Malam yang cerah. Bulan dan bintang pun dengan kompak menghiasi langit malam yang gelap gulita. Hembusan angin sepoi yang menyejukkan kulit pun seakan mengajak siapa saja untuk keluar rumah. Dan sejenak menikmati keagungan Tuhan yang Maha Indah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.
Tak urung keindahan malam ini pun menyelimuti Green and Fresh restoran. Sebuah tempat makan yang menyuguhkan pemandangan alam sekitar. Baik secara alami maupun buatan. Lihat saja bagian Rooftop yang mereka hias dengan beberapa pohon palem hias dan lampu taman di sekeliling kolam renang yang memantulkan cahaya bulan dan bintang di atas sana. Ditambah dengan beberapa tanaman hias berjenis semak yang mengitari setiap tempat makan berbentuk gazebo. Di beberapa sudut disediakan sebuah minibar yang berhadapan langsung dengan view kota Jakarta pada malam hari yang begitu mengagumkan.
Di salah satu sudut minibar. Telah duduk seorang wanita cantik dengan kopi espresso yang dia angkat menggunakan kedua tangannya. Sedang matanya ia lempar jauh-jauh melewati hamparan gedung-gedung kecil yang terlihat bercahaya.
Wanita itu pun menghembuskan nafas beratnya setelah menyeruput kopi itu. Ia pun merasa bodoh sendiri karena sudah menunggu seseorang yang tak mungkin datang menemuinya. Sesekali ia mengangkat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah satu jam lebih ia menantinya disini. Namun, kedatangannya belum juga terlihat. Lagi-lagi ia pun hanya menghembuskan nafasnya dengan kesal. Lalu ia menyeruput kopi yang sudah mendingin sejak beberapa menit yang lalu itu. Setelah meletakkan cangkir ke atas mini bar itu. Wanita bergaun merah maroon itu pun menurunkan badannya dari kursi tinggi yang sudah didudukinya sejak tadi.
"Nona Anjani," panggil seseorang yang langsung membuat senyumnya mengembang. Wanita yang dipanggil Anjani itu pun langsung membalikkan badannya. "Maaf. Tadi siang saya tidak menjemput anda di bandara," ujar lelaki yang terlihat keren dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya.
"Tidak apa-apa. Saya tau anda orang sibuk. Tapi, sebagai gantinya. Anda mau kan menemani saya makan malam. Jujur, saya belum makan sejak tadi," ujar Anjani sambil tersenyum malu-malu.
"Dengan senang hati, Nona." Lelaki itu pun segera mengangkat tangan kanannya untuk memanggil pelayan restoran itu. Dan dengan sigap seorang pelayan pun datang dengan membawakan katalog menu yang tersedia.
"Silahkan Nona, Tuan," ujarnya sambil memberikan kedua pelanggannya itu katalog yang sedari tadi ia bawa.
"Sevva spring roll," ujar Anjani dan lelaki itu bersamaan.
"Hei," ucap Anjani sambil tersenyum tak percaya ke arah lelaki di sampingnya.
"Oke berarti dua Sevva spring roll. Lalu minumannya apa?" tanya si Pelayan sambil mencatat pesanan mereka.
"Green Yum Yum," jawab keduanya lagi-lagi bersamaan.
"Oke. Tunggu sebentar ya. Pesanan akan segera sampai," ujar si pelayan sebelum pergi.
"Anda vegetarian?" tanya Anjani masih dengan tampang tidak percaya.
"Iya," jawab si lelaki lirih.
**********
Blak! Wira menutup pintu mobil sport Daffa dengan sekali hentakan. Saat ia baru saja ingin menoleh ke samping tiba-tiba wajah Daffa sudah berada tepat di depannya.
"Astaghfirullah hal adzim. Apaan sih loe ngagetin aja deh," ucap Wira kaget.
"Hehe," balas Daffa sambil nyengir kuda. "Kayaknya ada yang lagi seneng nih. Gimana? Cantik ya?" sindir Daffa sambil menaik-naikkan sebelah alisnya. Wira pun tak langsung menjawab. Ia malah melengos sambil menahan senyum. "Hahaha. Sudah. Sudah. Nggak usah dijawab. Gue tau kalau loe jatuh cinta sama dia Wir," lanjut Daffa tak kuat menahan tawa gelinya. Wira pun berdecak.
"Ck. Dia kira gue itu elo Daf," ucap Wira lirih.
"Yang bener?" tanya Daffa dengan wajah yang tidak percaya.
"Iya," jawab Wira mantap. Matanya pun menatap lurus kedepan sedang pikirannya kembali ke beberapa menit yang lalu.
"Anda vegetarian?" tanya Anjani masih dengan tampang tidak percaya.
"Iya," jawab si lelaki lirih. Sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sudah sejak dua tahun yang lalu. Saat ayahku meninggal karena kolesterol tinggi. Akupun sadar. Jika menjaga kesehatan itu sangat penting. Makanya, aku bertekad untuk menjauhi makanan berlemak, daging-dagingan, merokok dan juga minum alkohol," jelas Wira, lelaki itu.
"Dan anda berhasil?" tanya Anjani lagi.
"Iya," jawab Wira sambil menganggukan kepalanya mantap.
"Wow. Hebat!" seru Anjani sambil bertepuk tangan beberapa kali.
"Ah, itu biasa saja. Anda jauh lebih hebat," balas Wira sambil menggaruk belakang kepalanya lagi.
"Aku? Bahkan sampai saat ini aku tidak bisa menghindari alkohol. Padahal, sering bertekad untuk tidak minum lagi," sahut Anjani sambil menarik gelas Green Yum Yum yang baru saja diletakkan oleh si pelayan. "Terima kasih," ujarnya pada pelayan yang hendak pergi. Tak terasa Wira pun tersenyum melihat keramahan Anjani. Meskipun dia adalah anak konglomerat.
"Heh. Itu sebenarnya hal yang mudah. Jika anda benar-benar ingin melakukannya," ujar Wira. Anjani pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. "Cukup dengan satu kata…."
"NIAT," ujar keduanya bersamaan.
"Hahaha. Benar-benar. Boleh aku nyebut kamu saja. Kayaknya kalau anda terlalu formal," kata Anjani meminta izin.
"Silahkan saja, Non."
"Hust. Panggil saja Anjani. Jangan terlalu canggung seperti itulah. Kita itu semua sama," ujar Anjani yang membuat Wira tersenyum kecut.
"Ba… baik, Non. Eh. Anjani," balas Wira canggung.
"Nah. Gitu dong," sahut Anjani sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sedang mulutnya sibuk mengunyah makanan yang sudah dipesannya. "Oh, ya boleh diceritain nggak. Kalau misal teman-teman kamu ngajak minum. Terus kamu gimana? Menolak? Sebab, aku sering diajak temen-temen kalau lagi niat banget menjauhi alkohol."
"Nah itu dia. Sebenarnya teman itu yang paling berpengaruh sama kita. Iya, kan?" ucap Wira. "Kalau teman menghargai usaha kita. Mereka pasti akan mendukung kita. Seperti temen-temen aku misalnya. Mereka memang suka ngajak aku minum. Tapi mereka nggak pernah memaksa aku untuk minum. Ujung-ujungnya aku juga yang repot nganterin mereka pulang satu-satu. Mana aku juga yang diomeli para istri mereka lagi. Hahaha." Keduanya pun tertawa bersama.
Setelah mereka berbincang cukup banyak dan waktu juga semakin malam. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Dan Wira mengantarnya sampai parkiran. Bahkan, ia pun membukakan pintu mobil wanita cantik itu. Blak! Wira pun kembali menutupnya.
"Terima kasih, ya. Malam ini sangat menyenangkan," ujar Anjani. Dengan wajah yang berseri-seri.
"Sama-sama," balas Wira tulus.
"Kalau begitu sampai ketemu, Daffa. Bye," kata Anjani sambil melajukan mobil mewahnya. Sedang Wira hanya terbengong di tempatnya berdiri.
Flashback end.
"Kalau gitu bagus dong," ujar Daffa girang.
"Kok bagus?" tanya Wira bingung.
"Iya… dengan begitu. Loe bisa pura-pura jadi gue. Dan menyelamatkan gue dari perjodohan ini."
"Tapi gimana kalau kita ketahuan Daf. Papanya pasti akan mencabut semua saham di perusahaan elo."
"Udah, gampang. Itu kita pikirin nanti. Tapi, untuk sekarang. Jangan sampai kita kehilangan suntikan dana yang sudah mereka gelontorkan ke perusahaan kita. Gimana? Oke kan?" ujar Daffa. Wira pun terdiam. Ia malah berpikir sesuatu. "Udah nggak usah banyak pikiran. Yuk! Kita pulang," tambah Daffa sambil menghidupkan mobilnya.
"Eh, sini-sini. Biar gue yang bawa," kata Wira sambil meraih setiran mobil Daffa.
"Ish. Apaan sih. Malam ini biar gue yang nyetir. Lagian loe lagi jatuh cinta. Kalau ntar loe nyetir sambil melamun. Gue juga yang repot," sahut Daffa. Wira pun hanya menggelengkan kepalanya lalu membuang pandangannya keluar jendela.