"Dingin ya?" tanya Mulin. Sambil menoleh ke arah Kinan. Kinan pun hanya mengangguk pelan. Tanpa berani mengangkat wajahnya untuk menatap sosok Mulin. Jujur, ia merasa canggung dan tidak tau harus berbuat apa. Di dalam keadaan yang cenderung gelap, rintik hujan yang semakin terdengar begitu deras serta hawa dingin yang tak segan menusuk kulit. Ditambah lagi ia hanya berduaan dengan laki-laki yang sangat ia cintai.
Tentu saja keadaan ini memacu adrenalin yang lain. Hasrat yang tiba-tiba ingin disentuh untuk menghangatkan badan. Jantung yang berdetak seirama deras hujan di luar sana. Keringat panas dingin yang keluar melalui pori-pori kulit saat lengan kanannya bersentuhan dengan lengannya yang terasa kokoh, kekar dan hangat. Sungguh, Kinan merasa bodoh dengan nalurinya sendiri.
"Ki," panggil Mulin.
"Hemz," gumam Kinan nyaris tak terdengar. Sambil menoleh ke arah Mulin. Dan saat ia menyadari jika wajah Mulin berjarak sangat dekat dengannya Kinan pun semakin terasa gugup.
"Kamu cantik sekali hari ini," rayu Mulin sambil terus memandangi wajah Kinan dengan mata elangnya. Kinan pun hanya tersenyum malu. Karena semakin gugup dan tak mampu membalas tatapan mata Mulin yang terasa begitu teduh. Ia pun kembali menunduk. Menyembunyikan kedua pipinya yang kini bersemu merah.
Tanpa Kinan duga tangan kekar Mulin pun meraih rahang Kinan. Lalu mengangkatnya dengan pelan. Agar kembali menatapnya seperti tadi. Kinan pun semakin gugup apalagi saat mata Mulin benar-benar mengunci pandangannya. Sampai-sampai untuk menelen salivanya pun sangat sulit dilakukan oleh Kinan.
Sedikit demi sedikit Mulin pun menutup jarak di antara wajahnya dengan wajah Kinan. Hingga akhirnya…. Chup! Bibirnya pun menempel sempurna di bibir Kinan. Hingga beberapa saat kemudian waktu pun seakan berhenti berputar. Derasnya hujan pun sudah tidak lagi terdengar. Bahkan detak jantungnya pun seakan tak lagi berdebar. Hanya ada suara decakan tiap kali Mulin merubah lumatannya. Serta deru nafas yang kian memburu.
Namun, tak lama kemudian Mulin pun melepas bibir Kinan. Lalu ia pun tersenyum ke arah Kinan yang terlihat belum ikhlas ia lepaskan.
"Kita sudah halal, kan?" tanya Mulin dengan suara yang serak menahan hasrat. Dan Kinan pun hanya mengangguk cepat. Walau ini yang pertama kali untuk Kinan, tapi naluri wanitanya menuntut untuk merasakan lebih dari ini. Apalagi keadaan sedang mendukung seperti ini.
Mulin pun tersenyum. Lalu ia menarik tubuh Kinan agar semakin dekat dengannya. Kinan yang sudah mengerti dengan apa yang akan dilakukan Mulin pun hanya menurut saja. Kembali Mulin meraih rahang Kinan agar wajah Kinan berhadapan dengan wajahnya. Ia telusuri wajah cantik di depannya dengan jari telunjuk. Kinan pun hanya menutup mata, sambil menikmati sengatan listrik yang menjalar dari setiap sentuhan Mulin.
Lalu saat jari Mulin sampai di bibir Kinan ia sudah tidak tahan lagi. Segera Mulin kecup lagi sepasang bibir tipis itu. Semakin lama Mulin pun tak hanya mengecup tapi juga melumat dan menyedotnya dengan gemas. Sedang tangan kirinya pun tak lagi diam. Ia bergerilya di setiap inci tubuh Kinan. Dan saat ia menemukan sepasang bukit daging yang masih terasa kenyal. Ia pun meremasnya pelan. Badan Gadis pun tersentak. Karena terkejut dengan permainan Mulin yang semakin membuatnya terbang ke awang-awang.
Mulin pun tak sabar menikmati senja ini dengan penuh gairah. Makanya ia segera membaringkan tubuh Kinan di atas dipan kecil di dalam gubuk itu. Kemudian ia segera menindihnya.
**********
"Kamu masuk ya? Jangan lupa mimpiin, Mas," ujar Mulin sambil mengacak rambut Kinan dengan gemas. Kinan pun hanya tersenyum dengan malu-malu. Lalu ia mengangguk kecil.
"Kalau gitu aku masuk dulu ya, Mas. Sampai besok. Dagh!" balas Kinan dengan senyum yang terus mengembang. Ia pun segera masuk ke dalam rumahnya. Lalu menempelkan punggungnya di pintu kayu yang baru saja ia lewati. Detak jantungnya pun masih berdetak kencang membayangkan hal yang baru saja terjadi bersama Mulin. Kemudian Kinan pun teringat sesuatu. Ia segera berjalan ke dekat jendela lalu membuka gordennya sedikit. Mencari tau apakah Mulin masih di sana atau tidak. Dan ternyata Mulin masih berdiri tak jauh dari depan rumahnya sambil berbincang dengan salah seorang tetangganya.
Bibir Kinan pun tersenyum manis. Manis sekali. Sampai-sampai ia tidak sadar jika Bu Sri sudah berada di sampingnya.
"Ehemz," ucap Bu Sri berdehem. Jelas saja Kinan terlonjak kaget.
"Ibu! Ngagetin mawon," (Ibu! Membuat kaget saja) protes Kinan yang masih terlihat syok. Bu Sri pun hanya tersenyum.
"Ngintip sapa tho, Nduk?" (Mengintip siapa Nak [perempuan]) tanya Bu Sri sambil melongokkan kepalanya ke arah jendela yang sama. Lalu ia pun melihat Mulin masih berada di depan rumahnya. "Oh, si Mulin tho," tambahnya sambil manggut-manggut tak jelas.
"Hehe. Inggih, Bu'e," (Hehe. Iya, Bu'e) balas Kinan sambil nyengir kuda.
"Kok nembe wae bali tho, Nduk. Kan mau nggowo payung tho?" (Kenapa baru saja pulang, Nak [perempuan]. Bukannya tadi kamu bawa payung?) tanya Bu Sti bingung.
"Inggih, Bu. Namung wau diampil Pak Karman kondur. Merga samparane kenangan pacul." ( Iya, Bu. Tapi tadi dipinjam Pak Karman pulang. Karena kakinya terkena cangkul)
"Oh, ngono. Yo wes. Yo wes. Kono adus nggo banyu anget karo tak gawekna teh anget. Men ora masuk angin." (Oh, begitu. Ya sudah. Ya sudah. Sana mandi dengan air hangat dan Ibu buatkan teh hangat. Biar kamu tidak masuk angin.)
"Tapi kulo kan mboten kudanan, Bu'e. Dados Bu'e ampun khawatir kados ngoten." (Tapi kan aku tidak kehujanan, Bu'e. Jadi tidak usah khawatir.)
"Iyo pancen. Tapi, kan kowe nang njaba suwe. Hawane anyes ngene meneh. Uwes kono. Tinggal ndang mbok lakoni ko ana wae alesane." (Iya memang. Tapi kan kamu sudah lama berada di luar. Udaranya juga sedang dingin begini. Sudah sana. Lakuin saja kenapa sih ada saja alasannya)
"Hehe. Inggih, Bu'e. Siap." (Hehe. Iya, Bu'e. Siap) ujar Kinan. Sambil memberikan hormat kenapa ibunya sebelum ia berlalu.
Bu Sri pun hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menahan senyumnya.
"Kenang ngopo kae bocah. Katon seneng men," (Kenapa itu anak. Terlihat senang sekali) gumam Bu Sri hampir tak terdengar.
Lalu ia pun berjalan ke arah dapur untuk membuatkan Kinan teh manis seperti yang ditawarkannya tadi. Baru saja masuk ke dalam dapur ia berpapasan dengan Juragan Parno. Suaminya.
"Sopo tho Bu'e?" (Siapa si Bu'e?) tanya Juragan Parno penasaran.
"Si Kinan. Nembe wae mulih. Jare Pak Karman kenangan pacul lho, Pak. Mangke tilik ayo, Pak. Mesakke," (Si Kinan. Baru saja pulang. Katanya Pak Karman terkena cangkul lho, Pak. Nanti kita jenguk ya, Pak. Kasihan.)
"Iyo, Bu'e." ( Iya, Bu'e)
Note: Cerita ini mengandung bahasa jawa khas Wonosobo yang sedikit dipoles dengan bahasa Jawa pada umumnya. Biar nggak kaget. Sebab, bahasa Jawa yang digunakan orang-orang Wonosobo asli lebih cenderung kaku dibanding bahasa Jawa di daerah lain. Apalagi masyarakat di daerah Dieng. Kalian akan menemukan logat yang sangat khas jika berkunjung ke sana. Berbanggalah kita karena setiap inchi daerah di Indonesia menggunakan logat dan bahasa yang berbeda-beda.