Hari masih pagi, mentari baru saja menyingsing. Sedang dedaunan masih basah oleh embun. Kicauan burung pun seakan tak mau ketinggalan menampilkan pertunjukannya untuk memberikan kesan terakhir kepada Mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Ramah Lingkungan Indonesia yang akan bertolak kembali ke Jakarta. Semua orang pun berkumpul di depan Balai Warga Setieng untuk mengucapkan selamat tinggal dan memberikan bingkisan sebagai tanda terima kasih mereka.
"Terima kasih ya, Mas Aldi. Saya sebagai Kepala Desa disini. Merasa sangat terbantu dengan kehadiran Mas Aldi beserta rombongan untuk mengatasi masalah terbesar di desa kami," ujar Pak Kades kepada ketua Organisasi.
"Iya, Pak. Sama-sama. Saya pun sebagai perwakilan teman-teman merasa sangat bahagia bisa berkenalan dengan warga disini yang sangat ramah dan menjamu kita dengan sangat baik. Bahkan, sampai ada yang kepincut dengan Kembang Desa disini," balas Aldi sambil melirik Mulin dan Kinan yang hanya tersenyum malu-malu.
"Hahaha. Iya-iya. Kami pun merasa sangat beruntung. Karena bisa menjadikan salah satu dari kalian menjadi salah dari masyarakat kami. Semoga persaudaraan kita tidak terputus sampai disini. Apabila nanti kalian datang berkunjung ke Wonosobo. Sempatkanlah kalian untuk datang kesini. Ke rumah saya ataupun ke rumah warga yang lain. Tentu saja kami sangat senang," ujar Pak Lurah Lagi.
"Tentu saja, Pak. Kami tidak mungkin melupakan warga desa Setieng yang sangat ramah dan perhatian ini. Kalau begitu berhubung waktu sudah semakin siang. Kami pun mohon izin pamit, Pak Lurah. Takut nanti kena macet di jalan," ucap Aldi berpamitan.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Bilang sama sopirnya jangan ngebut-ngebut," sahut Pak Lurah sambil menepuk pundak Aldi beberapa kali.
"Siap, Pak Lurah," timpal si Sopir travel sambil memberikan hormat kepada Pak Lurah. Lalu semuanya pun tertawa.
"Kalau begitu kami permisi sekarang ya, Pak. Sampai jumpa lagi," pamit Aldi yang dia ulangi. Kemudian mereka pun berpelukan.
"Iya, sampai jumpa lagi. Teruslah mengabdi untuk negeri. Semoga kelak jika kamu lulus bisa menjadi sarjana yang membanggakan Indonesia," pesan Pak Lurah sambil menggosok punggung Aldi.
"Pasti, Pak," jawabnya mantap. Lalu mereka pun saling melepaskan pelukan satu sama lain. Kemudian bergantian dengan anak-anak yang lain. Mereka pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Aldi barusan.
"Jaga diri loe baik-baik ya," ujar Johan pada Mulin yang memilih tinggal di desa ini.
"Siap, Bro. Semoga loe bisa mendapatkan sahabat yang setia kayak gue," balas Mulin dengan penuh penekanan. Ia pun mengangkat alisnya beberapa kali.
"Hahaha." Johan pun hanya tertawa garing lalu merangkul sahabatnya itu. "Kalau loe udah aman. Nanti gue kabarin," bisik Johan sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya.
"Sip. Gue tunggu secepatnya," balas Mulin ikutan berbisik.
"Woi!! Sampai kapan kalian mau berpelukan terus. Udah siang tau," teriak Yoga dari dalam mobil mini bus yang terparkir di depan Balai Warga.
"Hehe. Oke-oke," kata Johan sambil nyengir kuda. "Ya, sudah. Kalau begitu kalian yang akur ya. Kalau ke Jakarta jangan lupa mampir ke rumah gue," ujar Johan pada Kinan.
"Iya, Mas Johan. Pasti," jawab Kinan mantap. Sedang Mulin hanya menahan tawa gelinya. Lalu Johan segera berlari ke arah mobil yang sudah menunggunya itu. Para warga pun melambaikan tangan seiring berjalannya mobil itu menjauh.
"Dagh…. Dagh…. Dagh…," ucap orang-orang bersautan.
***********
Hari pun berganti hari. Bulan pun sudah berganti bulan. Keberadaan Mulin di rumah Kinan pun semakin membuatnya terlihat seperti Dewa Penolong yang dikirim Tuhan. Ia bisa melakukan apapun yang kadang menjadi permasalahan di desa ini. Namun sayang seribu sayang. Dengan alasan melanjutkan kuliahnya Mulin meminta izin pada keluarga Kinan untuk pulang ke kota. Dan malam ini, ia pun mengutarakan keinginannya pada keluarga Kinan.
"Emangnya kamu harus pergi mendadak seperti ini ya, Mul. Tidak bisa kamu pergi lusa atau minggu depan?" tanya Juragan Pakno pada Mulin.
"Iya, Mas Mulin. Apa tidak bisa ditunda beberapa hari?" sahut Kinan dengan nada penuh harap.
"Tidak bisa, Ki. Sebab, aku harus mengumpulkan tugas lusa. Kalau aku tidak pergi sekarang. Aku bisa tidak lulus mata kuliah itu, Ki. Dan itu artinya aku harus mengulang tahun depan. Bukankah artinya itu akan semakin lama untuk aku sarjana. Lalu kapan kita bisa hidup berdua, Ki. Aku sudah ingin hidup bersamamu," ujar Mulin panjang lebar.
Kinan pun tak menjawab. Ia malah menoleh bapak dan ibunya.
"Iya sih, Mas," balas Kinan lirih.
"Nah, maka dari itu. Aku harus segera sarjana dan memboyong kamu ke kota. Kecuali…?"
"Kecuali apa, Nak Mulin?" tanya Juragan Parno cepat.
"Kecuali kalau Juragan bersedia meminjami saya modal untuk usaha di depan Kampus. Jadi, secepatnya saya ajak Kinan ke kota untuk mengurusnya. Sebab, tidak mungkin saya bisa mengurusnya sendiri," ucap Mulin kemudian.
Melihat peluang yang lebih besar untuk bisa bersama sang pujaan. Kinan pun menatap bapaknya dengan wajah penuh harap. Bahkan, ia menangkupkan kedua tangannya di depan d**a sambil memasang wajah memelas.
"Tolong Mas Mulin, Pak. Kinan tresno tenan kalih Mas Mulin," (Tolong Mas Mulin, Pak. Kinan sangat mencintai Mas Mulin) ujar Kinan pelan tapi pasti.
"Piye Bu'e?" (Gimana Bu'e?) tanya Juragan Parno pada sang istri.
"Emz…. Memangnya Nak Mulin butuh modal berapa?" tanya Bu Sri tidak menggubris pertanyaan suaminya tadi.
"Ems…. Sekitar lima puluh juta, Bu," balas Mulin lirih.
"Lima puluh juta?!" ucap Juragan Parno, Bu Sri dan Kinan bersamaan.
"Iya, Juragan. Karena harga sewa di sana cukup mahal. Letaknya kan strategis. Selain itu usaha yang saya maksud itu kan di bidang komputer. Jual dan servis komputer, printer, tinta print dan lain-lain. Makanya butuh dana yang lumayan juga," jelas Mulin panjang lebar. Kinan dan kedua orang tuanya pun hanya terdiam. Sambil merenungkan apa yang harus mereka lakukan. "Saya janji Juragan. Kalau saya sudah punya uang. Saya langsung kembalikan semua uang Juragan. Selain itu, aku juga ingin menikahi Kinan secepatnya," tambahnya yang langsung membuat Kinan tersipu malu.
"Tapi maaf sebelumnya, Nak Mulin. Uang segitu terlalu banyak. Saya tidak memegang uang sebanyak itu."
"Tapi, kan. Bapak bisa meminjam dulu sama Pakde. Pasti Pakde punya?" ujar Kinan mendesak.
"Ki. Kowe ora ngerti kebutuhanne wong tua. Duit seket juta iku ora sitik," (Ki. Kamu tidak tau apa-apa tentang kebutuhan orang tua. Uang lima puluh juta itu tidak sedikit.) Juragan Parno pun beranjak dari duduknya. "Mas Mulin. Maaf. Saya tidak bisa meminjamkan uang segitu banyak. Jadi, bila kamu tidak menikah dengan Kinan mungkin kalian memang tidak berjodoh," lanjut Juragan Parno sebelum berlalu.
"Pak. Pak'e ampun kados niku. Pak. Ampun pisahke Kinan kalih Mas Mulin," (Pak. Pak'e jangan seperti itu. Jangan pisahkan Kinan dan Mas Mulin) ucap Kinan sambil menangis sesegukan.
Note: Cerita ini mengandung bahasa jawa khas Wonosobo yang sedikit dipoles dengan bahasa Jawa pada umumnya. Biar nggak kaget. Sebab, bahasa Jawa yang digunakan orang-orang Wonosobo asli lebih cenderung kaku dibanding bahasa Jawa di daerah lain. Apalagi masyarakat di daerah Dieng. Kalian akan menemukan logat yang sangat khas jika berkunjung ke sana. Berbanggalah kita karena setiap inchi daerah di Indonesia menggunakan logat dan bahasa yang berbeda-beda.