Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, Mulin belum bisa memejamkan matanya juga. Ia sedang mengemasi barang-barangnya untuk ia bawa ke kota besok.
"Sialan juga Juragan Parno. Gue pinjem uang segitu aja nggak dikasih. Heh. Liat aja. Anaknya bakal gue tinggalin. Biar dia nangis terus sampai jadi gila," gumamnya terus mengumpat.
Ia memang kini tinggal di rumah Kinan. Walau tidur mereka tidak satu kamar, tapi sekarang Mulin harus pergi. Karena banyak urusan yang ia tinggalkan di kota. Termasuk urusan menjaga neneknya.
Saat Mulin sedang asyik berbenah tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah luar. Tok. Tok. Tok. Bunyi si pintu yang langsung mengagetkan Mulin. Mulin pun berdecak.
"Ck. Siapa sih malem-malem ketuk-ketuk pintu," ujarnya sambil berjalan mendekati pintu kayu itu.
Cekrek! Bunyi handle pintu itu saat ditarik oleh Mulin. Pintu pun terbuka. Lalu menunjukkan sosok Kinan yang sedang berdiri di depannya.
"Kinan," ujar Mulin setengah tak percaya. Wanita itu mengunjungi kamarnya malam-malam begini.
"Mas, Mulin sedang apa? Apa aku boleh masuk?" tanya Kinan pelan. Mulin pun tak segera menjawab. Ia malah menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya, ada rasa malas juga di hatinya. Mengingat perlakuan bapak Kinan terhadapnya, berdampak pada perlakuannya kepada kembang desa itu. Namun, ini malam terakhir untuknya disini. Sedang wanita di depannya terlalu cantik untuk ia lewatkan.
"Boleh. Yuk masuk saja," jawabnya sambil membukakan pintu kamarnya lebar-lebar. Kinan pun segera masuk ke dalam lalu Mulin segera menutupnya kembali rapat-rapat.
"Mas Mulin benar-benar mau pergi ya besok?" tanya Kinan sambil menyentuh tas ransel yang sedang Mulin siapkan.
"Iya, begitulah. Aku kan sudah menjelaskan semuanya sama kamu, Ki," jawab Mulin.
"Mas. Apa yang tadi Mas Mulin katakan itu sungguh-sungguh?" tanya Kinan. Sambil memutar badannya lalu menatap Mulin penuh harap.
"Tentang apa?"
"Tentang keinginan Mas Mulin untuk segera meresmikan pernikahan kita?"
"Jelas dong, Ki. Aku kan hanya punya nenek di kota. Umurnya pun sudah banyak. Sebenarnya aku nggak mau buang-buang waktu lagi untuk menunda pernikahan sah kita. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku masih kuliah. Belum mendapat pekerjaan apa-apa. Jangankan menghidupi kamu. Untuk biaya kuliah sama makan saja aku menunggu beasiswaku cair setiap bulan, Ki," jawab Mulin. Kinan yang sedikit banyak mengetahui dunia perkampusan pun hanya mengangguk saja. Dulu dia memang pernah kuliah di salah satu Universitas Negeri jurusan Kehutanan. Namun sayangnya, baru semester dua dia keluar dengan alasan kesehatan. Padahal, Kinan memang tak sungguh-sungguh masuk bangku perkuliahan waktu itu. Ia hanya ikut-ikutan teman-temannya saja. Makanya ia hanya mampu bertahan dua tahun.
"Kalau misal kamu sudah punya usaha sendiri? Apa kamu janji nggak bakal melupakan aku?" tanya Kinan lagi. Mulin pun tersenyum. Lalu ia memegang kedua pundak Kinan. Sambil mengunci pandangannya.
"Apa aku terlihat berbohong? Aku benar-benar mencintaimu, Ki," balas Mulin pelan tapi pasti. Kinan pun tersenyum.
"Kinan percaya kok, Mas. Makanya, Kinan kesini membawa kabar baik untuk Mas Mulin."
"Kabar baik apa?" Mulin pun terlihat bingung dengan mengerutkan keningnya yang mulus itu.
"Ini." Kinan pun mengeluarkan kotak perhiasan yang sedari tadi ia simpan di balik pakaian. "Ini adalah koleksi perhiasanku dan ibu. Isinya kurang lebih seratus gram. Jadi, mungkin akan cukup untuk membiayai usaha kamu di kota," jelas Kinan. Sambil menyodorkan kotak itu kepada Mulin yang memandangnya dengan penuh rasa tidak percaya.
"Yang bener, Ki?" tanya Mulin. Kinan pun tersenyum sambil mengangguk mantap. Sedang Mulin pun langsung memeluk badan Kinan cepat.
"Terima kasih, Ki. Terima kasih. Kamu memang cinta sejatiku, Ki," ujarnya sambil mempererat pelukannya. Kinan pun sangat bahagia. Lalu gadis yang selalu tampil cantik tanpa make-up itu pun membalas pelukannya.
Beberapa menit pun berlalu. Kini Mulin sudah kembali menguasai bibir Kinan. Ia mempermainkan sepasang daging mungil itu dengan gemas. Tak hanya itu, tangan Mulin pun kini aktif bergerilya. Menyusup melewati lembar demi lembar kain yang dipakai oleh Kinan. Untuk menggapai dua bongkahan daging yang terasa begitu kenyal dan menggairahkan.
Permainan pun tak habis sampai di situ. Dengan penuh rasa tak sabaran. Mulin membuka satu per satu kancing di baju tidur yang Kinan kenakan. Lalu ia pun segera menenggelamkan wajahnya di antara dua bukit kembar itu. Tak henti-hentinya ia mengecup, menjilat bahkan menggigiti bagian itu dengan penuh perasaan. Sampai-sampai mulut Kinan ikut meracau menahan hasrat sambil menjambak rambut Mulin ke dalam. Seakan menuntut Mulin untuk melakukan hal yang lebih dari itu.
"Aku mencintaimu, Mas," ucap Kinan di tengah-tengah nafasnya yang kian memburu karena nafsu. Mendengar ucapan Kinan barusan. Mulin pun menghentikan gerakannya. Ia meraih kotak yang masih Kinam pegang lalu ia letakkan di atas meja yang berada tak jauh darinya.
Tanpa banyak bicara Mulin pun mengangkat tubuh Kinan lalu membaringkannya di atas kasur yang empuk. Dengan tidak sabar ia pun melucuti semua pakaiannya dan juga pakaian Kinan. Setelah tubuh polos Kinan berhasil ia jelajahi dengan bibir rakusnya. Ia pun beranjak lalu segera menindih gadis itu. Untuk yang kedua kalinya. Ia menggauli wanita yang sudah sah menjadi istri sirinya itu dengan penuh gelora asmara.
"Kinan. I love you," ucapnya dengan suara yang serak-serak basah.
"I love you too," balas Kinan dengan suara yang tak kalah serak. Lalu keduanya pun bak kembang api yang membumbung tinggi ke angkasa lalu pyar….! Hasrat yang tadi menggebu-gebu itu bak pecah di atas langit malam yang gelap gulita.
Keesokan harinya. Tepat jam enam pagi. Mulin sudah berada di ruang tamu untuk segera berpamitan. Juragan Parno yang sudah bangun sejak subuh pun kini sudah menemaninya ngopi. Sambil menunggu Kinan yang belum bangun. Maklum, Kinan 'dihajar' Mulin tiga ronde semalam. Makanya sekarang dia kecapean. Untung saja dia sudah berhasil masuk kamarnya sebelum tidur. Kalau masih di kamar Mulin kan bisa berabe. Karena, walaupun mereka sudah menikah siri. Bagi orang tua Kinan mereka hanya pacaran biasa yang belum boleh tidur berdua. Maklum, Juragan Parno memang terkenal selektif untuk mencarikan pasangan hidup anaknya. Sebab, ia tak mau kecewa nantinya.
"Aduh, nungguin aku ya," ujar Kinan sambil berlari ke arah ruang tamu. Di belakangnya Bu Sri pun sudah membuntutinya setelah membangunkan anak semata wayangnya itu dan menyuruhnya mandi dengan segera. "Maaf, ya Mas. Tadi mandi dulu," tambah Kinan sambil duduk di samping lelaki pujaannya itu.
"Iya. Nggak papa kok. Lagian Pak Muklis juga belum mau berangkat," balasnya sambil tersenyum. Ia memang berniat nebeng Pak Muklis yang akan membawa sayuran ke kota. Namun, baru saja Mulin menyelesaikan kalimatnya terdengar bunyi klakson mobil. Tin…. Tin…. Tin….
"Nah, itu dia," ujar Juragan Parno. Lalu mereka semua pun beranjak.
"Nak, Mulin hati-hati ya di jalan. Jangan lupa kabari kami kalau sudah sampai," ucap Juragan Parno.
"Iya, Pak. Pasti," jawab Mulin.
"Mas, Mulin. Hati-hati. Jangan lupain aku. Cepat segera bawa aku ke kota ya," kata Kinan pelan. Mulin pun membalikkan badannya untuk menatap kembang desa itu untuk terakhir kalinya.
"Iya, Ki. Secepatnya aku akan mengajakmu ke kota," sahut Mulin. Lalu ia pun meraih tengkuk Kinan. Kemudian mengecup keningnya dengan mesra.