Kinan menatap langit sore yang tertutup awan. Padahal, jarum jam baru saja menunjukkan pukul 15.00, tapi suasana sudah gelap gulita seperti hendak Maghrib saja. Kinan pun mengangkat tangannya untuk menyentuh kaca jendela di depannya. Rasa was-was pun seketika menggelayuti hati dan pikirannya. Sebab, sang pujaan tercinta masih berada di kebun kentang milik keluarganya untuk membantu petani yang lain.
Tak terasa pikirannya pun melayang pada jam demi jam yang sudah ia lalui bersama pada hari ini. Mulai dari saat mereka bertemu di depan wali dan Kyai untuk mengikat cinta yang suci. Sampai percakapan manis sebelum ia kembali ke kebun.
"Woi! Jangan mesra-mesraan mulu. Ayo kita balik ke kebun!" ujar Johan sambil melongokkan setengah badannya di pintu keluar sebelah Kinan. Wanita yang masih terlihat cantik walau make-upnya sudah dihapus itu pun mampu tersipu malu.
"Ah. Elo gangguin aja sih. Sana minggat ke kebun. Pacaran tuh sama daun wortel. Hahaha," balas Mulin sambil tertawa girang.
"Enak aja loe. Tugas lor kan disini bantuin warga bukan malah mesra-mesraan di pojokan," kata Johan sambil merangkul leher Mulin lalu menariknya menjauhi Kinan. "Gue pinjam Mulin bentar ya, Ki," tambahnya sambil melangkah pergi.
"Eh. Eh. Eh. Dagh, Ki! Nanti malam aku ke rumah kamu," ucap Mulin setengah berteriak.
"Wuuu, dasar. m***m aja pikirannya," timpal Johan sambil menjitak kepala sahabatnya itu. Mulin pun hanya meringis sambil melambaikan tangannya. Melihat Mulin yang terlihat belum ingin pergi darinya itu. Kinan pun melambaikan tangannya sambil tersenyum malu-malu.
Namun, itu kejadian dua jam yang lalu. Ketika Mulin hendak berangkat ke kebun. Sedang sampai sekarang, Ia belum terlihat pulang juga. Karena rumah Pak Lurah yang digunakan para Mahasiswa itu berjarak lebih jauh dari kebun. Jadi, mereka selalu melewati depan rumah Kinan jika akan berangkat ataupun pulang dari kebun.
"Ki," panggil suara lembut Bu Sri yang langsung membuat Kinan membuyarkan lamunannya.
"Inggih, Bu," balas Kinan sambil memutar badannya. Ia pun menatap sosok ibunya yang tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Kowe lagi opo tho, Nduk?" (Kamu sedang apa, Nak [perempuan]) tanya Bu Sri halus.
"Mboten, Bu. Mboten napa-napa. Namung, manah kula rasane was-was. Ra kepenak," (Nggak. Nggak ngapa-ngapain. Cuma, hatiku rasanya was-was. Tidak enak) jawab Kinan jujur. Bu Sri pun langsung menatap ke arah gumpalan awan mendung yang menutupi sinar mentari sore. Seketika ia pun tau apa yang dikhawatirkan anaknya.
"Nek kowe was-was. Susul, Nduk. Gawakna bojomu payung. Koyo arep udan gedhe. Melas nek nganti masuk angin," (Kalau kami khawatir. Kamu datangi dia, Nak. Bawakan suamimu payung. Seperti akan hujan besar. Kasihan nanti dia masuk angin) ucap Bu Sri sambil mengelus lengan anaknya itu. Kinan pun menatap ibunya. Lalu kedua bibirnya pun menyungging sebuah senyuman. Kemudian ia pun segera berjalan menjauhi ibunya dengan berlari kecil.
Dengan langkah tergesa Kinan melewati jalan tanah di sela-sela tanaman yang menutupi sebagian besar permukaan tanah di seluruh mata memandang. Ia pun semakin mempercepat larinya karena rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Hosh. Hosh. Hosh. Kinan pun berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang hampir terputus. Kinan pun mengedarkan pandangannya ke seluruh kebun. Namun, ia tetap saja tak menemukan siapapun ada di sana.
"Kemana semua orang?" tanya Kinan pada dirinya sendiri. Kemudian ia pun melanjutkan langkahnya menuju gubuk yang berada tak jauh dari tempatnya tadi berdiri. Dan benar saja beberapa orang sedang berkumpul di tempat itu. Begitu pula dengan Mulin.
"Mas Mulin disini tho? Aku khawatir Mas kehujanan. Jadi, aku kesini bawain payung," ujar Kinan sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Semua orang yang ada di sana pun langsung menoleh ke arah Kinan.
"Kinan. Kamu ngapain repot-repot ke sini. Kita pun sebenarnya sudah mau pulang," balas Mulin sambil menghampiri Kinan. Kinan pun melongokkan kepalanya. Lalu pandangannya pun menangkap sosok Pak Karman, salah satu petani yang bekerja di perkebunan kentang keluarganya. Sambil merintih kesakitan dan memegangi lututnya erat-erat. Sedang di depannya teman Mulin terlihat tengah mengobati kaki Pak Karman.
"Pak Karman kenapa, Mas?" tanya Kinan bingung.
"Tadi terjadi kecelakaan. Pak Karman terkena cangkul telapak kakinya tadi," jelas Mulin.
"Aduh. Mesakke tenan," (Kasihan sekali) gumam Kinan.
"Ki. Kamu bawa payung, kan?" tanya Mulin tiba-tiba.
"Inggih, Mas. Ini. Aku bawain untuk Mas Mulin," ujar Kinan sambil menunjukkan payung yang ia bawa di tangannya.
"Kalau begitu biar ini dibawa mereka untuk mengantar Pak Karman pulang ya, Ki."
"Tapi, Mas. Mas Mulin gimana ini udah mulai gerimis lho!"
"Nggak papa. Aku kan sehat. Sedang Pak Karman lebih membutuhkan sekarang."
"Mboten usah, Mas. Kulo saged wangsul piyambak," (Tidak usah, Mas. Saya bisa pulang sendiri) kata Pak Karman menyela.
"Nggak papa, Pak. Bapak tidak mungkin pulang sendiri. Luka bapak bisa tambah lebar nantinya. Ya, sudah. Berhubung mau hujan dan sudah sore. Kita semua pulang saja. Boleh kan, Ki?" ucap teman Mulin yang ternyata adalah Yoga. Karena di sana ada Kinan sebagai keluarga pemilik kebun, Yoga pun menyebutnya sebagai perwakilan keluarga.
"Iya, Mas Yoga. Tidak apa-apa. Malahan mending pulang sekarang saja. Mumpung belum hujan besar," sahut Kinan.
"Inggih, Mbak Kinan. Kula nyuwun ijin pamit wangsul," (Iya, Mbak Kinan. Saya minta ijin pamit pulang) ujar salah satu petani yang lain.
"Inggih, Pak. Mboten napa-napa. Sami istirahat dateng daleme piyambak-piyambak," (Iya, Pak. Tidak apa-apa. Semua istirahat di rumah masing-masing) kata Kinan.
"Inggih, Mbak Kinan. Matur nuwun," (Iya, Mbak Kinan. Terima kasih) balas para petani itu berbarengan.
"Sami-sami, Pak," (sama-sama, Pak) timpal Kinan sambil tersenyum manis. Kemudian mereka semua pun berlalu dari tempat itu. Meninggalkan Kinan dan Mulin yang hanya berduaan. Kinan pun mengalihkan pandangannya ke arah Mulin yang sedang merapikan kotak obat yang baru saja digunakan Yoga.
Sambil menunggu Mulin, Kinan pun masuk ke dalam gubuk. Lalu duduk di belakang lelaki itu. Kinan pun memandangi punggung Mulin yang sedang bergerak tak beraturan. Lalu sebuah senyuman pun langsung terpancar di bibirnya. Tiba-tiba Mulin pun menoleh lalu menangkap basah wajah Kinan yang tengah memandangnya dengan terpesona.
"Huft." Mulin pun meniup mata Kinan yang berbinar-binar saat menatapnya. Kinan pun langsung tersadar dari lamunannya. Dan Mulin pun langsung menyunggingkan senyumnya.
"Maaf, Mas," ucap Kinan sambil menundukkan kepalanya. Malu.
"Maaf? Emang kamu salah apa pakai minta maaf segala?" tanya Mulin sambil merubah posisi duduknya.
Tiba-tiba hujan pun langsung mengguyur dengan derasnya. Membuat suasananya semakin gelap dan udara pun kian mendingin. Kinan pun menggosokkannya di kedua bahunya beberapa kali. Walau ia menggunakan kaos lengan panjang, tapi tetap saja hawa dingin masih bisa menembus kulit mulusnya.
"Dingin ya?" tanya Mulin.