pintu pun tertutup kembali secara otomatis. Setelah Wira menekan tombol lantai yang akan mereka tuju.
Tepat saat layar di atas pintu lift menunjukkan lantai yang mereka inginkan. Pintu kembali terbuka. Tanpa basa-basi Daffa segera melangkahkan kakinya menuju kamar hotel yang sudah ia pesan. Di depan kamar bernomor seribu enam belas langkahnya pun didahului oleh Wira. Lelaki yang selalu berpenampilan sama, walau setelan jasnya berharga jauh berbeda dengan yang dikenakan Daffa itu pun langsung menempelkan smart key di tempatnya. Cekrek! Pintu pun terbuka seketika.
Daffa segera masuk ke dalam kemudian disusul oleh Wira. Wira pun meletakkan tas kantornya di atas meja yang berada di salah satu sudut kamar. Sedang Daffa langsung duduk di atas kasur melepas sepatu pantofelnya.
"Gue mandi dulu ya. Udah gerah banget!" ujar Daffa sambil melepas jasnya.
"Siap, Bos," jawab Wira sambil memberikan hormat.
"Haha. Nggak usah sok kaku deh. Ini bukan di kantor lagi," sahut Daffa sambil melempar jasnya ke arah Wira. Wira pun langsung menangkapnya sambil menggelengkan kepalanya. Walau kadang ia sungkan untuk memanggil nama Daffa saja, tapi lelaki itu selalu saja menganggapnya sebagai seorang sahabat jika berada di luar kantor.
Wira pun duduk di sofa sambil mengeluarkan ponselnya. Beberapa menit kemudian pikirannya pun sudah tenggelam dalam game online favoritnya.
Dua puluh menit pun berlalu. Daffa masih berada di dalam kamar mandi. Mungkin sedang berendam. Sedang Wira yang tengah bermain game online pun tak sengaja matanya menatap ke arah penanda waktu yang berada di sudut ponselnya.
"Astaga. Gue hampir lupa," ujarnya sambil beranjak dari tidur-tidurannya di sofa hotel. Dengan tergesa Wira pun berlari ke arah kamar mandi. Tok. Tok. Tok. Ia segera mengetuk pintu di depannya cepat-cepat.
"Daffa! Daffa! Cepet keluar!!" Tok. Tok. Tok. Wira pun terus mengusik kedamaian Daffa di dalam kamar mandi. Hingga akhirnya….
Blak!!! Daffa pun membukanya dengan keras.
"Ngapain sih loe berisik banget?" protes Daffa.
"Loe lupa ini jam berapa? Nih, waktu kita tinggal lima menit lagi," jawab Wira sambil menunjukkan jam di dalam ponselnya.
"What's?! No. No. Kita jangan sampai kehilangan momen ini," ucap Daffa sambil berlari ke arah lemari yang disediakan pihak hotel. Karena Wira tadi siang sudah kesini dan mempersiapkan semua kebutuhan Daffa. Jadi, dia bisa langsung menemukan pakaian bergaya santai yang ia anggap pas untuk momen ini.
Tak butuh waktu lama Daffa pun sudah siap dengan penampilan casualnya yang tetap menawan. Berulang kali ia bercermin untuk memastikan penampilannya yang tidak boleh asal-asalan. Dari tempatnya berdiri Wira pun hanya mampu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Melihat Bos Mudanya yang sangat memperhatikan penampilannya itu. 'Ck. Nih orang emang nggak tau waktu ya. Jam genting gini masih ngaca aja. Kayak anak cewek mau kondangan aja,' batinnya kesal.
"Daffa! Cepetan," ujar Wira sedikit membentak.
"Hehe. Oke. Oke," balas Daffa lalu berjalan ke arahnya. Sampai di depan pintu ia pun kembali menatap Wira. Seakan meminta ijin darinya Wira pun langsung mengangguk mantap. Mengiyakan. Kemudian Daffa segera membuka pintu kamar hotelnya dengan smart key tadi.
Cekrek! Pintu pun terbuka lalu Daffa segera keluar dari balik pintu kamar hotel yang dipesannya.
"Daffa?" panggil seseorang dengan aksen Indonesia yang terdengar sulit. Daffa pun langsung membalikkan badannya. Dan seketika ia pun terkejut. Melihat sosok yang keluar dari kamar yang saling berhadapan dengan kamarnya.
"Mr. Michael Smith? How are you?" ujar Daffa sambil mengulurkan tangannya ke arah orang berkebangsaan Perancis itu.
"I'm fine. Thanks," jawabnya. Ketika kedua manusia itu sedang saling berjabat tangan tiba-tiba Wira keluar.
"Pak Bos. Ini proposalnya sudah selesai. Apa aku boleh pulang?" ujarnya sambil berlari keluar. Langkah Wira pun seketika berhenti. Saat melihat Daffa sedang bertemu dengan penjual furniture terbesar di Perancis.